13 Juni 74 Tahun Lalu di Bekasi

Akun Instagram GNFI (Good News From Indonesia), sebuah media online yang memiliki visi menjadi sumber utama segala macam kabar baik dari Indonesia,  pada hari ini (13 Juni 2020) mengunggah foto dari Arsip Nasional yang menunjukkan Tentara Republik Indonesia sedang berbaris di samping kereta pada 13 Juni 1946.

Pada unggahan dengan hashtag #sejarahhariini dituliskan keterangan “Bulan Juni 1946. Belanda cuma baru menguasai wilayah yang awalnya dari kali Cakung sampai Kali Bekasi.”

Dalam komentarnya GNFI menuliskan bahwa warga Bekasi pada saat itu dikenal sebagai kampungnya jawara silat, jadi mereka tetap berani (melawan Belanda) meskipun maju bermodalkan senjata golok.

Dituliskan pula bahwa bagi Belanda, menundukkan Bekasi artinya menjebol banteng pertama untuk menguasai titik-titik strategis berikutnya yakni Karawang, Subang, dan Purwakarta.

Bagi saya yang tinggal di Bekasi, unggahan  akun Instagram GNFI tentu saja sangat informatif karena menambah pengetahuan mengenai kepingan-kepingan sejarah yang saya tinggali dan semakin menjelaskan penamaan Bekasi sebagai Kota Patriot.

Kota Bekasi yang oleh sebagian warganet kerap dipandang sebelah mata dan diledek berada di planet lain, tenyata memiliki rekam sejarah kemerdekaan yang memperlihatkan perjuangan rakyat Bekasi melawan kembalinya Belanda pascaproklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Penasaran ingin mengetahui lebih banyak peristiwa 13 Juni 1946 tersebut, saya berkomunikasi dengan mbah Google yang biasanya selalu punya informasi tentang banyak hal.

Informasi pertama datang dari tulisan di website GNFI sendiri yang berjudul “Sejarah Hari Ini (13 Juni 1946) – Tentara Indonesia Rebut Bekasi dari Genggaman Belanda.” Dalam bagian tulisan yang merujuk buku Abdul Haris Nasution, “Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Diplomasi Sambil Bertempur” disebutkan bahwa pada 10 Juni 1946, Belanda secara masif melakukan serangan di garis pertahanan Bekasi di Kali Cakung sampai sebelah barat Kali Bekasi.

Di atas kali Bekasi ini terdapat jembatan rel kereta yang persemiannya dilakukan pada 14 Agustus 1890. Sebagai titik yang menghubungkan Batavia dan wilayah lain di Pulau Jawa, jembatan rel kereta ini menjadi garis demarkasi antara sekutu dan tentara Republik Indonesia.

“Pada tanggal 13 Juni 1946 jembatan Kali Bekasi kita rusakkan. Keesokan harinya musuh dengan memakai rakit berusaha menyeberangi Kali Bekasi yang airnya pada saat itu mengalir dengan amat deras,” kenang Jenderal Besar Abdul Haris Nasution lewat buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Diplomasi Sambil Bertempur.

Dengan rusaknya jembatan Kali Bekasi, saat ini menghubungkan jalan Ir. Juanda antara Stasiun Kereta Bekasi dan Kawasan Proyek, Belanda kesulitan merebut Bekasi. Selain itu perlawanan rakyat setempat yang kerap bergerilya dan bergabung dengan tentara Indonesia semakin membuat Belanda kesulitan menembus Bekasi.

Warga Bekasi pada saat itu dikenal sebagai kampungnya sebagai jawara silat, jadi mereka tetap berani meskipun maju bermodalkan senjata golok.

Pada artikel Kompas.com (17/08/2019) yang berjudul “Cerita Bekasi, Gelanggang Sabung Nyawa Pejuang Kemerdekaan,” dituliskan bahwa pada April 1946, Belanda sudah bisa masuk ke Bandung, dengan sebelumnya lewat Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Tapi, bulan Juni 1946, Belanda cuma baru menguasai wilayah yang awalnya dari Kali Cakung, sampai ke Kali Bekasi.”

Bagi Belanda, menundukkan Bekasi artinya menjebol benteng pertama untuk menguasai titik-titik strategis berikutnya, yakni Karawang, Subang dan Purwakarta.

Nafsu Belanda mengangkangi kota ini begitu tinggi karena wilayah ini juga memegang peran krusial sebagai suplai logistik.

Namun, militansi para pejuang Bekasi membuat prajurit Belanda ketar-ketir, sampai-sampai tercipta “sindrom Bekasi” di antara mereka karena ada perasaan takut bila dikirimkan ke sana.

Kini di dekat jembatan rel kereta di atas Kali Bekasi di Jl Ir Juanda, terdapat sebuah monumen yang dinamakan Monumen Kali Bekasi. Jangan senang terlebih dulu, karena monumen ini ternyata bukan untuk mengenai peristiwa 13 Juni 1946. Monumen yang bentuknya menyerupai pakaian perang tradisional tentara kekaisaran Jepang ini ternyatan didirikan atas bantuan Pemerintah Jepang untuk menandai peristiwa pembunuhan 87 tentara Kaigun (Angkatan Laut Jepang) pada 19 Oktober 1945.

Kalau saja tidak melihat unggahan GNFI di Instagram, saya dan kebanyakan warga Bekasi tidak akan tahu bahwa pada 74 tahun lalu di sekitar jembatan Kali Bekasi berlangsung pertempuran penting untuk mencegah tantara Belanda merangsek masuk ke wilayah Indonesia lainnya seperti Kerawang, Subang dan Purwakarta.

Kalau saja di sekitar jembatan Kali Bekasi atau di kawasan Staisun Bekasi dibangun pula monumen atau diorama perjuangan rakyat Bekasi seperti peristiwa 13 Juni 1946, maka upaya melestarikan semangat patriotisme para pemuda Bekasi bisa lebih luas penyampaiannya. Tentu saja semangatnya adalah semangat patriotisme kekinian untuk berjuang menunaikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dengan antara lain menuntut dasn mengembangkan ilmu dan pengetahuan, berkarya untuk kepentingan masyarakat, menjaga persatuan dan kesatuan dan meraih prestasi mengharumkan nama bangsa dan negara.

Bekasi, 13 Juni 2020

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *