Category Archives: Dunia

Alhamdullilah Indonesia Menjadi Anggota DK PBB

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tidak dapat menahan haru dan langsung  kedua merapatkan kedua tangan di depan wajahnya sebagai tanda syukur setelah Presiden Majelis Umum PBB Miroslav Lacjak mengumumkan perolehan 144 suara untuk Indonesia dari total 190 negara anggota PBB.

Dengan perolehan 144 suara, Indonesia dipastikan akan menduduki kursi anggota tidak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) periode 1 Januari 2019-Desember 2020 mewakili Asia Pasifik. Indonesia akan menjadi anggota DK PBB bersama-sama dengan Jerman, Belgia, Afrika Selatan dan Republik Dominika yang mewakili berbagai kawasan lainnya.

Dibandingkan keempat negara lainnya yang terpilih tanpa persaingan berarti dan masing-masing meraih lebih dari 180 suara, Indonesia terpilih setelah melalui persaingan ketat dengan Maldives, sebuah negara kepulauan kecil di Samudera Hinda dan sebelumnya tidak pernah menjadi anggota tidak tetap DK PBB.

Selamat Ulang Tahun Bung Karno Sang Pemimpin

Hari ini 6 Juni 117 tahun yang lalu di Surabaya (bukan Blitar) telah lahir seorang anak lelaki bernama Koesno Soesrodihardjo dari pasangan suami istri Raden Soekemi Soesrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Koesno Sosrodihardjo yang kemudian berganti nama menjadi Soekarno atau akrab dengan sebutan Bung Karno merupakan salah seroang bapak pendiri bangsa yang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya untuk berpikir dan berjuang atas nama kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sebagai pendiri bangsa dan Proklamator/Presiden RI pertama banyak tulisan yang mengisahkan sosok Bung Karno, mulai dari kisah masa kecilnya, masa perjuangan, masa kejayaan, himgga masa keterpurukannya. Dari sekian banyak tulisan mengenai Bung Karno, salah satu tulisan yang menarik adalah tulisan “Soekarno Head to A Nation” yang menjadi artikel utama majalah Newsweek terbitan 15 Februari 1965. Sebuah tulisan faktual yang mengisahkan kebijakan Bung Karno di tahun-tahun yang dikenal sebagai “A Year of Living Dangerously”, masa dimana terjadi pertarungan politik memperebutkan kekuasaan yang dipimpin Partai Komunis Indonesia.

Managing Digital Information for Diplomats in the Era Paradox of Plenty

Technological advances have led to a dramatic reduction in the cost of processing and transmitting information. The result is an explosion of information, one that has produced a “paradox of plenty“. Plenty of information leads to scarcity -of attention. When people are overhelmed with the volume of information confronting them, they have difficulty discerning what to focus on. Attention rather than information becomes the scarce resource, and those who can distinguish valuable information from background clutter gain power. Editors and cue givers become more in demand, and this is a source of power for those who can tell us where to focus our attention” (Joseph S. Nye in “ Soft Power” as quoted by Christian Del Rosso in his article “The  Paradox of Plenty and the Scarcity of Attention).

We are now living in what some people call the digital age, meaning that internet have become an essential part of our lives. People are used to access the Internet, to do research and to communicate with others around the world. Using smartphones people make voice calls, send texts, email people and download logos, ringtones or games. With a built-in camera people can send pictures and make video calls in face-to-face mode. New smartphones combine a telephone with web access, videos, a games console, and MP3 player, a personal digital assistant (PDA) and a GPS navigation system, all in one.

With all these facts, It goes without saying that, in this digital age, we are inundated with an overwhelming amount of information, some of which is good, but much that is not. Google CEO Eric Schmidt was quoted as saying that every two days now we create as much information as we did from the dawn of civilization up until 2003 – something on the order of five exabytes of data.

Menanti Diplomasi Media Sosial Donald Trump

Tahun 2016 berlalu dengan suasana penuh ketidakpastian global dan kejutan-kejutan. Salah satunya adalah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) periode 2017-2021 mengungguli Hillary Clinton yang justru diprediksi banyak jajak pendapat sebagai pemenang Pemilu.

Dengan sikapnya yang kontroversial dan pernyataannya yang ceplas ceplos berbau SARA, seperti anti imigran Muslim dan Meksiko, akan menyiksa tahanan teroris, menuduh imigran Muslim adalah sumber terorisme di AS, tidak heran jika sebagian besar jajak pendapat memperlihatkan akan kemungkinan kekalahan Trump dalam pemilihan presiden. Namun dengan strategi pemenangan yang terukur dan memaksimalkan penggunaan sosial media, Trump justru membalikkan keadaan, bukan saja berhasil memelihara dan meningkatkan elektabilitasnya, tapi juga menarik perhatian masyarakat AS untuk memilihnya.

Seperti dikutip dari laporan EzyInsight, sebuah lembaga penelitian dari Finlandia, salah satu upaya yang membuat Trump bertahan dalam persaingan dengan Hillary Clinton adalah karena pemahamannya mengenai pentingnya penggunaan sosial media. Menurut EzyInsight, di Facebook saja Trump unggul dari Hillary dalam hal jumlah pengikut (follower). Trump memiliki pengikut sebanyak 11.8 juta orang, sedangkan pengikut Clinton hanya berjumlah 7,7 juta orang. Menurut EzyInsight, banyaknya pengikut dalam sosial media sangat penting karena semakin banyaknya jumlah pengikut maka semakin besar kemungkinan orang mengenalnya dan menerima pesan-pesan yang dikirimkan.

Masa Depan Monarki Thailand di Tangan Vajiralongkorn

Raja Thailand Bhumibol Adulyadej yang bergelar Rama IX wafat pada 13 Oktober 2016 dalam usia 88 tahun karena sakit. Raja Bhumibol Adulyadej adalah seorang raja yang paling lama bertahta di dunia, 70 tahun terhitung sejak pengangkatannya pada 9 Juni 1946. Ia sangat dihormati oleh rakyatnya, dianggap sebagai manusia setengah dewa yang mewujudkan nilai-nilai Budha, pemersatu bangsa dan pembela rakyat kecil dan pemimpin negara yang berhasil menjaga stabilitas politik di negeri yang selalu bergejolak ketika terjadi pergantian kepemimpinan pemerintahan. Kepergian Raja Bhumibol tentu saja melahirkan duka yang mendalam bagi rakyat Thailand.

Berbarengan dengan pengumuman wafatnya Raja Bhumibol di stasiun televisi nasional oleh Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, diumumkan pula kepastian bahwa Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn (64 tahun) akan naik tahta sebagai Raja Rama X dan dilantik setelah masa berkabung selesai. Pengumuman secara bersamaan ini sekaligus menepis kekhawatiran masyarakat akan terjadinya serangkan perubahan mendasar dalam kehidupan bernegara di Thailand.

Kekhawatiran muncul karena sosok Putra Mahkota Vijaralongkorn yang sama sekali berbeda dengan Raja Bhumibol dan perbedaan tersebut dapat dijadikan alasan untuk mendorong terjadinya perubahan di Thailand, baik perubahan bentuk negara dari kerajaan (monarki konstitusional) menjadi republik atau pemerintahan yang demokratis menjadi pemerintahan yang otoriter di bawah kekuasaan militer. Jika hal tersebut terjadi, maka tamat pula peran raja sebagai pemimpin negara di negeri gajah putih tersebut.

Sensasi Teh Tarik dan Murtabak Di Kaki Menara Petronas

teh-tarik-aris-heru“Ris, gue tau elo pasti udah gak sabar untuk mencicipi salah satu kuliner kaki lima khas Malaysia kan?”, tanya Yusron, rekan saya yang mulai tiga minggu lalu bertugas di KBRI Kuala Lumpur.

“Iya nich soalnya dari kemarin makan sea food terus. Pengen nyobain kuliner khas Malaysia seperti teh tarik di tempat asalnya”, ujar saya

“Ok, ada teh tarik di kaki Menara Kembar Petronas yang rasanya khas dan nikmat. Elo pasti suka. Selain dapat menikmati teh tarik, elo juga bisa menikmati pemandangan menara Kembar Petronas sepuasnya”, jawab Yusron

“Siip kalau begitu, tapi agak malaman dikit ya. Soalnya kita kan mesti menghadiri undangan makan malam dari Duta Besar terlebih dahulu”, ujar saya kemudian

“Siap, tapi nanti makan malam dengan Duta Besar jangan kenyang-kenyang, biar masih ada tempat untuk menikmati teh tarik dan kuliner lainnya”, saran Yusron

Jadilah malam itu seusai menghadiri makan malam dengan Duta Besar RI di Kuala Lumpur, saya dan Yusron serta 2 (dua) orang anggota tim saya meluncur ke sebuah tempat di Jalan Ampang Kuala Lumpur.

Ketika Jeihan Ikut Mendorong Perdamaian Iran-Arab Saudi

Pada 6-7 Maret 2016 Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa ke-5 Organisasi Konferensi Islam (KTT LB OKI) yang dihadiri delegasi dari 57 negara anggota OKI, wakil anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan negara obeserver. Di tengah kesibukan negara peserta KTT LB OKI membahas masalah Palestina dan Al Quds Al-Sharif (Yerusalem) dan melakukan pertemuan bilateral di sela-sela KTT, ada satu kegiatan menarik yang dilakukan Pemerintah Indonesia yaitu penyerahan dua buah lukisan dari maestro pelukis Indonesia Jeihan Sukmantoro (78 tahun) kepada Pemerintah Iran dan Arab Saudi.

“Lukisan yang diberikan kepada Iran, merupakan simbol perdamaian dan persahabatan Indonesia serta harapan Indonesia-Iran agar kita bisa bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia,” kata Menlu RI Retno Marsudi usai menemani Menlu Iran Javad Jarid Zarif menerima lukisan di sela-sela KTT LB OKI di Jakarta Convention Center, Senin 7 Maret 2016. Lukisan Jeihan yang diterima Menlu Zarif dari wakil keluarga Jeihan adalah sebuah lukisan besar berukuran sekitar 1,6 x 2 meter buatan tahun 1999 yang berjudul “Tafakur di Musdalifah”, sebuah lukisan yang mengekspresikan pengalaman pelukisnya saat melaksanakan ibadah haji.

Kelengangan Natal Di Brussel

IMG_20151224_162629Pada 20-25 Desember 2015 saya berkesempatan melakukan perjalanan dinas ke Brussel, ibu kota Belgia dan Uni Eropa. Mengingat saya pernah menetap bersama keluarga di Brussel pada tahun 2004-2008, kunjungan kembali ke Brussel tentu saja sangat menyenangkan. Rasanya seperti pulang kampung. Dan karena kunjungan kali ini bertepatan dengan hari Natal, yang tentunya dirayakan masyarakat Belgia yang mayoritas Katholik dan Protestan, saya membayangkan suasana kota akan lebih semarak dibandingkan pada hari-hari biasa.

Ya, seperti lazimnya semarak Natal di kota-kota besar di Eropa yang diwarnai berbagai hiasan, mulai dari pohon Natal, patung sinterklas hingga lampu warna warni, saya pun membayangkan kesemarakan suasana Natal di Brussel tahun 2015. Dan karena Natal jatuh setiap musim dingin, saya juga membayangkan jantung kota Brussels berubah menjadi “Winter Wonderland” seperti tahun-tahun sebelumnya, yang menampilkan pasar magis Natal, berbagai cahaya lampu, aktifitas jalanan di sekitar gedung Bourse (Bursa Efek), Place Sainte Catherine dan Marché aux Poissons (pasar ikan), dan tentu saja kawasan kota tua Grand Place atau Grote Mark.

Kawasan tersebut di atas senantiasa ramai dikunjungi warga setempat dan wisatawan manca negara yang ingin mengunjungi pasar Natal dan melihat-lihat serta menikmati keindahan arsitektur bangunan Eropa klasik buatan abad ke-11. Bangunan dan ruangan di sekitar Grand Place dihiasi pohon Natal yang dipenuhi lampu warna-warni serta ornamen lainnya. Toko-toko, restoran, dan kafe pun tidak mau kalah menyemarakkan suasana Natal dengan menjual merchandise, gastronomi khas Natal dalam berbagai bentuk dan kemasan.

Karikatur Tidak Lucu Charlie Hebdo Mengenai Aylan

Charlie Hebdo Aylan first-drawingSebuah foto bayi tiga tahun bernama Aylan Kurdi yang tertelungkup di pesisir Semenanjung Bodrum di pantai Turki pada tanggal 3 September 2015 telah membuat dunia tercengang dan murka serta menimbulkan simpati. Bayi dibawah tiga tahun asal Suriah yang masih mengenakan kaos warna merah dan celana biru, dengan sepasang sepatu melekat di kaki mungilnya itu terbaring tewas tak bernyawa, setelah kapal yang dia dan keluarganya tumpangi untuk mengungsi, terbalik terhantam ombak di Pulau Kos, Yunani.

Selain Aylan, ikut tewas pula Galip (kakaknya yang berusia 5 tahun) dan ibunya. Sedangkan ayahnya, Abdullah berhasil selamat. Mereka adalah bagian dari rombongan para pengungsi Suriah yang berusaha menghindar dari perang saudara yang sedang berkecamuk di sana.
Para tokoh dan media massa global pun ramai-ramai bersuara untuk menggugah kepedulian masyarakat dunia, terutama para pemimpinnya agar bisa mengambil tindakan, agar bisa menghentikan perang yang sedang terjadi.

Namun di tengah pemberitaan dan simpati media global kepada Aylan Kurdi yang menjadi simbol krisis pengungsi, majalah satir Perancis, Charlie Hebdo justru kembali memantik kontroversi. Seolah tidak kapok menghadapi serangan bersenjata seperti yang dialami 8 bulan lalu, Charlie Hebdo menampilkan dua buah kartun yang justru mengejek kematian Aylan. Berlindung di balik alasan kebebasan berpendapat, Charlie Hebdo mentertawai kematian Aylan Kurdi melalui karikatur-karikaturnya.

Berharap Australia Jadi Tetangga Baik

abbot jokowi

Dalam kehidupan bermasyarakat, tetangga merupakan sosok yang kerap akrab dalam keseharian kita. Tetangga, apalagi tetangga yang berdekatan, terkadang lebih tahu keadaan tempat tinggal kita dibandingkan kerabat yang tinggal jauh. Ketika salah seorang penghuni di tempat kita tinggal mengalami musibah, tetangga lah yang sering kali datang pertama untuk menjenguk dan membantu. Tidak mengherankan, jika dalam agama diajarkan untuk berbuat baik kepada tetangga. Namun bagaimana jika sang tetangga justru usil, berisik bahkan menyebalkan atau senang mengorek kembali bantuan yang pernah diberikan?

Seperti halnya kehidupan bermasyarakat, dalam tata pergaulan internasional pun dikenal kehidupan bertetangga antar negara dimana negara-negara yang berdekatan dan berbatasan saling berinteraksi satu sama lain, tidak terkecuali Indonesia. Secara geografis, Indonesia memiliki 10 negara yang berbatasan langsung yaitu Australia, Filipina, India, Malaysia, Papua Nugini, Republik Palau, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.

Dari 10 negara tetangga tersebut di atas, Australia merupakan salah satu negara yang menjalin hubungan dengan Indonesia sejak awal, bahkan sejak masa pra kemerdekaan. Saat menjelang berakhirnya perang tahun 1945 ketika sebagian wilayah Indonesia dikuasai tentara sekutu, tentara Australia telah hadir di Makasar dan Banjarmasin serta menduduki Balikpapan sebelum Jepang mengakui kekalahannya dalam perang dunia.

Manusia Peking dan Nenek Moyang Bangsa Tiongkok

IMG_20150104_102459Memanfaatkan waktu libur di awal tahun baru 2015, kami sekeluarga mengunjungi obyek dan kawasan wisata yang memperkenalkan kehidupan manusia purba di Tiongkok pada sekitar 600 ribu tahun lalu. Adapun tempat yang kami kunjungi adalah Museum Manusia Peking dan Situs Zhoukoudian yang terletak di gunung Longgu, desa Zhoukoudian, distrik Fangshan, sekitar 50 km barat daya Beijing. Desa ini cukup terkenal di dunia, khusus oleh para paleo antropolog, sejak ditemukannya fosil manusia Peking dan hewan serta benda-benda primitif lainnya, sebagai tempat untuk meneliti asal usul manusia dan menguak rahasia kehidupan manusia purba.

Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 1,5 jam, cukup lambat karena ada kemacetan di beberapa ruas jalan, kami pun tiba di Zhoukoudian. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Manusia Peking yang berdiri megah di pinggir jalan raya yang membelah desa Fangshan. Museum Manusia Peking ini dibangun pertama kali pada tahun 1953 dengan nama Museum Manusia Kera. Setelah dilakukan renovasi pada tahun 1994, museum yang berjarak sekitar 2 km dari tempat ditemukannya fosil-fosil tulang manusia purba tersebut kemudian diberi nama baru “Museum Situs Zhoukoudian” guna merujuk tempat ditemukannya fosil-fosil tengkorak manusia purba yang diperkirakan hidup ratusan ribu tahun lalu di kawasan gunung Longgu Zhoukoudian.

Setelah membayar tiket masuk sebesar 30 yuan, kami memasuki bangunan seluas sekitar 1.000 meter persegi dan bergaya arsitektur modern. Pada museum ini ditampilkan sejumlah benda-benda temuan dari situs di Gunung Longgu seperti tempurung kepala manusia Peking yang diperkirakan hidup sekitar 600 ribu tahun lalu, manusia Xindong yang hidup sekitar 100 ribu tahun lalu dan manusia gua yang hidup sekitar 18 ribu tahun lalu.

Kartu Pos dari Nanjing

IMG_20140916_1Setelah sekian lama tidak pernah menerima kiriman kartu pos bergambar, pagi ini (16 September 2014) saya kembali menerima kiriman sebuah kartu pos. Kartu pos tersebut dikirim dari Nanjing pada tanggal 7 September 2014 dan saya terima tanggal 16 September 2014 atau 9 hari setelah pengiriman (dengan cap kantor pos Beijing tanggal 11 September 2014). Pengirim kartu pos adalah saya sendiri dan benda tersebut dikirim usai mengunjungi museum istana kepresidenan Republik Tiongkok di Nanjing. Kartu pos tersebut sebenarnya adalah bekas tiket masuk ke museum istana presiden Republik Tiongkok, namun karena sudah dilengkapi perangko senilai 80 sen, maka bekas tiket masuk yang bergambar gerbang istana Kepresidenan Republik Tiongkok di Nanjing tersebut bisa menjadi kartu pos yang siap dikirimkan kemana pun di Tiongkok.

Di era teknologi informasi dewasa ini, pengiriman kartu pos yang mewakan waktu 5-9 hari tersebut jelas terlalu lama. Karenanya tidak mengherankan jika saat ini tidak banyak orang yang menggunakan kartu pos untuk bertukar kabar singkat. Orang lebih suka berkirim kabar menggunakan elektronik mail, pesan singkat (SMS), BBM, Whatsapp, Wechat, atau melalui media sosial seperti facebook dan twitter. Alasan kecepatan dan kepraktisan menjadi pertimbangan utama penggunaan perangkat tersebut.

Tapi pada jaman ketika teknologi informasi belum berkembang, pengiriman berita melalui kartu pos dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif, apalagi jika dikirim menggunakan kartu pos bergambar. Gambar-gambar kota, pemandangan, gedung-gedung, kesenian, potret dan aspek kehidupan lainnya bisa menjadi bagian dari pesan yang ditunggu-tunggu. Gambar pada kartu pos bisa menjadi alat untuk mengetahui keadaan di suatu tempat, yang mungkin belum pernah dikunjungi.