40 Tahun Diplomasi Ping Pong

Dalam rangka memperingati 40 tahun kunjungan tim bola ping pong AS ke China, mantan Presiden AS Jimmy Carter berkunjung ke Beijing pada tanggal 8 Desember 2011 dan disambut resmi oleh Wakil Presiden RRC Xi Jinping. Dalam kunjungan tersebut Jimmy Carter dan Xi Jinping menyaksikan pertandingan eksibisi antara atlit-atlit bola ping pong AS dan RRC dan menandatangani prasasti berbentuk raket ping pong (bat).

Dari 14 pemain yang ikut eksibisi, beberapa di antaranya adalah mereka yang pernah bermain pada tahun 1971 seperti Connie Sweeris (64 tahun), sementara sisanya adalah atlit top kedua negara, termasuk juara dunia Wang Liqin (35 tahun).

Mengomentari keikutsertaannya dalam eksibisi tersebut, seperti dikutip dari harian China Daily (9/12), Sweeris menyatakan kegembiraannya dapat berpartisipasi dalam peringatan peristiwa yang menjadi landmark pemulihan hubungan diplomatik RRC dan AS. Ditambahkannya bahwa olah raga merupakan cara yang baik untuk meningkatkan pemahaman antara kedua negara.

Bahwa ping pong dipilih sebagai langkah menjalin hubungan diplomatik antara RRC dan AS berawal dari suatu peristiwa di kejuaraan dunia tenis meja di Nagoya, Jepang, tahun 1971. Saat itu salah seorang anggota kontingen AS, Glenn Cowan, secara tidak sengaja ketinggalan bus kontingen karena berlatih tanding dengan pemain RRC Liang Geliang.

Karena tertinggal oleh bus kontingennya, Cowan ditawari untuk ikut bus kontingen RRC. Selain Cowan, terdapat pula serombongan wartawan dan fotografer. Sesaat sebelum bus berangkat, salah anggota kontingen RRC, Zhuang Zedong berinisiatif memberikan souvenir berupa selembar kain sutra produksi Hangzhou bergambar “Pegunungan Huangsham”.

Di tengah suasana perang dingin di akhir tahun 1960-an, keberadaan atlit RRC dan AS bersama-sama dalam suatu tempat tentu saja menyedot perhatian. Ketika turun dari bus, para wartawan pun kemudian bertanya ke Cowan apakah ia bersedia berkunjung ke China. Awalnya secara diplomatis Cowan pun menjawab bahwa ia sangat senang berkunjung ke negara-negara yang belum pernah dilihat sebelumnya seperti Argentina, Australia, China, pokoknya setiap negara yang belum pernah dilihatnya. Namun ketika didesak apakah Cowan ingin berkunjung ke China, dengan yakin Cowan menjawab “tentu saja”. Berita in kemudian tersebar di media massa Jepang, lengkap dengan foto Zuang Zedong dan Cowan.

Ketika pendiri RRC dan Ketua Partai Komunis China (PKC) membaca berita tersebut, dengan cepat ia memutuskan untuk mengundang seluruh anggota tim bola ping pong AS yang ikut kejuaraan dunia di Nagoya untuk ke Beijing. Berbeda dengan kondisi saat ini dimana RRC sudah sedemikian terbuka, pada saat itu RRC dikenal sebagai salah satu negara sosialis yang tertutup. Karenanya undangan dari PM Mao Zedong langsung disambut baik oleh seluruh anggota tim. Dikabarkan pula bahwa selain mengundang anggota tim bola ping pong AS, Mao Zedong juga memuji langkah Zuang Zedong, bukan hanya sebagai pemain ping pong yang baik, tetapi juga cakap dalam pelaksanaan hubungan luar negeri dan memiliki pikiran poliik yag terbuka.

Bahwa Mao Zedong langsung tertarik mengundang tim bola ping pong AS ke Beijing, selain disebabkan situasi politik dunia saat itu, sepertinya juga tidak terlepas dari popularitas ping pong sebagai olah raga rakyat yang digemari di China. Di China, kita dapat dengan mudah melihat orang-orang bermain ping pong di berbagai tempat, bukan hanya di gedung olah raga, tetapi juga di taman-taman umum.

Karena popularitasnya tersebut, ping pong dapat pula digunakan untuk menjalin persahabatan dan promosi kepentingan nasional. Seperti pernah dikatakan oleh Mao Zedong sendiri “Regard a ping-pong ball as the head of your capitalist enemy. Hit it with your socialist bat and you have won the point for the fatherland” (anggap bola ping pong sebagai kepala musuhmu yang kapitalis. Pukullah dengan raket kayu sosialis dan kamu telah memberikan poin bagi tanah air).

Dengan dibiaya penuh oleh Pemerintah RRC, 9 pemain ping pong AS, 4 official dan 2 pendamping berangkat ke China pada tanggal 10 April 1971 lewat Hong Kong dan berada di Beijing dari tanggal 11-17 April 1971 untuk melakukan pertandingan eksibisi, berwisata ke Great Wall dan Summer Palace, serta menyaksikan pertunjukan ballet.

Kunjungan tersebut menjadi langkah awal yang menandai cairnya kebekuan hubungan bilateral AS dan RRC. Majalah TIME menyebutnya sebagai “week that ping the world”, kunjungan yang membuka kontak kedua negara dan meletakkan dasar-dasar pembangunan hubungan diplomatik AS dan RRC. Apalagi di tengah era perang dingin antara Timur dan Barat yang bergejolak pada saat itu, RRC merupakan negara besar yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan AS. Sejak pembentukan negara RRC pada tahun 1949 hingga awal tahun 1970-an, AS tidak mengakui RRC dan hanya mengakui Republik China atau Taiwan.

Melalui serangkaian kunjungan terbuka maupun tertutup, seperti kunjungan Penasihat Keamanan Nasional AS Henry Kissinger pada Juli 1971, Presiden Richard Nixon pada Februari 1972, Presiden Gerald Ford pada tahun 1975, dan kunjungan Wakil PM RRC Deng Xiaoping ke Washington pada Januari 1979, maka di masa kepemimpinan Presiden AS Jimmy Carter dibuka hubungan diplomatik RRC-China pada 1 Maret 1979. Kedua negara pu membuka kedutaan besarnya masing-masing di Washington dan Beijing. Dengan pembukaan hubungan diplomatik ini, AS secara resmi mengakui RRC, mencabut pengakuannya terhadap Taiwan dan menganggap Taiwan sebagai bagian dari RRC.

Menurut Wakil Presiden RRC Xi Jinping, banyaknya mekanisme dialog yang dikembangkan saat ini, setidaknya ada 40 mekanisme dialog, memperlihatkan tingginya kepentingan bersama kedua negara dan karenanya merupakan hal wajar bagi keduanya untuk mengembangkan kerjasama. Pernyataan Xi Jinping diamini oleh mantan Presiden AS Jimmy Carter yang menandatangani pembukaan hubungan diplomatik RRC dan China di masa kepemimpinannya. Ia mengatakan bahwa meskipun ada perbedaan di antara kedua negara, misalnya di bidang perdagangan, namun perbedaan tersebut tidakah seberapa dibandingkan besarnya kepentingan bersama kedua negara.

Dan mengutip bagian akhir perkataan Mao Zedong “Hit it with your socialist bat and you have won the point for the fatherland”, maka sesungguhnya bukan hanya RRC yang mendapatkan poin, AS pun sama-sama mendapatkannya. Melalui kerjasama, tidak akan ada zero sum game, yang ada hanyalah win-win solution.

One Response to 40 Tahun Diplomasi Ping Pong

  1. xbacktrack says:

    ane suka politik yang diterapkan cina.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *