Menikmati Warisan Presiden RI

Dua hari menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai Presiden ke-6 RI, pada 18 Oktober 2014 Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan museum kepresidenan yang dinamakan Balai Kirti (dari bahasa Sansekerta yang berarti “Ruang menyimpan kemasyhuran”).  Museum yang didirikan atas ide SBY pada tahun 2012 ini menyimpan dan memamerkan berbagai benda bersejarah yang pernah membawa kemasyhuran peninggalan para presiden RI yang sudah purna tugas.

Banyak hal-hal menarik yang dapat dilihat dan dipelajari dari perjalanan para Presiden RI yang telah purna tugas mulai dari kata-kata mutiaranya, prestasinya memimpin Indonesia, hingga kebijakan kontroversial yang dibuatnya. Semua hal tersebut dikemas menarik dalam Museum Kepresidenen RI Balai Kirti di Bogor, terlebih banyak barang-barang asli peninggalan presiden di sini.

Guna mengetahui sejarah panjang kepemimpinan Presiden RI dan bersilahturahmi, maka pada tanggal 7 Oktober 2017 saya bersama teman-teman alumni SMAN 13 Jakarta angkatan 84 (Galas84) melakukan tour ke Museum Balai Kirti. Kami masuk dari pintu gerbang 3 Istana Kepresidenan Bogor setelah terlebih dahulu memarkir kendaraan di halaman gereja Zhebaot atau gereja ayam yang letaknya memang persis di samping pintu gerbang tersebut.

Mesti namanya museum, namun mengingat bangunannya berada di halaman Istana Kepresidenan maka untuk memasukinya kami harus melewati pemeriksaan keamanan dari petugas yang berasal dari Paspampres. O iya, agar bisa melakukan kunjungan, sebelumnya kami telah mengirimkan permohonan melalui teman kami anggota TNI dan punya kontak ke pengelola museum.  pengelola museum. Setelah mendapat persetujuan barulah kami melakukan kunjungan, jadi tidak datang ujug-ujug begitu saja seperti ke museum pada umumnya. Untuk masyarakat umum yang ingin berkunjung, bisa juga kok melakukan kunjungan tanpa harus memiliki teman atau kenalan ke pengelola museum. Untuk berkunjung cukup dengan mengirimkan surat permohonan secara elektronik ke pengelola museum dan tunggu jawaban dari mereka.

Selesai dengan proses pemeriksaan keamanan, barulah kami dapat memasuki halaman gedung museum berlantai dua. Museum seluas 5.865 m2 ini berdiri megah di atas tanah seluas 3.211 m2 di halaman belakang kompleks Istana Kepresidenan Bogor. Bangunan museum tersebut dibangun dengan rancangan arsitektur modern dan keseluruhannya ditutupi kaca serta dilengkapi eskalator dari lantai dasar ke lantai dua. Di depan bangunan museum terdapat sebuah batu prasasti tertanggal 18 Otober 2014 yang ditandatangani SBY dan bertuliskan “setiap presiden ingin membuat yang terbaik bagi bangsa dan negaranya”

Di lantai pertama merupakan galeri kebangsaan, di mana terdapat naskah-naskah penting, studio audiovisual, dan patung keenam presiden Indonesia setinggi hingga 4 meter. Selain itu, tembok-tembok di lantai pertama banyak yang berisikan ukiran naskah-naskah bersejarah seperti Proklamasi, Pembukaan UUD, Pancasila, hingga Sumpah Pemuda. Selain itu ada  layar besar berukuran sekitar 12 meter persegi yang meyajikan perkembangan wilayah Indonesia sejak kemerdekaan.

Pada lantai dua terdapat galeri kepresidenan, yang pada tiap ruangannya dikhususkan untuk menyajikan berbagai hal dari seorang presiden. Pada setiap ruangan tersebut ditampilkan foto-foto, arsip-arsip negara, dan kelengkapan presiden yang asli seperti baju dinas beberapa presiden, batik Abdurahman Wahid, buku catatan tugas BJ Habibie, hingga mimbar presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tata letak galeri kepresiden di lantai dua ini diatur secara historis sehingga ketika kita memasuki ruangan demi ruangan seperti kita memasuki lorong waktu sejarah bangsa Indonesia sejak merdeka pada 17 Agustus 1945.

Perjalanan menyusuri lorong waktu dimulai dari tembok “sumpah presiden” yang memuat ukiran dinding bertuliskan sumpah Presiden RI saat dilantik. Ada sebuah podium di depan tembok yang dapat digunakan pengunjung untuk berfoto dan bergaya layaknya seorang presiden yang tengah dilantik. Tempat ini merupakan tempat pertama dan terakhir dimana pengunjung boleh mengambil foto, karena di setiap ruang presiden para pengunjung tidak diperkenankan mengambil foto.

Perjalanan berlanjut ke ruang pertama yang dinamakan Ruang Soekarno. Terdapat ukiran dinding bertuliskan “Jas Merah” yang merupakan petikan pidato Soekarno tahun 1966. Ujaran dinding tersebut diapit lemari yang berisi baju putih kebanggaan Soekarno lengkap dengan lencana penghargaan dari berbagai tingkatan, dan lukisan besar foto diri Soekarno setinggi dua meter. Di sisi lain ruang terdapat kumpulan foto Soekarno bersama para petinggi negara, hingga layar TV 21 inch yang meyajikan tayangan aktivitas Soekarno saat menjadi presiden.

Berlanjut ke ruang Soeharto, pada salah satu dindingnya terdapat ukiran dinding yang memuat pernyataan Soeharto saat memperingati 10 tahun gelar Bapak Pembangunan di tahun 1993 yang berbunyi “Hanya sebutir pasir yang dapat kami beri untuk memperkokoh pondasi Negara republik Prokmasi”. Ukiran dinding tersebut diapit lemari berisi baju dinas, tongkat komando, dan sebuah lukisan  besar bergambar Soeharto. Sementara dalam tiga layar TV ditampilkan kiprah Soeharto saat Indonesia mencapai swasembada pangan, hingga pembentukan ASEAN.

Berlanjut ke ruang BJ Habibie. Di ruang ini dipamerkan miniatur berbagai pesawat yang pernah digagasnya untuk Indonesia, kemeja safari lengkap dengan topi dan sepatu yang kerap digunakan BJ Habibie. Di sisi depannya pun terpajang elok buku catatan kerja asli semasa ia menjabat sebagai Presiden ketiga RI.

Selanjutnya di Ruang Abdurahman Wahid kita akan melihat baju batik Abdurahman Wahid, atau Gus Dur lengkap dengan kain sarung asli, peci dan tongkatnya. Baju batik tersebut kerap dipakai Presiden GusDur baik saat pertemuan formal maupun nonformal.

Di ruang Megawati Soekarno Putri juga terpajang segala atributnya ketika menjadi presiden, catatan perjalanan, kumpulan foto hingga penghargaan. Yang menjadi ciri khas ruangan ini ialah terpajangnya koleksi vas bunga dan perlengkapan minuman untuk menjamu tamu kenegaraan.

Pada ruangan SBY, ditampilkan pakaian beserta tanda penghargaan, buku-buku, catatan pidato dan lagu-lagu karya SBY. Selain itu terdapat mimbar asli yang dipakainya saat berpidato.

Pada ruangan terakhir dipamerkan lukisan raksasa enam presiden karya pelukis Jeihan, foto-foto dan  lukisan apik seluruh Presiden dari Soekarno hingga Joko Widodo lengkap dengan para wakil presiden.

Secara keseluruhan benda-benda peninggalan para presiden RI ini bisa menjadi rujukan historis mengenai kisah kemasyhuran para pemimpin bangsa Indonesia dan sebagai inspirasi bagi generasi milenial dan masa depan dalam membangun bangsa. Saran saya, jika ada kesempatan, ada baiknya mengajak saudara, teman dan kerabat mengunjungi museum ini.

One Response to Menikmati Warisan Presiden RI

  1. Nur Dekriyati says:

    Wisata edukasi yang menarik karena menggambarkan sejarah pemimpin- pemimpin bangsa Indonesia yang pada masanya telah berjuang untuk bangsa dan negara. Saya juga sangat interest dengan prasasti batu yang bertuliskan, “setiap presiden ingin berbuat yang terbaik bagi negaranya” hal ini menyiratkan bahwa seorang presiden memiliki ketulusan dan keikhlasan UNTUK BERBUAT YANG TERBAIK,meskipun kita tahu bahwa hambatan dan rintangan pasti selalu ada, sesuai dengan tingkat perkembangan masyarakatnya, dan pengaruh internal maupun eksternal dalam mewujudkan harapan dan cita-cita masyarakat, bangsa dan negara.Terlihat bahwa setiap pemimpin memiliki jiwa kepemimpinannya masing-masing, memiliki ciri garis kebijakannya melalui program-program di berbagai bidang dalam rangka mewujudkan cita cita bangsa, semoga musim kepresidenan ini menjadi catatan sejarah yang mengingatkan kita semua bahwa upaya sudah dilakukan, apakah kita selaku masyarakat mau merawat, menghargai apa yang sudah dilakukan ??

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *