Category Archives: Socio Cultural

Berkibarlah Benderaku

“Bro, sudah punya bendera merah putih? Sebentar lagi Agustus. Kita merayakan hari kemerdekaan RI. Jangan lupa kibarkan bendera merah putih di depan rumah,” seru seorang temanku.

“Tumben elo ingat soal pengibaran bendera merah putih,” jawabku agak sedikit heran.

Sepahamanku, selama ini dia selalu cuek soal bendera nasional. Bahkan waktu SMA, dia dikenal jarang ikut upacara. Setiap Senin pagi, dimana ada upacara bendera, dia selalu datang terlambat. Alasannya klasik, jalanan macet. 

“Ha ha ha … dari awal gue udah yakin kalau elo bakalan heran saat gue ngomong soal bendera nasional,” jawab temankuRI. Jangan lupa kibarkan bendera merah putih di depan rumah,” seru seorang temanku.

 “Begini bro, gue barusan aja baca berita di media sosial mengenai Surat Edaran Menteri Sekretaris Negara Pratikno yang berisi himbauan kepada masyarakat untuk memasang dan mengibarkan Bendera Merah Putih secara serentak di seluruh Indonesia mulai tanggal 1-31 Agustus 2020,” jelasnya kemudian.

Kurban dan Nilai-Nilai Pancasila

“Silahkan Pak dipilih kambing yang hendak dipotong,” ujar salah seorang panitia kurban IdulAdha 1441H setelah menerima kwitansi pembayaran hewan yang kusodorkan.

Seperti tahun-tahun lalu, kali ini akupun menyerahkan urusan kurban ke panitia di masjid yang dekat tempat tinggalku. Transaksi pembelian kambing telah kulakukan kemarin, sehingga hari ini aku cukup menyerahkan kwitansi sebagai bukti kepemilikan kambing yang akan dikorbankan.

Tidak memerlukan waktu lama akupun segera menunjuk seekor kambing jantan putih dengan sedikit bercak hitam di kepala dan badan. Kambing tersebut berukuran sedang dan terlihat sangat sehat.

“Jangan khawatir pak, semua kambing yang akan dikorbankan berjenis kelamin jantan,” jelas si panitia

“Ayah, Kenapa yang dikorbankan mesti hewan jantan?,” tanya putraku yang ikut mendampingi ke tempat pemilihan kambing dan sekaligus tempat pemotongan

Tradisi Saling Memaafkan di Hari Lebaran

Minggu 24 Mei 2020 atau 1 Syawal 1441 H merupakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, hari yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia karena merupakan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Pada hari raya ini umat Muslim merayakan Lebaran dengan saling mengucapkan selamat.

Momen mengucapkan Lebaran sudah terjadi sejak dahulu kala. Ucapan yang paling sering digunakan yaitu Ied (Eid) Mubarak yang artinya Lebaran berkah. Ucapan tersebut dapat diartikan sebagai perayaan kegembiraan umat Muslim. Makna ucapan Lebaran adalah perayaan kegembiraan, sekaligus doa untuk umat muslim yang merayakannya. Untuk mengungkapkan kegembiraan dan doa tersebut dilakukan dengan berbagai cara.

Di di kawasan Timur Tengah, ucapan Lebaran biasanya menggunakan kalimat Taqabbalallahu minna waminkum, siyamana wasiyamakum, kullu am wa antum bikhair. “Artinya, semoga Allah menerima puasa kami dan kalian. 

Ramadhan Bulan Kemerdekaan RI

Jumat 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 9 Ramadhan 1334 H merupakan tanggal penting dalam sejarah Republik Indonesia. Pada tanggal ini, bertempat di halaman rumahnya Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, Ir. Sukarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi yang menyatakan bahwa Indonesia telah menjadi negara yang merdeka.

Pembacaan teks Proklamasi yang dilakukan dalam suatu upacara sangat sederhana tersebut berhasil mengguncang dunia dan Indonesia mendapat dukungan serta apresiasi dari berbagai penjuru dunia.

Meski beberapa saat sebelum pembacaan teks Proklamasi, Bung Karno terkena gejala malaria tertiana, suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, dengan suara mantap dan jelas Sukarno membacakan naskah teks proklamasi yang digoreskan pada secarik kertas.

Pancasila yang Tertukar – rev

Finalis Puteri Indonesia 2020 dari Sumatera Barat, Louise Kalista Iskandar, menjadi pembicaraan publik dan bulan-bulanan netijen yang budiman ketika tidak bisa menjawab dengan baik pertanyaan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Pertanyaannya adalah “Apa Kalista hafal lima sila yang terkandung dalam Pancasila?”

Mungkin agar dikira hafal, Kalista pun mencoba menyebutkan satu persatu bunyi sila-sila Pancasila. “Nomor satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Nomor dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Nomor tiga, Persatuan Indonesia”. Sampai disini Kalista sukses melafalkan sila-sila Pancasila, meski ia tidak menyebut kata sila pertama, sila kedua, sila ketiga, sebagaimana lazimnya. Di sila keempat dan kelima barulah muncul kekacauan ketika Kalista gagap melafalkan sila keempat dan kelima. Cuplikan video kegagapan Kalista melafalkan teks Pancasila pun segera viral di media sosial.

Ketidakhafalan Kalista melafalkan sila-sila Pancasila sebenarnya manusiawi karena mungkin saja ia gugup. Soal kegugupan ini saya jadi teringat sebuah cuplikan video dimana dalam suatu acara temu masyarakat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta salah seorang anggota masyarakat untuk maju dan berdiri di panggung bareng Presiden. Saat sudah di atas panggung Presiden Jokowi bertanya mengenai sila-sila Pancasila. Anggota masyarakat tersebut terlihat gugup dan tidak bisa menyebutkan sila-sila Pancasila dengan baik. Presiden Jokowi berusaha menenangkannya secara bercanda “Enggak apa-apa, mungkin dia grogi, coba kalau bapak-bapak yang berdiri di depan saya diminta naik ke panggung, pasti juga grogi menjawabnya.”

Seperti halnya anggota masyarakat yang demam panggung saat ditanya Presiden Jokowi, Kalista pun bisa jadi demam panggung dan gugup karena mungkin tidak mengira mendapatkan pertanyaan sederhana yang semestinya bisa dijawab dengan mudah. Pertanyaannya pun hanya sekedar hafalan sila-sila Pancasila, bukan meminta penjelasan makna dan penerapan sila-sila Pancasila, yang jika dijawab tidak cukup 30 detik seperti disebutkan pembawa acara.

Pancasila yang Tertukar

Finalis Puteri Indonesia 2020 dari Sumatera Barat, Louise Kalista Iskandar, menjadi pembicaraan publik ketika gagap dan tidak berhasil melafalkan Pancasila dengan sempurna. Lancar menyebutkan sila pertama hingga ketiga, Kalista justru menyebutkan sila keempat dan kelima Pancasila secara tertukar dan kacau. Cuplikan video kegagapan Kalista melafalkan teks Pancasila, yang sesungguhnya manusiawi sekali, beredar luas di media sosial.

Kalista bisa jadi sedang apes dan tetiba menjadi putri yang tertukar karena gagal melafalkan Pancasila. Ia mungkin tidak mengira mendapatkan pertanyaan sederhana yang semestinya bisa dijawab dengan mudah. Kalista terlihat gugup berkali-kali lipat, apalagi mesti menjawab dalam 30 detik di tengah riuh rendahnya suara penonton.

Jadikan Momen Imlek Untuk Memperkuat Kembali Keberagaman

Tahun Baru Imlek tahun 2020 yang jatuh pada Sabtu 25 Januari 2020 menjadi momen penting yang menandai dua dekade kembalinya perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia secara terbuka dan meriah. Masyarakat Tionghoa terlihat ramai memenuhi wihara atau kelenteng untuk melakukan ibadah, melakukan saling kunjung antar keluarga dan kerabat seperti layaknya umat Muslim Indonesia merayakan Idul Fitri. Sementara di berbagai tempat ramai dipertunjukkan atribut Tahun Baru Imlek 2571 dan kegiatan seni budaya tradisional seperti barongsai,  

Para pejabat Negara dan Pemerintah pun tidak takut lagi untuk menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek dan ikut merayakannya. Presiden Joko Widodo misalnya, melalui akun instagram pribadi menampilkan gambar kartun dirinya tengah mengenakan kemeja putih memberikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek 2571. Presiden juga menyampaikan doa agar Indonesia semua semakin sejahtera, meraih cita-cita, penuh kedamaian dan semakin maju.

Sementara itu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendatangi Wihara Dharma Bakti dan Dharma Jaya di Petak Sembilan, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Menurut Anies “Tahun Baru Imlek 2571 di Jakarta yang disambut dengan rintik hujan menjadi momen penanda dalam mencuci masa lalu, membersihkan kekurangan, dan membawa kebaikan untuk satu tahun ke depan…”

Meneguhkan Gotong Royong Berdasarkan Pancasila

Mengawali  tahun 2020, masyarakat ibu kota Jakarta dan daerah-daerah di sekitarnya dihadapkan pada musibah banjir yang besar. Hujan lebat yang tercurah sepanjang hari membuat air meluap dan membanjiri banyak kawasan. Siap tidak siap, musibah yang datang tersebut mesti dihadapi masyarakat dengan tabah dan sabar serta bersama-sama bergotong royong meringankan beban yang terkena musibah.

Kata gotong royong sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang berarti memikul (gotong) dan secara bersama-sama (royong). Sehingga gotong royong ini dapat diartikan dengan bekerjasama dalam menyelesaikan suatu kegiatan tertentu yang menyangkut kegiatan bersama.

Dalam musibah banjir yang terjadi di awal tahun, terlihat semangat gotong royong masyarakat dalam menolong korban banjir muncul ke permukaan. Tanpa menunggu bantuan dari Pemerintah, secara spontan masyarakat melakukan kerja gotong royong dengan turun  langsung ke berbagai lokasi banjir antara lain guna membantu para korban mengungsi, menyiapkan penampungan, memberikan bantuan pangan, memberikan pengobatan dan lainnya.

Godfather Patah Hati

Wah sepertinya kita enggak bisa tampilkan Didi Kempot, bayarannya mahal di luar budget. Maklum lagi naik daun,” begitu komentar crew sebuah stasiun televisi yang ditugasi menghubungi Didi Kempot untuk acara konser yang digelar kerjasama kantor saya dengan staisun televisi tersebut.

Memangnya dia minta dibayar berapa,” tanya saya

Dia minta dibayar segini (sambil menyebutkan sejumlah nominal), sementara budget kami maksimal sebesar segini (sambil lagi-lagi menyebutkan nominalnya), masih jauh dari yang diminta,” ujar crew tersebut dengan muka masam

Ehmm begitu ya … ya udah saya akan coba hubungi Didi Kempot lewat teman dekatnya,” ujar saya mencoba mencari solusi

Setelah kontak dengan teman dekatnya, Didi Kempot setuju untuk tampil di acara konser dengan bayaran sesuai besaran budget dari stasiun televisi tersebut.

Mas Didi gak keberatan kok dibayar segitu. Dia sebenarnya enggak terlalu hitungan-hitungan soal bayaran, apalagi yang punya hajat kan kantor sampeyan, Apalagi, kebetulan juga konser diselenggarakan di kota tempat tinggalnya,” ujar teman saya tersebut

Habibie Menulis Untuk Cegah Linglung

Indonesia kembali kehilangan seorang putra terbaik bangsa dengan berpulangnya Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibe atau BJ Habibie pada 11 September 2019 sore di RSPAD Gatot Subroto pada usia 83 tahun karena sakit,

Almarhum BJ Habibie adalah seorang ahli penerbangan yang mencapai moment of triumph paripurna dalam hidupnya dengan menjadi Presiden ke-3 RI pada 1998 pada 21 Mei 1998. Almarhum menggantikan Presiden Soeharto yang mengundurkan diri karena desakan masyarakat yang dimotori mahasiswa. Meski tidak lama menjabat Sebagai Presiden RI, Almarhum berhasil memimpin Indonesia melewati masa transisi pada akhir 1990-an.

Mendengar kabar berpulangnya salah satu tokoh besar di Indonesia tersebut, ingatan saya kembali kepada beberapa hal seperti pada masa sekolah menengah, interaksi dengan Almarhum BJ Habibie beberapa waktu yang lalu dan pertemuan di Beijing, China, sekitar 6 tahun lalu.

Mutiara Pancasila di Kaki Gunung Meja

Di usia kemerdekaan yang sudah mencapai angka 74, bangsa Indonesia masih dihadapkan pada kasak-kusuk persoalan kekerasaan atas nama radikalisme agama dan kepercayaan serta ras. Di dunia maya, menggunakan akun palsu atau asli, masyarakat terpecah belah ke dalam kelompok-kelompok, melakukan debat kusir, saling balas-membalas komentar, disertai dengan hujatan dan umpatan.

Di dunia maya, kekerasan berbasis SARA mendapatkan tempat yang pas sebagai tempat persemaian intolerasi. Sarkasisme tumbuh paling subur. Sedihnya, perilaku di dunia maya tersebut bermuara ke dunia nyata yang memunculkan kekerasan dan intoleransi. Semua hal ini tentu saja menjadi kecemasan kita bersama. Negara mesti waspada akan ancaman teroris yang sesungguhnya.

Untungnya, di tengah kegalauan di atas, masih ada banyak harapan, salah satunya dari Pondok Pesantren Walisongo di kaki Gunung Meja, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dari pondok pesantren yang sangat bersahaja ini terdapat benih-benih kerukunan yang terus dijaga, dan dipelihara menjadi pohon rindang yang menghembuskan angin kedamaian dan membawa kesejukan bagi Indonesia.

Berbakti Kepada Negara Itu Bisa Dimulai dari Lorong Kampung

Banyak jalan menuju Roma, banyak pula jalan untuk menunjukkan bakti kepada negeri, salah satunya dengan menjadi pembakti kampung seperti yang dilakukan Ir. Bambang Irianto (63 tahun). Ia membaktikan sebagian besar hidupnya untuk membangun kampung tertinggal menjadi kampung yang bersih dan sehat serta nyaman untuk ditinggali warga.

Kampung yang selama ini kerap dicitrakan sebagai wilayah kumuh, banjir, dan diwarnai sejumlah permasalahan sosial oleh Bambang disulap menjadi maju dan berwawasan lingkungan.

Bambang membangun setiap lorong kampung dengan prinsip sederhana yaitu “Mulai dari sekarang dan mulailah dari yang bisa dikerjakan terlebih dahulu, sekarang juga” Baginya tidak ada perkataan “sesuatu dikerjakan besok-besok saja”.