Category Archives: Travel

Tradisi Doa Kekaisaran Sambut Imlek

China New Year RitualJumat 31 Januari 2014 menjadi hari pertama tahun baru kuda dalam dalam sistim penanggalan China yang didasarkan pada perhitungan bulan (lunar). Tepat saat pergantian tahun, masyarakat China menyambutnya dengan berkumpul bersama keluarga, menyalakan kembang api dan membunyikan petasan serta berdoa di kuil memohonkan berkah di tahun baru.

Di masa lalu, kegiatan memanjatkan doa di awal tahun baru bahkan dilakukan oleh para kaisar yang memerintah China. Kaisar China yang dipandang sebagai anak dari surga dan memerintah di bumi atas nama dan mewakili penguasa surga melakukan peribadatan di tempat yang dibangun khusus yang disebut dengan Kuil Surga (Temple of Heaven) yang selesai dibangun pada tahun 1420 oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming (1368–1644).

Selama ratusan tahun kemudian kuil tersebut tetap dijadikan tempat peribadatan rutin oleh para kaisar China yang berkuasa pada masa Dinasti Ming dan Qing (1644-1911) dalam menyambut tahun baru untuk memanjatkan doa kepada Dewa Surga memohonkan panen yang baik di tahun yang baru.

Mengunjungi Prajurit Terakota

Berkunjung ke Xi’an, ibu kota Provinsi Shaanxi tanpa singgah ke situs prajurit terakota warisan kaisar pertama China, pendiri kerajaan Qin (dibaca Chin), Qin Shi Huang, jelas terasa kurang lengkap. Kaisar Qin Shi Huang merupakan kaisar pertama yang menyatukan berbagai kerajaan di China dengan luas wilayah yang sebagian besar menjadi wilayah China saat ini. Dari Kerajaan Qin ini pula asal mula munculnya kata China oleh dunia Barat yang dikenal hingga saat ini. Karena itu, di tengah keterbatasan waktu kunjungan ke Xi’an, saya sempatkan diri untuk mengunjungi situs yang sangat bersejarah tersebut dan telah masuk dalam daftar warisan budaya dunia di tahun 1987.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 siang, ketika pertemuan dengan kolega akhirnya rampung. Saya pun segera bergegas ke pusat kota Xi’an dan mencari alat transportasi yang bisa membawa saya ke tempat tujuan. Waktu saya terbatas, hanya sekitar 4-5 jam karena pukul 17.15 saya mesti kembali ke Beijing.

‘Saya cuma punya waktu sekitar 4 jam, pesawat saya ke Beijing take off pukul 5.15 sore, bisa tidak saya mengunjungi situs prajurit Terakota dan tiba di airport paling lambat jam 4 sore?’, begitu pertanyaan saya ke seorang sopir taksi wanita yang tiba-tiba muncul dan menawarkan jasanya. Saya katakan tiba-tiba karena kehadiran si sopir taksi tersebut tidak saya duga sebelumnya jika mengingat penampilannya memang tidak seperti seorang sopir. Penampilannya tidak berbeda dengan ibu-ibu yang sedang berbelanja di kawasan tersebut, lengkap dengan tas jinjing di lengan.

Anyer dan Daendles

Mercu Suar AnyerAPA yang terlintas di benak anda jika mendengar nama Anyer? Sebagian dari anda mungkin akan teringat dengan proyek pembangunan jalan sepanjang 1.000 km antara Anyer dan Panaroekan yang dibangun saat pemerintahan Herman William Daendels pada tahun 1808. Anda juga mungkin akan teringat sebuah lagu ciptaan Oddie Agam yang dinyanyikan Sheila Madjid pada tahun 1987: “Antara Anyer dan Jakarta”.

Anda tidak keliru jika menghubungkan Anyer dengan Daendels ataupun lagunya Oddie Agam. Karena bagi keduanya, nama Anyer nampaknya memiliki kenangan tersendiri. Bagi Daendels, nama Anyer tidak akan terlupakan karena di kota pelabuhan Anyer lah pertama kali ia menjejakkan kakinya pada tanggal 1 Januari 1808, sebelum kemudian ia mengambil alih kekuasaan tertinggi Hindia Belanda di Pulau Jawa (Pramoedya Ananta Toer, Jalan Pos Jalan Daendels). Sementara bagi Oddie Agam, deburan pantai di Anyer telah memberikan inspirasi yang luar biasa sehingga mampu melahirkan lagu yang menjadi populer pada masanya.

Wisata Kota Tua Chengdu

Untuk kedua kalinya dalam tahun ini, saya berkesempatan berkunjung ke Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan. Jika pada kunjungan pertama di bulan Februari 2012, saya berkesempatan berkunjung ke Chengdu Panda Research Base, maka pada kunjungan beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu objek wisata kawasan kota tua Chengdu.

Sebagai sebuah kota yang diperkirakan didirikan pada tahun 316 Sebelum Masehi atau lebih dari 2.000 tahun lalu oleh para pendiri Kerajaan Shu, salah satu dari tiga kerajaan besar di masa China kuno, tentu saja akan menarik jika saat berkunjung berkesempatan untuk menyaksikan jejak-jejak kejayaan masa lalu kota Chengdu seperti gerabah, tugu, bangunan dan sebagainya.

Enjoying halal food in Beijing

One of the difficulties as a Muslim who live in a non-Muslim city is getting  halal foods, foods that are allowed under Islamic law

But, in Beijing, you can find  many restaurants that provide good food and clean with halal sign easily. Those restaurants called their self as a Muslim restaurant.  For example, near the place where I live in Lido area, Chaoyang district, precisely in Jingtai Road, there is a Muslim restaurant that provides halal food.

From the outside, that restaurant is not different from other Chinese restaurants, except the sign “halal” in the restaurant’s name.

When I and my family entered to the restaurant, a female waiter who wear jilbab (headscarf) welcome my presence and kindly invited me to have a sit. After we got a seat, I started to look around first before I order foods. From the photos on the restaurant,’s wall, it is known that the restaurant belonged to a Chinese Muslim from Xinjiang Province, a province with a Muslim majority in western China that borders with Mongolia, Russia, Kazakhstan, Afghanistan and India. It is no wonder that the food in this restaurant is cooked in Xinjiang style.

Enjoying Pho in Ho Chi Minh City

In order to attend an ASEAN meeting, I had the opportunity to visit Ho Chi Minh City in March 2010. On the sidelines of the meeting, I had the opportunity to taste the Vietnamese typical food called Pho (Vietnamese pronunciation: [f??]). It is a Vietnamese noodle soup, usually served with beef (pho bo) or chicken (pho ga). The soup includes noodles made from rice and is often served with basil, lime, bean sprouts, and peppers that are added to the soup by the consumer.

From ASEAN Center Moscow With Love

Russia officially became a full dialogue partner of ASEAN at the 29th AMM in Jakarta, July 1996. Since then, an ASEAN-Russia relation is growing rapidly which is marked by a variety of cooperation in various sectors. The development of ASEAN-Russia relations is also visible from the holding of the first ASEAN- Russia Summit in Kuala Lumpur in 2005. While the 2nd ASEAN-Russia Summit will be held in October in Ha Noi, Vietnam.

The development of ASEAN-Russia relations is interesting to learn considering that during the Cold War, ASEAN member countries split in the East-West axis. Indochina countries that are socialist countries namely Vietnam, Laos and Cambodia are very close to Russia (before USSR). Meanwhile other ASEAN member countries have close ties with Western countries led by the United States.

Enjoying the Exotic Domas Crater

Tangkuban Perahu Mountain tourist area in Lembang, Bandung, known as an area that presents the natural beauty of the mountains with few craters that are still active such as Kawah Ratu, Upas and Domas. From the summit of Mount Tangkuban Perahu at an altitude of 1860 meters, we could see the Kawah Ratu like a giant bowl with ground indentations on the walls. An Incredible natural scenery.

To enter this area, tourists must pay an entrance fee of Rp. 13,000, – per person, four-wheeled vehicle parking Rp. 1500, – (for bus tariff of Rp. 8500, -). 4 wheel vehicles and motorcycles can be parked right up to the summit of Tangkuban Perahu. While there is parking for buses at the bottom, about 500 meters from the summit of Mount Tangkuban Perahu.

Balawan dan Diplomasi Publik

Balawan ? Nama group band baru ya? Begitu pertanyaan seorang rekan ketika saya ajak menyaksikan pentas Balawan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) Jumat 7 Agustus 2009. Saya tidak terlalu kaget mendengar pertanyaan rekan saya tersebut, karena sejujurnya nama Balawan memang kalah populer dibanding para musisi yang sering tampil di layar televisi dan albumnya laris manis di pasaran seperti Gigi, Ungu, Dewa 19 ataupun almarhum Mbah Surip. Lalu siapakah Balawan ?

Bagi para penggemar musik, terutama jazz, nama Balawan atau lengkapnya I Wayan Balawan cukup dikenal sebagai seorang musisi yang piawai memainkan gitar dengan teknik yang berbeda dari para musisi umumnya. Saat musisi lain memainkan gitarnya dengan cara dipetik atau dibetot, Balawan justru lebih sering memainkan dawai gitarnya dengan cara diketuk (tapping). Kekhasan lainnya adalah penggunaan gitar berleher ganda, terkadang dilengkapi dengan sebuah gitar tambahan yang dipasang statis dihadapannya.