Category Archives: Socio Cultural

Pancasila yang Tertukar

Finalis Puteri Indonesia 2020 dari Sumatera Barat, Louise Kalista Iskandar, menjadi pembicaraan publik ketika gagap dan tidak berhasil melafalkan Pancasila dengan sempurna. Lancar menyebutkan sila pertama hingga ketiga, Kalista justru menyebutkan sila keempat dan kelima Pancasila secara tertukar dan kacau. Cuplikan video kegagapan Kalista melafalkan teks Pancasila, yang sesungguhnya manusiawi sekali, beredar luas di media sosial.

Kalista bisa jadi sedang apes dan tetiba menjadi putri yang tertukar karena gagal melafalkan Pancasila. Ia mungkin tidak mengira mendapatkan pertanyaan sederhana yang semestinya bisa dijawab dengan mudah. Kalista terlihat gugup berkali-kali lipat, apalagi mesti menjawab dalam 30 detik di tengah riuh rendahnya suara penonton.

Jadikan Momen Imlek Untuk Memperkuat Kembali Keberagaman

Tahun Baru Imlek tahun 2020 yang jatuh pada Sabtu 25 Januari 2020 menjadi momen penting yang menandai dua dekade kembalinya perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia secara terbuka dan meriah. Masyarakat Tionghoa terlihat ramai memenuhi wihara atau kelenteng untuk melakukan ibadah, melakukan saling kunjung antar keluarga dan kerabat seperti layaknya umat Muslim Indonesia merayakan Idul Fitri. Sementara di berbagai tempat ramai dipertunjukkan atribut Tahun Baru Imlek 2571 dan kegiatan seni budaya tradisional seperti barongsai,  

Para pejabat Negara dan Pemerintah pun tidak takut lagi untuk menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek dan ikut merayakannya. Presiden Joko Widodo misalnya, melalui akun instagram pribadi menampilkan gambar kartun dirinya tengah mengenakan kemeja putih memberikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek 2571. Presiden juga menyampaikan doa agar Indonesia semua semakin sejahtera, meraih cita-cita, penuh kedamaian dan semakin maju.

Sementara itu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendatangi Wihara Dharma Bakti dan Dharma Jaya di Petak Sembilan, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Menurut Anies “Tahun Baru Imlek 2571 di Jakarta yang disambut dengan rintik hujan menjadi momen penanda dalam mencuci masa lalu, membersihkan kekurangan, dan membawa kebaikan untuk satu tahun ke depan…”

Meneguhkan Gotong Royong Berdasarkan Pancasila

Mengawali  tahun 2020, masyarakat ibu kota Jakarta dan daerah-daerah di sekitarnya dihadapkan pada musibah banjir yang besar. Hujan lebat yang tercurah sepanjang hari membuat air meluap dan membanjiri banyak kawasan. Siap tidak siap, musibah yang datang tersebut mesti dihadapi masyarakat dengan tabah dan sabar serta bersama-sama bergotong royong meringankan beban yang terkena musibah.

Kata gotong royong sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang berarti memikul (gotong) dan secara bersama-sama (royong). Sehingga gotong royong ini dapat diartikan dengan bekerjasama dalam menyelesaikan suatu kegiatan tertentu yang menyangkut kegiatan bersama.

Dalam musibah banjir yang terjadi di awal tahun, terlihat semangat gotong royong masyarakat dalam menolong korban banjir muncul ke permukaan. Tanpa menunggu bantuan dari Pemerintah, secara spontan masyarakat melakukan kerja gotong royong dengan turun  langsung ke berbagai lokasi banjir antara lain guna membantu para korban mengungsi, menyiapkan penampungan, memberikan bantuan pangan, memberikan pengobatan dan lainnya.

Godfather Patah Hati

Wah sepertinya kita enggak bisa tampilkan Didi Kempot, bayarannya mahal di luar budget. Maklum lagi naik daun,” begitu komentar crew sebuah stasiun televisi yang ditugasi menghubungi Didi Kempot untuk acara konser yang digelar kerjasama kantor saya dengan staisun televisi tersebut.

Memangnya dia minta dibayar berapa,” tanya saya

Dia minta dibayar segini (sambil menyebutkan sejumlah nominal), sementara budget kami maksimal sebesar segini (sambil lagi-lagi menyebutkan nominalnya), masih jauh dari yang diminta,” ujar crew tersebut dengan muka masam

Ehmm begitu ya … ya udah saya akan coba hubungi Didi Kempot lewat teman dekatnya,” ujar saya mencoba mencari solusi

Setelah kontak dengan teman dekatnya, Didi Kempot setuju untuk tampil di acara konser dengan bayaran sesuai besaran budget dari stasiun televisi tersebut.

Mas Didi gak keberatan kok dibayar segitu. Dia sebenarnya enggak terlalu hitungan-hitungan soal bayaran, apalagi yang punya hajat kan kantor sampeyan, Apalagi, kebetulan juga konser diselenggarakan di kota tempat tinggalnya,” ujar teman saya tersebut

Habibie Menulis Untuk Cegah Linglung

Indonesia kembali kehilangan seorang putra terbaik bangsa dengan berpulangnya Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibe atau BJ Habibie pada 11 September 2019 sore di RSPAD Gatot Subroto pada usia 83 tahun karena sakit,

Almarhum BJ Habibie adalah seorang ahli penerbangan yang mencapai moment of triumph paripurna dalam hidupnya dengan menjadi Presiden ke-3 RI pada 1998 pada 21 Mei 1998. Almarhum menggantikan Presiden Soeharto yang mengundurkan diri karena desakan masyarakat yang dimotori mahasiswa. Meski tidak lama menjabat Sebagai Presiden RI, Almarhum berhasil memimpin Indonesia melewati masa transisi pada akhir 1990-an.

Mendengar kabar berpulangnya salah satu tokoh besar di Indonesia tersebut, ingatan saya kembali kepada beberapa hal seperti pada masa sekolah menengah, interaksi dengan Almarhum BJ Habibie beberapa waktu yang lalu dan pertemuan di Beijing, China, sekitar 6 tahun lalu.

Mutiara Pancasila di Kaki Gunung Meja

Di usia kemerdekaan yang sudah mencapai angka 74, bangsa Indonesia masih dihadapkan pada kasak-kusuk persoalan kekerasaan atas nama radikalisme agama dan kepercayaan serta ras. Di dunia maya, menggunakan akun palsu atau asli, masyarakat terpecah belah ke dalam kelompok-kelompok, melakukan debat kusir, saling balas-membalas komentar, disertai dengan hujatan dan umpatan.

Di dunia maya, kekerasan berbasis SARA mendapatkan tempat yang pas sebagai tempat persemaian intolerasi. Sarkasisme tumbuh paling subur. Sedihnya, perilaku di dunia maya tersebut bermuara ke dunia nyata yang memunculkan kekerasan dan intoleransi. Semua hal ini tentu saja menjadi kecemasan kita bersama. Negara mesti waspada akan ancaman teroris yang sesungguhnya.

Untungnya, di tengah kegalauan di atas, masih ada banyak harapan, salah satunya dari Pondok Pesantren Walisongo di kaki Gunung Meja, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dari pondok pesantren yang sangat bersahaja ini terdapat benih-benih kerukunan yang terus dijaga, dan dipelihara menjadi pohon rindang yang menghembuskan angin kedamaian dan membawa kesejukan bagi Indonesia.

Berbakti Kepada Negara Itu Bisa Dimulai dari Lorong Kampung

Banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan untuk menunjukkan bakti kepada negeri, salah satunya dengan menjadi pembakti kampung seperti yang dilakukan Ir. Bambang Irianto (63 tahun). Ia membaktikan sebagian besar hidupnya untuk membangun kampung tertinggal menjadi kampung yang bersih dan sehat serta nyaman untuk ditinggali warga.

Kampung yang selama ini kerap dicitrakan sebagai wilayah kumuh, banjir, dan diwarnai sejumlah permasalahan sosial oleh Bambang disulap menjadi maju dan berwawasan lingkungan.

Bambang membangun setiap lorong kampung dengan prinsip sederhana yaitu “Mulai dari sekarang dan mulailah dari yang bisa dikerjakan terlebih dahulu, sekarang juga” Baginya tidak ada perkataan “sesuatu dikerjakan besok-besok saja”.

Belajar Berkorban dari Yu Timah

Setiap menjelang Hari Raya Idul Adha saya selalu teringat akan tulisan Ahmad Tohari yang dimuat di hahrian Republika tanggal 18 Desember 2007 mengenai sosok seorang wanita bernama seorang penjual nasi bungkus bernama Yu Timah yang gigih ingin melaksanakan ibadah kurban, meski karena kemiskinannya yang bersangkutan tidak memiliki kewajiban untuk melaksanakannya.

Enaknya punya website sendiri, kita bisa menyimpan berbagai tulisan di website tersebut tanpa disulitkan masalah persetujuan (misalnya dari pimpinan, editor atau administrator website)  dan berbagai kerumitan administrasi.  Saat ingin membacanya kembali, kita  tinggal membukanya dan memberi tanggapan ulang sesuai keperluan.

Dalam tulisannya Ahmad Tohari bercerita tentang Yu Timah yang merupakan salah seorang penerima Subsidi Langsung Tunai (SLT) pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode pertama (2004-2009). Yu Timah merupakan bagian dari 39 juta orang miskin di Indonesia saat itu, yang gigih menabung rupiah demi rupiah dari jerih payahnya bekerja untuk membeli seekor kambing yang akan dikurbankan pada hari raya.

Jinjit

Di jejaring WAG kerap berseliweran informasi menarik dan beragam,  salah satunya informasi atau tips kesehatan. Seperti biasa,  informasi tersebut umumnya anonym alias tidak jelas siapa yang menulis. Apapun,  kita ambil saja pesannya.

Berikut saya salinkan salah satu informasi tersebut:

Alhamdulillah…. Dapet ilmu baru…
Tadi p Rusdi,70 tahun, warga Bintaro Permai naik mobil saya dan bercerita dia mengalami kelumpuhan akibat stroke selama 10 tahun dan sebelumnya juga menderita serangan jantung.

Nilai Pancasila Dalam Permainan Tradisional

Yang namanya anak-anak pada umumnya pasti suka bermain. Tidak ada bedanya antara anak jaman dahulu dengan anak jaman sekarang. Selalu ada tingkah dan pola anak-anak dalam bermain yang sering membuat orang tua gemes melihatnya. Yang membedakan adalah zamannya.

Pada jaman dahulu, terutama jika melongok era tahun 60 dan 70-an bahkan hingga 80-an, permainan dan olahraga yang  sangat popular antara lain gobak sodor atau hadangan (galasin), bentengan, adu gundu, panggal, demprak, dampu, loncat tali, gatrik dan sebagainya.

Pada masa itu, permainan yang sekarang disebut sebagai permainan tradisional tersebut banyak dimainkan anak-anak, terutama yang tinggal di kampung atau pedesaan. Permainan tradisional tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan dan keceriaan generasi muda Indonesia.

Warna Warni Kota Malaikat Puebla

Tiba menjelang siang hari di Puebla de Zaragoza (Puebla) di Negara Bagian Puebla, kesan pertama saat melihat kota ini adalah serasa berada di kota masa lalu dimana banyak berdiri kokoh bangunan kuno bergaya arsitektur Barok mengelilingi taman kota seperti bangunan kantor pemerintahan, Kathederal dan bangunan lainnya.

Meski secara umum bangunan yang ada di Puebla menyerupai bangunan di kota-kota lain, namun yang membedakan adalah bangunan-bangunan kuno tersebut memiliki dinding berwarna-warni seperti pelangi, merah, kuning, hijau dan biru. Jarang sekali ditemukan bangunan yang hanya berdinding satu warna. Setidaknya ada dua warna yang menghiasi bangunan-bangunan di sana.

Bangunan gereja yang di berbagai tempat ini dikenal kusam, di Puebla justru terlihat ceria dengan dinding gereja dicat warna kuning emas. Sementara di teras bangunan tempat tinggal banyak yang meletakkan bunga bougenvil berwarna ungu tua menutupi tembok. Semua pemandangan tersebut membuat Puebla terlihat cantik dan suasana kota tidak kusam.

Bahagia Warganya Maju Kotanya

Ada pemandangan yang kerap dijumpai setiap akhir pekan di taman-taman di Mexico City yaitu warga yang berkumpul bersama kerabat dan teman untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersama.

Ada yang hanya sekedar berjalan-jalan di taman atau ngobrol satu sama lain, mengajak anak balita bermain ayunan atau perosotan yang tersedia gratis, atau yang tidak kalah seru adalah menari dan berdansa, bersalsa, berzumba bersama diiringi musik seperti yang saya saksikan di taman A Morales, di depan pasar Ciudadela, Colonia Roma.