13 Juni 74 Tahun Lalu di Bekasi

Akun Instagram GNFI (Good News From Indonesia), sebuah media online yang memiliki visi menjadi sumber utama segala macam kabar baik dari Indonesia,  pada hari ini (13 Juni 2020) mengunggah foto dari Arsip Nasional yang menunjukkan Tentara Republik Indonesia sedang berbaris di samping kereta pada 13 Juni 1946.

Pada unggahan dengan hashtag #sejarahhariini dituliskan keterangan “Bulan Juni 1946. Belanda cuma baru menguasai wilayah yang awalnya dari kali Cakung sampai Kali Bekasi.”

Dalam komentarnya GNFI menuliskan bahwa warga Bekasi pada saat itu dikenal sebagai kampungnya jawara silat, jadi mereka tetap berani (melawan Belanda) meskipun maju bermodalkan senjata golok.

Dituliskan pula bahwa bagi Belanda, menundukkan Bekasi artinya menjebol banteng pertama untuk menguasai titik-titik strategis berikutnya yakni Karawang, Subang, dan Purwakarta.

Dialog Imajiner Bersama Putra Sang Fajar

Matahari mulai tergelincir meninggalkan batas median, bergeser dari tengah-tengah langit, menuju arah tenggelamnya di barat.

“Telah tiba waktu sholat dzuhur,” ujarku dalam hati, sambil mengayunkan langkah menaiki anak tangga menuju lantai empat gedung kantorku yang letaknya masih di dslam komplek kantor kepresidenan. Lantai empat yang kumaksud bukanlah lantai bangunan yang sesungguhnya, tetapi atap bangunan yang terbuka. Di atap ini terdapat sebuah mushola minimalis khusus pegawai yang baru saja dibangun pada awal tahun 2020. 

Seorang pegawai pria terlihat tengah duduk di kursi besi yang disediakan sambil membuka sepatunya. Sementara seorang pegawai lainnya tengah mensucikan diri dengan wudhu. Aku pun bersegera melepas sepatu yang kupakai, menggantinya dengan sandal jepit dan ikut berwudhu. Setelah itu melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.

Usai sholat, aku memilih untuk tetap di atap gedung di lantai empat dan sejenak memandangi kawasan istana kepresidenan yang terletak di sebelah barat. Dari tempatku berdiri tampak kulihat atap-atap bangunan di kawasan istana yang mirip satu sama lain.  

Tradisi Saling Memaafkan di Hari Lebaran

Minggu 24 Mei 2020 atau 1 Syawal 1441 H merupakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, hari yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia karena merupakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Pada hari raya ini umat Muslim merayakan Lebaran dengan saling mengucapkan selamat.

Momen mengucapkan Lebaran sudah terjadi sejak dahulu kala. Ucapan yang paling sering digunakan yaitu Ied (Eid) Mubarak yang artinya Lebaran berkah. Ucapan tersebut dapat diartikan sebagai perayaan kegembiraan umat Muslim. Makna ucapan Lebaran adalah perayaan kegembiraan, sekaligus doa untuk umat muslim yang merayakannya. Untuk mengungkapkan kegembiraan dan doa tersebut dilakukan dengan berbagai cara.

Di di kawasan Timur Tengah, ucapan Lebaran biasanya menggunakan kalimat Taqabbalallahu minna waminkum, siyamana wasiyamakum, kullu am wa antum bikhair. “Artinya, semoga Allah menerima puasa kami dan kalian. 

Kearifan Lokal Sambut Lailatul Qadar

Lailatul Qadar di bulan Ramadhan merupakan malam yang ditunggu-tunggu oleh seluruh ummat Muslim yang beriman karena karena kebaikannya melebihi 1.000 bulan. Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (malam kemuliaan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur’an secara keseluruhan dari lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah.

Kapan turunnya malam Lailatul Qadar sesungguhnya dirahasiakan oleh Allah dari umat manusia. Tidak ada yang tahu persis kapan turunnya malam Lailatu Qadar. Bahkan Rasullulkah Muhammad SAW sendiri hanya menganjurkan agar kita mencari malam tersebut terutama pada malam 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Malam tersebut memiliki tanda-tanda khusus. Rasulullah Muhammad menyebutkan, lailatulqadar ada pada setiap Ramadan (H.R. Abu Dawud) dan lebih rinci lagi melalui riwayat lain dari jalur Aisyah, menyatakan “Carilah Lailatulqadar itu pada tanggal ganjil dari 10 hari terakhir bulan Ramadan” (H.R. Bukhari).

Pemimpin Jangan Berpura-pura dalam Mengelola Keadilan Sosial

Di tengah suasana wabah Covid-19 dan Ramadhan, banyak kegiatan institusi pemerintah dan swasta terpaksa dilakukan dari rumah, termasuk rapat-rapat dan diskusi dengan menggunakan berbagai aplikasi online (daring) seperti Zoom, Skype atau Jinsit. Dari sekian banyak kegiatan daring yang dilakukan tersebut, salah satu kegiatan yang sempat saya ikuti adalah diskusi daring bulan Ramadhan yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada 7 Mei 2020.

Kegiatan yang berjudul “Kamis Bersama BPIP: Sila ke-5 Pancasila Perspektif Ayat-ayat Makkiyah” menampilkan narasumber tokoh bangsa Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif atau yang akrab dipanggil Buya Syafii Ma’arif, yang juga salah seorang anggota Dewan Pengarah BPIP.

Di ruang diskusi daring menggunakan Zoom, saya melihat sekitar 85 orang peserta diskusi dari berbagai daerah di Indonesia dan seorang di antaranya dari New Delhi, India. Selain menggunakan Zoom, kegiatan tersebut juga distreaming melalui channel Youtube BPIP.

Didi Kempot Penyanyi dengan Laku Pancasila

Berpulangnya penyanyi campursari Didi Kempot pada 4 Mei 2020 pagi karena henti jantung telah membuat kaget masyarakat Indonesia, khususnya para penggemarnya yang lintas generasi. Ia berpulang di bulan Ramadhan ketika sedang berada di puncak kejayaan sebagai penyanyi.

Terlahir dengan nama Dionisius Prasetyo, Didi Kempot adalah seorang “Lord of Ambyar yang mewartakan bahwa ambyar adalah kebenaran dan hidup ini sesungguhnya rapuh dan mudah berantakan” (“Ambyar” berasal dari bahasa Jawa yang artinya bercerai-berai, berpisah-pisah, atau tidak terkonsentrasi lagi. Bagi orang Jawa, ambyar bisa berarti remuk atau hancur), tulis Sindhunata dalam artikelnya “In Memoriam the “Lord of Ambyar”” (Kompas, 7/5/2020).

“Warta itu benar ketika manusia, sang raksasa kesombongan dan kebenaran ini, bisa dirobohkan oleh Covid-19 yang kecilnya melebihi seperseribu debu,” tambah Sindhunata.

Merujuk pernyataan Sindhunata, tidak mengherankan bila kita melihat Did Kempot lebih memilih berkisah tentang rindu dan patah hati dalam lagu-lagunya, daripada berkisah tentang sesuatu yang tidak diketahuinya dan bisa mengesankan kesombongan. Rindu dan patah hati adalah dua hal yang selalu ada dalam setiap diri manusia, yang apabila tidak disikapi dengan bijak bisa memunculkan sakit hati.

Ramadhan Bulan Kemerdekaan RI

Jumat 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 9 Ramadhan 1334 H merupakan tanggal penting dalam sejarah Republik Indonesia. Pada tanggal ini, bertempat di halaman rumahnya Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, Ir. Sukarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi yang menyatakan bahwa Indonesia telah menjadi negara yang merdeka.

Pembacaan teks Proklamasi yang dilakukan dalam suatu upacara sangat sederhana tersebut berhasil mengguncang dunia dan Indonesia mendapat dukungan serta apresiasi dari berbagai penjuru dunia.

Meski beberapa saat sebelum pembacaan teks Proklamasi, Bung Karno terkena gejala malaria tertiana, suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, dengan suara mantap dan jelas Sukarno membacakan naskah teks proklamasi yang digoreskan pada secarik kertas.

Jihad Para Imam baru

Sebuah gambar karikatur yang menggambarkan seorang kepala keluarga gemetaran memimpin anggota keluarganya sholat berjamaah beredar di media sosial, judulnya “SELAMAT BERJIHAD PARA IMAM BARU.” Karikatur tersebut tentu saja sangat menggelitik karena sang kartunis dengan cerdas berhasil memotret momen sosial kekinian yaitu kegagapan atau ketidaksiapan umat Muslim dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).  

Dalam kondisi normal, kita kerap menyaksikan tradisi umat Muslim di beberapa daerah Indonesia dalam menyambut Ramadhan seperti melaksanakan ziarah kubur dan padusan (mandi besar). Malam menjelang puasa pertama, masjid-masjid pun sudah dipenuhi jamaah yang melaksanakan sholat tarawih dipimpin oleh imam masjid.

10 Film Pendek Wajib Tonton Selama WFH

Dimasa karantina ini banyak banget sineas yang share film-film pendek. Daripada hilang begitu aja mending kubikin thread film2 pendek yang recommended buat ditonton, begitu tulis akun twitter @almahddi.

Nah agar cuitan Almahddi yang berisi informasi film-film pendek berbagai genre di Youtube tidak hilang, saya simpan di blog. Saya urutkan sesuai tahun film. Anda yang ingin menonton film-film pendek tersebut tinggal klik saja.

  1. Rahasia (2011)

Tentang obrolan random seorang gadis dengan seorang bapak yang tak dikenalnya di dalam kereta yg kemudian menyibak rahasia mereka satu-persatu.

https://t.co/TwhBVE966d

2. Sebelah (2012)

Film karya Reza Rahadian pernah bikin film bergenre thriller. Berikisah tentang seorang pemuda yang curiga dengan tindakan KDRT oleh tetangga apartemen nya. Namun ending gak mungkin kalian sangka.

https://t.co/9I2AScHud3

3. Taxi (2012)

Bijak Dengan Group Sebelah

Belum lama beredar pesan berantai dari seorang Habib di Jakarta yang berisikan ajakan kepada jamaahnya untuk berlaku normal saja di tengah wabah corona karena menurut Habib tersebut, corona sengaja dibuat oleh musuh orang Muslim untuk hancurkan Islam.

“Kamu yakin akan kebenaran pesan dari Habib tersebut?”, tanya saya kepada seorang rekan yang baru mengirimkan pesan dari Habib ke group WA.

“Waduh … saya enggak tahu, saya hanya meneruskan pesan tersebut. saya  dapat dari group sebelah”, ujar rekan saya tersebut

Pada cerita lain, di twitter muncul thread curahan hati seorang anak yang baru kehilangan ayahnya yang meninggal karena sakit jantung. Sang ayah sudah lama menderita penyakit jantung dan sempat stroke sehingga tidak pernah ke luar rumah dalam beberapa tahun terakhir. Dokter rumah sakit pun sudah memberikan penegasan bahwa almarhum meninggal karena gagal jantung.

Pancasila yang Tertukar – rev

Finalis Puteri Indonesia 2020 dari Sumatera Barat, Louise Kalista Iskandar, menjadi pembicaraan publik dan bulan-bulanan netijen yang budiman ketika tidak bisa menjawab dengan baik pertanyaan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Pertanyaannya adalah “Apa Kalista hafal lima sila yang terkandung dalam Pancasila?”

Mungkin agar dikira hafal, Kalista pun mencoba menyebutkan satu persatu bunyi sila-sila Pancasila. “Nomor satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Nomor dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Nomor tiga, Persatuan Indonesia”. Sampai disini Kalista sukses melafalkan sila-sila Pancasila, meski ia tidak menyebut kata sila pertama, sila kedua, sila ketiga, sebagaimana lazimnya. Di sila keempat dan kelima barulah muncul kekacauan ketika Kalista gagap melafalkan sila keempat dan kelima. Cuplikan video kegagapan Kalista melafalkan teks Pancasila pun segera viral di media sosial.

Ketidakhafalan Kalista melafalkan sila-sila Pancasila sebenarnya manusiawi karena mungkin saja ia gugup. Soal kegugupan ini saya jadi teringat sebuah cuplikan video dimana dalam suatu acara temu masyarakat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta salah seorang anggota masyarakat untuk maju dan berdiri di panggung bareng Presiden. Saat sudah di atas panggung Presiden Jokowi bertanya mengenai sila-sila Pancasila. Anggota masyarakat tersebut terlihat gugup dan tidak bisa menyebutkan sila-sila Pancasila dengan baik. Presiden Jokowi berusaha menenangkannya secara bercanda “Enggak apa-apa, mungkin dia grogi, coba kalau bapak-bapak yang berdiri di depan saya diminta naik ke panggung, pasti juga grogi menjawabnya.”

Seperti halnya anggota masyarakat yang demam panggung saat ditanya Presiden Jokowi, Kalista pun bisa jadi demam panggung dan gugup karena mungkin tidak mengira mendapatkan pertanyaan sederhana yang semestinya bisa dijawab dengan mudah. Pertanyaannya pun hanya sekedar hafalan sila-sila Pancasila, bukan meminta penjelasan makna dan penerapan sila-sila Pancasila, yang jika dijawab tidak cukup 30 detik seperti disebutkan pembawa acara.

Pancasila yang Tertukar

Finalis Puteri Indonesia 2020 dari Sumatera Barat, Louise Kalista Iskandar, menjadi pembicaraan publik ketika gagap dan tidak berhasil melafalkan Pancasila dengan sempurna. Lancar menyebutkan sila pertama hingga ketiga, Kalista justru menyebutkan sila keempat dan kelima Pancasila secara tertukar dan kacau. Cuplikan video kegagapan Kalista melafalkan teks Pancasila, yang sesungguhnya manusiawi sekali, beredar luas di media sosial.

Kalista bisa jadi sedang apes dan tetiba menjadi putri yang tertukar karena gagal melafalkan Pancasila. Ia mungkin tidak mengira mendapatkan pertanyaan sederhana yang semestinya bisa dijawab dengan mudah. Kalista terlihat gugup berkali-kali lipat, apalagi mesti menjawab dalam 30 detik di tengah riuh rendahnya suara penonton.