Menatap Keindahan Ibu Pertiwi Indonesia

Memperingati 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Sekretariat Negara kembali memamerkan koleksi lukisan Istana Kepresidenan di Galeri Nasional pada 2-30 Agustus 2017 dengan tajuk “Senandung Ibu Pertiwi”. Seperti dituliskan dalam katalog pameran, tujuan pameran adalah untuk menggambarkan Ibu Pertiwi sebagai “Tanah Air”, tempat lahirnya sebuah identitas di satu sisi dan di sisi lain “Kekuatan Alam” yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap pelbagai hal dalam kehidupannya.

Secara apik tujuan pameran tersebut kemudian dinyatakan dalam sebuah puisi di dinding tidak jauh dari pintu masuk ruang pamer yang berjudul “Aku Melihat Indonesia”:

Jikalau aku melihat gunung gunung membiru, Aku melihat wajah Indonesia; Jikalau aku mendengar lautan membanting di pantai bergelora, Aku mendengar suara Indonesia;

Jikalau aku melihat awan putih berarak di angkasa, Aku melihat keindahan Indonesia; Jikalau aku mendengarkan burung perkutu di pepohonan, Aku mendengarkan suara Indonesia.  

Jikalau aku melihat matanya rakyat Indonesia di pinggir jalan, Apalagi sinar matanya anak-anak kecil Indonesia, Aku sebenarnya melihat wajah Indonesia.

Puisi indah yang ternyata karya Proklamator Ir. Soekarno ini tegas menggambarkan perasaan cinta tanah air dan mempresentasikan keindahan ibu pertiwi baik berupa Keragaman Alam; Dinamika Keseharian; Tradisi dan Identitas; serta Mitologi dan Religi yang diwujudkan dalam 48 lukisan yang menjadi koleksi Istana Kepresidenan. 48 lukisan itu merupakan karya dari 41 pelukis ternama Indonesia antara abad 19 dan abad 20, serta arsip dan dokumentasi yang berkaitan dengan materi pameran dan pemelharaan koleksi Istana Kepresidenan pada ruang khusus.

Perasaan cinta dan keindahan tersebut langsung diperlihatkan sejak memasuki ruang pamer bagian depan yang bertema keragaman alam. Pada bagian ini pengunjung langsung diajak menikmati lukisan-lukisan bergaya Mooi Indie, istilah seni rupa Indonesia yang merujuk pada lukisan yang mencitrakan keindahan alam yang dimiliki oleh Indonesia, atau dulu dikenal sebagai Hindia-Belanda. Para pelukis tema ini pada zamannya telah mencitrakan tempat-tempat yang berbeda-beda, mulai dari Sumatra, Jawa, hingga Sulawesi. Ini menandakan para pelukuis saat itu telah menyebar ke berbagai pelosok, merekam pemandangan alam yang menjadi harta karun kekayaan Ibu Pertiwi.

Salah satu lukisan yang menonjol pada bagian ini adalah lukisan berjudul Harimau Minum (Drinking Tiger) karya pelukis legendaris Indonesia Raden Saleh Syarif Bustaman. Lukisan cat minyak pada kanvas berukuran 165 x 122 cm dan dibuat pada tahun 1863 tersebut menggambarkan  keharmonisan kehidupan di hutan lebat dengan seekor harimau engah menegak air jernih dari mata air yang mengalir di tengah kegelapan hutan, tempatnya mengadu nasib sebagai salah satu raja hutan. Dalam lukisan ini terlihat sekali romantisme hutan lebat yang bukan hanya sekadar menggambarkan suasana hutan dan harimau kehausan di tengah hutan, tapi juga menggambarkan filosofi hidup, kesadaran sebagai makhluk kecil di tengah kekuasaan alam semesta.

Memasuki bagian kedua yang bertema dinamika keseharian tersaji pencitraan para pelukis era 1950an terhadap kehidupan sehari-hari dan dinamika sosial yang merefleksikan kondisi masyarakat pada masa itu ketimbang keindahan alam.

Salah satu lukisan yang menonjol pada bagian dinamika keseharian ini adalah lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 140 x 195 cm karya Itji Tarmizi berjudul “Lelang Ikan” (Fish Auction) yang menjadi gambar utama di katalog pameran. Lukisan yang dibuat tahun 1965 ini menggambarkan seorang tengkulak yang dikelilingi nelayan, seorang ibu berkutang dengan bawahan kain dan anaknya tanpa pakaian kemungkinan istri salah satu nelayan, kuli panggul, hingga nelayan lain di belakang si tengkulak menatap tajam sambil memegang parang. Para nelayan itu seakan pasrah ikan-ikannya dibeli sang tengkulak dengan harga yang tidak diharapkan.

Itji Tarmizi menggambarkan tengkulak itu ditemani anak atau cucunya yang mengenakan pakaian bagus lengkap dengan kalung mutiara. Dia mengenakan peci hitam, berkulit terang, berpakaian ala penguasa tapi juga mengenakan bawahan kain, lengkap dengan ikat pinggang besar. Melihat ikat pinggang besarnya yang dipakai sang tengkulak dan detail lain macam perahu-perahu nelayan di belakangnya diperkirakan lelang ikan tersebut berlokasi di pesisir timur Pulau Jawa (Jawa Timur atau Pulau Madura).

Menurut Mikke Susanto yang menjadi kurator dalam pameran ini, “konsep lukisan Itji Tarmizi dinamis, tidak statis seperti lukisan pemandangan. Lukisan itu menjadi manifestasi ketimpangan sosial. Itji menghadirkan drama ketegangan dan dinamika pelelangan ikan. Karya itu tidak lepas dari pengaruh Sanggar Pelukis Rakyat, semasa Itji studi di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta”.

Memasuki bagian ketiga yang bertema “Tradisi dan Identitas”, pengunjung seolah diajak menoleh ke tradisi budaya Indonesia melalui lukisan-lukisan perempuan cantik berkebaya yang kerap diidentikkan dengan pakaian perempuan Indonesia. Melalui perempuan-perempuan cantik berkebaya tersebut pengunjung diajak kembali ke tahun 1827, masa dimana pemerintah kolonial Belanda menetapkan aturan bahwa untuk mempermudah identifikasi golongan sosial seseorang dan mempertegas batas-batas kelas sosial, penduduk harus berpakaian sesuai dengan latar belakang etnisnya. Kebaya yang pada awalnya adalah sebuah instrumen pembeda kelas sosial antara pemerintah kolonial belanda dan masyarakat pribumi, menjelma jadi identitas dan atribut keseharian dari bangsa yang baru saja merdeka. Kebaya juga menjadi elemen favorit bagi para seniman dalam menggambarkan ragam wanita berpose individual dan mandiri, yang jadi pengaya identitas dan idealisasi wanita Bumi Pertiwi.

Pada bagian ini setidaknya ada dua lukisan yang menjadi perhatian saya yaitu lukisan “Wanita berkebaya hijau” di atas kanvas berukuran 200 x 130 cm dan dibuat oleh M. Thamdjidin pada 1955. Ssosok perempuan pada lukisan itu terlihat begitu cantik dan dengan teknik yang tinggi lukisan tersebut seolah-olah hidup. Satu lagi adalah lukisan wanita berkebaya kuning karya Dullah dan juga dibuat pada tahun 1955. Sama seperti perempuan berkebaya hijau, sosok perempuan pada lukisan ini juga terlihat sangat cantik dan khas jawa serta seolah-olah hidup.

Pada bagian keempat atau bagian terakhir ditampilkan koleksi lukisan yang menggambarkan kepercayaan masyarakat Indonesia pada saat itu terhadap mitologi dan religi. Pda bagian ini disajikan pengamatan sang pelukis pada nilai-nilai spiritual dari praktek kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia saat itu. Praktek ritual ini diamati, dihayati, lalu direpresentasikan ke dalam alam penggambaran yang kadang bersifat realistis, kadang dekoratif, hingga penggambaran dalam wujud abstrak.

Pada bagian ini, yang menjadi bintang pameran adalah lukisan Nyi Roro Kidul karya maestro seni lukis Basuki Abdullah. Lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 159 x 120 cm dan dibuat pada 1955 ini memeprlihatkan sosok Nyai Roro Kidul yang banyak disebut dalam literatur nusantara. Nyi Roro Kidul digambarkan sebagai seorang perempuan berparas menawan, serta memiliki kekuasaan di Pantai dan Laut Selatan.

Selain itu terdapat pula lukisan karya Basuki Abdullah lainnya yaitu “Gatotkaca dengan  Anak-anak Arjuna, Pergiwa-Pergiwati (cat minyak pada kanvas, 255 x 170 cm, 1955)”. Lukisan ini menampilkan sosok Gatot Kaca di langit dan kedua wanita cantik anak Arjuna, Pergiwa-Pergiwati. Sama dengan karya-karya Basoeki lainnya, lukisan tersebut tampak begitu megah dan wah. Dari karya ini juga dapat dilihat bagaimana kelihaian Basoeki menggambar wanita-wanita cantik yang terepresentasikan lewat sosok Pergiwa dan Pergiwati.

Terakhir adalah sub tema religi dimana ditampilkan beberapa lukisan dengan elemen keagamaan yang lekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, salah satunya adalah karya A.D Pirous berjudul  “Subuh/Doa VIII” buatan tahun 1980.

Akhirnya, seperti disebutkan pada pengantar di katalog pameran, semua (lukisan yang dipamerkan) seperti sebuah mosaik yang saling membagi ruang bagi warna-warni, sehingga terwujud komposisi dan harmoni Senandung Ibu Pertiwi, Tanah Air Indonesia. Penulis sangat pendapat dengan pendapat tersebut. Karena itu, menurut hemat penulis, kesempatan untuk menyaksikan 48 lukisan koleksi istana kepresidenan merupakan kesempatan yang sangat berharga dan sangat sayang untuk dilewatkan. Inilah salah satu momen terbaik untuk menatap dan menikmati keindahan ibu pertiwi dalam satu tarikan nafas. Dan semua itu bisa diperoleh gratis dalam pameran Lukisan Koleksi Istana  Kepresiden Republiki Indonesia berjudul “Senandung Ibu Pertiwi”.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 5 =