Menyusuri Jejak Masjid Kuno Kaujon di Kota Serang

Banten dikenal sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di provinsi yang paling barat di Pulau Jawa. Provinsi ini pernah menjadi bagian dari provinsi Jawa Barat, tetapi provinsi ini menjadi wilayah pemekaran sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Ibukota dan pusat pemerintahannya berada di Kota Serang. 

Di Banten ini terdapat sejumlah tempat yang menggambarkan sejarah masa silam Banten, salah satu di antaranya, yaitu Masjid Kuno Kaujon. Meski berukuran kecil yang terletak di Kampung Kaujon Pasar Sore, RT003 RW01 Kelurahan Serang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten, ini menyimpan keunikan dan saksi sejarah masa lampau. 

Dari luar bentuk masjid Kaujon Kota Serang ini terlihat memiliki kemiripan dengan bentuk masjid Demak di daerah Jawa. Kemiripan itu dicirikan dengan adanya atap tajuk dan atap cengkuk tiga. 

Baca Juga: Ini Dia Masjid dan Langgar Legendaris di Kawasan Kauman Kota Solo

Menurut Mushab Abdu Asy Syahid, salah seorang nara sumber dalam diskusi tanggal 10 Agustus 2020, yang diselenggarakan  Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten,  berdasarkan peta pada tahun 1897-an, masjid Kaujon merupakan salah satu masjid yang terdapat di Kota Serang, masjid lainnya adalah Masjid Pegantungan (At Tsauroh).

Merawat Tradisi Melalui Buka Puasa Bersama di Masjid Gedhe Kauman

Susana buka puasa bersama di Masjid Gedhe Kauman

Sempat terhenti dua tahun karena pandemi Covid 19 di awal 2020, tradisi berbuka puasa bersama yang sudah dilakukan sejak lama di masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, kembali dilaksanakan pada tahun 2022 ini.  Tentu saja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan atau prokes seperti menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan.

Tradisi berbuka puasa bersama di masjid milik Keraton Nyayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di sebelah barat komplek Alun-alun Utara, Jl. Kauman, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta ini dimulai sejak awal Ramadan 1443 H atau sejak 3 April 2022.  

Tradisi berbuka puasa bersama dimulai dengan mendengarkan ceramah Ramadan menjelang Magrib yang disampaikan seorang ustad. Setelah azan Magrib berkumandang, jamaah bersama-sama menyantap takjil atau sajian makanan dan minuman berbuka puasa yang disiapkan pengurus masjid.

Menikmati Kopi di Kedai Tak Kie Menyusuri Jejak Masa Lalu

Berkunjung ke kawasan Pecinan Jakarta kurang lengkap bila tidak mengunjungi kedai kopi legendaris di kawasan tersebut yaitu Kedai Kopi Tak Kie. 

Kedai kopi yang diambil dsri asal kata ‘tak’ yang artinya orang yang bijaksana, sederhana, dan apa adanya, dan kata ‘kie’ sendiri memiliki arti mudah diingat banyak orang. 

Kedai kopi Tak Kie ini sudah berdiri sejak  tahun 1927. Awalnya kedai kopi yang didirikan oleh seorang perantau dari Tiongkok bernama Liong Kwie Tjong ini hanyalah sebuah tempat warung kopi yang berada di kawasan petak 9.

Bakpia Kemusuk 033

Amanat ibu negara jelas, oleh-oleh dari Yogyakarta kali ini adalah Bakpia Kemusuk yang lembut. Jangan bakpia-bakpia lain seperti biasanya. Amanat yang disampaikan begitu gamblang bahkan disertai dengan hasil  google map alamat Bakpia Kemusuk.

Selesai tugas negara, segera saya meluncur ke lokasi Bakpia Kemusuk 033 yang menurut google map beralamat di  Kemusuk Kidul, RT.02, Argomulyo, Kec. Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 5575. Dusun ini terletak sekitar 15 KM arah barat Kota Yogyakarta. Perlu waktu sekitar 30 menit dari lokasi saya menginap di sekitar Gejayan.

Mendengar nama Kemusuk maka ingatan saya langsung tertuju pada nama dusun yang tidak asing lagi yaitu Dusun Kemusuk tempat kelahiran Presiden ke-2 RI Soeharto. Ya, di Dusun Kemusuk Kidul, Kelurahan Argomulyo, Kecamatan Sedayu di wilayah Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta lah Soeharto dilahirkan pada 8 Juni 1921.

Bung Hatta Penegak Pancasila

Tuhan, terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta

Jujur, lugu, dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia

Begitu pembuka lirik lagu berjudul “Bung Hata“, yang ditulis Iwan Fals untuk mengabadikan sosok salah satu sosok Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Mohammad Hatta atau Bung Hatta. Lagu ini ditulis Iwan Fals tidak lama setelah kepergian Bung Hatta pada 14 Maret 1980 di Jakarta dalam usia 77 tahun.

Selain sebagai salah seorang kemerdekaan RI, Bung Hatta merupakan Wakil Presiden pertama RI dan sejumlah jabatan penting lain di awal kemerdekaan yang konsisten memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan RI sejak muda hingga akhir hayatnya. Banyak buku-buku dan pernyataan para tokoh yang memberikan kesaksian mengenai sosok Bung Hatta sebagai pemimpin yang jujur, sederhana, tekun, dan tidak kenal kompromi. Antara apa yang diucapkan dengan yang dilakukan selaras. Bung Hatta bukan tipe pemimpin yang hanya memperkaya diri dan keluarga. Baginya, kepentingan negara lebih utama. Sosok persis seperti bunyi lirik lagu dari Iwan Fals “Jujur, lugu dan bijaksana, mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia”.

Sebagai konsekuensi atas konsistensi perjuangannya memerdekakan bangsanya, perjalanan hidup Bung Hatta pun diwarnai dengan beragam dinamika seperti mengalami pembuangan hingga bertahun-tahun, termasuk  antara lain pembuangan ke Tanah Merah Boven Digoel di pedalaman Papua atau menunda keinginan untuk menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah Indonesia merdeka, barulah Hatta menikah dengan Rachmi pada 18 November 1945. Uniknya, Hatta menjadikan buku yang ditulisnya, “Alam Pikiran Yunani,” sebagai mas kawin.

Filosofi Sambal

FILOSOFI SAMBAL

Sambal bagi orang Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu menu wajib. Tidak lengkap rasanya menyantap makanan tanpa sambal. Apapun makanannya, sambal tetap ada.

Uniknya, meski pedas dan seolah membakar lidah bahkan sampai megap-megap, namun orang yang menyantapnya tidak pernah merasa kapok. Kalaupun kapok hanya sebentar saja atau yang disebut kapok lombok atau kapok sesaat.

Berbagai kreativitas hadir tiada akhir dalam pembuatan sambal. Biasanya penyuka sambal akan terus berkreasi dalam membuat sambal. Sambal bisa dibuat mentah, goreng, rebus, kukus, dan bakar, tergantung pada bahan sambal yang akan diolah menjadi sambal.

Idul Adha dan Jenderal Sudirman

Untuk kedua kali berturut-turut umat Muslim di Indonesia tidak dapat melaksanakan salat Idul Adha berjamaah di lapangan terbuka karena pandemi covid-19 yang belum mereda. Seperti halnya Idul Adha 2020, maka sholat Idul Adha pada Selasa, 20 Juli 2021 dilakukan di rumah masing-masing. Akibatnya masjid-masjid dan lapangan terbuka yang biasanya ramai dipadati jamaah sekarang menjadi sepi.

Suasana tempat pemotongan hewan kurban yang biasanya ramai dihadiri warga yang berkurban ataupun warga yang sekedar ingin menyaksikan proses pemotongan hewan pun terlihat sepi. Pemotongan hewan hanya dihadiri oleh tukang potong dan petugas pembagi hewan kurban. Warga yang berkurban lebih memilih berdiam di rumah dan mempercayakan hewan kurbannya kepada panitia kurban.

Di tengah kelengangannya suasana Idul Adhan 2021, akun Instagram @ potretlawas membagikan foto lawas IPPHOS/Anri tahun 1946. Foto tersebut menggambarkan suasana sholat Idul Adha 1946 yang diadakan di Lapangan Gambir, Jakarta. Pada foto tersebut ribuan umat Islam melaksanakan salat Idul Adha di Lapangan Gambir dengan dijaga tentara.

Sukarno Tidak Pernah Mati

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama,” peribahasa ini memiliki arti bahwa setiap orang yang sudah meninggal pasti akan dikenang sesuai dengan perbuatannya di dunia.

Peribahasa ini sangat tepat untuk mengenang Sukarno atau Bung Karno, Bapak Proklamator Kemerdekaan dan salah seorang pendiri bangsa Indonesia yang pada 51 tahun yang lalu pergi untuk selama-lamanya. Bung Karno wafat sesudah jatuh sakit selama waktu singkat dan tanpa perawatan yang baik pada pukul tujuh pagi, 21 Juni 1970.

“Bung Karno diketahui menderita penyakit batu ginjal, peradangan otak, jantung, dan tekanan darah tinggi sejak lama. Namun, tak selayaknya seorang proklamator bangsa, akhir hidupnya dihabiskan dengan kesendirian di Wisma Yaso karena harus menjalani pemeriksaan terkait peristiwa Gerakan 30 September 1965.  Di rumahnya itu, ia tak punya teman bicara. Anak-anaknya hanya diizinkan menjenguk dengan waktu terbatas,” tulis Kompas dalam “50 Tahun Wafatnya Bung Karno: Akhir Hidup dalam Kesepian,” 21 Juni 2020.

Seperti ditulis akun Instagram @presidensukarno “Suasana kelam menggeluti langit Kota Jakarta. Sejak ditetapkan sebagai tahanan rumah pada Januari 1968, kesehatan Bung Karno terus memburuk. Dalam pertengahan Juni 1970 ia diangkut dari Wisma Yaso ke RSPAD Jakarta. Berbondong-bondoing rakyat tumpah ruah  di sepanjang jalan selama berhari-hari yang amat menguras air mata itu. Mereka mendoa, kesehatan Bung Karno akan membaik. Namun takdir berkata lain”.

Mensyukuri Keberagaman Indonesia

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS Ibrahim : 14:7)

Pada 6-7 Mei 2021 saya menghadiri diskusi lintas iman dalam bingkai Pancasila di Bogor. Diskusi yang diselenggarakan oleh Kedeputian Pengkajian dan Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dihadiri para pejabat eselon 1 dan 2 Kementerian Agama, perwakilan organisasi keagamaan dan akademisi.

Diskusi ini sangat menarik karena salah satu tujuannya adalah untuk melakukan penguatan kebijakan moderasi beragama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata moderasi didefinisikan sebagai pengurangan kekerasan, atau penghindaran keekstreman. Maka, ketika kata moderasi disandingkan dengan kata beragama, menjadi moderasi beragama, istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keesktreman dalam cara pandang, sikap, dan praktik beragama.

Sebagai negara yang secara sunnatullah memiliki keberagaman suku, agama, ras dan bahasa, moderasi beragama di Indonesia menjadi penting untuk menghilangkan gesekan sosial akibat perbedaan cara pandang masalah keagamaan.

Ziarah ke Peristirahatan Terakhir Sunan Kalijaga

Halaman parkir kendaraan dan lorong menuju makam Sunan Kalijaga masih terlihat sepi ketika kami tiba di lokasi pada Jumat 30 April 2021. Beberapa pedagang di kiri kanan lorong terlihat baru saja bersiap membuka kiosnya.

Tempat peristirahatan terakhir salah seorang Wali Songo di Pulau Jawa tersebut terletak di Desa Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak, sekitar 1,5 km dari Masjid Agung Demak ke arah tenggara. Lingkungan makam berada disekitar pemukiman penduduk yang padat.

Komplek makam ini dikelilingi tembok dengan cungkup beratap dua lapis berbentuk joglo dengan puncak atap berbentuk piramid. Dinding cungkup dikelilingi tembok dari marmer dengan pintu dan jendela berukir.

“Di bulan Ramadan ini peziarah sangat sepi karena bangunan cungkup makam Sunan Kalijaga tertutup bagi peziarah.  Peziarah yang datang tidak bisa melihat makam Kanjeng Sunan secara langsung, kecuali makam-makam yang ada di sekitar cungkup.” ujar petugas pencatat tamu saat kami tanyakan mengapa makam sepi.

Teladan Kuliner Pak Dirman

Di era teknologi informasi yang memunculkan disrupsi, yang menuntut semua pihak untuk bersikap agile (tangkas) dan adaptif agat tidak kalah dalamn persaingan, kesederhanaan pemimpin menjadi masalah penting. Lebih-lebih dengan perubahan ekonomi dan politik mengakibatkan kepemimpinan yang makin jauh dari kesederhanaan. Gaya hidup yang mengarah kepada orientasi materi tersebut menghilangkan sifat-sifat pemimpin yang bijak.

Di tengah perubahan tersebut, kehadiran sosok Jenderal Sudirman yang santun, berwibawa serta luwes dalam bergaul membuat beliau disegani di kalangan militer maupun masyarakat menjadi laksana mata air “moralitas” yang jernih dan tak pernah surut.

Saat ini siapa yang tak mengenal zJEnderrsal Sudirman atau Pak Dirman, namanya harum diseluruh penjuru Indonesia. Pak Dirman bukan sekedar pahlawan bagi Bangsa Indonesia, ia merupakan panutan sekaligus figure pemimpin bangsa masa kini. Pancaran pribadi dan jejak catatan hidupnya jadi pancaran api abadi yang memberi suluh, bukan hanya bagi langkah TNI secara khusus, juga bagi seluruh bangsa Indonesia.

Teladan Bapak Persandian RI

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, tanggal 4 April mungkin tidak memiliki arti apapun. Namun bagi mereka yang bergelut di dunia persandian. Untuk mengamankan komunikasi rahasia negara, tanggal 4 April akan senantiasa diingat sebagai hari lahirnya persandian Indonesia karena pada tanggal 4 April 1946 untuk pertama kalinya dibentuk dinas persandian. Karena itu pula setiap tanggal 4 April diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Persandian RI.

April 1946, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang baru saja diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta oleh Soekarno-Hatta dihadapkan pada ancaman dari Belanda yang ingin berkuasa kembali. Belanda yang sudah ratusan tahun bercokol di bumi nusantara tidak begitu saja rela melepaskan asetnya yang sangat berharga. Sebaliknya, rakyat Indonesia tentu saja tidak ingin momentum kemerdekaan yang sudah direbut dengan susah payah diambil kembali oleh Belanda.

Karenanya perang kemerdekaan untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia menjadi tidak terhindarkan lagi. Perang besar-besaran pun mulai berkobar. Belanda menyiapkan pasukannya untuk melakukan agresi. Sementara rakyat Indonesia bergerak bersama melakukan konsolidasi kekuatan seperti membentuk  Tentara Rakyat Indonesia pada 5 Oktober 1945 yang bertugas menjaga pertahanan negara. Sebelumnya, pada19 Agustus 1945 dibentuk Kementerian Luar Negeri yang tugasnya antara lain untuk melakukan diplomasi kemerdekaan di fora internasional.

Di tengah kondisi awal pasca kemerdekaan Indonesia tersebut, seorang dokter di Kementerian Pertahanan paa Bagian B (bagian intelijen), dr. Roebiono Kertopati, pada 4 April 1946 pukul 10.00 WIB menerima perintah dari Menteri Pertahanan, Mr. Amri Sjarifoeddin, untuk membentuk badan pemberitaaan rahasia yang disebut Dinas Code.