Category Archives: Diplomasi

Berburu Jajanan Kampung di Pemalang

Mudik jaman now bukan sekedar silahturahmi dengan orang tua dsn kerabat,  tetapi juga kesempatan menikmati kuliner khas daerah dan suasana yang menyertainya.

Untuk itu, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman berburu jajan pasar di Pasar Kalirandu, Petarukan, Pemalang. Target utama perburuan adalah gemblong beras ketan.

“Enak banget gemblongnya dan lembut” ujar istri saya mencoba memberikan alasan kenapa ingin menyantap gemblong.

Pasar masih terlihat sepi saat kami tiba di pasar sekitat pukul 6 pagi. Baru beberapa pedagang yang terlihat tengah menggelar dan menata dagangannya. Mungkin karena suasana lebaran sehingga belum banyak pedagang yang beraktivitas normal.

Tahun baru di Meksiko

Tahun 2019 baru saja datang. Perayaan dan pesta meriah dilakukan untuk menyambut malam pergantian tahun. Orang-orang berbondong-bondong datang ke pusat keramaian dan menikmati pesta kembang api ketika detik-detik tahun baru.

Tahun 2019 disambut dengan penuh optimisme dan suka cita di berbagai belahan dunia, termasuk di Meksiko. Di Mexico City perayaan pergantian tahun dipusatkan di Jalan Raya Reforma dengan menampilkan pertunjukan musik terbuka. Panggung besar dibangun di tengah jalan dan beragam artis kenamaan Meksiko yang tampil bergantian.

Namun di luar perayaan pergantian tahun yang sudah lazim dilakukan di banyak negara, di Meksiko terdapat tradisi pergantian tahun yang unik. Setidaknya ada tiga tradisi yang bisa diceritakan.

“Di Meksiko dan sebagian negara Amerika Latin terdapat mitos di mana saat detik-detik pergantian tahun kita mesti makan anggur sebanyak 12 butir buah. Anggur tersebut dimakan satu persatu sambil menyampaikan keinginan yang dicapai di tahun baru. Jumlahnya yang 12 butir dianggap mewakili jumlah bulan dalam setahun,” ujar Evi Siregar, seorang WNI yang sudah bertahun-tahun tinggal di Mexico City dan kini menjadi dosen pada College of Mexico.

Duta Kuliner Indonesia di Meksiko

“Cara paling cepat, paling efektif, dan paling halus untuk memopulerkan sesuatu ke pasar global adalah melalui apa yang saya sebut “diplomasi sosial-ekonomi.” Amerika Serikat melakukannya dengan “mengekspor” film-film Hollywood, Korea Selatan melakukannya dengan menyebarkan demam K-Pop ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia.

Thailand melakukan diplomasi kuliner ke seluruh dunia dengan mendirikan restoran-restoran untuk mengenalkan kulinernya. Semua langkah tersebut sangat efektif untuk melakukan penetrasi ke suatu negara tetapi mereka tidak merasa,” demikian tulis Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam artikelnya di Majalah Swa Mei 2018 yang berjudul “Diplomasi Kuliner Indonesia”

Menyadari pentingnya diplomasi sosial ekonomi seperti yang dikatakan Menpar Arief Yahya, sejak lama Perwakilan RI di luar negeri mendorong dilakukannya diplomasi kuliner atau diplomasi gastronomi di Negara akreditasi.

Tempe Yang Semakin Dikenal di Meksiko

Sabtu (22/12/2018) KBRI Mexico City menyelanggarakan acara perpisahan bagi Duta Besar RI, Yusra Khan dan tiga orang staf yang telah berakhir masa tugasnya atau akan memulai tugas baru di tempat lain.

Serangkaian kegiatan pun digelar untuk memeriahkan acara, salah satunya adalah pemberian piagam penghargaan bagi WNI dan warga Meksiko yang memiliki jasa dalam mempromosikan Indonesia di Meksiko dalam beberapa tahun terakhir. Dari 18 piagam yang diberikan oleh Duta Besar RI Yusra Khan, salah satunya adalah piagam penghargaan kepada Luisa Veldes Martines atas jasa-jasanya mempromosikan gastronomi Indonesia, khususnya tempe.

Luisa adalah salah seorang warga negara Meksiko yang mengenal tempe saat saat menjadi peserta Darmasiswa di Indonesia tahun 2003. Kemudian, sejak 10 tahun lalu ia serius menggeluti bisnis gastronomi dengan membuat tempe dan memperkenalkan tempe ke masyarakat Meksiko.

“Saya mulai mengenal tempe pada tahun 2003 saat berkunjung ke Indonesia sebagai peserta Beasiswa Darmasiswa”, ujar Luisa dalam kata-kata bahasa Indonesia yang masih lumayan lancar.

Pemberontak Papua dan Terorisme Disponsori Negara

Pada 1 Desember 2018 berlangsung demo mahasiswa Papua di Surabaya. Demo yang mengakibatkan jatuhnya beberapa korban luka-luka tersebut dilakukan untuk memprotes berbagai pelanggaran HAM yang terjadi di Papua.

Hanya berselang sehari kemudian, tepatnya pada Minggu 2 Desember 2018 sebanyak 31 pekerja PT Istaka Karya yang tengah membangun jalan di Papua dibantai oleh kelompok gerakan separatis pimpinan Egianus Kogoya. Tindakan kelompok separatis terhadap 31 pekerja di Papua tersebut terjadi di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

Membaca dua kejadian yang berurutan tersebut, sebenarnya sejak awal tidak sulit untuk menduga bahwa terdapat keterkaitan erat antara kegiatan demo mahasiswa Papua di Surabaya dengan pembantaian pekerja di Nduga.

AMLO, Presiden Baru Meksiko Yang Pernah Kalah Dua Kali

Apa rasanya kalah dua kali dalam pemilihan Presiden dan baru menang pada 8keikutsertaan ketiga? Kalau pertanyaan itu diajukan ke Andres Manuel Lopez Obrador atau biasa disingkat AMLO, maka mungkin ia akan menjawabnya dengan sederhana, “kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”. AMLO kalah dalam pilpres 2006 dan 2012, tapi akhirnya menang di 2018 dan akan dilantik hari ini 1 Desember 2018 ini.

Mundur dari jabatan Walikota Mexico City pada tahun 2005 guna mencalonkan diri sebagai Presiden Meksiko pada 2006 mewakili Coaliton for the Good of All yang terdiri dari Partai Republik Demokratik (PRD), Partai Buruh dan Gerakan Rakyat.  AMLO yang saat itu menjadi anggota PRD adalah tokoh yang populer dan berpeluang sangat besar untuk terpilih sebagai Presiden. 

Tips Menulis Dari Negeri 5 Menara

“Saya ingin sekali menulis, tapi saya kan tidak punya bakat menulis dan tidak punya waktu, jadi bagaimana saya bisa menulis?”, begitu kegalauan banyak orang yang ingin sekali menulis.

“Lebih mudah bercerita sambil ngopi daripada menulis,” ujar yang lain

Menyadari kegalauan kebanyakan orang yang ingin menulis tapi tidak tahu harus darimana memulainya, maka Ahmad Fuadi yang kondang dengan novelnya “Negeri 5 Menara” pun memberikan nasihat “sederhana”.

Jejak Aztec di Istana Nasional Meksiko

Dulu, setiap kali saya menonton filmopm yang menggambarkan suku bangsa Indian di Amerika Latin seperti Aztec atau Maya, maka gambaran yang didapatkan adalah mengenai suku-suku bangsa yang hidup di hutan-hutan, berpindah-pindah dan tinggal di tenda-tenda lancip.

Gambaran di atas berbeda misalnya dengan gambaran mengenai bangsa-bangsa di Mesir dan Eropa yang menetap dan tinggal di sebuah bangunan, rumah ataupun istana. Padahal mereka hidup pada kurun waktu yang sama.

Hal tersebut tentu saja memunculkan pertanyaan, apakah suku-suku bangsa di Amerika Latin tidak memiliki budaya mendirikan bangunan sebagai tempat kediaman? Apakah suku-suku bangsa di Amerika Latin tersebut hidup hanya berkelompok-kelompok/bersuku-suku saja dengan dipimpin seorang kepala suku atau yang dituakan dan tidak mengenal bentuk pemerintahan yang lebih luas seperti kerajaan atau kekaisaran.

Kisah Patung yang Berpindah Tempat

Sebuah patung perunggu berukuran raksasa berdiri kokoh di halaman Plaza Manuel Tolza, di kawasan Centro Mexico City. Patung perunggu tersebut menggambarkan sosok Raja Charles IV dari Spanyol tengah menunggang kuda.

Patung yang juga dikenal dengan nama El Caballito ini mulai dibuat pada 4 Agustus 1802 dibawah supervisi Manuel Tolsa, Direktur Akademi San Carlos. Tujuan pembuatan patung itu sendiri  dimaksudkan untuk menghormati Raja Charles IV, yang merupakan penguasa terakhir negara Spanyol Baru (sekarang Meksiko).

Teotihuacan Dan Misteri Tempat Kelahiran Tuhan

“Dimanakah tempat Tuhan atau Dewa dilahirkan?” Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu saja bisa beragam dan panjang lebar, tergantung latar belakang siapa yang menjawabnya. Tapi kalau pertanyaan tersebut diajukan ke masyarakat Bangsa Aztec yang mendiami lembah Meksiko, maka jawabannya adalah Tuhan atau Dewa dilahirkan di Teotihuacan (baca: teotiwa’kan).

Teotihuacan adalah sebuah kota Mesoamerika kuno yang berlokasi di anak lembah Meksiko, sekitar 40 km timur laut Mexico City saat ini. Nama Teotihucan bukan berasal dari jejak-jejak reruntuhan bangunan dan piramid di kota tersebut, melainkan diberikan oleh Bangsa Aztec yang menguasai kota Mesoamerika kuno tersebut. Bangsa Aztec yang menguasai Teotihuacan, meski mereka tidak tinggal di kota tersebut, memberi nama tempat dan struktur utama yang ada di situs tersebut sebagai “Tempat para dewa” dimana mereka meyakini bahwa dari tempat tersebutlah dunia diciptakan.

Jumatan di Mexico City

Hari kedua saya berada di Mexico City bertepatan dengan hari Jumat. Berbeda dengan di tanah air dimana saya dapat dengan mudah menemukan masjid untuk sholat Jumat berjamaah, maka di Mexico City sangatlah sulit menemukan masjid. Maklum saja, Mexico kan negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Katholik. Diperkirakan hanya 1,5% saja warga Mexico yang beragama lain, salah satunya Islam.

Meski jumlah pemeluk Islam di Mexico hanya sedikit, namun di Mexico City ternyata terdapat sebuah masjid di Centro Educativo De La Comunidad Musulmana atau Pusat Pendidikan Komunitas Muslim, biasa disebut Masjid Polanco. Tidak ada papan nama ataupun tanda khusus apapun yang memperlihatkan bangunan tersebut adalah sebuah masjid.

Saat Militer China Unjuk Gigi

Salah satu cara mengisi kebosanan dalam penerbangan panjang Jakarta – Tokyo – Mexico City adalah dengan menonton film di pesawat, khususnya film-film baru (new releases) yang belum sempat ditonton. Dari beberapa film baru yang ditawarkan, salah satu film yang menarik perhatian adalah “Operation Red Sea”.

Menarik karena film tersebut bertema perang, salah satu tema film yang saya sukai, dan setahu saya film tersebut belum beredar di Jabodetabek. Dari googling diketahui bahwa “Operation Red Sea” benar-benar film baru produksi 2018 buatan China dan disutradarai oleh Dante Lam, salah satu sutradara kondang di negeri panda serta disponsori antara lain oleh Chinese People’s Liberation Army (PLA).

Film ini dibuat sebagai kado ulang tahun ke-90 dari Chinese PLA dan Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis China. Begiti ditayangkan pada Mei 2018, film ini langsung disambut hangat masyarakat China dan menjadikannya sebagai salah satu film box office di China.