Pele dan Keadilan Sang Hakim

Bagi penggemar sepak bola, nama pesepak bola Brasil Pele yang memiliki nama asli Edson Arantes do Nascimento bukanlah nama yang asing. Pele yang lahir di Tres Coracoes, negara bagian Minas Derais pada 23 Oktober 1940 dan meninggal dunia pada 30 Desember 2022 di Sao Paulo merupakan salah satu atlet sepak bola terbaik sepanjang masa dan disukai banyak orang, termasuk warga masyarakat Aceh, Indonesia. 

Salah seorang warga Aceh yang menyukai Pele adalah Mudasir, seorang petani miskin di sebuah kampung pesisir barat Aceh. Ia didakwa telah mencuri seekor sapi milik seorang pengusaha peternakan bernama Haji Sulaeman.

Ketika diminta Ketua Majelis Hakim untuk menerangkan peristiwa yang sebenarnya terjadi dan alasan memberikan nama Pele kepada sapi yang dianggap miliknya, Mudasir menjawab: “Iya benar Yang Mulia, saya membawa sapi tersebut dari peternakan milik Haji Sulaeman, tapi saya tidak mencuri karena itu si Pele, sapi milik saya”.

“Kenapa diberi nama Pele?,” tanya Ketua Majelis Hakim

“Karena saya mengidolakan Pele, pemain sepak bola dari Brazil,” jawab Mudasir

Keceriaan Anak-Anak Korban Gempa Cianjur Bareng BPIP dan Rumah Garuda

Gempa berskala 5,8 Richter terjadi di Cianjur pada November 2022 dan menimbulkan korban sekitar 600 orang dan ribuan rumah rusak.

Korban yang slamat kemudian ditampung di sejumlah tempat pengungsian yang tersebar di berbagai tempat di Cianjur yang aman dari gemma susulan.

Untuk membantu korban gempa, bányák masyarakat Indonesia yang tergerak untuk ikut membantu meringankan dengan bántuan tunai dan non-tunai, termasuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang berkunjung ke Cianjur pada 27 Desember 2022.

Selain memberikan bantuan tunai dan sejumlah harang, BPIP bersama dengan Rumah Garuda memberikan kepada anak-anak letat kegiatan mendongeng bersama tentang Pancasila.

Keceriaan dan kebahagiaan terpancar dari raut wajah anak-anak korban gempa bumi di desa Suka Mekar, Kecamatan Cigeunang, Kabupaten Cianjur saat diajak belajar sambil bermain oleh BPIP dan Rumah Garuda di temopat pengungsian pada kahir ntahun 2022 lalu. 

Bubur Cianjur Nan Menggoda

Kan kuingat di dalam hatiku

Betapa indah semalam di Cianjur

Janji kasih yang t’lah kau ucapkan

Penuh kenangan yang takkan terlupakan

Begitu penggalan lirik lagu “Semalam di Cianjur” yang dinyanyikan Alfian Harahap dan terkenal di tahun 1960-an. 

Konon lagu tersebut terinspirasi dari kunjungan sang penyanyi ke Cianjur untuk manggung di Wisma Karya di Jalan Mohammad Ali pada tahun 1960-an. Pada saat itu, Alfian sempat berkenalan dan”digosipkan” jatuh cinta dengan seorang mojang Cianjur keturunan Tioghoa-Sunda,”Namanya Leni. 

Nah terinspirasi dari judul lagu “Semalam di Cianjur”, penulis menuangkan pengalaman semalam di Cianjur pada 26 Desember 2022, khususnya terkait dengan kuliner khas kota tersebut yaitu bubur ayam.

Bagi anda penggemar bubur ayam, baik yang berfaham bubur diaduk atau makan dari pinggir, pasti tahu bahwa di Jabodetabek banyak pedagang bubur ayam yang berasal dari Cianjur. 

Mereka biasanya berjualan bubur ayam dengan menggunakan gerobak dan mangkal di suatu tempat tertentu.

Meneladani Semangat Membaca Sukarno

Proklamator Kemerdekaan RI dan Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno atau Bung Karno dikenal cerdas, tegas, dan berani dalam melawan bangsa luar yang menindas Indonesia. 

Sikap Bung Karno tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh sejak masa muda. Ia antara lain memiliki kebiasaan membaca yang kuat di usia muda. Bung Karno merupakan pembaca “bebas” yang bisa berpindah topik bacaan begitu minatnya berubah atau ketertarikannya berpindah. 

Bung Karno pun memiliki kemampuan berkomunikasi yang sangat baik. Ia terampil memakai idiom atau kata-kata kunci yang tepat sasaran untuk pendengarnya, khususnya rakyat jelata.

Dalam sebuah video yang menampilkan Presiden Soekarno diwawancarai oleh 2 wartawan asing (Amerika Serikat dan Jerman) pada bulan September 1965, mulai menit 17.50 Bung Karno menceritakan bagaimana beliau bertemu dengan dengan tokoh-tokoh dunia lewat membaca sejak muda. Ia membaca pemikiran tokoh-tokoh dunia lewat buku-buku, bukan hanya sekali tetapi bahkan sebuah buku dibaca 2-3 kali. 

Melalui buku-buku, Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Danton, Mazzini, Garibaldi, Marx, Engels, Gladstone, Webb. Ia juga bertemu dengan Hitler. “Ya saya membaca Mein Kamf three times. I also read other books about Hitler,” aku Sukarno.

Presiden Joko Widodo Ingatkan Pentingnya Bangun Kemitraan Setara ASEAN-UE

Kita tidak hanya harus maju bersama, namun juga harus maju setara! – Presiden Jokowi, KTT ASEAN-Uni Eropa

Brussel, ibukota Belgia pada Rabu (14/12/2022) ramai dihadiri Kepala Negara dan pemerintahan negara-negara anggota ASEAN, salah satunya adalah Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), yang menghadapi KTT Peringatan 45 Tahun ASEAN – Uni Eropa.

Dalam pertemuan di Gedung Uni Europa, Rabu siang, Presiden disambut resmi oleh Presiden Dewan Eropa Charles Michel dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Pada kesempatan berpidato, menggunakan Bahasa Indonesia, Presiden Jokowi menyatakan bahwa kemitraan ASEAN-UE harus didasarkan pada prinsip kesetaraan. 

Penaklukan Eropa oleh Maroko

Dalam sejarah Umat Muslim, nama Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau bukanlah sebuah nama yang asing.

Thariq bin Ziyad adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara, yang memimpin pasukan Muslim melakukan penaklukan wilayah Iberia, Spanyol. Pada Senin, 3 Mei 711 M, Thariq membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. 

Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki.

Setahun kemudian, Rabu, 16 Ramadhan 93 H, datang 10.000 pasukan dibawah pimpinan Musa bin Nusair  menyusul Thariq. Dalam perjalanan ia berhasil menaklukkan Merida, Sionia, dan Sevilla. Sementara pasukan Thariq memabagi pasukannya untuk menaklukkan Cordova, Granada, dan Malaga. Ia sendiri membawa sebagian pasukannya menaklukkan Toledo, ibukota Spantol saat itu. Semua ditaklukkan tanpa perlawanan.

Semangat Pantang Menyerah Hingga Pluit Akhir

Piala Dunia Sepakbola selalu menghadirkan kisah perjuangan para pemainnya hingga pluit terakhir berbunyi pada babak normal dan perpanjangan waktu serta saat adu penalti, seperti tersaji pada babak perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar, Jumat (09/12/2022). 

Brasil yang berjumpa Kroasia, sepertinya sudah bersiap-siap melaju ke babak semi final ketika Neymar mencetak gol pada menit ke-113.

Namun Kroasia yang tertinggal tidak berhenti berjuang dan berusaha mengejar ketertinggalannya. Hasilnya,  gol balasan dicetak lewat kaki Bruno Petkovic dua menit menjelang pluit akhir berbunyi. Gol balasan yang memaksa dilakukannya adu penalti

Langkah Brasil di Piala Dunia 2022 akhirnya terhenti di perempat final. ketika para pemain Selecao gagal dalam drama adu penalti dengan skor 1-3. Para pemain Selecao yang tampil atraktif di Qatar, gagal membobol gawang kiper Kroasia Dominik Livakovi?, dan akhirnya harus tertunduk lesu di lapangan. Neymar pun tidak kuasa menahan tangisnya

Mengkaji Karya Bung Karno di Ende

1 Juni 2022 merupakan hari yang istimewa bagi masyarakat Ende karena untuk pertama kalinya peringatan Hari Lahir Pancasila tidak dilakukan di ibu kota negara, melainkan dipusatkan di kota Ende, sebuah ibukota Kabupaten Ende, provinsi Nusa Tenggara Timur. Kota ini merupakan Kota Kabupaten terbesar di Pulau Flores berdasarkan jumlah penduduk dalam kota.

Tidak sedikit orang yang kemudian menanyakan alasan mengapa peringatan Hari Lahir Pancasila pada tahun 2022 ini dipusatkan di Ende. Jawabannya tidak terlepas dari fakta sejarah bahwa selama 4 tahun 9 bulan dan 4 hari (14 Januari 1934 – 18 Oktober 1938) Sukarno atau Bung Karno pernah tinggal di Ende karena diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Saat diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Kota Ende inilah Sukarno mematangkan ide tentang dasar falsafah yang dapat berfungsi untuk menyatukan bangsa Indonesia yang bersifat majemuk dan menjadi dasar perjuangan kemerdekaan Indonesia yang sekarang dikenal sebagai Pancasila. 

“Di Pulau Flores yang sepi, dimana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan Tuhan, kemudian dikenal sebagai Pancasila. Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami tradisi-tradisi kami sendiri dan aku menemukan lima butir mutiara indah,” begitu diceritakan Sukarno dalam autobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. 

Ketika Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir Memburu Kupu-kupu

Kita mungkin tidak pernah membayangkan dua tokoh pergerakan nasional, Mohammad Hatta atau Sutan Sjahrir, berlari-lari memburu kupu-kupu saat berada di pembuangan di Boven Digul pada tahun 1935?  Mereka dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Boven Digul karena dianggap musuh yang membangkang.

Namun setelah mendengarkan presentasi Dr. Alicia Schrikker “Butterfly from the Boven Digoel” dalam konferensi sejarah lingkungan di Universitas Gajah Mada (UGM), kita akan mengetahui bahwa kedua tokoh pergerakan nasional Indonesia tersebut juga ikut berlari-lari memburu kupu-kupu.

Informasi mengenai presentasi Dr. Schrikker disampaikan sejarawan dari UGM, S. Margana melalui akun twitternya @margana_s pada Rabu (23/11/2022).

Margana menyampaikan bahwa melalui papernya yang dipresentasikan di UGM, Dr. Alicia Schrikker menyampaikan bahwa dengan dalih penelitian tentang lingkungan, para nasionalis Indonesia yang dipenjarakan di Boven Digoel dipaksa Belanda untuk menangkap kupu-kupu view.

Ketika di Roma, Bersikaplah Seperti orang Roma

“Ketika di Roma, lakukan seperti yang dilakukan orang-orang Roma,” sebuah pepatah dari abad ke-4 yang ditujukan kepada para pendatang untuk bersikap dan mengikuti kebiasaan dan tradisi lokal ketika berada  di suatu tempat. 

Konon pepatah ini merujuk pada kisah Santo Agustinus, seorang suci Kristen awal, yang pindah dari Roma ke Milan dan menemukan bahwa para pastur tidak puasa pada hari Sabtu sepertti halnya di Roma.

Santo Ambrose yang lebih tua dan lebih bijaksana, pada waktu itu uskup Milan, menyampaikan pandangannya, “ketika saya pergi ke Roma, saya berpuasa pada hari Sabtu, tetapi di sini saya tidak”. 

Di Indonesia sendiri terdapat pepatah serupa yang berbunyi “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, yang berarti dimanapun seseorang berada, ia mesti beradaptasi dengan masyarakat atau situasi setempat dengan menghargai adat dan budaya tempatan tanpa harus kehilangan jati-dirinya 

Jangan Menangis Untukku Argentina

Semua prediksi bahwa Argentina akan kalahkan Arab Saudi di pertandingan pertamanya di Piala Dunia FIFA 2022, menjadi berantakan. Bola memang bundar. Apapun bisa terjadi. Yang terjadi, justru Argentina yang dijungkalkan 1-2 oleh Arab Saudi. 

Timnas Argentina di luar dugaan kalah 1-2 dari Arab Saudi pada laga pembuka Grup C Piala Dunia 2022 Qatar, Selasa (21/11/2022). Pada pertandingan yang dihelat di Lusail Stadium, Kota Doha, Qatar, timnas Argentina sebenarnya berhasil unggul terlebih dahulu pada menit ke-10 berkat gol penalti Lionel Messi. 

Namun, Argentina gagal mempertahankan keunggulan itu dan tampak sangat kewalahan menghadapi pressing tinggi Arab Saudi. Sepasang gol penentu kemenangan Arab Saudi dicetak oleh Saleh Al-Shehri (49′) dan Salem Al-Dawsari 54′.

Lionel Messi pun hanya terdiam ketika wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Kapten Argentina itu menerima satu kegagalan lagi. Kemenangan yang bakal diraih berkat gol semata wayangnya, terbang bersama angin. Kemenangan menjadi milik Arab Saudi. Sementara Argentina mesti berjuang lebih keras mengalahkan Mexico dan Polandia di partai berikutnya di Group C. Kalah ataupun seri bisa membuat Argentina menjauh dari trofi Piala Dunia.

Memang masih tersisa dua pertandingan lagin di babak penyisihan group, namun kekalahan Argentina dari Arab Saudi memunculkan pertanyaan: apakah Messi dan Argentina seolah ditakdirkan untuk berkalang kegagalan?. 

Gedung Merdeka dan Jejak Awal Karir Iwan Fals

Hujan deras siang hari tidak menghalangi pertemuan saya dengan dua orang hebat, yaitu tokoh tari kontemporer dan pembikin film dokumenter ragam budaya Indonesia Prof. Sardono Waluyo Kusumo, dan sosok di balik Teater Payung Hitam, Rachman Sabur. Kami bertemu di Gedung Merdeka,  Bandung, Kamis (03/11/2022). 

Kami berbincang-bincang ringan mengenai Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 yang berlangsung di Gedung Merdeka dan jejak kepemimpinan Presiden pertama Indonesia Sukarno atau Bung Karno dalam KAA. 

Di usia Republik Indonesia yang masih sangat muda, 10 tahun, Indonesia mampu menyelenggarakan konferensi yang memiliki dampak besar bagi perjuangan bangsa-bangsa Asia Afrika untuk memperoleh kemerdekaan. Konferensi yang mendorong munculnya kerja sama dan hubungan yang baik antar negara Asia Afrika di bidang ekonomi, sosial, dan budaya.