Ende Aru Gau dan Tenun Ikat

Aris Flores BokasapePerjalanan rombongan wisata alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 85 (Garis 85 Goes To Flores) tanggal 5 Mei 2016 dari Maumere ke Ende, yang didukung dan diorganisasikan oleh Wuamesu Indonesia, kembali berlanjut. Setelah sebelumnya singgah di pantai Paga, maka persinggahan berikutnya dari rombongan kami adalah Madrasah Tsanawiah Negeri ( MTs.N) Wolowaru, Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Persinggahan di Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape ini, sejujurnya merupakan kejutan pertama yang menyenangkan, karena tidak tercantum di program acara. Awalnya, saya mengira bahwa setelah singgah di pantai Paga, acara selanjutnya adalah makan siang bersama di rumah makan, maklum karena memang sudah waktunya makan siang.

Alih-alih menuju rumah makan, 3 (tiga) bus rombongan yang mengangkut kami justru berbelok menuju Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape, tepatnya menuju MTs.N Wolowaru. Seolah menyambut kedatangan rombongan, gerimis turun membasahi bumi dan semakin deras. Sekelompok ibu-ibu berumur berpakaian hijau dan  bawahan sarung kain tenun ikat khas Ende tampak sudah bersiap di depan pintu gerbang MTs.N menunggu kedatangan kami.

Segera setelah kami memasuki pintu gerbang, tanpa memperdulikan hujan yang semakin deras, ibu-ibu tersebut dengan lincah menarikan tarian selamat datang diiringi musik tradisional Nggo Wani. Sambil menari ibu-ibu tersebut mengarahkan rombongan ke ruang kelas MTs.N yang telah dipersiapkan untuk seluruh anggota rombongan. Lurah Bokasape dan para tokoh masyarakat Wolowaru serta ibu-ibu anggota masyarakat berjajar di depan ruang kelas dan menyalami anggota rombongan satu persatu serta mempersilahkannya masuk ke ruang kelas.

Di ruang kelas tampak meja dan kursi telah di tata sedemikian rupa sebagai tempat makan untuk seluruh anggota rombongan. Kursi-kursi ditata cantik dengan selembar selendang kain tenun ikat yang dilampirkan di punggung kursi. Sementara di atas meja terdapat hidangan khas Ende Lio yang terdiri dari Are Gau (mirip nasi ketupat hanya berbentuk memanjang), ikan bakar, opor ayam kampung, rumpu rampe (mirip sayur urap di Jawa), ikan asin, sambal dabu-dabu, kerupuk dan talas rebus.

DSC_0563Usai Lurah Bokasape dan tokoh masyarakat setempat yang diwakili Bapak Theo Abraham menyampaikan sambutannya, anggota rombongan pun dengan tidak sabar menyantap hidangan yang disajikan.  Are Gau pun ditelanjangi dan dipotong kecil-kecil lalu disiram kuah opor ayam kampung. Untuk pelengkap, lauk ditambah dengan rumpu rampe dan ikan asin serta sambal dabu-dabu. Semua hidangan tersebut bercampur jadi satu dan menyerupai lontong sayur. Rasanya luar biasa dan benar-benar nikmat, apalagi sambal dabu-dabunya cukup membuat berkeringat.

Menjelang usai menyantap hidangan yang disajikan, kejutan lain datang dari Pak Theo Abraham yang menyampaikan bahwa bahwa selendang tenun ikat yang ada di setiap kursi dapat dimiliki oleh setiap peserta. Selendang tenun ikat tersebut merupakan karya dari kelompok-kelompok kerajinan di Kelurahan Bokasape yang dibentuk untuk memelihara tradisi pembuatan tenun ikat dan meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Selain selendang tenun ikat, anggota rombongan dipersilahkan untuk melihat-lihat beragam kain tenun ikat lainnya hasil karya warga Ende Lio yang dipajang di emperan gedung. Jika tertarik dan cocok dapat langsung dibeli.DSC_0581

Aris Flores Bokasape SriningAnggota rombongan, khususnya wanita, terlihat begitu antusias dan langsung memilih dan memborong kain tenun khas Ende Lio. Tenun ikat sendiri bukanlah suatu produk yang asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di Ende. Kain tenun sudah dikenal sejak lama dan dibuat dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam setempat sebagai bahan bakunya. Oleh masyarakat setempat, kemampuan menenun diajarkan turun menurun agar tetap lestari dan dijadikan pekerjaan pokok bagi kaum wanita. Hampir setiap ibu-ibu melakukan aktifitas tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Motif atau pola dari kain tenun merupakan perwujudan dari kehidupan sehari-hari masyarakat dan memiliki ikatan emosional yang erat antara masyarakat dengan alam dan budayanya. Kain tenun tersebut umumnya memiliki warna dasar merah kecoklatan atau biru kehitaman dengan jalur-jalur yang jelas, Motif yang digunakan adalah motif flora dan fauna seperti kuda, daun, burung, lalat atau sayap lalat atau bunga yang diselingi garis hitam kecil di antara motif-motifnya.

Apa yang dilakukan warga setempat, tentunya dibawah pembinaan pemerintah daerah, dalam membentuk kelompok-kelompok penenun kiranya layak diapresiasi sebagai upaya mempertahankan budaya tenun ikat tradisional ditengah-tengah gempuran produk tekstil modern baik dalam negeri maupun luar negeri.  Selain mempertahankan tradisi yang telah diturunkan, tenun ikat tradisional merupakan salah satu sumber pendapatan, selain bertani, yang dapat diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Usai kunjungan ke MTs. N di Kelurahan Bokasape, rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Moni untuk beristirahat sebelum mendaki gunung Kelimutu pada keesokan harinya. Di Desa Moni, rombongan Garis 85 dan Wuamesu Indonesia mendapat kehormatan diundang Camat Kelimutu untuk bersantap malam bersama di kecamatan. Sambil bersantap malam, rombongan pun dihibur oleh Band GOLGOTA Voice serta tarian Adat. Sungguh suatu malam yang menyenangkan di Moni.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × two =