Merawat Silahturahmi Lewat Aksi Ulang Foto Lawas

FB_IMG_1455752207135Jika sebuah gambar lebih bermakna dari seribu kata, maka sebuah foto bukan hanya lebih bermakna dari seribu kata tetapi juga memiliki makna lebih dari itu, merekam peristiwa dan menyimpannya dalam kurun waktu yang sangat lama, bahkan seumur hidup. Sebuah foto bisa menjadi bukti sejarah bahwa pada suatu masa kita pernah berada di suatu tempat, baik sendiri maupun bersama-sama keluarga, kerabat, sahabat dan lainnya.

Menatap sebuah foto, apalagi jika terdapat diri kita di dalamnya, maka ingatan kita akan terbawa pada suatu kenangan akan suatu tempat dan masa tertentu yang tidak mungkin kembali. Melihat-lihat foto-foto masa lalu bisa menjadi hal yang menyenangkan. Kita bisa mengumpulkan kenangan-kenangan yang terserak yang mungkin membuat kita bisa lebih bijaksana.

Tentu saja bukan hal mudah untuk mengembalikan kenangan yang terserak di masa lalu ke masa kini. Ibarat bermain puzzle, kita mesti mengumpulkan keping-keping kenangan satu demi satu untuk mendapatkan sebuah gambaran yang utuh, yang bahkan kita tidak tahu apakah kepingan-kepingan itu masih lengkap atau tidak.

Nach ibarat bermain puzzle, saya dan teman-teman SMA mencoba melakukan rekonstruksi kenangan di masa sekolah berdasarkan foto-foto saat itu, salah satunya adalah saat bermain di kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol sekitar tahun 1983. Saat itu, tujuh orang sekawan (Saya, Hermen, Karnadi, Mulad Wibowo, Mulyadi, Purwanto dan Priyo Rahardjo) dengan masih berseragam sekolah memanfaatkan waktu kosong di sekolah untuk bermain-main di pantai Ancol. Saat itu kawasan pantai Ancol belum seramai dan sepadat seperti sekarang. Belum ada tempat hiburan seperti Dunia Fantasi ataupun kereta gantung (Gondola).

Berbekal 2 (dua) buah foto yang memperlihatkan 6 anak SMA sedang bergaya di kawasan pantai Ancol mengenakan seragam putih abu-abu, kami kemudian mencoba menghidupkan kembali suasana pada tersebut dan memfotonya kembali sesuai dengan kondisi sekarang (remake photography). Kenapa pada kedua foto tersebut hanya tampak enam orang padahal yang ke Ancol ada tujuh orang? Ya, karena kami tidak punya punya tripod untuk kamera dan karenanya mesti ada satu di antara tujuh orang tersebut yang harus bergantian bertindak sebagai juru foto.

Tentu saja mengulang kembali pembuatan foto-foto seperti tahun 1983 bukan lah suatu hal yang mudah. Kendala pertama, selang waktu pengambilan foto ulang sudah sangat lama yaitu 33 tahun. Dalam kurun waktu yang sangat panjang tersebut sudah banyak hal yang berubah, mulai dari orang-orangnya hingga lingkungan di sekitar lokasi pengambilan foto.

Kendala kedua adalah kesulitan menemukan teman-teman yang ada di foto tersebut secara lengkap. Dari tujuh orang sekawan yang pergi ke Pantai Ancol pada saat itu, ada seorang teman yaitu Priyo Rahardjo yang hingga saat ini belum diketahui sama sekali keberadaannya karena putus kontak sejak lulus SMA.

Kendala ketiga adalah kesulitan untuk mengatur waktu mengumpulkan enam orang yang ada untuk ketemu dan kumpul bersama di Ancol. Maklum, masing-masing dari kami memiliki kesibukan tersendiri dengan jam kerja yang tidak seragam. Saat ada beberapa orang yang bisa pada satu tanggal tertentu, beberapa lainnya yang tidak bisa karena dinas luar kota dan luar negeri. Bahkan ketika akhirnya disepakati tanggal 2 April 2016 sebagai waktu ketemuan di Ancol, ternyata ada seorang yang tidak bisa hadir yaitu Purwanto karena ada saudara istrinya yang wafat di Cibinong.

The show must go on, meski satu orang berhalangan tapi karena sudah direncanakan lama maka rencana pembuatan ulang foto di Ancol pada 33 tahun lalu tetap berjalan pada tanggal 2 April 2016. Sekitar pukul 06.30 kami berlima sudah berkumpul di Pasar Seni Ancol sebagai titik kumpul.

Dari Pasar Seni, dengan berkendaraan kami bergerak menyusuri pantai Ancol mulai dari Pondok Putri Duyung hingga pantai dekat Marina melewati hotel Mercure (dulu hotel Horison) yang sudah banyak berubah. Susah bagi kami untuk menemukan kembali lokasi dimana kami dulu berfoto. Kawasan pantai tersebut sudah dikavling-kavling sebagai tempat wisata seperti pantai Bende dan Beach Ancol.

Setelah memarkir kendaraan di kawasan pantai yang lebih dekat ke Marina, bersama-sama kami menyusuri tepian pantai yang sebagian besar pinggirannya sudah dibeton. Jadi tentu saja akan sia-sia jika ingin mencari pantai berpasir dengan bebatuan di pinggir pantainya. Sia-sia juga mencari dermaga kayu tempat bersandarnya perahu-perahu layar yang dulu kerap digunakan untuk berlayar ke tengah laut. Dermaga sekarang adalah dermaga permanen yang terbuat dari beton.

Tak ada akar, rotan pun jadi, meski suasana dii lokasi asli sudah berubah total, namun suasana yang mirip-mirip di lokasi pun tak apa dijadikan sebagai latar belakang pemotretan. Sambil membuat ulang foto 33 tahun yang lalu, fotografernya anak saya, Rifkcy, kami berbincang-bincang akrab mengingat masa lalu. Mengenang kembali perjalanan ke pantai Ancol ketika tidak ada mata pelajaran di sekolah. Bukan bolos sekolah, tapi memanfaatkan waktu luang karena kelas dipulangkan cepat akibat gurunya sering rapat. Begini hasilnya

FB_IMG_1455752207135

ancol the reunionFB_IMG_1459549431887ancol the reunion 2Kami juga berbincang-bincang tentang cita-cita kami dulu, yang seiring perjalanan waktu dan takdir masing-masing ternyata tidak semuanya bisa tercapai sesuai harapan. Mulad dan Mulyadi yang ingin menjadi insinyur ternyata berhasil mencapai cita-citanya karena kemudian diterima di FTUI dan sekarang bekerja di industri yang sesuai dengan keahliannya. Demikian pula Purwanto berhasil meraih cita-citanya menjadi guru setelah lulus dari IKIP Jakarta. Sedangkan Karnadi yang juga kuliah di IKIP Jakarta, hampir meraih cita-citanya menjadi guru. Tapi perjalanan akhirnya menentukan bahwa sekarang ini Karnadi tidak menjadi guru formal di sekolah.

Hermen yang dulu sering kami ledek akan jadi pedagang besar karena latar belakangnya sebagai pedagang ternyata malah menjadi pelaut (karena kuliahnya di Akademi Ilmu Pelayaran) dan sekarang meski tidak melaut tetapi tetap bekerja di kawasan yang ada hubungannya dengan laut yaitu pelabuhan Tanjung Priok.

Sedangkan saya, yang awalnya sempat berkeinginan kuliah di teknik arsitektur justru menyelesaikan pendidikan di Akademi Sandi Negara dan FHUI, sekarang malah jadi diplomat yang kerap menuliskan catatan-catatan ringan di blog.

Setelah hampir tiga jam menikmati suasana pantai Ancol dan mengenang masa 33 tahun lalu bersama sahabat dan keluarga serta menikmati cemilan yang dibawa dari rumah, kami mengakhiri kegiatan silahturahmi dan membangkitkan kenangan lewat foto lawas. Berharap semua tetap mendapat kesehatan dan keberkahan serta umur panjang sehingga bisa membuat kegiatan foto ulang lagi secara bersama-sama di masa-masa mendatang.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + eighteen =