Roles of the Ministry of Foreign Affairs in Implementing Maritime Economic Diplomacy

On February 20, 2017, Indonesian President Joko Widodo (Jokowi) signed Presidential Regulation no. 16 on the “Indonesian Ocean Policy (IOP)”. The document embodies a major narrative to develop Indonesia from its ocean. It is founded upon 6 principles, 7 policy pillars and 76 strategic policies ranging from marine and human resources strategy, maritime security policies, ocean governance matters, maritime economy paths and maritime diplomacy strategies. It is an integrated, comprehensive and coherent document that contains strategic vision, measurable policy outcomes and a concrete timeline.

It is interesting that Indonesia finally has a comprehensive documentt to steer all government agencies towards a single, unified direction: to realise the Global Maritime Fulcrum vision of President Jokowi to be a strong maritime nation. Interesting too, apparently in addition to domestic use, the IOP document also attracted the attention of the international community. Many seen the IOP document as a strategic document that projects Indonesia’s interest and adaptive strategy to adapt to and counteract strategies of various key players in the region. As Indonesia is the largest economy in Southeast Asia and the largest country in the region, it is crucial to observe and examine how this major narrative and strategic document will interact with and affect Indonesian and regional geopolitics.

Challenges on Meeting Sustainable Palm Oil Goal and Standard in Indonesia

Palm oil is an essential contributor to the Indonesian economy,  particularly in rural livelihoods. The Central Bureau of Statistics noted that in 2017, Indonesia’s export of palm oil and its derivative products was still the largest foreign exchange contributor to Indonesia.

Indonesia is the largest producer of palm oil in the world. Indonesia produced more than 35 million tons of palm oil, 25 million tons of which were exported worldwide. The export value of Indonesian palm oil is around $17 billion, making up more than 12 percent of total exports in the country. It is predicted that up to 10 years, the volume and export value of palm oil and its derivative products will continue to increase.

Since palm oil has a positive contribution to Indonesia’s economy and creating benefits to the wellbeing of farmers, so the efforts of many countries to ban the export of palm oil Indonesia can be considered as an attempt to disrupt the national interests of Indonesia.

Indonesia’s Role to Strengthen Global Assets Recovery Cooperation

Nowdays, no doubt that corruption is one of the greatest obstacle of economic and social development around the world. As stated by Lord Acton, “power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely”,  corruption does not just steal money from where it is needed the most, it leads to weak governance as well as encourage abuse of power in the government.

Besides causing abuse of power, corruption has also caused huge financial losses to countries where corruptors are suspected of hiding their stolen property in other countries. For example, corruptors in Indonesia are known to keep their corruption in Singapore, Australia, America and Switzerland. Not only the moneu, the property is even protected by bank secrecy rules that are generally applied to developed countries where corrupt assets are kept.

It is very apprehensive and ‘sad’ where corruptors from Indonesia, countries with high corruption rates, their corrupt assets are protected by countries with low corruption rates. This inequality certainly raises the question of whether the borrowed funds of poor and developing countries are derived from corrupt money laundered or stored in the Bank of the rich countries.

Implementing Ethical Leadership in Indonesia Foreign Policy to Resolve Myanmar’s Rakhine State Crisis

In today’s globalized world, all nations are interconnected socially, economically, and politically.  As a result, the dilemma of considering ethics when implementing foreign policy often arises. Many theorists argue that ethics and moral would be considered when implementing foreign policy. The obligations and moral responsibilities of nation State’s were confined to their citizens and this was reflected in the process of foreign policy making. Strategies were also chosen by the State to safeguard its national interests through achievement of its goals in international relations.

In this regard, as I mentioned in my previous blog, in order to contribute to the ecosystem of peace, stability, and prosperity in the region and in the midst of the uncertainty of resolving the humanitarian crisis at Myanmar’s Rakhine State, Indonesia has been actively involved to terminate conflicts and violence as well as seek solution of the problem. Indonesia took the initiative to assist the resolution of the crisis in Myanmar’s Rakhine State. While ASEAN and most of the ASEAN countries did not exert adequate pressure to the Myanmar leaders to take back the Rohingyas and ensure peace and security in Myanmar’s Rakhine state,

Then the question raised, is Indonesia’s foreign policy to assist Myanmar’s Rakhine State as a part of Indonesia’s ethical and moral responsibility since ethics and morality are inextricably linked to the practice of foreign policy making ?.

Human Right Issues and Challenges to Create Regional Architecture

During the ASEAN Ministers Retreat on 7 February 2018, in order to contribute to the ecosystem of peace, stability, and prosperity in the region, Indonesia’s Foreign Minister Retno Marsudi proposed the development of a regional architecture in the Indo-Pacific region. The proposal is a further action of her annual press statement in January 2018 and part of Indonesia’s foreign policy priorities to strengthen ASEAN unity and fostering cooperation and the need to prioritize peace and democracy as well as respect to human rights in Southeast Asia.

The problem is, in the age of 50 of its existence, ASEAN become an organization who can boast economic growth to the highest level outside China and India. But when it comes to human rights, there are many things to note, such as the implementation of human rights in Myanmar.

In late August 2017 when the humanitarian crisis in Myanmar’s Rakhine state is becoming increasingly dire and complex. The problem, which was originally a domestic issue of Myanmar, eventually rose to a regional issue as more than half million Rohingya Muslims have fled to Bangladesh since the Myanmar military began its violent crackdown in the region.

Mencermati China Pasca Kongres ke-19 Partai Komunis

Seperti sudah diprediksi banyak pengamat, akhirnya Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis China (PKC) yang berlangsung pada 18-25 Oktober 2017 sepakat mengubah konstitusi partai dengan memasukkan pemikiran-pemikiran politik Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKC dan Presiden RepubliK Rakyat China (RRC) Xi Jinping mengenai “Sosialisme dengan Karakteristik China untuk Era Baru” ke dalam konstitusi, dan menjadikannya sebagai salah satu panduan utama partai. Melalui kesepakatan tersebut terlihat bagaimana kuatnya posisi Xi dalam kepemimpinan di China, yang bahkan disejajarkan dengan posisi pendiri RRC, Mao Zedong.

Menguatnya posisi Xi semakin terlihat ketika pada akhir kongres ia terpilih kembali sebagai orang nomor satu di Komite Tetap Politbiro, Sekjen PKC, dan Ketua Komisi Militer untuk lima tahun ke depan. Berbekal tiga jabatan penting tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa penetapan Xi sebagai Presiden Republik Rakyat China periode 2018-2023 pun hanya tinggal menunggu ketok palu dari Kongres Rakyat Nasional (sidang parlemen nasional) pada Maret 2018 mendatang.

Posisi Xi dalam kepemimpinan di China bukanlah hal yang asing mengingat sejak berada di tampuk kekuasaan dengan terpilih sebagai Sekjen PKC pada 2012, ia telah berhasil mengkonsolidasikan kekuatan internal PKC. Melalui kampanye anti-korupsi selama lima tahun terakhir, Xi berhasil membersihkan keanggotaan dalam tubuh partai dari faksi politik yang berseberangan dengannya. 

7 Naga Yang Memerintah China

Suksesi kepemimpinan di China baru saja usai dengan berakhirnya Kongres ke-19 Partai Komunis China (PKC) pada 25 Oktober 2017 lalu. Kongres lima tahunan yang diikuti sekitar 2.300 orang anggota yang mewakili 89 juta anggota PKC dan 40 elektoral tersebut berhasil menetapkan kebijakan partai dan memilih pemimpin tertinggi partai periode 2017-2022.

Terpilih sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen), sebutan bagi ketua partai, adalah Xi Jinping yang akan menjabat untuk masa jabatan kedua. Selain itu berhasil dipilih 7 orang anggota Komite Tetap Politbiro, 25 orang anggota Politbiro dan 205 orang anggota Komite Pusat Partai. Mereka semua inilah yang nantinya akan menjalankan dan mengontrol garis kebijakan partai selama lima tahun ke depan. Dan mengingat bahwa PKC merupakan satu-satunya partai yang berkuasa di China, maka kebijakan partai adalah juga kebijakan negara untuk lima tahun ke depan.

Untuk itu penting untuk mengetahui siapa saja yang akan menjalankan dan mengendalikan pemerintahan di China pada lima tahun mendatang. Dan untuk mengetahui hal tersebut, langkah awal adalah mengetahui siapa saja yang duduk dalam keanggotaan di Komite Tetap Politbiro. Komite yang kerap disebut kelompok naga ini merupakan organ tertinggi partai yang diisi oleh orang-orang paling berkuasa, yang kali ini berjumlah tujuh orang. Ketujuh orang tersebut merupakan hasil seleksi ketat dari 25 orang anggota Politbiro yang dipilih oleh 205 orang anggota Komite Pusat Partai. Mereka adalah Xi Jinping, Li Keqiang, Li Zhanshu, Wang Yang, Wang Huning, Zhao Leji, dan Hang Zheng.  

“The Foreigner” Kisah Non-Pribumi di Inggris

Gara-gara Anies Baswedan menyebutkan satu kata “pribumi” dalam pidato pertamanya sebagai Gubernur DKI yang baru pada 16 Oktober 2017, iya benar-benar SATU kata BUKAN BERKALI-KALI seperti dituduhkan oleh seseorang yang mengaku pembela HAM, netizen Indonesia pun heboh bergemuruh di dunia maya. Tidak menunggu lama, perbincangan mengenai kata pribumi (dan tentu saja diikuti dengan antonimnya yaitu non-pribumi) pun dengan cepat go internasional.

Nah di tengah kehebohan penyebutan kata “pribumi” tersebut, sejak 14 Oktober 2017 lalu di bioskop-bisokop se  Jabodetabek sebenarnya sedang diputar sebuah film yang bercerita tentang perjuangan seorang non-pribumi di Inggris.  Film tersebut adalah The Foreigner” (dari kata dalam bahasa Inggris yang berarti “orang asing” atau bisa juga disebut sebagai non-pribumi) yang dibintangi Jackie Chan dan Pierce Brossnan dan merupakan  film produksi gabungan China-Inggris yang diproduseri oleh Jackie Chan dan disutradarai oleh Martin Campbell (yang juga seorang sutradara salah satu film James Bond “The Casino Royale”).

Diadaptasi dari novel tahun 1992 berjudul “The Chinaman” karya Stephen Leather, film ini bercerita tentang balas dendam seorang non-pribumi Inggris keturunan China, Ngoc Minh Quan (diperankan oleh Jackie Chan). Quan, veteran anggota pasukan khusus AS di perang Vietnam yang tinggal di London sebagai pengusaha restoran, berjuang seorang diri untuk menuntut balas kematian anak perempuannya akibat ledakan bom yang dilakukan kelompok teroris Irlandia Utara (IRA) yang menyebut dirinya “Authentic IRA”.

Orang Asing dan Kebangkitan Sang Naga

The Foreigner

Sutradara: Martin Campbell

Skenario: David Marconi, dari novel The Chinaman karya Stephen Leather

Pemain: Jackie Chan, Pierce Brossnan, Rufus Jones

Produksi: 2017

Lama tidak menyaksikan aksi Jacky Chen di layar lebar, akhirnya kerinduan tersebut terobati melalui “The Foreigner”, film produksi gabungan China-Inggris dan disutradarai oleh Martin Campbell (yang juga menyutradarai salah satu film James Bond “The Casino Royale”). Berdua istri, saya menonton film ini di Bekasi (di Bekasi ada juga lho bioskop XXI).

Diambil dari cerita novel tahun 1992 berjudul “The Chinaman” karya Stephen Leather, film yang juga dibintangi oleh mantan pemeran James Bond Pierce Brosnan ini bercerita tentang seorang imigran China di London, Ngoc Minh Quan (diperankan oleh Jacky Chen), yang ingin membalas dendam kematian putrinya akibat ledakan bom yang dilakukan teroris Irlandia Utara (IRA) yang menyebut dirinya “Authentic IRA”.

Dalam upaya memburu pelaku peledakan bom, Quan akhirnya mendapatkan nama Liam Hennessy (diperankan oleh Piere Brossnan), mantan teroris IRA yang menjabat sebagai Wakil Menteri Irlandia. Saat awal bertemu, Hennesey tidak mengakui bahwa dialah yang memerintahkan pengeboman di tengah upaya perundingan damai yang dilakukannya dengan Pemerintah Inggris. Setelah didesak dan aibnya dengan pacar gelapnya yang bernama Maggie terbongkar, barulah Hennesey mengakui bahwa dialah yang memerintahkan pengeboman. Namun celakanya, Hennesssy tidak mengetahui kelompok mana di dalam jaringannya yang telah melakukan pengeboman.

Normalisasi Hubungan Indonesia – China

Pada 11 Oktober 2017 saya mengunggah klipping berita harian Kompas mengenai pembekuan hubungan diplomatik RI – China pada 11 Okttober 1967. Menanggapi unggahan tersebut, seorang teman kemudian bertanya “Ris, mengapa setelah pembekuan di tahun 1967 tersebut. Pemerintah RI (Pemerintahan Orde Baru dibawah pimpinan Presiden Soeharto) memulihkan kembali hubungan diplomatik dengan China pada 1990? Apakah Pak Harto tidak khawatir dengan kebangkitan PKI? Apalagi 1 tahun sebelumnya (1989) Pemerintah China membantai mahasiswa yang berdemonstrasi di Tiananmen.

Pertanyaan yang disampaikan teman saya tersebut sangat logis mengingat jika kita menelusuri kembali catatan-catatan sejarah hubungan diplomatik RI – China, akan terlihat bahwa alasan pembekuan hubungan tidak terlepas dari keyakinan bahwa China berada di belakang kudeta G30S yang dilakukan oleh PKI di Indonesia pada tahun 1965. Karena itu, jika RI menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan China, maka RI dipandang tidak lagi melihat China sebagai ancaman yang akan mendukung gerakan komunisme di Indonesia. Benarkah demikian?

Menikmati Warisan Presiden RI

Dua hari menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai Presiden ke-6 RI, pada 18 Oktober 2014 Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan museum kepresidenan yang dinamakan Balai Kirti (dari bahasa Sansekerta yang berarti “Ruang menyimpan kemasyhuran”).  Museum yang didirikan atas ide SBY pada tahun 2012 ini menyimpan dan memamerkan berbagai benda bersejarah yang pernah membawa kemasyhuran peninggalan para presiden RI yang sudah purna tugas.

Banyak hal-hal menarik yang dapat dilihat dan dipelajari dari perjalanan para Presiden RI yang telah purna tugas mulai dari kata-kata mutiaranya, prestasinya memimpin Indonesia, hingga kebijakan kontroversial yang dibuatnya. Semua hal tersebut dikemas menarik dalam Museum Kepresidenen RI Balai Kirti di Bogor, terlebih banyak barang-barang asli peninggalan presiden di sini.

Menatap Keindahan Ibu Pertiwi Indonesia

Memperingati 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Sekretariat Negara kembali memamerkan koleksi lukisan Istana Kepresidenan di Galeri Nasional pada 2-30 Agustus 2017 dengan tajuk “Senandung Ibu Pertiwi”. Seperti dituliskan dalam katalog pameran, tujuan pameran adalah untuk menggambarkan Ibu Pertiwi sebagai “Tanah Air”, tempat lahirnya sebuah identitas di satu sisi dan di sisi lain “Kekuatan Alam” yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap pelbagai hal dalam kehidupannya.

Secara apik tujuan pameran tersebut kemudian dinyatakan dalam sebuah puisi di dinding tidak jauh dari pintu masuk ruang pamer yang berjudul “Aku Melihat Indonesia”:

Jikalau aku melihat gunung gunung membiru, Aku melihat wajah Indonesia; Jikalau aku mendengar lautan membanting di pantai bergelora, Aku mendengar suara Indonesia;

Jikalau aku melihat awan putih berarak di angkasa, Aku melihat keindahan Indonesia; Jikalau aku mendengarkan burung perkutu di pepohonan, Aku mendengarkan suara Indonesia.  

Jikalau aku melihat matanya rakyat Indonesia di pinggir jalan, Apalagi sinar matanya anak-anak kecil Indonesia, Aku sebenarnya melihat wajah Indonesia.