Heart of Gold

Mantan presiden India, Dr. Abdul Kalam Berkata: “Waktu aku masih kecil, ibuku memasak makanan untuk kami. Suatu malam dia membuat makan malam setelah seharian bekerja keras, Ibu meletakkan sepiring ‘sabzi’ dan roti gosong di depan Ayahku.

Aku menunggu utk melihat apakah ada yg memperhatikan roti gosong itu. Ayahku tenang saja makan rotinya dan bertanya padaku bgm hari-hariku di sekolah. Aku tidak ingat apa yg kukatakan padanya malam itu, tapi aku ingat aku mendengar Ibu meminta maaf kpd Ayah atas roti gosong itu.

Aku tak akan pernah lupa yg dia katakan: “Sayang, aku suka roti gosong”. Malamnya, aku mencium Ayah, mengucapkan selamat malam. Aku bertanya apa ayah benar2 menyukai rotinya yg gosong. Ayah memelukku: “Ibumu melalui hari yg berat dgn pekerjaannya hari ini dan dia benar2 lelah.

Roti gosong tidak pernah menyakiti siapa pun, Kata-kata kasarlah yang akan menyakitkan! ” “Kau tahu nak? hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang yang tidak sempurna. Ayah pun bukan lelaki terbaik, dan telah belajar menerima ketidaksempurnaan itu”

Gile Lu Ndro

“Gile lu ndro,” begitu ucapan Kasino yang sering kita dengar dalam film-film Warkop DKI untuk meledek rekannya Indro. Pengucapan kata “Gile lu” dengan logat Jawa yang kental tersebut dapat diartikan sebagai “gila kamu”.

Mirip dengan kata “gile”, ada sebuah kata yang saat ini sedang tren dalam perbincangan yaitu “agile” (pengucapan Inggris: ejel). Banyak perusahaan atau lembaga yang menggunakan kata “agile” supaya tidak ketinggalan tren, termasuk di lingkungan RT saya.

Dalam suatu pertemuan RT,  kata “agile” muncul dan menjadi salah satu kata yang dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam draf catatan pertemuan.

“Pertemuan sepakat bahwa semua warga bertindak holistik, agile dan proaktif,” begitu kalimat yang muncul dalam salah satu butir usulan catatan pertemuan.

Keberuntungan Dalam Sepakbola

Salah satu kenikmatan menyaksikan sepakbola adalah bisa merasakan kegembiraan dan kebahagiaan serta kekecewaan dan kesedihan sdekaligus, terutama saat yang disaksikan adalah tim kesayangan. Dan malam minggu kemarin (26/9) saya merasakan semua perasaan tersebut ketika menyaksikan siaran langsung Liga Inggris di televisi antara Manchester United (MU) dan Brighton & Hove Albion.

Sebagai pendukung MU, di awal saya berharap bahwa klub berjuluk setan merah tersebut akan bermain apik dan memenangkan pertandingan. Sayangnya harapan saya tidak terkabul sepenuhnya. MU kembali bermain buruk dan seperti belum menemukan bentuk terbaiknya. Secara statistik, permainan Brighton lebih baik ketimbang tim MU. Brighton lebih dominan dalam penguasaan bola dan lebih banyak melepaskan total tembakan.

Dominasi penguasaan bola dan serangan-serangan terarah dilakukan Brighton sejak awal dan konsisten dilakukan lewat sisi kanan pertahanan MU. Pertahan MU seperti tidak terkoordinasi dan seperti tidak memiliki back kanan, meski ada Aaron Wanbisaka yang bertanggungjawab pada posisi tersebut. Belum lagi katen Tim Harry Maguire dan Lindelholf yang terlihat masih sering terlambat mengantisipas serangan Brighton.

Dengan kondisi sdperti itu saya menduga bahwa gol ke gawang MU tinggal masalah waktu. Benar saja, menit ke-40 Brighton unggul, meski bukan lewat serangan di sayap kanan tetapi lewat titik penalti setelah salah seorang penyerang Brighton dilanggar oleh Bruno Fernandes di kotak penalti sebelah kiri. Neal Maupay dari Brighton berhasil mengeksekusi tendangan penalti dengan baik.

Netralitas ASN dalam Pilkada dan Etika Pancasila

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir dan usulan penundaan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 270 daerah yaitu di 9 provinsi, 37 kota, dan 224 kabupaten, proses demokrasi lima tahunan ini telah dimulai dengan pendaftaran pada awal September 2020 dan rencana puncak pilkada pada saat pemungutan suara tanggal 9 Desember 2020.

Aktor-aktor utama dalam pesta demokrasi politik lima tahunan ini adalah para calon kepala/wakil kepala daerah yang didukung partai politik pengusung dan panitia penyelenggara yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat dan daerah.

Sementara aktor pendukungnya adalah masyarakat, salah satunya aparatur sipil negara (ASN). Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap pilkada ASN terlibat dalam proses pilkada.

Pangkalan Militer Asing dan Pancasila

Isu pangkalan militer Tiongkok dibangun di Indonesia kembali merebak menyusul publikasi dokumen Laporan Tahunan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat kepada Kongres pada 2 September 2020. Dalam dokumen setebal 200 halaman berjudul “Military and Security Development Involving the People’s Republic of China 2020” dijelaskan kemungkinan Tiongkok menjadikan Myanmar, Thailand, Singapura, Indonesia, Pakistan, Sri Lanka, dan negara-negara lain di Afrika dan Asia Tengah sebagai lokasi fasilitas logistik militer.

Apresiasi layak disampaikan kepada Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi yang dengan cepat merespon isu tersebut agar tidak menjadi bola liar.

“Kita membaca laporan Pentagon yang menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang dianggap RRT (Republik Rakyat Tiongkok) sebagai lokasi bagi fasilitasi logistik militer. Secara tegas, saya ingin menekankan bahwa sesuai dengan garis dan prinsip politik luar negeri Indonesia, maka wilayah Indonesia tidak dapat, dan tidak akan dijadikan basis atau pangkalan maupun fasilitas militer bagi negara manapun,” demikian pernyataan Menlu Retno dalam keterangannya pada Jumat, 4 September 2020.

Ajakan Hijrah dari Bokong Truk

Seperti halnya bus, truk merupakan raksasa jalan raya yang kehadirannya menakutkan para pengemudi kendaraan lainnya. Saat kedua jenis kendaraan tersebut melaju di jalan raya, mereka tidak ubahnya seperti monster. Kendaraan kecil yang berada di depannya sebaiknya menyingkir dan jangan coba-coba menghalangi jalannya bila tidak ingin terancam keselamatannya. Mengenai hal ini, aku punya pengalaman yang tidak terlupakan terkait perilaku kendaraan segeda bagong tersebut yang nyaris saja merenggut keselamatanku.

Kejadiannya terjadi beberapa tahun silam di jalur pantura, ketika dalam perjalanan kembali dari mudik lebaran. Saat itu sebuah truk hendak menyalip kendaraan jenis keluarga yang aku kemudikan. Sadar menghalangi jalannya, sebelum sopir truk membunyikan klaksonnya, aku pun mengarahkan kendaraanku ke jalur kiri. Tentu saja guna memberikan kesempatan truk tersebut melewatiku dari sisi kanan.

Belum lagi posisi kendaraanku sempurna di jalur kiri, tiba-tiba truk tersebut sudah nyelonong di jalur kanan. Aku yang mencoba berhati-hati dalam mengemudi tentu saja kaget luar biasa karena tiba-tiba ada truk nyelonong di sisi kanan dengan jarak sangat dekat. Tidak lama kemudian terdengar bunyi berderit di bagian kanan kendaraanku. Rupanya truk tersebut telah menyerempet sisi kanan kendaraan dan menggores bagian pintu depan. Sedikit saja bergeser ke kiri maka celakalah aku.

Ketika kendaraanku dan truk berhenti aku bergegas menemui sang sopir truk. Aku tentu saja marah kepada sopir truk yang tidak berhati-hati dalam mengemudikan kendaraannya, sehingga membahayakan kendaraan lain. Tapi belum lagi marahku memuncak, sang sopir truk telah meminta maaf terlebih dahulu. Ia beralasan ngantuk saat hendak menyalib kendaraanku. Sang sopir truk yang berusia separuh baya mengaku kecapekan karena sudah seharian mengemudi dan belum sempat istirahat. Akibatnya kurang konsentrasi dan mengantuk saat mengemudi.

Sensasi Kopi Enrekang

Setiap yang memiliki rasa pasti memiliki jiwa (Film Filosofi Kopi 2)

Pagi ini ketika menyeruput segelas kopi, tetiba kuteringat salah satu filosofi kopi yang disampaikan seorsng barista yang menjadi pemeran utama dalam film Filosofi Kopi 2, “Ingat, mesti tidak tertulis, setiap yang memiliki rasa pasti memiliki jiwa”.

Kopiku pagi ini adalah kopi Enrekang, Sulawesi Selatan. Kopi yang aslinya berasal dari Kelurahan Kalosi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang tersebut kudapat dari kedai kopi di pasar basah Galaxy, Bekasi Barat. Konon kopi Enfekang merupakan jenis kopi yang langka. Kopi berjenis arabika ini hanya dapat dijumpai pada dua negara yaitu Indonesia dan Brazil.

Pada plastik kemasan biji kopi seberat 200 gr tertulis biji kopi diroasting pada 6 Agustus 2020 dan diproses secara fullwash. Artinya kopi tersebut baru 2 hari lalu diroasting, masih segar dan aromanya tercium kuat.

Aku minta agar biji kopi tersebut digiling sehingga di rumah tinggal menyeduhnya.

Berkibarlah Benderaku

“Bro, sudah punya bendera merah putih? Sebentar lagi Agustus. Kita merayakan hari kemerdekaan RI. Jangan lupa kibarkan bendera merah putih di depan rumah,” seru seorang temanku.

“Tumben elo ingat soal pengibaran bendera merah putih,” jawabku agak sedikit heran.

Sepahamanku, selama ini dia selalu cuek soal bendera nasional. Bahkan waktu SMA, dia dikenal jarang ikut upacara. Setiap Senin pagi, dimana ada upacara bendera, dia selalu datang terlambat. Alasannya klasik, jalanan macet. 

“Ha ha ha … dari awal gue udah yakin kalau elo bakalan heran saat gue ngomong soal bendera nasional,” jawab temankuRI. Jangan lupa kibarkan bendera merah putih di depan rumah,” seru seorang temanku.

 “Begini bro, gue barusan aja baca berita di media sosial mengenai Surat Edaran Menteri Sekretaris Negara Pratikno yang berisi himbauan kepada masyarakat untuk memasang dan mengibarkan Bendera Merah Putih secara serentak di seluruh Indonesia mulai tanggal 1-31 Agustus 2020,” jelasnya kemudian.

Kurban dan Nilai-Nilai Pancasila

“Silahkan Pak dipilih kambing yang hendak dipotong,” ujar salah seorang panitia kurban IdulAdha 1441H setelah menerima kwitansi pembayaran hewan yang kusodorkan.

Seperti tahun-tahun lalu, kali ini akupun menyerahkan urusan kurban ke panitia di masjid yang dekat tempat tinggalku. Transaksi pembelian kambing telah kulakukan kemarin, sehingga hari ini aku cukup menyerahkan kwitansi sebagai bukti kepemilikan kambing yang akan dikorbankan.

Tidak memerlukan waktu lama akupun segera menunjuk seekor kambing jantan putih dengan sedikit bercak hitam di kepala dan badan. Kambing tersebut berukuran sedang dan terlihat sangat sehat.

“Jangan khawatir pak, semua kambing yang akan dikorbankan berjenis kelamin jantan,” jelas si panitia

“Ayah, Kenapa yang dikorbankan mesti hewan jantan?,” tanya putraku yang ikut mendampingi ke tempat pemilihan kambing dan sekaligus tempat pemotongan

Klepon Saksi Sejarah Perdamaian Indonesia-Malaysia

Tidak ada yang lebih ampuh mempopulerkan suatu produk ketimbang media sosial. Narasi klepon tidak Islami di media sosial, terbukti langsung mengangkat popularitas klepon di jagad maya. Warga net beramai-ramai mencari informasi dan ikut memposting tentang jajanan yang terbuat dari tepung beras ini. Saya termasuk salah seorang di antaranya. Saya mencari informasi mengenai klepon sebagai bagian dari diplomasi kuliner atau gastrodiplomnacy.

Bagi saya, klepon bukanlah makanan asing karena sering menjumpainya sebagai jajanan yang dijajakan pagi atau sore hari. Sejak dulu, jajanan ini bisa ditemui di pasar, sehingga disebut jajanan pasar.

Klepon biasanya dijadikan sarapan oleh masyarakat Indonesia karena bahan dasarnya tepung sehingga mengandung karbohidrat yang tinggi. Selain sarapan, klepon juga sering dinikmati sebagai camilan di sore hari.

Klepon adalah salah satu kue jajanan tradisional khas Indonesia yang berasal dari Jawa. Walau ada pula yang mengatakan klepon berasal dari daerah lain, misalnya dari Bugis di Sulawesi Selatan.

Pancasila dan Diplomasi Bela Palestina

DI tengah kesibukan penanganan pandemi covid-19 dan keriuhan usul Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila, tanpa terlalu mendapatkan perhatian publik, pemerintah Indonesia mengeluarkan kecaman keras dan menolak rencana aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat oleh Israel yang dijadwalkan dilakukan pada 1 Juli 2020.

Aneksasi atau pendudukan ialah istilah yang digunakan ketika suatu negara secara sepihak menggabungkan wilayah lain dalam perbatasan mereka, seperti yang dilakukan Israel terhadap wilayah Palestina.

Melalui siaran pers Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu RI) pada 20 Mei 2020, Indonesia menyebut rencana aneksasi oleh Israel ilegal dan bertentangan dengan berbagai resolusi PBB dan hukum internasional. Rencana tersebut juga mengancam stabilitas dan keamanan kawasan serta semakin menjauhkan penyelesaian konflik berdasarkan solusi dua negara. Karena itu, Indonesia mendesak masyarakat internasional untuk menolak rencana tersebut.

Walau rencana aneksasi Israel kemudian tertunda karena negeri zionis tersebut tengah disibukkan penanganan covid-19 dan belum ada kesepakatan yang penuh untuk melakukan aneksasi, gerak cepat Indonesia untuk menyampaikan penolakan terhadap rencana aneksasi Israel patut diapresiasi.

Terdengar Biasa Tapi Bisa Berbahaya

Dalam kehidupan keseharian kita kerap dihadapkan pada beberapa kebiasaan yang sepele namun ternyata berdampak buruk terhadap kehidupan kita dan orang lain. Beberapa ilustrasi yang tersebar luas di berbagai group Whatsapp berikut ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran hidup kita semua

1. Seorang teman bertanya : ‘Berapa gajimu sebulan kerja di toko itu?” Ia menjawab : “1,5 juta rupiah”. “Cuma 1,5 juta rupiah? Sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu?”

Sejak saat itu temanmu jadi membenci pekerjaannya. Lalu dia meminta kenaikan gaji pada pemilik toko, pemilik toko menolak dan mem PHK nya. Kini temanmu malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

2. Saat arisan seorang ibu bertanya : “Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit? bukankah anak² mu banyak?”

Rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya. Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.