Pangkalan Militer Asing dan Pancasila

Isu pangkalan militer Tiongkok dibangun di Indonesia kembali merebak menyusul publikasi dokumen Laporan Tahunan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat kepada Kongres pada 2 September 2020. Dalam dokumen setebal 200 halaman berjudul “Military and Security Development Involving the People’s Republic of China 2020” dijelaskan kemungkinan Tiongkok menjadikan Myanmar, Thailand, Singapura, Indonesia, Pakistan, Sri Lanka, dan negara-negara lain di Afrika dan Asia Tengah sebagai lokasi fasilitas logistik militer.

Apresiasi layak disampaikan kepada Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi yang dengan cepat merespon isu tersebut agar tidak menjadi bola liar.

“Kita membaca laporan Pentagon yang menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang dianggap RRT (Republik Rakyat Tiongkok) sebagai lokasi bagi fasilitasi logistik militer. Secara tegas, saya ingin menekankan bahwa sesuai dengan garis dan prinsip politik luar negeri Indonesia, maka wilayah Indonesia tidak dapat, dan tidak akan dijadikan basis atau pangkalan maupun fasilitas militer bagi negara manapun,” demikian pernyataan Menlu Retno dalam keterangannya pada Jumat, 4 September 2020.

Ajakan Hijrah dari Bokong Truk

Seperti halnya bus, truk merupakan raksasa jalan raya yang kehadirannya menakutkan para pengemudi kendaraan lainnya. Saat kedua jenis kendaraan tersebut melaju di jalan raya, mereka tidak ubahnya seperti monster. Kendaraan kecil yang berada di depannya sebaiknya menyingkir dan jangan coba-coba menghalangi jalannya bila tidak ingin terancam keselamatannya. Mengenai hal ini, aku punya pengalaman yang tidak terlupakan terkait perilaku kendaraan segeda bagong tersebut yang nyaris saja merenggut keselamatanku.

Kejadiannya terjadi beberapa tahun silam di jalur pantura, ketika dalam perjalanan kembali dari mudik lebaran. Saat itu sebuah truk hendak menyalip kendaraan jenis keluarga yang aku kemudikan. Sadar menghalangi jalannya, sebelum sopir truk membunyikan klaksonnya, aku pun mengarahkan kendaraanku ke jalur kiri. Tentu saja guna memberikan kesempatan truk tersebut melewatiku dari sisi kanan.

Belum lagi posisi kendaraanku sempurna di jalur kiri, tiba-tiba truk tersebut sudah nyelonong di jalur kanan. Aku yang mencoba berhati-hati dalam mengemudi tentu saja kaget luar biasa karena tiba-tiba ada truk nyelonong di sisi kanan dengan jarak sangat dekat. Tidak lama kemudian terdengar bunyi berderit di bagian kanan kendaraanku. Rupanya truk tersebut telah menyerempet sisi kanan kendaraan dan menggores bagian pintu depan. Sedikit saja bergeser ke kiri maka celakalah aku.

Ketika kendaraanku dan truk berhenti aku bergegas menemui sang sopir truk. Aku tentu saja marah kepada sopir truk yang tidak berhati-hati dalam mengemudikan kendaraannya, sehingga membahayakan kendaraan lain. Tapi belum lagi marahku memuncak, sang sopir truk telah meminta maaf terlebih dahulu. Ia beralasan ngantuk saat hendak menyalib kendaraanku. Sang sopir truk yang berusia separuh baya mengaku kecapekan karena sudah seharian mengemudi dan belum sempat istirahat. Akibatnya kurang konsentrasi dan mengantuk saat mengemudi.

Sensasi Kopi Enrekang

Setiap yang memiliki rasa pasti memiliki jiwa (Film Filosofi Kopi 2)

Pagi ini ketika menyeruput segelas kopi, tetiba kuteringat salah satu filosofi kopi yang disampaikan seorsng barista yang menjadi pemeran utama dalam film Filosofi Kopi 2, “Ingat, mesti tidak tertulis, setiap yang memiliki rasa pasti memiliki jiwa”.

Kopiku pagi ini adalah kopi Enrekang, Sulawesi Selatan. Kopi yang aslinya berasal dari Kelurahan Kalosi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang tersebut kudapat dari kedai kopi di pasar basah Galaxy, Bekasi Barat. Konon kopi Enfekang merupakan jenis kopi yang langka. Kopi berjenis arabika ini hanya dapat dijumpai pada dua negara yaitu Indonesia dan Brazil.

Pada plastik kemasan biji kopi seberat 200 gr tertulis biji kopi diroasting pada 6 Agustus 2020 dan diproses secara fullwash. Artinya kopi tersebut baru 2 hari lalu diroasting, masih segar dan aromanya tercium kuat.

Aku minta agar biji kopi tersebut digiling sehingga di rumah tinggal menyeduhnya.

Berkibarlah Benderaku

“Bro, sudah punya bendera merah putih? Sebentar lagi Agustus. Kita merayakan hari kemerdekaan RI. Jangan lupa kibarkan bendera merah putih di depan rumah,” seru seorang temanku.

“Tumben elo ingat soal pengibaran bendera merah putih,” jawabku agak sedikit heran.

Sepahamanku, selama ini dia selalu cuek soal bendera nasional. Bahkan waktu SMA, dia dikenal jarang ikut upacara. Setiap Senin pagi, dimana ada upacara bendera, dia selalu datang terlambat. Alasannya klasik, jalanan macet. 

“Ha ha ha … dari awal gue udah yakin kalau elo bakalan heran saat gue ngomong soal bendera nasional,” jawab temankuRI. Jangan lupa kibarkan bendera merah putih di depan rumah,” seru seorang temanku.

 “Begini bro, gue barusan aja baca berita di media sosial mengenai Surat Edaran Menteri Sekretaris Negara Pratikno yang berisi himbauan kepada masyarakat untuk memasang dan mengibarkan Bendera Merah Putih secara serentak di seluruh Indonesia mulai tanggal 1-31 Agustus 2020,” jelasnya kemudian.

Kurban dan Nilai-Nilai Pancasila

“Silahkan Pak dipilih kambing yang hendak dipotong,” ujar salah seorang panitia kurban IdulAdha 1441H setelah menerima kwitansi pembayaran hewan yang kusodorkan.

Seperti tahun-tahun lalu, kali ini akupun menyerahkan urusan kurban ke panitia di masjid yang dekat tempat tinggalku. Transaksi pembelian kambing telah kulakukan kemarin, sehingga hari ini aku cukup menyerahkan kwitansi sebagai bukti kepemilikan kambing yang akan dikorbankan.

Tidak memerlukan waktu lama akupun segera menunjuk seekor kambing jantan putih dengan sedikit bercak hitam di kepala dan badan. Kambing tersebut berukuran sedang dan terlihat sangat sehat.

“Jangan khawatir pak, semua kambing yang akan dikorbankan berjenis kelamin jantan,” jelas si panitia

“Ayah, Kenapa yang dikorbankan mesti hewan jantan?,” tanya putraku yang ikut mendampingi ke tempat pemilihan kambing dan sekaligus tempat pemotongan

Klepon Saksi Sejarah Perdamaian Indonesia-Malaysia

Tidak ada yang lebih ampuh mempopulerkan suatu produk ketimbang media sosial. Narasi klepon tidak Islami di media sosial, terbukti langsung mengangkat popularitas klepon di jagad maya. Warga net beramai-ramai mencari informasi dan ikut memposting tentang jajanan yang terbuat dari tepung beras ini. Saya termasuk salah seorang di antaranya. Saya mencari informasi mengenai klepon sebagai bagian dari diplomasi kuliner atau gastrodiplomnacy.

Bagi saya, klepon bukanlah makanan asing karena sering menjumpainya sebagai jajanan yang dijajakan pagi atau sore hari. Sejak dulu, jajanan ini bisa ditemui di pasar, sehingga disebut jajanan pasar.

Klepon biasanya dijadikan sarapan oleh masyarakat Indonesia karena bahan dasarnya tepung sehingga mengandung karbohidrat yang tinggi. Selain sarapan, klepon juga sering dinikmati sebagai camilan di sore hari.

Klepon adalah salah satu kue jajanan tradisional khas Indonesia yang berasal dari Jawa. Walau ada pula yang mengatakan klepon berasal dari daerah lain, misalnya dari Bugis di Sulawesi Selatan.

Pancasila dan Diplomasi Bela Palestina

DI tengah kesibukan penanganan pandemi covid-19 dan keriuhan usul Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila, tanpa terlalu mendapatkan perhatian publik, pemerintah Indonesia mengeluarkan kecaman keras dan menolak rencana aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat oleh Israel yang dijadwalkan dilakukan pada 1 Juli 2020.

Aneksasi atau pendudukan ialah istilah yang digunakan ketika suatu negara secara sepihak menggabungkan wilayah lain dalam perbatasan mereka, seperti yang dilakukan Israel terhadap wilayah Palestina.

Melalui siaran pers Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu RI) pada 20 Mei 2020, Indonesia menyebut rencana aneksasi oleh Israel ilegal dan bertentangan dengan berbagai resolusi PBB dan hukum internasional. Rencana tersebut juga mengancam stabilitas dan keamanan kawasan serta semakin menjauhkan penyelesaian konflik berdasarkan solusi dua negara. Karena itu, Indonesia mendesak masyarakat internasional untuk menolak rencana tersebut.

Walau rencana aneksasi Israel kemudian tertunda karena negeri zionis tersebut tengah disibukkan penanganan covid-19 dan belum ada kesepakatan yang penuh untuk melakukan aneksasi, gerak cepat Indonesia untuk menyampaikan penolakan terhadap rencana aneksasi Israel patut diapresiasi.

Terdengar Biasa Tapi Bisa Berbahaya

Dalam kehidupan keseharian kita kerap dihadapkan pada beberapa kebiasaan yang sepele namun ternyata berdampak buruk terhadap kehidupan kita dan orang lain. Beberapa ilustrasi yang tersebar luas di berbagai group Whatsapp berikut ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran hidup kita semua

1. Seorang teman bertanya : ‘Berapa gajimu sebulan kerja di toko itu?” Ia menjawab : “1,5 juta rupiah”. “Cuma 1,5 juta rupiah? Sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu?”

Sejak saat itu temanmu jadi membenci pekerjaannya. Lalu dia meminta kenaikan gaji pada pemilik toko, pemilik toko menolak dan mem PHK nya. Kini temanmu malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

2. Saat arisan seorang ibu bertanya : “Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit? bukankah anak² mu banyak?”

Rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya. Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.

13 Juni 74 Tahun Lalu di Bekasi

Akun Instagram GNFI (Good News From Indonesia), sebuah media online yang memiliki visi menjadi sumber utama segala macam kabar baik dari Indonesia,  pada hari ini (13 Juni 2020) mengunggah foto dari Arsip Nasional yang menunjukkan Tentara Republik Indonesia sedang berbaris di samping kereta pada 13 Juni 1946.

Pada unggahan dengan hashtag #sejarahhariini dituliskan keterangan “Bulan Juni 1946. Belanda cuma baru menguasai wilayah yang awalnya dari kali Cakung sampai Kali Bekasi.”

Dalam komentarnya GNFI menuliskan bahwa warga Bekasi pada saat itu dikenal sebagai kampungnya jawara silat, jadi mereka tetap berani (melawan Belanda) meskipun maju bermodalkan senjata golok.

Dituliskan pula bahwa bagi Belanda, menundukkan Bekasi artinya menjebol banteng pertama untuk menguasai titik-titik strategis berikutnya yakni Karawang, Subang, dan Purwakarta.

Dialog Imajiner Bersama Putra Sang Fajar

Matahari mulai tergelincir meninggalkan batas median, bergeser dari tengah-tengah langit, menuju arah tenggelamnya di barat.

“Telah tiba waktu sholat dzuhur,” ujarku dalam hati, sambil mengayunkan langkah menaiki anak tangga menuju lantai empat gedung kantorku yang letaknya masih di dslam komplek kantor kepresidenan. Lantai empat yang kumaksud bukanlah lantai bangunan yang sesungguhnya, tetapi atap bangunan yang terbuka. Di atap ini terdapat sebuah mushola minimalis khusus pegawai yang baru saja dibangun pada awal tahun 2020. 

Seorang pegawai pria terlihat tengah duduk di kursi besi yang disediakan sambil membuka sepatunya. Sementara seorang pegawai lainnya tengah mensucikan diri dengan wudhu. Aku pun bersegera melepas sepatu yang kupakai, menggantinya dengan sandal jepit dan ikut berwudhu. Setelah itu melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.

Usai sholat, aku memilih untuk tetap di atap gedung di lantai empat dan sejenak memandangi kawasan istana kepresidenan yang terletak di sebelah barat. Dari tempatku berdiri tampak kulihat atap-atap bangunan di kawasan istana yang mirip satu sama lain.  

Tradisi Saling Memaafkan di Hari Lebaran

Minggu 24 Mei 2020 atau 1 Syawal 1441 H merupakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, hari yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia karena merupakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Pada hari raya ini umat Muslim merayakan Lebaran dengan saling mengucapkan selamat.

Momen mengucapkan Lebaran sudah terjadi sejak dahulu kala. Ucapan yang paling sering digunakan yaitu Ied (Eid) Mubarak yang artinya Lebaran berkah. Ucapan tersebut dapat diartikan sebagai perayaan kegembiraan umat Muslim. Makna ucapan Lebaran adalah perayaan kegembiraan, sekaligus doa untuk umat muslim yang merayakannya. Untuk mengungkapkan kegembiraan dan doa tersebut dilakukan dengan berbagai cara.

Di di kawasan Timur Tengah, ucapan Lebaran biasanya menggunakan kalimat Taqabbalallahu minna waminkum, siyamana wasiyamakum, kullu am wa antum bikhair. “Artinya, semoga Allah menerima puasa kami dan kalian. 

Kearifan Lokal Sambut Lailatul Qadar

Lailatul Qadar di bulan Ramadhan merupakan malam yang ditunggu-tunggu oleh seluruh ummat Muslim yang beriman karena karena kebaikannya melebihi 1.000 bulan. Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (malam kemuliaan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur’an secara keseluruhan dari lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah.

Kapan turunnya malam Lailatul Qadar sesungguhnya dirahasiakan oleh Allah dari umat manusia. Tidak ada yang tahu persis kapan turunnya malam Lailatu Qadar. Bahkan Rasullulkah Muhammad SAW sendiri hanya menganjurkan agar kita mencari malam tersebut terutama pada malam 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Malam tersebut memiliki tanda-tanda khusus. Rasulullah Muhammad menyebutkan, lailatulqadar ada pada setiap Ramadan (H.R. Abu Dawud) dan lebih rinci lagi melalui riwayat lain dari jalur Aisyah, menyatakan “Carilah Lailatulqadar itu pada tanggal ganjil dari 10 hari terakhir bulan Ramadan” (H.R. Bukhari).