Santri dan Toleransi Dalam Kartun

IMG_20151129_180113Karya seni rupa, terkhusus lagi karya kartun, merupakan tawaran yang bisa disodorkan sebagai alternative untuk mendekatkan isu sensitif dan penting kepada publik luas. Seperti halnya karya seni (rupa) pada umumnya, kartun diekspektasikan mampu melakukan proses mimesis atas artefak dan gejala visual yang ada di alam, serta kemudian membubuinya dengan aksi kritis atas gejala sosial yang melingkungi problem kemasyarakat secara umum. Kritisisme atau aksi kritis yang bisa ditawarkan oleh karya kartun pada umumnya dengan pendekatan humor”, demikian tulis Kuss Indarto, kurator pameran Kartun Santri Nusantara yang digelar di Ruang B Galeri Nasional, Jakarta, 24-30 November 2015.

Dan merujuk perkataan Kuss Indarto tersebut di atas, maka ketika seorang santri membuat kartun, maka bisa diduga bahwa isu sensitif dan penting yang ingin disampaikan kepada publik luas adalah hal-hal yang terkait Islam dengan bumbu aksi kritis gejala sosial yang melingkungi problem kemasyarakatan secara umum. Hal ini tidak mengherankan, karena ketika kita bicara tentang santri maka kita merujuk pada seseorang yang mengikuti pendidikan ilmu agama Islam di suatu temp[at yang dinamakan Pesantren, biasannya menetap (mondok) di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai.

Dugaan tersebut ternyata tidak keliru, semua 100 kartun terpilih yang dipamerkan, dari 1500-an kartun karya peserta lomba kartun Nusantara yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren , Kementerian Agama, menampilkan pesan-pesan kuat mengenai kehidupan beragama, termasuk masalah toleransi dan kerukunan antar umat beragama, isu terkini mengenai radikalisme dan terorisme serta penggunaan media sosial.
Ke-100 kartun yang dipilih oleh dewan juri yang beranggotakan KH Ahmad Mustofa Bisri (Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin, Rembang), GM Sudharta (kartunis senior), Pramono R Pramujo (kartunis senior), dan Abdullah Ibnu Thalhah (Direktur Rumah Kartun Indonesia), memiliki nilai seni yang indah dan kritis serta memiliki edukasi di dalamnya yang sejalan dengan tema lomba yaitu “Bernegara dan beragama yang santun berakhlak”.

Pesan kuat mengenai sikap santrun beakhlak melalui sikap saling bertoleransi dan menghargai antar umat beragama, yang menepis isu-isu politik yang memanfaatkan ideologi beragama tampak dari kartun karya Muhammad Bahrudin yang terpilih menjadi juara pertama. Melalui kartun berjudul ‘Agama dan Bakti Kemanusiaan’, santri asal Pondok Pesantren Tele Mekah Indonesia, Depok itu menggambarkan tentang dua orang anak yang beragama nasrani sedang membantu seorang nenek yang berjalan bersama seorang anak perempuan muslim di persimpangan lalulintas.

IMG_20151129_172140Pesan plural sekaligus keharmonisan antar umat beragama terkandung kuat dalam lukisan. Apalagi, latar yang dipilih kartunis merupakan gambaran nyata suasana perkotaan yang lengkap dengan hiruk pikuk aktivitas masyarakat Ibukota. Menurut dewan juri, “Selain nyata, alasan mengapa dewan juri memilih kartun tersebut karena kartunis tetap memasukkan unsur kartun yang luwes, berwarna dan ceria yang digambarkan dalam setiap ekspresi tokoh kartun di dalamnya. Hal itu penting dalam menyampaikan kritik ataupun harapan melalui karya seni.”

IMG_20151129_172415Selain pesan-pesan moral dan pluralism yang disampaikan para kartunis, tampak pula penghormatan yang sangat tinggi kepada santri legendaris yang juga mantan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Almarhum Gus Dur yang merupakan cucu dari pendiri NU, KH Wahid Hasyim, ini merupakan seorang santri yang dikenal cerdas dan humoris. Penghormatan tersebut tampak dari keberadaan 8 dari 100 kartun yang menampilkan sosok Gus Dur. Bukan hanya itu, bersama kartun Presiden Jokowi bersarung, sosok Gus Dur sudah tampil sejak pintu masuk Ruang Galeri B.

Dominannya sosok Almarhum Gus Dur dalam pameran ini sekaligus juga ingin menunjukkan bahwa santri dan lulusan pesantren bukan lagi sekedar menjadi guru, ustad atau kiai, tetapi juga bisa menjabat profesi apa saja seperti wartawan, pengusaha, politisi, tentara hingga menjadi presiden.

Pesan lain yang tampaknya ingin disampaikan adalah bahwa terdapat hubungan erat antara santri dan kartun. Pertama, santri dan kartun sama-sama memiliki ruh jiwa intelektual yang kuat untuk bisa menyampaikan pikirannya secara visual. Kedua, santri dan kartun sama-sama memiliki tujuan untuk memperbaiki kegiatan sosial kemasyarakatan ke arah yang lebih baik. Dan ketiga, santri dan kartun sama-sama memiliki unsur humor.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − ten =