Monthly Archives: November 2022

Ketika Mohammada Hatta dan Sutan Sjarir Memburu Kupu-kupu

Kita mungkin tidak pernah membayangkan dua tokoh pergerakan nasional, Mohammad Hatta atau Sutan Sjahrir, berlari-lari memburu kupu-kupu saat berada di pembuangan di Boven Digul pada tahun 1935?  Mereka dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Boven Digul karena dianggap musuh yang membangkang.

Namun setelah mendengarkan presentasi Dr. Alicia Schrikker “Butterfly from the Boven Digoel” dalam konferensi sejarah lingkungan di Universitas Gajah Mada (UGM), kita akan mengetahui bahwa kedua tokoh pergerakan nasional Indonesia tersebut juga ikut berlari-lari memburu kupu-kupu.

Informasi mengenai presentasi Dr. Schrikker disampaikan sejarawan dari UGM, S. Margana melalui akun twitternya @margana_s pada Rabu (23/11/2022).

Margana menyampaikan bahwa melalui papernya yang dipresentasikan di UGM, Dr. Alicia Schrikker menyampaikan bahwa dengan dalih penelitian tentang lingkungan, para nasionalis Indonesia yang dipenjarakan di Boven Digoel dipaksa Belanda untuk menangkap kupu-kupu.

Ketika di Roma, Bersikaplah Seperti orang Roma

“Ketika di Roma, lakukan seperti yang dilakukan orang-orang Roma,” sebuah pepatah dari abad ke-4 yang ditujukan kepada para pendatang untuk bersikap dan mengikuti kebiasaan dan tradisi lokal ketika berada  di suatu tempat. 

Konon pepatah ini merujuk pada kisah Santo Agustinus, seorang suci Kristen awal, yang pindah dari Roma ke Milan dan menemukan bahwa para pastur tidak puasa pada hari Sabtu sepertti halnya di Roma.

Santo Ambrose yang lebih tua dan lebih bijaksana, pada waktu itu uskup Milan, menyampaikan pandangannya, “ketika saya pergi ke Roma, saya berpuasa pada hari Sabtu, tetapi di sini saya tidak”. 

Di Indonesia sendiri terdapat pepatah serupa yang berbunyi “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, yang berarti dimanapun seseorang berada, ia mesti beradaptasi dengan masyarakat atau situasi setempat dengan menghargai adat dan budaya tempatan tanpa harus kehilangan jati-dirinya 

Jangan Menangis Untukku Argentina

Semua prediksi bahwa Argentina akan kalahkan Arab Saudi di pertandingan pertamanya di Piala Dunia FIFA 2022, menjadi berantakan. Bola memang bundar. Apapun bisa terjadi. Yang terjadi, justru Argentina yang dijungkalkan 1-2 oleh Arab Saudi. 

Timnas Argentina di luar dugaan kalah 1-2 dari Arab Saudi pada laga pembuka Grup C Piala Dunia 2022 Qatar, Selasa (21/11/2022). Pada pertandingan yang dihelat di Lusail Stadium, Kota Doha, Qatar, timnas Argentina sebenarnya berhasil unggul terlebih dahulu pada menit ke-10 berkat gol penalti Lionel Messi. 

Namun, Argentina gagal mempertahankan keunggulan itu dan tampak sangat kewalahan menghadapi pressing tinggi Arab Saudi. Sepasang gol penentu kemenangan Arab Saudi dicetak oleh Saleh Al-Shehri (49′) dan Salem Al-Dawsari 54′.

Lionel Messi pun hanya terdiam ketika wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan. Kapten Argentina itu menerima satu kegagalan lagi. Kemenangan yang bakal diraih berkat gol semata wayangnya, terbang bersama angin. Kemenangan menjadi milik Arab Saudi. Sementara Argentina mesti berjuang lebih keras mengalahkan Mexico dan Polandia di partai berikutnya di Group C. Kalah ataupun seri bisa membuat Argentina menjauh dari trofi Piala Dunia.

Memang masih tersisa dua pertandingan lagin di babak penyisihan group, namun kekalahan Argentina dari Arab Saudi memunculkan pertanyaan: apakah Messi dan Argentina seolah ditakdirkan untuk berkalang kegagalan?. 

Gedung Merdeka dan Jejak Awal Karir Iwan Fals

Hujan deras siang hari tidak menghalangi pertemuan saya dengan dua orang hebat, yaitu tokoh tari kontemporer dan pembikin film dokumenter ragam budaya Indonesia Prof. Sardono Waluyo Kusumo, dan sosok di balik Teater Payung Hitam, Rachman Sabur. Kami bertemu di Gedung Merdeka,  Bandung, Kamis (03/11/2022). 

Kami berbincang-bincang ringan mengenai Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 yang berlangsung di Gedung Merdeka dan jejak kepemimpinan Presiden pertama Indonesia Sukarno atau Bung Karno dalam KAA. 

Di usia Republik Indonesia yang masih sangat muda, 10 tahun, Indonesia mampu menyelenggarakan konferensi yang memiliki dampak besar bagi perjuangan bangsa-bangsa Asia Afrika untuk memperoleh kemerdekaan. Konferensi yang mendorong munculnya kerja sama dan hubungan yang baik antar negara Asia Afrika di bidang ekonomi, sosial, dan budaya.