Nilai Pancasila Dalam Permainan Tradisional

Yang namanya anak-anak pada umumnya pasti suka bermain. Tidak ada bedanya antara anak jaman dahulu dengan anak jaman sekarang. Selalu ada tingkah dan pola anak-anak dalam bermain yang sering membuat orang tua gemes melihatnya. Yang membedakan adalah zamannya.

Pada jaman dahulu, terutama jika melongok era tahun 60 dan 70-an bahkan hingga 80-an, permainan dan olahraga yang  sangat popular antara lain gobak sodor atau hadangan (galasin), bentengan, adu gundu, panggal, demprak, dampu, loncat tali, gatrik dan sebagainya.

Pada masa itu, permainan yang sekarang disebut sebagai permainan tradisional tersebut banyak dimainkan anak-anak, terutama yang tinggal di kampung atau pedesaan. Permainan tradisional tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan dan keceriaan generasi muda Indonesia.

Anak-anak kerap memainkan permainan dan olahraga tersebut dengan gembira menggunakan fasilitas seadanya. Perangkat permainan pun bisa diambil dari lingkungan sekitar dan tidak perlu mengeluarkan biaya. Berbeda dengan anak-anak jaman sekarang lebih akrab dengan permainan elektronik dan game online di internet yang dapat diakses lewat komputer atau gadget. Di depan perangkat elektronik tersebut anak jaman sekarang bisa betah berjam-jam menatap layar monitor.

Jika diamati, permainan dan olahraga yang dilakukan anak-anak jaman dahulu bukan hanya sekedar kumpul dan bermain. Sejatinya, setiap permainan tradisional yang dimainkan mengajarkan banyak perihal kehidupan dan menumbuhkan nilai nilai luhur budaya peninggalan pendahulu kita. Lebih jauh permainan tradisional ternyata juga memiliki semangat edukasi, mengolah kemampuan dan keterampilan fisik, mental, dan sosial anak-anak dalam bentuk permainan yang mengajarkan kebersamaan, gotong-royong, saling tolong-menolong, keterampilan, olahraga, olahrasa, olah pikir, berjuang dalam tim, dan bersaing sehat.

Sebagai contoh, permainan gobak sodor atau hadangan. Permainan ini sarat akan makna filosofis yang mengisyaratkan kekuatan daya tahan atas tanah air atau rumah milik kita. Pemain harus sekuat tenaga mempertahankan rumahnya sehingga tidak ada lawan yang mampu masuk dan memeperoleh poin karena merebutnya. Tak hanya itu permainan yang kerap juga disebut hadang ini mengajarkan nilai-nilai kerjasama, kekompakan, kebersamaan dan komitmen.

Karenanya permainan tradisional tersebut bukan hanya sehat fisik tetapi juga sehat batin. Karena didalamnya sarat akan nilai yang jika kita paham sebenarnya itu adalah pondasi kokohnya suatu bangsa. Sayangnya seiring dengan semakin terpinggirkannya permainan dan olahraga tradisional, nilai-nilai luhur yang terdapat dalam permainan tersebut lambat laun tergeser dan mulai terlupakan karena tidak ada yang mengingatkan. Anak-anak muda tidak lagi merasakan semangat membangun kebersamaan, gotong royong dan saling tolong menolong sejak dini atau sejak masa kanak-kanak.

Karena itu, inisiatif yang dilakukan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk mengenalkan kembali dan melestarikan permainan tradisional dan nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat luas, khususnya kepada anak-anak jaman sekarang, sangat patut diapresiasi.

Pelestarian permainan tradisional memiliki tujuan penting sebagai sarana membangkitkan tradisi di masyarakat. Permainan tradisional bukan semata-mata melestarikan tradisi eksotik, tetapi juga mengangkat harga diri dan pride of nation. Sehingga anak-anak yang bermain olah raga tradisional, bukan lagi dianggap orang pinggiran, tapi orang yang ikut melestarikan simbol-simbol bangsa.

Karena itu. bekerjasama dengan Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI), BPIP mulai giat memperkenalkan permainan tradisional ke anak-anak, misalnya dengan memperkenalkannya ke anak-anak sekolah di Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu dan warga masyarakat yang berolahraga di kawasan halaman Monumen Nasional.

Ketika mulai diperkenalkan kembali ke masyarakat, banyak anak-anak generasi milenial yang bertanya-tanya tentang permainan tradisional tersebut. Tidak sedikit yang belum pernah mengenal permainan tradisional tersebut sama sekali, beberapa hanya pernah mendengar cerita dari orangtuanya. Karenanya begitu diperkenalkan mereka sangat senang dan terlihat antusias.

“Seru banget mainnya” ujar seorang anak perempuan yang ikut bermain loncat tali bersama teman-temannya di Monas.

“Bisa loncat-loncat dan badan sehat. Biasanya sich yang olahraga cuma jempol di atas handphone” ujarnya sambil tertawa riang

Dari sepotong komentar yang disampaikan salah seorang peserta permainan tradisional di atas, tampak bahwa permainan yang sering disebut sebagai mainannya anak-anak jaman dahulu ternyata bisa diterima oleh anak-anak jaman sekarang.

Bahwa anak-anak jaman sekarang tidak memainkannya karena memang jarang yang memperkenalkannya dan di lingkungan sekitar tempat mereka tinggal pun sudah jarang dimainkan. Disini peran lembaga-lembaga pendidikan ataupun komunitas seperti KOTI dibutuhkan, bukan sekedar mewariskan permainan tradisional tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur keseharian bangsa Indonesia.

Di tengah kondisi bangsa dan negara Indonesia yang terancam oleh potensi disintegrasi karena pengaruh ideologi luar, pewarisan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang tercermin dalam nilai-nilai Pancasila sangat dibutuhkan kehadirannya.

Pewarisan dalam arti penerusan nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar negara Indonesia, dari generasi ke generasi, harus dilakukan dengan sadar dan bertanggung jawab, demi mempertahankan eksistensi bangsa dan negara Indonesia. Nilai-nilai Pancasila harus dihayati sungguh-sungguh dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, jika kita tidak Indonesia tenggelam karena perpecahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *