Category Archives: Internet

Managing Digital Information for Diplomats in the Era Paradox of Plenty

Technological advances have led to a dramatic reduction in the cost of processing and transmitting information. The result is an explosion of information, one that has produced a “paradox of plenty“. Plenty of information leads to scarcity -of attention. When people are overhelmed with the volume of information confronting them, they have difficulty discerning what to focus on. Attention rather than information becomes the scarce resource, and those who can distinguish valuable information from background clutter gain power. Editors and cue givers become more in demand, and this is a source of power for those who can tell us where to focus our attention” (Joseph S. Nye in “ Soft Power” as quoted by Christian Del Rosso in his article “The  Paradox of Plenty and the Scarcity of Attention).

We are now living in what some people call the digital age, meaning that internet have become an essential part of our lives. People are used to access the Internet, to do research and to communicate with others around the world. Using smartphones people make voice calls, send texts, email people and download logos, ringtones or games. With a built-in camera people can send pictures and make video calls in face-to-face mode. New smartphones combine a telephone with web access, videos, a games console, and MP3 player, a personal digital assistant (PDA) and a GPS navigation system, all in one.

With all these facts, It goes without saying that, in this digital age, we are inundated with an overwhelming amount of information, some of which is good, but much that is not. Google CEO Eric Schmidt was quoted as saying that every two days now we create as much information as we did from the dawn of civilization up until 2003 – something on the order of five exabytes of data.

Indonesian Ministry of Foreign Affairs’s Social Media Diplomacy: A Short Review

On Saturday, October 8, 2016, Foreign Minister Retno Marsudi attended a bloggers and social media activists meeting (known as “kopi darat”) at the 2016 Kompasianival event. The presence of Foreign Minister Retno at this event was interesting because this is the first time a senior Indonesian diplomat has spoken about the use of social media in diplomacy.

In her keynote speech Foreign Minister Retno said  “Diplomats now live in an era of real time diplomacy. A diplomat must be responsive and able to interact in social media. Interaction in social media is important because it can be done at any time without boundaries with a very diverse substance.”

From Foreign Minister Retno’s statement, it appears that since the beginning of her leadership in the Foreign Ministry, the Foreign Minister has given priority to the use of social media to support diplomatic activities. The Foreign Minister realized that the use of technology and digital tools has changed the practices of diplomacy. New non-state actors are emerging enough rapidly, reshaping the international landscape and forcing foreign policy practitioners to rebalance their focus to accommodate new priorities, engage with civil society, and open the process.

Lembaga Sandi Negara dan Keamanan Siber

Hari ini 4 April 2017 Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) tepat berusia 71 tahun. Berawal dari sebuah Jawatan Teknik bagian B Kementerian Pertahanan dan kemudian menjadi Jawatan Sandi pada 4 April 1946, Lemsaneg kini menjadi salah satu lembaga non-kementerian yang memiliki peran penting dalam melindungi informasi rahasia negara sejak masa terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga saat ini.

Dan di usianya yang ke-71 tersebut dan sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, Lemsaneg semakin dihadapkan pada tantangan tugas dan tantangan yang semakin besar. Lemsaneg bukan hanya dihadapkan pada upaya melindungi informasi rahasia negara, tetapi juga diharapkan dapat terlibat dalam upaya pencegahan terjadinya tindak kejahatan siber yang semakin meningkat dewasa ini.

Seperti disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) usai sidang kabinet terbatas pada September 2016, tindak kejahatan siber di Indonesia meningkat sebesar 389 persen dari tahun 2014 ke 2015. Sebagian besar diantaranya adalah tindak kejahatan siber di sektor perdagangan secara elektronik (e-commerce). Hal ini bisa terjadi karena keamanan siber di Indonesia dinilai masih sangat lemah.

Untuk itu, guna meningkatkan kapasitas keamanan cyber di Indonesia, Presiden Jokowi telah menginstruksikan kementerian/lembaga untuk segera merealisasikan rencana pembentukan Badan Siber Nasional (BSN) yang sudah diwacanakan sejak 2005. Menurut presiden, pembentukannya tidak harus dimulai dari nol, namun dapat dilakukan dengan mengembangkan lembaga yang selama ini telah mengelola keamanan informasi.

Keamanan Cyber dan Diplomasi

Seiring inovasi yang terjadi di bidang teknologi informasi dan komunikasi serta berkembangnya pola komunikasi melalui internet, muncul medan perang baru yang tidak lagi terbatas pada matra darat, laut, udara dan ruang angkasa tetapi juga melingkupi ranah cyber (cyber space) sebagai matra kelima (Al Jazeera, Fighting in Fifth Dimension, 19 February 2012).

Munculnya ranah cyber sebagai medan perang kelima yang juga diikuti kemunculan tindak kejahatan (cyber crime) dan terorisme (cyber terrorism) menjadikan isu keamanan cyber (cyber security) menjadi isu global yang melewati batas-batas negara. Dan jika isu keamanan cyber dalam hubungan internasional tidak dikelola dengan baik, maka selain dapat mengancam kepentingan nasional suatu negara, juga memunculkan potensi konflik antar negara yang berujung pada terjadinya perang cyber (cyber war).

Menyadari besarnya kepentingan terhadap keamanan cyber dan keinginan untuk meningkatkan kemampuan mengamankan diri dari serangan musuh, banyak negara yang kemudian berinisiatif membentuk badan-badan khusus yang menangani masalah keamanan cyber dalam pertahanan dan keamanan negaranya guna menghimpun segala usaha pertahanan dan serangan balik terhadap keamanan di dunia maya beserta sistem jaringannya.

Menanti Diplomasi Media Sosial Donald Trump

Tahun 2016 berlalu dengan suasana penuh ketidakpastian global dan kejutan-kejutan. Salah satunya adalah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) periode 2017-2021 mengungguli Hillary Clinton yang justru diprediksi banyak jajak pendapat sebagai pemenang Pemilu.

Dengan sikapnya yang kontroversial dan pernyataannya yang ceplas ceplos berbau SARA, seperti anti imigran Muslim dan Meksiko, akan menyiksa tahanan teroris, menuduh imigran Muslim adalah sumber terorisme di AS, tidak heran jika sebagian besar jajak pendapat memperlihatkan akan kemungkinan kekalahan Trump dalam pemilihan presiden. Namun dengan strategi pemenangan yang terukur dan memaksimalkan penggunaan sosial media, Trump justru membalikkan keadaan, bukan saja berhasil memelihara dan meningkatkan elektabilitasnya, tapi juga menarik perhatian masyarakat AS untuk memilihnya.

Seperti dikutip dari laporan EzyInsight, sebuah lembaga penelitian dari Finlandia, salah satu upaya yang membuat Trump bertahan dalam persaingan dengan Hillary Clinton adalah karena pemahamannya mengenai pentingnya penggunaan sosial media. Menurut EzyInsight, di Facebook saja Trump unggul dari Hillary dalam hal jumlah pengikut (follower). Trump memiliki pengikut sebanyak 11.8 juta orang, sedangkan pengikut Clinton hanya berjumlah 7,7 juta orang. Menurut EzyInsight, banyaknya pengikut dalam sosial media sangat penting karena semakin banyaknya jumlah pengikut maka semakin besar kemungkinan orang mengenalnya dan menerima pesan-pesan yang dikirimkan.

Diplomasi di Media Sosial Menlu Retno Marsudi

Sabtu, 8 Oktober 2016, Kompasianival 2016 berlangsung di Gedung Smesco Jakarta. Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi hadir sebagai keynote speaker dalam ajang kopi darat tahunan blogger Kompasiana. Kehadirannya sangat ditunggu oleh para bloggger dan pengguna media sosial yang ingin mendengarkan pandangan seorang diplomat senior dan Menlu perempuan pertama di Indonesia mengenai kegiatan diplomasi di era global, era di mana kegiatan diplomasi tidak lagi dilakukan konvensional namun sudah digital dan real time (digital diplomacy). Era di mana laporan yang disampaikan diplomat Indonesia sifatnya really exactly real time dan bisa langsung dilakukan analisis terhadap laporan yang dikirimkan.

Mengenakan kemeja putih lengan panjang dan selalu tersenyum khas diplomat di hadapan para blogger Kompasiana dan pengguna sosial media lainnya, Menlu Retno langsung mengemukakan mengenai pentingnya teknologi informasi dan komunikasi di era globalisasi yang dapat digunakan untuk menunjang pekerjaan dan kegiatan diplomasi yang menuntut komunikasi yang baik dengan diplomat di negara lain, pihak kedutaan, dan pemerintah negara lain.

Pemimpin ASEAN dan Media Sosial

jokowi di istana bogorPada Rabu (9 Maret 2016) pagi, Presiden JokoWidodo (Jokowi) memposting di akun twitternya @jokowi sebuah foto dirinya sedang berdiri di depan istana Bogor mengenakan kemeja putih dan sarung biru kotak-kotak. Di timelinenya tersebut Presiden Jokowi menulis dalam bahasa Indonesia “Menyaksikan gerhana matahari total dari Istana Bogor. Inilah tanda-tanda kekuasaan Allah, kebesaran Allah –Jkw”.

Sebelumnya, masih di hari yang sama, dalam rangka menyambut perayaan hari raya Nyepi yang tengah dilakukan umat Hindu, Presiden Jokowi menulis “Selamat menjalankan catur brata penyepian bagi umat Hindu. Semoga keheningan Nyepi membawa kedamaian dan kebahagiaan untuk kita semua –Jkw”.

Meski tidak sesering pengguna sosial media aktif dalam menggunakan akun media sosialnya di Facebook, Twitter, ataupun Instagram, Presiden Jokowi termasuk salah seorang pejabat tinggi negara yang sudah sejak lama secara rutin menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Diketahui bahwa sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo dan kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi telah akrab dengan sosial media dimana akun twitternya di @jokowi_do2 bahkan digunakan secara aktif untuk kampanye presiden oleh para pendukungnya.

Setelah menjabat sebagai Presiden RI pada Oktober 2015, kemudian dibuatlah akun resmi Jokowi di media sosial yang terverifikasi, baik di Facebook dengan laman Presiden Joko Widodo dan di twitter dengan akun @jokowi yang hingga kini telah memiliki 4,57 juta follower. Kehadiran Presiden Jokowi di media sosial dengan penampilan sederhana sepertinya ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa meski telah menjadi presiden, Jokowi tetaplah seperti anggota mayarakat pada umumnya dan tetap sebagai pemimpin yang merakyat.

Akses Internet Gratis di Beijing

WIFISebagai orang tua yang memiliki anak remaja, salah satu kewajiban saya pada setiap akhir pekan atau saat libur adalah menemani mereka berjalan-jalan ke tempat-tempat keramaian atau kawasan publik seperti pusat perbelanjaan dan taman. Dan setiap kali berkunjung ke tempat-tempat tersebut, pada umumnya kegiatan pertama yang mereka lakukan adalah mencari sinyal WiFi lewat smartphone atau ipad yang mereka bawa.

Jika terdapat sinyal WiFi, maka mereka pun segera mengecek apakah sinyal tersebut dapat diakses gratis atau tidak. Jika gratis, apakah menggunakan password atau tidak untuk mengaksesnya. Jika menggunakan password, maka yang mereka lakukan adalah segera mengangkses situs web terkait menggunakan browser dan memasukkan nomor handphone, tak lama kemudian, operator telkom pun mengirimkan password yang dibutuhkan lewat SMS. Selanjutnya mereka pun bisa bebas berselancar di dunia maya.

Wuih aksesnya lumayan kenceng, bisa buat download file’, begitu komentar anak saya saat berselancar memanfaatkan akses WiFi gratis di pusat perbelanjaan Solana di distrik Chaoyang.

Winnie the Pooh Kena Sensor

Winnie the poohWinnie the Pooh, beruang lucu dan menggemaskan berwarna kuning dan senantiasa mengenakan kaos merah serta seringkali muncul pada berbagai buku anak, berbagai pernak pernik anak-anak maupun dewasa, baik itu boneka, asesoris, pakaian dan lain sebagainya, kena sensor di China.

‘Winnie the Pooh dan Tiger disensor di China? Apa salah mereka? Setau saya cerita tentang Winnie the Pooh tidak terkait sama sekali dengan dunia politik? ’, begitu komentar teman-teman saya begitu mengetahui bahwa Pemerintah China melakukan sensor terhadap gambar Winnie the Pooh dan Tiger.

Usut punya usut. gambar yang sempat beredar di kalangan para pengguna mikro blog Weibo tersebut, Twitternya China, adalah gambar Winnie the Pooh dan Tiger yang sedang berjalan beriringan. Gambar tersebut sangat mirip dengan foto Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Barack Obama saat berjalan beriringan di pertemuan informal tingkat tinggi China-AS di California minggu lalu.

Kunjungan ke Markas Pengelola Domain Internet China

‘Selamat datang, maaf, mungkin informasi saya kurang jelas sehingga anda tiba di gedung yang salah’, sambut Ms. Ying Zhang, dara manis berperawakan tinggi dan langsing yang menjabat sebagai foreign officer di China Internet Network Information Center (CNNIC) dalam bahasa Inggris ketika menjemput saya dan Ketua Umum Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di gedung no. 4 komplek China Academy of Science di Beijing.

‘Di komplek CAS ini setidaknya terdapat 5 gedung perkantoran bertingkat tinggi. Adapun kantor kami, CNNIC, terletak di gedung no. 1’, jelas Ms. Yin sambil berjalan bersama kami menuju gedung no. 1.

Tidak sampai 5 menit kami pun tiba di gedung no. 1. Di lobby gedung kami disambut oleh Direktur Jenderal CNNIC, Mr. Huang Xiangyang, beserta jajarannya. Setelah bertukar kartu nama dan saling memperkenalkan diri, Mr. Huang langsung membawa kami ke ruang pamer untuk memperkenalkan CNNIC.

Di ruang pamer tampak sejumlah panel-panel yang antara lain memuat informasi mengenai tugas dan fungsi CNNIC, data-data statistik pengguna internet, susunan organisasi, dan foto-foto kunjungan pejabat dan kolega dari berbagai negara ke kantor CNNIC.

Weiplomacy: Diplomasi di Jejaring Sosial Media China

Istilah weiplomacy merujuk pada kegiatan diplomasi publik yang dilakukan berbagai kedutaan asing di Beijing yang marak memanfaatkan situs jejaring sosial media atau mikro blog di China yang disebut Weibo. Melalui Weibo, mereka menyebarluaskan informasi tentang negaranya atau kegiatan kedutaan kepada publik dalam bahasa Mandarin.

Seperti halnya Twiiter yang dapat diakses dengan lebih mudah dibandingkan blog, khususnya akses melalui telepon genggam, Weibo pun dapat lebih mudah diakses karena hanya memuat 140 karakter setiap kali menuliskan pesan.

Dengan kemudahan seperti tersebut di atas, tidak mengherankan jika banyak pengguna internet yang memilih weibo untuk mengirimkan pesan. Penyebarluasan informasi pun menjadi lebih efektif karena jumlah penggunanya tidak kalah banyaknya dibanding pengguna situs jejaring sosial media Barat seperti Twitter. Menurut data iResearch tahun 2011, terdapat sekitar 300 juta pengguna situs jejaring sosial Weibo dari sekitar 500 juta pengguna internet di China. Mereka menggunakan berbagai platform Weibo seperti Sina Weibo, Tencent Weibo dan Baidu.  

My Article in the Jakarta Post

The role of bloggers in the ASEAN Community

Aris Heru Utomo, Beijing | Thu, 11/17/2011 8:24 AM

Since its establishment in 1967, plenty of efforts have been made to strengthen cooperation within ASEAN, as well as to reach the goal of the ASEAN Community by 2015.

As stated by President Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) at the opening of the 44th ASEAN Ministerial Meeting in Bali in July, ASEAN is no longer just walking at a leisurely pace. ASEAN is beginning to run, and run faster. ASEAN should run faster because the region and the world are running even faster.

To run and to realize an ASEAN Community by 2015, many things have been done intensively to implement the rules and regulations of the ASEAN Charter, which was ratified by all ASEAN member states in December 2008.

Since the ASEAN Charter comprises only basic provisions, in 13 chapters and 55 articles, it is necessary to develop those basic provisions into rules and policies to be implemented. Here, there are battles of ideas among all parties concerned over the interpretation of the Charter’s basic provisions and its delivery to the people.