Category Archives: Socio Cultural

“The Foreigner” Kisah Non-Pribumi di Inggris

Gara-gara Anies Baswedan menyebutkan satu kata “pribumi” dalam pidato pertamanya sebagai Gubernur DKI yang baru pada 16 Oktober 2017, iya benar-benar SATU kata BUKAN BERKALI-KALI seperti dituduhkan oleh seseorang yang mengaku pembela HAM, netizen Indonesia pun heboh bergemuruh di dunia maya. Tidak menunggu lama, perbincangan mengenai kata pribumi (dan tentu saja diikuti dengan antonimnya yaitu non-pribumi) pun dengan cepat go internasional.

Nah di tengah kehebohan penyebutan kata “pribumi” tersebut, sejak 14 Oktober 2017 lalu di bioskop-bisokop se  Jabodetabek sebenarnya sedang diputar sebuah film yang bercerita tentang perjuangan seorang non-pribumi di Inggris.  Film tersebut adalah The Foreigner” (dari kata dalam bahasa Inggris yang berarti “orang asing” atau bisa juga disebut sebagai non-pribumi) yang dibintangi Jackie Chan dan Pierce Brossnan dan merupakan  film produksi gabungan China-Inggris yang diproduseri oleh Jackie Chan dan disutradarai oleh Martin Campbell (yang juga seorang sutradara salah satu film James Bond “The Casino Royale”).

Diadaptasi dari novel tahun 1992 berjudul “The Chinaman” karya Stephen Leather, film ini bercerita tentang balas dendam seorang non-pribumi Inggris keturunan China, Ngoc Minh Quan (diperankan oleh Jackie Chan). Quan, veteran anggota pasukan khusus AS di perang Vietnam yang tinggal di London sebagai pengusaha restoran, berjuang seorang diri untuk menuntut balas kematian anak perempuannya akibat ledakan bom yang dilakukan kelompok teroris Irlandia Utara (IRA) yang menyebut dirinya “Authentic IRA”.

Orang Asing dan Kebangkitan Sang Naga

The Foreigner

Sutradara: Martin Campbell

Skenario: David Marconi, dari novel The Chinaman karya Stephen Leather

Pemain: Jackie Chan, Pierce Brossnan, Rufus Jones

Produksi: 2017

Lama tidak menyaksikan aksi Jacky Chen di layar lebar, akhirnya kerinduan tersebut terobati melalui “The Foreigner”, film produksi gabungan China-Inggris dan disutradarai oleh Martin Campbell (yang juga menyutradarai salah satu film James Bond “The Casino Royale”). Berdua istri, saya menonton film ini di Bekasi (di Bekasi ada juga lho bioskop XXI).

Diambil dari cerita novel tahun 1992 berjudul “The Chinaman” karya Stephen Leather, film yang juga dibintangi oleh mantan pemeran James Bond Pierce Brosnan ini bercerita tentang seorang imigran China di London, Ngoc Minh Quan (diperankan oleh Jacky Chen), yang ingin membalas dendam kematian putrinya akibat ledakan bom yang dilakukan teroris Irlandia Utara (IRA) yang menyebut dirinya “Authentic IRA”.

Dalam upaya memburu pelaku peledakan bom, Quan akhirnya mendapatkan nama Liam Hennessy (diperankan oleh Piere Brossnan), mantan teroris IRA yang menjabat sebagai Wakil Menteri Irlandia. Saat awal bertemu, Hennesey tidak mengakui bahwa dialah yang memerintahkan pengeboman di tengah upaya perundingan damai yang dilakukannya dengan Pemerintah Inggris. Setelah didesak dan aibnya dengan pacar gelapnya yang bernama Maggie terbongkar, barulah Hennesey mengakui bahwa dialah yang memerintahkan pengeboman. Namun celakanya, Hennesssy tidak mengetahui kelompok mana di dalam jaringannya yang telah melakukan pengeboman.

Menatap Keindahan Ibu Pertiwi Indonesia

Memperingati 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Sekretariat Negara kembali memamerkan koleksi lukisan Istana Kepresidenan di Galeri Nasional pada 2-30 Agustus 2017 dengan tajuk “Senandung Ibu Pertiwi”. Seperti dituliskan dalam katalog pameran, tujuan pameran adalah untuk menggambarkan Ibu Pertiwi sebagai “Tanah Air”, tempat lahirnya sebuah identitas di satu sisi dan di sisi lain “Kekuatan Alam” yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap pelbagai hal dalam kehidupannya.

Secara apik tujuan pameran tersebut kemudian dinyatakan dalam sebuah puisi di dinding tidak jauh dari pintu masuk ruang pamer yang berjudul “Aku Melihat Indonesia”:

Jikalau aku melihat gunung gunung membiru, Aku melihat wajah Indonesia; Jikalau aku mendengar lautan membanting di pantai bergelora, Aku mendengar suara Indonesia;

Jikalau aku melihat awan putih berarak di angkasa, Aku melihat keindahan Indonesia; Jikalau aku mendengarkan burung perkutu di pepohonan, Aku mendengarkan suara Indonesia.  

Jikalau aku melihat matanya rakyat Indonesia di pinggir jalan, Apalagi sinar matanya anak-anak kecil Indonesia, Aku sebenarnya melihat wajah Indonesia.

Sensasi Gabus di Warung Pucung Bekasi

Setelah beberapa kali tertunda, karena warung tutup atau sajian sayur gabus pucung habis, akhirnya pada Minggu 23 Oktober 2016 saya berkesempatan merasakan kenikmatan kuliner sayur gabus pucung di Warung Pucung Jalan Pekayon No. 55 Pekayon Jaya, Bekasi. Sesuai namanya, menu andalan di warung ini adalah sayur ikan gabus pucung, salah satu kuliner kesohor khas Betawi yzng menggunakan buah pucung atau kluwek yang berwarna hitam (bahan yang dikenal sebagai bumbu rawon). Selain sayur gabus pucung, tentu saja ada menu lainnya yang dijual di warung ini seperti gorengan ikan sambal, tahu, tempe, petai rebus dan lalapan lainnya.

Ikan gabus merupakan ikan yang biasa ditemukan di air tawar ikan gabus yang sangat lezat bila dijadikan sajian kuliner. Ikan gabus pucung ini merupakan kuliner sederhana dengan citarasa yang tinggi dan enak digoyang di lidah.

Ketika saya tiba, warung terlihat tidak terlalu ramai. Tanpa menunggu lama saya langsung memesan seporsi sayur gabus pucung.

“gabusnya mau bagian kepala atau badan pak?”, tanya mbak penjaga warung

“kepala saja”, jawab saya sambil melongok ke dandang tempat sayur gabus pucung dihangatkan. Terlihat potongan kepala dan badan ikan gabus dalam kuah coklat kehitaman yang mengepul. Wangi aroma sayur gabus pucung langsung membangkitkan selera saat asapnya mengepul.

Masjid Merah Panjunan dan Wujud Akulturasi Antar Budaya

masjid merah panjunan“Jauh-jauh ke Cirebon kok kita malah diajak ke masjid kecil seperti ini sich”, gerutu seorang teman saya ketika siang itu kami tiba di sebuah masjid berpagar merah bata di kawasan Panjunan Cirebon untuk menunaikan sholat dhuhur.

“Tempat wudhunya pun tidak dipisahkan antara pria dan wanita, kita kan jadi susah untuk berwudu”, gerutunya lagi, seolah gerutuannya ingin didengar oleh teman-teman yang lain. Sementara teman-teman yang lain hanya senyum-senyum saja.

Saya yang mengajak teman-teman mampir ke masjid ini pun kemudian memberikan sedikit penjelasan, meski kecil dan sederhana, tapi masjid merah ini merupakan masjid bersejarah yang didirikan pada tahun 1480 dan menjadi salah satu saksi perkembangan Islam di Cirebon. Masjid ini menjadi saksi dari kegiatan para Wali Songo (Sembilan Wali), penyebar Islam di Jawa, dalam mengkoordinasikan dalam menyiarkan agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya.

Menikmati Kekayaan Sang Proklamator Kemerdekaan RI

IMG_20160805_145856Sebagai seorang proklamator kemerdekaan dan Presiden pertama Indonesia yang berkuasa penuh selama 20 tahun, Ir. Soekarno atau Bung Karno memiliki kesempatan besar untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan untuk diri sendiri dan keluarganya. Tidak heran jika setelah beliau tumbang dari kekuasaannya dan wafat pada tahun 1970 dalam status tahanan rumah, banyak pihak yang kemudian memburu harta warisan kekayaan Bung Karno dan ingin menikmatinya, bahkan hingga ke luar negeri. Hal ini dilakukan karena konon Bung Karno memiliki simpanan jutaan dollar Amerika di sebuah bank di Swiss dan menyimpan beberapa ton emas batangan di suatu tempat.

Kini, guna merayakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, untuk pertama kalinya masyarakat memiliki kesempatan untuk menikmati warisan kekayaan Bung Karno. Hal ini bisa terjadi karena sepanjang Agustus 2016 ini sejumlah kekayaan Bung Karno dibuka dan dipamerkan ke publik oleh Sekretariat Negara RI. Benarkah? Iya, benar sekali, tapi bukan warisan kekayaan berupa uang atau emas yang dipamerkan ke publik, karena hal itu mungkin hanya isapan jempol semata, melainkan kekayaan seni dan budaya dalam bentuk koleksi lukisan yang tak ternilai harganya.

Sebanyak 28 koleksi lukisan Istana Kepresidenan, dari sekitar 3.000 lukisan, yang tersimpan di beberapa Istana Kepresidenan Indonesia, antara lain Istana Kepresidenan di Jakarta, Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring-Bali dan sebagian besar adalah koleksi Bung Karno yang dikenal memiliki selera seni sangat tinggi. Sebagian koleksi itu adalah hasil upaya Presiden Soekarno sendiri, yang tak segan langsung berbelanja ke berbagai galeri atau sanggar seni. Sebagian lukisan itu juga hadiah dari pemimpin negara-negara lain saat berkunjung ke Indonesia.

Ende Aru Gau dan Tenun Ikat

Aris Flores BokasapePerjalanan rombongan wisata alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 85 (Garis 85 Goes To Flores) tanggal 5 Mei 2016 dari Maumere ke Ende, yang didukung dan diorganisasikan oleh Wuamesu Indonesia, kembali berlanjut. Setelah sebelumnya singgah di pantai Paga, maka persinggahan berikutnya dari rombongan kami adalah Madrasah Tsanawiah Negeri ( MTs.N) Wolowaru, Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Persinggahan di Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape ini, sejujurnya merupakan kejutan pertama yang menyenangkan, karena tidak tercantum di program acara. Awalnya, saya mengira bahwa setelah singgah di pantai Paga, acara selanjutnya adalah makan siang bersama di rumah makan, maklum karena memang sudah waktunya makan siang.

Alih-alih menuju rumah makan, 3 (tiga) bus rombongan yang mengangkut kami justru berbelok menuju Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape, tepatnya menuju MTs.N Wolowaru. Seolah menyambut kedatangan rombongan, gerimis turun membasahi bumi dan semakin deras. Sekelompok ibu-ibu berumur berpakaian hijau dan  bawahan sarung kain tenun ikat khas Ende tampak sudah bersiap di depan pintu gerbang MTs.N menunggu kedatangan kami.

Segera setelah kami memasuki pintu gerbang, tanpa memperdulikan hujan yang semakin deras, ibu-ibu tersebut dengan lincah menarikan tarian selamat datang diiringi musik tradisional Nggo Wani. Sambil menari ibu-ibu tersebut mengarahkan rombongan ke ruang kelas MTs.N yang telah dipersiapkan untuk seluruh anggota rombongan. Lurah Bokasape dan para tokoh masyarakat Wolowaru serta ibu-ibu anggota masyarakat berjajar di depan ruang kelas dan menyalami anggota rombongan satu persatu serta mempersilahkannya masuk ke ruang kelas.

Ketika Jeihan Ikut Mendorong Perdamaian Iran-Arab Saudi

Pada 6-7 Maret 2016 Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa ke-5 Organisasi Konferensi Islam (KTT LB OKI) yang dihadiri delegasi dari 57 negara anggota OKI, wakil anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan negara obeserver. Di tengah kesibukan negara peserta KTT LB OKI membahas masalah Palestina dan Al Quds Al-Sharif (Yerusalem) dan melakukan pertemuan bilateral di sela-sela KTT, ada satu kegiatan menarik yang dilakukan Pemerintah Indonesia yaitu penyerahan dua buah lukisan dari maestro pelukis Indonesia Jeihan Sukmantoro (78 tahun) kepada Pemerintah Iran dan Arab Saudi.

“Lukisan yang diberikan kepada Iran, merupakan simbol perdamaian dan persahabatan Indonesia serta harapan Indonesia-Iran agar kita bisa bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia,” kata Menlu RI Retno Marsudi usai menemani Menlu Iran Javad Jarid Zarif menerima lukisan di sela-sela KTT LB OKI di Jakarta Convention Center, Senin 7 Maret 2016. Lukisan Jeihan yang diterima Menlu Zarif dari wakil keluarga Jeihan adalah sebuah lukisan besar berukuran sekitar 1,6 x 2 meter buatan tahun 1999 yang berjudul “Tafakur di Musdalifah”, sebuah lukisan yang mengekspresikan pengalaman pelukisnya saat melaksanakan ibadah haji.

Ojek Ontel Which Still Exist in Jakarta

IMG_20150909_121557“Lets ride my Ojek Ontel (bicycle taxi). Guaranteed faster Sir”, said Suparno, a 50 year old Ojek Ontel driver, with a smile in his face. Suparno is a resident of Jakarta who has decades offering Ojek Ontel services to people passing in front of the Station Jakarta Kota, Central Jakarta. He is one Ojek Ontel driver who can survive amid strong competition from other public transportation in Jakarta such as bus, taxi and motorcycle taxi as well as the latest phenomenon Go-Jek.

Go-Jek became the latest phenomenon in Indonesia using it’s newest innovation of transportation service to take out people easily as well as serves the other services such as food delivery, shopping, and shipping the document. Go-Jek is being a multifunction service company for transportation in Indonesia nowadays. Go-Jek break down the mainstream business in motorcycle transportation and make dillema for other public transportation such as motorcycle Ojek and Ojek Ontel.

Suparno said that when motorcycle taxi presents in the 1990s, many Ojek Ontel drivers complained about thier existences and felt like motorcycle taxi drivers alredy taken all their business and their roles. Now turn motorcycle taxi driver who complain about the Go-Jek presence. It’s a paradox while many people welcoming the Go-Jek but in the other side it turns off the motorcycle taxi and make Ojek Ontel transportation marginalized.

Menikmati Petik Rambutan Subang

rambutan subang ahuKerap dikenal sebagai daerah penghasil buah nanas simadu, Kabupaten Subang di Jawa Barat ternyata juga merupakan penghasil buah rambutan, salah satu jenis buah lokal di Indonesia yang mampu bertahan dari serbuan buah impor. Seperti data yang didapat dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Subang, di kabupaten ini terdapat perkebunan rambutan luas milik warga yang tersebar di 16 kecamatan (dari 30 kecamatan).

Dengan jumlah lahan kebun rambutan yang luas, tidak mengherankan jika setiap musim rambutan tiba, warna merah buah rambutan mendominasi pemandangan di Kabupaten Subang, khususnya di kecamatan Purwadadi, Kalijati, dan Cipeundeuy. Di sepanjang tepi jalan menuju ketiga kecamatan tersebut terlihat pohon rambutan dan para pedagang ramai menjajakan buah rambutan.

Untuk mencapai Subang, warga Jakarta dan sekitarnya dapat melalui jalan tol Cikopo, keluar di pintu tol Kalijati. Jika tidak terkena macet, sekitar 2 jam kita akan tiba di Subang dan merasakan suasana pedesaan yang dikelilingi pohon rambutan. Dengan semakin mudahnya akses ke Subang, maka jalan-jalan di akhir pecan bersama keluarga dan sahabat ke daerah tersebut bisa menjadi alternatif pilihan menarik, khususnya saat musim panen rambutan pada bulan Desember – Februari.

Revolusi Toilet

IMG_20151008_113842Ada pepatah lama yang mengatakan “kebersihan adalah pangkal kesehatan”.  Artinya kebersihan merupakan awal dari kesehatan. Dengan memelihara kebersihan seseorang bisa menjaga kesehatan dan beraktivitas dengan baik.

Pepatah tersebut masih tetap relevan hingga saat ini. Karena itu, tidak heran jika para orang tua dan guru-guru masih sering mengingatkan kita agar selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh  agar bisa beraktivitas dengan baik. Dan salah satu tempat yang perlu dipelihara kebersihannya adalah toilet.

Toilet merupakan salah satu tempat yang paling sering dikunjungi setiap hari. Di toilet lah kegiatan dasar manusia sehari-hari berupa buang air besar/kecil dilakukan. Di rumah, di kantor, di hotel, di sekolah, sampai di tempat umum akan dijumpai tempat yang bernama toilet. Saat sudah ada ‘panggilan alam’, maka toilet lah tempat yang paling dicari.

Kerak Telor Betawi

IMG_20150920_163645Namanya Bang Risol. Sore itu, ketika saya mendatanginya di kawasan Lapangan Banteng, ia terlihat sedang sibuk membuat kerak telor untuk dua orang pembeli yang duduk di sebuah kursi pendek. Ia terus mengipas-ngipas api di dalam anglo yang diletakkan di tanah antara kedua gerobak pikul dan membolak-balik kerak telor yang diletakkan di atas wajan kecil. Tidak sampai 15 menit kerak telor yang dibuatnya matang. Setelah diberi bumbu berupa serundeng dan bawang goreng, maka kerak telor siap disantap.

Ya, berbeda dengan sajian kuliner lainnya yang umumnya didagangkan di restoran, rumah makan ataupun kios, maka kerak telor Bang Risol dan juga pedagang kerak telor lainnya langsung dibuat dan didagangkan dekat gerobak panggulnya yang khas beserta perangkat memasak sederhana berupa anglo dan arang.

Sebagai sebuah ikon kuliner dari Jakarta, boleh dikatakan kerak telor cukup popular di kalangan pecinta kuliner, tidak kalah jika dibandingkan dengan kuliner Betawi lainnya seperti gado-gado, karedok, asinan dan ketoprak. Konon sejak dulu kerak telor telah popular karena kelezatannya bahkan disajikan sebagai hidangan khusus untuk merayakan suatu acara atau hajatan.