ASEAN di Piala Dunia 2030

Ada yang menarik dari pertemuan informal para Menlu ASEAN (ASEAN Ministerial Meeting Retreat) yang baru saja dilangsungkan di Lombok, 16-17 Januari 2011. Ditengah-tengah pembahasan isu-isu utama ASEAN seperti persiapan KTT ASEAN dan pembentukan Komunitas ASEAN serta new regional architecture, para Menlu ASEAN ternyata juga membicarakan masalah sepakbola. Keberhasilan penyelenggaraan putaran final Piala Suzuki ASEAN Football Federation (AFF) 2010 dan antusiasme tinggi para pendukung sepakbola di kawasan Asia Tenggara ternyata menginspirasikan para Menlu ASEAN untuk menjadikan negara ASEAN sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia Sepakbola.

Para Menlu ASEAN melihat bahwa sebagai suatu olah raga yang populer di Asia Tenggara, sepakbola dapat dijadikan sarana untuk memperkuat proses integrasi ASEAN. Untuk itu para Menlu ASEAN pun menargetkan tahun 2030 sebagai tahun penyelenggaraan pesta akbar sepakbola dunia dengan ASEAN sebagai tuan rumah bersama.

Untuk itu para Menlu ASEAN setuju untuk mengagendakan pembahasan pencalonan ASEAN sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia Sepakbola dalam berbagai pertemuan ASEAN. Para Menlu ASEAN juga sepakat menugaskan Malaysia untuk menyusun proposal ke FIFA yang memungkinkan ASEAN memenangkan pencalonan sebagai tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2030.

Melihat tingginya minat masyarakat di ASEAN terhadap sepakbola dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut serta didukung stabilitas politik kawasan, bisa jadi negara ASEAN akan terpilih menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030. Meski bukan yang pertama sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia, sebelumnya di tahun 2002 Jepang dan Korea telah menjadi tuan rumah bersama, terpilihnya ASEAN akan sangat membanggakan dan mendorong semangat semua elemen anggota masyarakat di kawasan Asia Tenggara untuk lebih bersatu dalam Komunitas ASEAN. Seperti dikatakan sendiri oleh Sekretaris Jenderal ASEAN Dr. Surin Pitsuwan “Terpilihnya ASEAN sebagai tuan rumah piala dunia sepakbola merupakan langkah yang baik untuk mempercepat penyatuan ASEAN”

Lalu jika Piala Dunia 2030 diselenggarakan di ASEAN, dimana tempat penyelenggaraannya? Negara ASEAN mana saja yang akan menjadi tuan rumah saat pembukaan dan penutupan? Pertanyaan lain yng tidak kalah pentingnya adalah siapakah yang akan bertanding di turnamen bergengsi piala dunia mewakili ASEAN?

Jika melihat peta sepakbola ASEAN saat ini dan ketersediaan stadion sepakbola berskala internasional, setidaknya ada 5 negara yang bisa menjadi penyelenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura dan Vietnam. Indonesia punya stadion Gelora Bung Karno (kapasitas penonton: 88 ribu), Malaysia dengan stadion Bukit Jalil (87 ribu), Thailand punya stadion nasional Rajamanggala (49 ribu), Vietnam punya stadion nasional My Dinh (40 ribu), dan Singapura punya stadion nasional Singapura (55 ribu).

Untuk acara pembuka dan penutup, saya yakin pilihan jatuh ke Indonesia, Malaysia atau Thailand. Dasar pertimbangannya adalah jumlah penonton di ketiga negara tersebut sangat besar dan memungkinkan panitia penyelenggara meraup keuntungan besar.

Jika untuk tempat menyelenggarakan pertandingan, kita bisa memperkirakan pilihan di kota-kota besar ASEAN, maka untuk menentukan kesebelasan yang akan mewakili ASEAN akan sedikit lebih repot. Agar objektif, bisa saja AFF menyelenggarakan suatu turnamen khusus dimana juara dan runner up otomatis mewakili ASEAN. Namun hasil tersebut belum tentu memuaskan seluruh anggota masyarakat di ASEAN. Bagaimana jika jika ternyata kesebelasan yang menjadi juara dan runner up berasal dari negara yang tidak memiliki kapasitas stadion yang memadai. Bayangkan seandainya Kamboja dan Myanmar menjadi juara dan berhak mewakili ASEAN, apakah pertandingan piala dunia akan digelar di Phnom Penh dan Yangoon?

Sebaliknya, jika pertandingan di gelar di Jakarta tapi ternyata kesebelasan Indonesia memble dan tidak berhak mewakili ASEAN, apakah masyarakat Indonesia akan merasa nyaman jika hanya bertindak sebagai penonton saja tanpa sekalipun melihat tim kesebelasan nasional bertanding?

“Aah tahun 2030 masih lama kawan, masih banyak waktu bagi Indonesia untuk membenahi sistim persepakbolaannya dan menyiapkan tim nasional yang tangguh”, begitu celetuk teman saya. Benar, tahun 2030 memang masih dua puluh tahun dari sekarang, tapi kalau tidak dari sekarang kita mereformasi persepakbolaan Indonesia maka kita akan terus tertinggal. Sejarah memperlihatkan bahwa sepakbola kita sekarang sudah tertinggal dari negara-negara Asia lainnya. Jangankan menghadapi Jepang, Korea Selatan atau China, menghadapi Malaysia saja kita masih kalah dan belum berhasil menjadi juara Piala Suzuki AFF 2010.

Jadi sambil menyongsong pembentukan Komunitas ASEAN mulai 2015 dan diajukannya proposal tuan rumah Piala Dunia 2030, kita bisa berharap pengelolaan sepakbola di Indonesia akan menjadi lebih baik dan profesional. Karena itu masyarakat Indonesia mesti bersiap sejak dini ikut terlibat dalam upaya mereformasi sepakbola dan menyiapkan satu tim nasional yang tangguh, salah satu caranya adalah dengan mendukung terbentuknya sistim kompetisi sepakbola yang baik dan mengkritisi kepemimpinan di organisasi sepakbola Indonesia jika mereka tidak menjalankan fungsinya dengan baik dan benar.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + twelve =