Balawan dan Diplomasi Publik

Balawan ? Nama group band baru ya? Begitu pertanyaan seorang rekan ketika saya ajak menyaksikan pentas Balawan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) Jumat 7 Agustus 2009. Saya tidak terlalu kaget mendengar pertanyaan rekan saya tersebut, karena sejujurnya nama Balawan memang kalah populer dibanding para musisi yang sering tampil di layar televisi dan albumnya laris manis di pasaran seperti Gigi, Ungu, Dewa 19 ataupun almarhum Mbah Surip. Lalu siapakah Balawan ?

Bagi para penggemar musik, terutama jazz, nama Balawan atau lengkapnya I Wayan Balawan cukup dikenal sebagai seorang musisi yang piawai memainkan gitar dengan teknik yang berbeda dari para musisi umumnya. Saat musisi lain memainkan gitarnya dengan cara dipetik atau dibetot, Balawan justru lebih sering memainkan dawai gitarnya dengan cara diketuk (tapping). Kekhasan lainnya adalah penggunaan gitar berleher ganda, terkadang dilengkapi dengan sebuah gitar tambahan yang dipasang statis dihadapannya.

Balawan yang lahir di Bali pada September 1973 dan tetangga Dewa Bujana, gitaris Gigi, sangat piawai mengetuk dawai-dawai gitarnya untuk memunculkan berbagai nada dan suara alat musik lainnya. Ia bisa menirukan bunyi alat musik tradisonal seperti kendang dan gamelan dari gitarnya. Bahkan dari gitarnya tersebut ia pun bisa menirukan suara manusia seperti ah … ah atau yezz yezz.

Keahliannya tersebut didapat selain dari bakatnya yang luar biasa dalam bermain musik, juga didukung hasil pendidikannya selama dua tahun di Australian Institute of Music Sidney. Bersama-sama dengan teman-temannya dari desa Batuan, Sukowati, Bali, ia membentuk Batuan Ethnic Fusion, sebuah group musik yang mengkombinasikan alat musik tradisional Bali dan jazz.

Kembali ke pentas Balawan di BBJ, ajakan menonton pentas tersebut sebenarnya berawal dari pesan Administrator Kompasiana Pepih Nugraha di inbox saya, “malam ini jam 19.00 Balawan manggung di BBJ, nonton bareng yuk?, sebelum nonton, saya traktir nasi goreng”. Balawan dan nasi goreng ? Ehm .. sebuah tawaran yang sangat menggoda, sangat sayang untuk dilewatkan.

Setelah hampir dua jam menembus kepadatan lalu lintas Jakarta dari kawasan Gambir, akhirnya saya tiba di BBJ menjelang pukul 19.00. Di halaman BBJ, dimana pertunjukkan akan dilaksanakan, terlihat kursi-kursi panjang di depan panggung sudah dipenuhi para calon penonton, sementara di atas panggung masih terlihat kosong. Sambil menunggu aksi Balawan, yang ternyata dijadwalkan pukul 19.30, saya teringat tawaran nasi goreng dari Kang Pepih (begitu biasa saya memanggilk Pepih Nugraha). Menepati janjinya, Kang Pepih pun kemudian mengajak saya, dan juga seorang rekan saya Novrita yang datang kemudian, untuk mencoba nasi goreng di kantin belakang gedung Kompas.

Menyantap nasi goreng saat perut lapar terasa sekali nikmatnya, sedap dan mengenyangkan. Bumbu bawang putih, garam, cabe, merica, ditambah suwiran ayam goreng dan telor mata sapinya terasa pas di lidah, meski kecapnya sedikit kebanyakan. Tanpa berlama-lama sepiring nasi goreng pun tandas tak bersisa. Saya lihat Kang Pepih dan Novrita pun tidak menyisahkan nasi goreng di piringnya masing-masing.

Usai makan malam tersebut, kami pun segera kembali halaman BBJ. Di panggung terlihat Balawan sudah memulai aksinya memainkan gitar berleher ganda buatan Sidoarjo. Di nomor pembuka ini ia memainkan tembang Bird Song yang diambil dari albumnya GloBALIsm (1999). Dengan teknik ketukan pada gitarnya yang memikat, aksinya tersebut tentu saja langsung disambut meriah para penonton. Penonton tampaknya terpukai dengan teknik memainkan gitar dari Balawan.

Tidak puas memainkan gitar ganda yang disandangnya, ia pun mekombinasikan permainannya dengan gitar tunggal yang dipasang statis dihadapannya. Hasilnya lagi-lagi luar biasa, keluar nada-nada memikat yang mampu menghanyutkan perasaan mengikuti irama.

Usai tembang pertama, Balawan kemudian mencoba berkomunikasi dengan penontonnya. Ia memulainya dengan memperkenalkan personil Batuan Etnic Fusion yang antara lain terdiri dari Nyoman Suida (kendang) dan Wayan Swastika (kendang dan gamelan), Ketut (bass), Eko (keyboard) dan Dion Subiakto (drummer pengganti). Balawan juga menceritakan pengalamannya tiba di Jakarta langsung dari Bali setelah malamnya pentas di Sanur. Di Jakarta Balawan groupnya tidak sempat beristirahat karena setibanya di Jakarta langsung latihan, itu pun tanpa disertai penabuh drumnya yang sakit. Untung Dion Subiakto dapat mengisi kekosongan tersebut walau hanya sempat berlatih selama dua jam saja.

Di sesi ini Balawan sempat curhat mengenai dunia musik di Indonesia dimana selera masyarakat lebih ditentukan oleh produser rekaman dan televisi. Popularitas dan materi menjadi tujuan utama dalam bermusik sementara kreativitas seolah terpinggirkan. Karena itulah dalam bermusik Balawan tidak ingin tergantung pada industri dan pencapaian popularitas semata. Ia ingin lebih kreatif dalam bermusik. Ia pun lebih senang bermusik dari panggung ke panggung dan terus berimprovisasi dalam bermusik. Dalam bermusik, ia pun akan terus berupaya memasukkan unsur-unsur etnis Bali. Langkah ini bukan saja memperkaya kesenian Bali tapi juga dapat lebih memperkenalkan budaya Indonesia di dunia internasional.

Terkait dengan upaya Balawan memperkenalkan kesenian tradisional yang dikombinasikan dengan instrument musik modern, saya beruntung beberapa kali menyaksikan langsung penampilan Balawan saat saya bertugas di Brussels, Belgia.

Usai curhat, Balawan menyajikan “semua bisa bilang”, tembang lawas yang pernah dibawakan Charles Hutagalung. Di tangannya tembang pop ini menjadi lebih menghanyutkan, sehingga tanpa sadar penonton pun terbawa suasana untuk ikutan menembangkan lagu tersebut.

Setelah itu ia membius penonton dengan tepukan gitar dari jari-jari lincahnya. Bahkan ia pun kemudian berduel dengan Nyoman Suida (kendang) dengan berupaya menirukan setiap pukulan Nyoman Suida ke kendang, Disini Balawan dengan impresif mampu menirukannya bunyi kendang yang dihasilkan Nyoman lewat ketukan gitarnya.

Sebagai penutup Balawan menyajikan tembang “See You Soon” yang diambil dari album terakhirnya dengan nama yang sama. Dengan apik ia kembali mengumbar teknik ketukan gitar yang sangat memikat, yang kemudian diramu dengan alat musik kencreng yang dimainkan bersamaan oleh 4 orang personil Batuan Etnic Fusion. Sangat memikat dan membuai, bahkan saat melihat personil Batuan Etnic Fusion memukul kencreng secara bersamaa kita diingatkan pada suasana pertunjukan barongsai.

Melihat kepiawaian Balawan memainkan gitar dan keapikannya mengkombinasikan alat musik yang dikuasainya dengan alat music tradisional menjadikan pertunjukan yang dirancang selama dua jam menjadi cepat berlalu. Kita bukan hanya menikmati musik jazz yang cenderung membosankan, tetapi jazz etnic yang menggairahkan dan memuaskan pemirsanya. Ya menikmati penampilan Balawan kita seperti sedang menikmati maknyusnya nasi goreng spesial, bukan sekedar nasi putih yang disajikan tanpa lauk.

Menyaksikan penampilan Balawan kita melihat anak bangsa yang juga aset nasional yang dapat diajak sebagai duta bangsa untuk lebih memperkenalkan Indonesia, terutama kesenian dan musik Indonesia, di dunia internasional. Kalau selama ini Balawan manggung di manca negara lebih banyak dengan biaya sendiri, ke depan akan lebih baik jika pemerintah (misalnya depbudpar ataupun dinas kebudayaan dan kesenian pemerintah daerah) dapat mendukung pentas Balawan. Kerjasama bisa dilakukan bersama-sama dengan Perwakilan-Perwakilan RI di luar negeri sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + nine =