AMLO, Presiden Baru Meksiko Yang Pernah Kalah Dua Kali

Apa rasanya kalah dua kali dalam pemilihan Presiden dan baru menang pada 8keikutsertaan ketiga? Kalau pertanyaan itu diajukan ke Andres Manuel Lopez Obrador atau biasa disingkat AMLO, maka mungkin ia akan menjawabnya dengan sederhana, “kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”. AMLO kalah dalam pilpres 2006 dan 2012, tapi akhirnya menang di 2018 dan akan dilantik hari ini 1 Desember 2018 ini.

Mundur dari jabatan Walikota Mexico City pada tahun 2005 guna mencalonkan diri sebagai Presiden Meksiko pada 2006 mewakili Coaliton for the Good of All yang terdiri dari Partai Republik Demokratik (PRD), Partai Buruh dan Gerakan Rakyat.  AMLO yang saat itu menjadi anggota PRD adalah tokoh yang populer dan berpeluang sangat besar untuk terpilih sebagai Presiden. 

Apa daya, peerolehan suaranya hanya berada di urutan kedua dengan jumlah suara 35,31% dari total suara pemilih,  hanya kalah tipis 0,58% dari Presiden Meksiko terpilih. Kekalahan yang menyakitkan karena diduga ada kecurangan. Tidak heran jika selama hampir tujuh bulan ia dan pendukungnya protes di Paseo Reforma (jalan utama di Mexico City) dan Zocalo (Centrumnya Mexico City).

Kalah menyakitkan, AMLO kembali maju untuk kedua kalinya sebagai calon presiden pada 2012 yang lagi-lagi mewakili koalisi PRD, Partai Buruh dan Gerakan Masyarakat. Kembali AMLO berada di urutan kedua dengan total jumlah suara 31,59%. Gagal lagi pada pemilihan kedua, AMLO kemudian keluar dari PRD pada 2012 dan pada 2014 ia mendirikan National Regeneration Movement (MORENA) serta menjadi ketua hingga 2017.

Pantang menyerah, AMLO yang kelahiran 13 November 1953 (sekarang 65 tahun) kembali menyalonkan diri sebagai presiden untuk ketiga kalinya. Kali ini ia mewakili Koalisi Juntos Haremos Historis, koalisi yang terdiri dari partai sayap kiri Partai Buruh, partai sayap kanan Partai Perkumpulan Sosial dan MORENA. Kali ini ia menang telak karena dipilih dengan total suara 53%.

Program-program kebijakannya yang dinilai kontoversial ternyata sangat disukai masyarakat Meksiko yang tidak puas dengan pencapaian presiden sekarang karena dinilai sarat korupsi, tingkat pembunuhan yang tinggi, angka kemiskinan penduduk yang mencapai 40%, dan pertumbuhan ekonomi yang mengecewakan.

Melihat program-program dan kebijakan yang ditawarkan AMLO, meski beberapa diantaranya dinilai kontroversial, masyarakat Meksiko melihat adanya peluang perbaikan bagi kehidupan mereka.

Program dan kebijakan AMLO yang dinilai menarik perhatian antara lain peningkatan bantuan keuangan untuk pelajar dan orang tua, pengampunan bagi sebagian penjahat narkoba, akses terbuka untuk memasuki perguruan tinggi,  pembatalan pembangunan bandara baru di Mexico City (meski sudah mengeluarkan biaya sekitar 30%), melakukan refrendum mengenai reformasi bidang energi yang mengakhiri monopoli Pemex di industri perminyakan, stimulus di sektor pertanian, penundaan perundingan NAFTA hingga selesai pilpres, peningkatan dana sosial, dan memotong gaji dan fasilitas bagi politisi, dan melakukan desentralisasi pemerintahan eksekutif dengan memindahkan pemerintahan  pusat ke negara-negara bagian.

Dengan dilantiknya AMLO sebagai Presiden baru Meksiko pada hari ini, masyarakat Meksiko mulai menantikan dengan penuh harap bagaimana AMLO akan merealisasikan janji-janji kampanyenya.

Beberapa kebijakan sudah mulai diinisiasi implementasinya seperti kebijakan menghentikan pembangunan bandara baru di Mexico City. Meski belum resmi menjabat, pada awal ia sudah melakukan “referendum” terhadap warga di sekitar bandara guna mengetahui respon mereka. Hasilnya, meski dikritik karena metode referendumnya dipertanyakan dan tidak melibatkan responden yang lebih luas, masyarakat setuju penghentian pembangunan bandara baru. Oleh sebagian pengamat, referendum tersebut dinilai sebagai langkah cerdik untuk menekan Kongres agar menyetujui kebijakan AMLO.

Janji lain yang sudah pasti terlaksana adalh penghentian perundingan NAFTA. Dengan telah disepakatinya perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (TMEC), otomatis NAFTA pun berakhir sehingga tidak perlu lagi perundingan.

1 Desember 2018

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *