Kurban dan Nilai-Nilai Pancasila

“Silahkan Pak dipilih kambing yang hendak dipotong,” ujar salah seorang panitia kurban IdulAdha 1441H setelah menerima kwitansi pembayaran hewan yang kusodorkan.

Seperti tahun-tahun lalu, kali ini akupun menyerahkan urusan kurban ke panitia di masjid yang dekat tempat tinggalku. Transaksi pembelian kambing telah kulakukan kemarin, sehingga hari ini aku cukup menyerahkan kwitansi sebagai bukti kepemilikan kambing yang akan dikorbankan.

Tidak memerlukan waktu lama akupun segera menunjuk seekor kambing jantan putih dengan sedikit bercak hitam di kepala dan badan. Kambing tersebut berukuran sedang dan terlihat sangat sehat.

“Jangan khawatir pak, semua kambing yang akan dikorbankan berjenis kelamin jantan,” jelas si panitia

“Ayah, Kenapa yang dikorbankan mesti hewan jantan?,” tanya putraku yang ikut mendampingi ke tempat pemilihan kambing dan sekaligus tempat pemotongan

Klepon Saksi Sejarah Perdamaian Indonesia-Malaysia

Tidak ada yang lebih ampuh mempopulerkan suatu produk ketimbang media sosial. Narasi klepon tidak Islami di media sosial, terbukti langsung mengangkat popularitas klepon di jagad maya. Warga net beramai-ramai mencari informasi dan ikut memposting tentang jajanan yang terbuat dari tepung beras ini. Saya termasuk salah seorang di antaranya. Saya mencari informasi mengenai klepon sebagai bagian dari diplomasi kuliner atau gastrodiplomnacy.

Bagi saya, klepon bukanlah makanan asing karena sering menjumpainya sebagai jajanan yang dijajakan pagi atau sore hari. Sejak dulu, jajanan ini bisa ditemui di pasar, sehingga disebut jajanan pasar.

Klepon biasanya dijadikan sarapan oleh masyarakat Indonesia karena bahan dasarnya tepung sehingga mengandung karbohidrat yang tinggi. Selain sarapan, klepon juga sering dinikmati sebagai camilan di sore hari.

Klepon adalah salah satu kue jajanan tradisional khas Indonesia yang berasal dari Jawa. Walau ada pula yang mengatakan klepon berasal dari daerah lain, misalnya dari Bugis di Sulawesi Selatan.

Pancasila dan Diplomasi Bela Palestina

DI tengah kesibukan penanganan pandemi covid-19 dan keriuhan usul Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila, tanpa terlalu mendapatkan perhatian publik, pemerintah Indonesia mengeluarkan kecaman keras dan menolak rencana aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat oleh Israel yang dijadwalkan dilakukan pada 1 Juli 2020.

Aneksasi atau pendudukan ialah istilah yang digunakan ketika suatu negara secara sepihak menggabungkan wilayah lain dalam perbatasan mereka, seperti yang dilakukan Israel terhadap wilayah Palestina.

Melalui siaran pers Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu RI) pada 20 Mei 2020, Indonesia menyebut rencana aneksasi oleh Israel ilegal dan bertentangan dengan berbagai resolusi PBB dan hukum internasional. Rencana tersebut juga mengancam stabilitas dan keamanan kawasan serta semakin menjauhkan penyelesaian konflik berdasarkan solusi dua negara. Karena itu, Indonesia mendesak masyarakat internasional untuk menolak rencana tersebut.

Walau rencana aneksasi Israel kemudian tertunda karena negeri zionis tersebut tengah disibukkan penanganan covid-19 dan belum ada kesepakatan yang penuh untuk melakukan aneksasi, gerak cepat Indonesia untuk menyampaikan penolakan terhadap rencana aneksasi Israel patut diapresiasi.

Terdengar Biasa Tapi Bisa Berbahaya

Dalam kehidupan keseharian kita kerap dihadapkan pada beberapa kebiasaan yang sepele namun ternyata berdampak buruk terhadap kehidupan kita dan orang lain. Beberapa ilustrasi yang tersebar luas di berbagai group Whatsapp berikut ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran hidup kita semua

1. Seorang teman bertanya : ‘Berapa gajimu sebulan kerja di toko itu?” Ia menjawab : “1,5 juta rupiah”. “Cuma 1,5 juta rupiah? Sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu?”

Sejak saat itu temanmu jadi membenci pekerjaannya. Lalu dia meminta kenaikan gaji pada pemilik toko, pemilik toko menolak dan mem PHK nya. Kini temanmu malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

2. Saat arisan seorang ibu bertanya : “Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit? bukankah anak² mu banyak?”

Rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya. Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.

13 Juni 74 Tahun Lalu di Bekasi

Akun Instagram GNFI (Good News From Indonesia), sebuah media online yang memiliki visi menjadi sumber utama segala macam kabar baik dari Indonesia,  pada hari ini (13 Juni 2020) mengunggah foto dari Arsip Nasional yang menunjukkan Tentara Republik Indonesia sedang berbaris di samping kereta pada 13 Juni 1946.

Pada unggahan dengan hashtag #sejarahhariini dituliskan keterangan “Bulan Juni 1946. Belanda cuma baru menguasai wilayah yang awalnya dari kali Cakung sampai Kali Bekasi.”

Dalam komentarnya GNFI menuliskan bahwa warga Bekasi pada saat itu dikenal sebagai kampungnya jawara silat, jadi mereka tetap berani (melawan Belanda) meskipun maju bermodalkan senjata golok.

Dituliskan pula bahwa bagi Belanda, menundukkan Bekasi artinya menjebol banteng pertama untuk menguasai titik-titik strategis berikutnya yakni Karawang, Subang, dan Purwakarta.

Dialog Imajiner Bersama Putra Sang Fajar

Matahari mulai tergelincir meninggalkan batas median, bergeser dari tengah-tengah langit, menuju arah tenggelamnya di barat.

“Telah tiba waktu sholat dzuhur,” ujarku dalam hati, sambil mengayunkan langkah menaiki anak tangga menuju lantai empat gedung kantorku yang letaknya masih di dslam komplek kantor kepresidenan. Lantai empat yang kumaksud bukanlah lantai bangunan yang sesungguhnya, tetapi atap bangunan yang terbuka. Di atap ini terdapat sebuah mushola minimalis khusus pegawai yang baru saja dibangun pada awal tahun 2020. 

Seorang pegawai pria terlihat tengah duduk di kursi besi yang disediakan sambil membuka sepatunya. Sementara seorang pegawai lainnya tengah mensucikan diri dengan wudhu. Aku pun bersegera melepas sepatu yang kupakai, menggantinya dengan sandal jepit dan ikut berwudhu. Setelah itu melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.

Usai sholat, aku memilih untuk tetap di atap gedung di lantai empat dan sejenak memandangi kawasan istana kepresidenan yang terletak di sebelah barat. Dari tempatku berdiri tampak kulihat atap-atap bangunan di kawasan istana yang mirip satu sama lain.  

Tradisi Saling Memaafkan di Hari Lebaran

Minggu 24 Mei 2020 atau 1 Syawal 1441 H merupakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, hari yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia karena merupakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Pada hari raya ini umat Muslim merayakan Lebaran dengan saling mengucapkan selamat.

Momen mengucapkan Lebaran sudah terjadi sejak dahulu kala. Ucapan yang paling sering digunakan yaitu Ied (Eid) Mubarak yang artinya Lebaran berkah. Ucapan tersebut dapat diartikan sebagai perayaan kegembiraan umat Muslim. Makna ucapan Lebaran adalah perayaan kegembiraan, sekaligus doa untuk umat muslim yang merayakannya. Untuk mengungkapkan kegembiraan dan doa tersebut dilakukan dengan berbagai cara.

Di di kawasan Timur Tengah, ucapan Lebaran biasanya menggunakan kalimat Taqabbalallahu minna waminkum, siyamana wasiyamakum, kullu am wa antum bikhair. “Artinya, semoga Allah menerima puasa kami dan kalian. 

Kearifan Lokal Sambut Lailatul Qadar

Lailatul Qadar di bulan Ramadhan merupakan malam yang ditunggu-tunggu oleh seluruh ummat Muslim yang beriman karena karena kebaikannya melebihi 1.000 bulan. Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (malam kemuliaan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur’an secara keseluruhan dari lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah.

Kapan turunnya malam Lailatul Qadar sesungguhnya dirahasiakan oleh Allah dari umat manusia. Tidak ada yang tahu persis kapan turunnya malam Lailatu Qadar. Bahkan Rasullulkah Muhammad SAW sendiri hanya menganjurkan agar kita mencari malam tersebut terutama pada malam 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Malam tersebut memiliki tanda-tanda khusus. Rasulullah Muhammad menyebutkan, lailatulqadar ada pada setiap Ramadan (H.R. Abu Dawud) dan lebih rinci lagi melalui riwayat lain dari jalur Aisyah, menyatakan “Carilah Lailatulqadar itu pada tanggal ganjil dari 10 hari terakhir bulan Ramadan” (H.R. Bukhari).

Pemimpin Jangan Berpura-pura dalam Mengelola Keadilan Sosial

Di tengah suasana wabah Covid-19 dan Ramadhan, banyak kegiatan institusi pemerintah dan swasta terpaksa dilakukan dari rumah, termasuk rapat-rapat dan diskusi dengan menggunakan berbagai aplikasi online (daring) seperti Zoom, Skype atau Jinsit. Dari sekian banyak kegiatan daring yang dilakukan tersebut, salah satu kegiatan yang sempat saya ikuti adalah diskusi daring bulan Ramadhan yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada 7 Mei 2020.

Kegiatan yang berjudul “Kamis Bersama BPIP: Sila ke-5 Pancasila Perspektif Ayat-ayat Makkiyah” menampilkan narasumber tokoh bangsa Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif atau yang akrab dipanggil Buya Syafii Ma’arif, yang juga salah seorang anggota Dewan Pengarah BPIP.

Di ruang diskusi daring menggunakan Zoom, saya melihat sekitar 85 orang peserta diskusi dari berbagai daerah di Indonesia dan seorang di antaranya dari New Delhi, India. Selain menggunakan Zoom, kegiatan tersebut juga distreaming melalui channel Youtube BPIP.

Didi Kempot Penyanyi dengan Laku Pancasila

Berpulangnya penyanyi campursari Didi Kempot pada 4 Mei 2020 pagi karena henti jantung telah membuat kaget masyarakat Indonesia, khususnya para penggemarnya yang lintas generasi. Ia berpulang di bulan Ramadhan ketika sedang berada di puncak kejayaan sebagai penyanyi.

Terlahir dengan nama Dionisius Prasetyo, Didi Kempot adalah seorang “Lord of Ambyar yang mewartakan bahwa ambyar adalah kebenaran dan hidup ini sesungguhnya rapuh dan mudah berantakan” (“Ambyar” berasal dari bahasa Jawa yang artinya bercerai-berai, berpisah-pisah, atau tidak terkonsentrasi lagi. Bagi orang Jawa, ambyar bisa berarti remuk atau hancur), tulis Sindhunata dalam artikelnya “In Memoriam the “Lord of Ambyar”” (Kompas, 7/5/2020).

“Warta itu benar ketika manusia, sang raksasa kesombongan dan kebenaran ini, bisa dirobohkan oleh Covid-19 yang kecilnya melebihi seperseribu debu,” tambah Sindhunata.

Merujuk pernyataan Sindhunata, tidak mengherankan bila kita melihat Did Kempot lebih memilih berkisah tentang rindu dan patah hati dalam lagu-lagunya, daripada berkisah tentang sesuatu yang tidak diketahuinya dan bisa mengesankan kesombongan. Rindu dan patah hati adalah dua hal yang selalu ada dalam setiap diri manusia, yang apabila tidak disikapi dengan bijak bisa memunculkan sakit hati.

Ramadhan Bulan Kemerdekaan RI

Jumat 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 9 Ramadhan 1334 H merupakan tanggal penting dalam sejarah Republik Indonesia. Pada tanggal ini, bertempat di halaman rumahnya Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, Ir. Sukarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi yang menyatakan bahwa Indonesia telah menjadi negara yang merdeka.

Pembacaan teks Proklamasi yang dilakukan dalam suatu upacara sangat sederhana tersebut berhasil mengguncang dunia dan Indonesia mendapat dukungan serta apresiasi dari berbagai penjuru dunia.

Meski beberapa saat sebelum pembacaan teks Proklamasi, Bung Karno terkena gejala malaria tertiana, suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, dengan suara mantap dan jelas Sukarno membacakan naskah teks proklamasi yang digoreskan pada secarik kertas.

Jihad Para Imam baru

Sebuah gambar karikatur yang menggambarkan seorang kepala keluarga gemetaran memimpin anggota keluarganya sholat berjamaah beredar di media sosial, judulnya “SELAMAT BERJIHAD PARA IMAM BARU.” Karikatur tersebut tentu saja sangat menggelitik karena sang kartunis dengan cerdas berhasil memotret momen sosial kekinian yaitu kegagapan atau ketidaksiapan umat Muslim dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).  

Dalam kondisi normal, kita kerap menyaksikan tradisi umat Muslim di beberapa daerah Indonesia dalam menyambut Ramadhan seperti melaksanakan ziarah kubur dan padusan (mandi besar). Malam menjelang puasa pertama, masjid-masjid pun sudah dipenuhi jamaah yang melaksanakan sholat tarawih dipimpin oleh imam masjid.