Category Archives: Perjalanan

Eksotisme Bali di Tanah Lot

IMG_20151121_113610Bali dikenal sebagai pulau dengan seribu pura dan salah satunya yang terkenal adalah Pura Tanah Lot. Karena itu, berwisata ke Bali tanpa berkunjung ke Tanah Lot serasa ada yang kurang lengkap. Ibaratnya seperti makan sayur asem tanpa garam.

Sesuai arti namanya, “tanah tengah laut”, Tanah Lot terletak di tepi pantai, bahkan agak menjorok ke pantai sehingga ketika saat pasang seolah-olah berada di tengah laut. Di tempat ini pengunjung ditawari kenikmatan pemandangan laut dan alam yang spektakuler serta keunikan sebuah Pura yang terletak di atas batu besar dan ketika laut sedang pasang seolah-olah berada di tengah laut. Pemandangan akan semakin indah jika dilihat saat matahari terbenam atau sunset.

Pura yang seolah berada di tengah laut ini menjadi pusat keindahan yang menakjubkan. Tidak mengherankan jika banyak pengunjung yang menjadikan Pura Tanah Lot dan pantai karang disekelilingnya sebagai latar belakang obyek foto keceriaan bersama sahabat, keluarga maupun berselfie ria.

Dengan alasan tersebut di atas, maka pada kunjungan saya ke Bali tanggal 7 November 2015 lalu, saya pun  menyempatkan diri mampir ke Tanah Lot menggunakan kendaraan sewaan. Dari kawasan Nusa Dua, kendaraan yang saya tumpangi meluncur sekitar 45 menit menuju ke lokasi Pura Tanah Lot di desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, Tanah Lot.

Berbendi Mengelilingi Padang

IMG_20151023_165637Saat berkunjung ke kota Padang, biasanya bayangan pertama yang muncul di benak adalah sajian kuliner khas daerah Sumatera Barat yang memang dikenal di seluruh pelosok nusantara dengan kepedasannya. Namun tidak lengkap rasanya jika ke kota Padang namun tidak mengunjungi tempat-tempat wisata di dalam kota. Pastikan kita mengunjungi berbagai daerah tujuan wisata yang menjadi andalan kota Padang seperti kawasan Pantai Padang, Padang Kota Lama ataupun jembatan Siti Nurbaya.

Saya sengaja menyebutkan beberapa kawasan tersebut saja karena ingin mengaitkan kunjungan wisata ke kawasan tersebut menggunakan bendi. Naik bendi bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tidak berisik, seperti angkot di Padang, dan jalannya yang santai seiring dengan larinya kuda, membuat kita lebih leluasa melihat-lihat kota.

Rute perjalanan bisa dimulai dari kawasan Pantai Padang yang merupakan kawasan wisata utama di kota tersebut. Pantai Padang memang biasa dipadati masyarakat setempat maupun para pelancong yang kebetulan berwisata atau dalam rangka urusan bisnis di Padang.

Mengenalkan Indonesia di Kazakhstan Lewat Famtrip

maksi kazakh“Jika Mr. Aris mengenalkan kepada kami pepatah Indonesia Tak Kenal Maka Tak Sayang, maka di negeri kami pun ada pepatah yang berbunyi Daripada 100 Kali Mendengar, Lebih Baik Sekali Melihat”, begitu disampaikan Bakhyt Rustemov, seorang penulis dan akademisi asal Kazakhstan saat berbincang-bincang dengan saya usai makan siang bersama di restoran VIP D’Cost Jalan Abdul Muis Jakarta, 22 September 2015.

Rustemov menyatakan kegembiraannya karena setelah sebelumnya sering mendengar Indonesia lewat media dan literatur yang dibacanya, pada akhirnya bisa mewujudkan keinginannya berkunjung ke Indonesia dan melihat langsung kehidupan masyarakat Indonesia. Ditambahkan oleh Rustemov, bahwa kunjungan pertamanya ke Indonesia kali diharapkan menjadi awal untuk mewujudkan keinginannya menulis tentang Indonesia dalam bahasa Kazakh.

“Sebagai seorang atheis waktu masih di bawah pemerintahan Uni Soviet dan sekarang menjadi Muslim, saya juga ingin tahu tentang kehidupan Muslim di Indonesia”, demikian ditambahkan oleh Rustemov.

Hal senada juga dikemukakan oleh anggota rombongan lainnya yaitu Nikolay Postnikov. Sebagai seorang photographer dirinya sangat senang dapat berkunjung ke Indonesia karena bisa mengabadikan banyak hal mengenai keindahan Indonesia melalui bidikan lensanya. (Beberapa foto Postnikov bisa dilihat pada bagian bawah postingan ini)

Kerak Telor Betawi

IMG_20150920_163645Namanya Bang Risol. Sore itu, ketika saya mendatanginya di kawasan Lapangan Banteng, ia terlihat sedang sibuk membuat kerak telor untuk dua orang pembeli yang duduk di sebuah kursi pendek. Ia terus mengipas-ngipas api di dalam anglo yang diletakkan di tanah antara kedua gerobak pikul dan membolak-balik kerak telor yang diletakkan di atas wajan kecil. Tidak sampai 15 menit kerak telor yang dibuatnya matang. Setelah diberi bumbu berupa serundeng dan bawang goreng, maka kerak telor siap disantap.

Ya, berbeda dengan sajian kuliner lainnya yang umumnya didagangkan di restoran, rumah makan ataupun kios, maka kerak telor Bang Risol dan juga pedagang kerak telor lainnya langsung dibuat dan didagangkan dekat gerobak panggulnya yang khas beserta perangkat memasak sederhana berupa anglo dan arang.

Sebagai sebuah ikon kuliner dari Jakarta, boleh dikatakan kerak telor cukup popular di kalangan pecinta kuliner, tidak kalah jika dibandingkan dengan kuliner Betawi lainnya seperti gado-gado, karedok, asinan dan ketoprak. Konon sejak dulu kerak telor telah popular karena kelezatannya bahkan disajikan sebagai hidangan khusus untuk merayakan suatu acara atau hajatan.

Ojek Sepeda Ontel Yang Tetap Menggoda

IMG_20150909_121557Di tengah kesuksesan Go-Jek memanfaatkan teknologi informasi yang mulai menggeser ojek motor konvensional, ternyata masih ada jasa angkutan alternatif yang masih bisa bertahan tanpa sentuhan mesin bermotor ataupun teknologi canggih  yaitu ojek sepeda ontel. Zaman yang semakin canggih sepertinya belum sepenuhnya mampu menyingkirkan kendaraan roda dua tanpa mesin ini. Keberadaan pengemudi ojek sepeda ontel ini masih bisa kita jumpai, antara lain di depan Stasiun Kota seperti yang saya saksikan pada Rabu (9/9/2015).

Siang itu, segera setelah keluar dari gerbang sebelah kanan Stasiun Kota, beberapa pengemudi ojek berjejer sambal memegang sepeda ontel menyongsong kehadiran para penumpang kereta yang baru saja keluar Stasiun. Mereka menawarkan jasa mengayuh sepeda ontel ke daerah-daerah di sekitar kawasan Kota Tua hingga Mangga Dua.

Panas terik matahari tidak menyurutkan semangat para pengemudi ojek untuk menawarkan jasanya dan kemudian mengayuh sepeda menyusuri gang dan bersaing dengan dengan angkutan kota dan sepeda motor. Wajah optimis dan penuh senyum diperlihatkan salah seorang pengemudi ojek sepeda yang saya abadikan gambarnya pada tulisan ini. Meski banyak penumpang yang memilih ojek motor, tapi pengemudi ojek berkaos biru ini tetap tersenyum dan berharap akan ada penumpang yang menaiki sepedanya.

Jejak Akulturasi di Keraton Kasepuhan Cirebon

IMG_20150828_145238Keberadaan keraton di sebuah daerah adalah refleksi kebesaran dan tingginya kebudayaan setempat di masa lampau. Salah satu daerah yang memiliki keraton adalah Cirebon.  Di daerah terdapat beberapa Keraton yang salah satunya adalah Keraton Kasepuhan Cirebon yang didirikan pada sekitar tahun 1480 M.

Adalah Pangeran Sri Mangana Cakrabuana, putra mahkota Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran Bogor dan tumenggung di. Cirebon, yang tercatat sebagai pendiri Kasultanan Kasepuhan Cirebon dan Keraton Pakungwati. Keputusan Pangeran Cakrabuana memisahkan diri dari Kerajaan Padjajaran  agar lebih leluasa mengembangkan agama Islam dan sekaligus terbebas dari pengaruh agama Hindu, agama resmi Kerajaan Padjajaran.

Ojek Dari Masa Ke masa

gojek vs ojekHampir setiap hari dalam perjalanan menuju dan pulang kantor, jika tidak menyetir kendaraan sendiri, saya lebih memilih naik ojek dibandingkan naik angkutan umum roda empat seperti angkot. Meski membayar lebih mahal dibanding angkot dan sering was-was karena ojek kerap memotong kendaraan di depannya dengan kecepatan tinggi dan penumpang tidak dilengkapi helm, namun naik ojek bisa membawa saya lebih cepat ke tempat tujuan karena lebih leluasa menerobos kemacetan lalu lintas.

Pengalaman naik ojek sendiri bagi saya bukanlah hal yang baru. Sejak sekolah menengah saya sudah terbiasa naik ojek untuk pergi dan pulang ke sekolah. Saat itu belum ada ojek motor seperti sekarang ini, yang ada adalah ojek sepeda. Saya kerap naik ojek sepeda ke sekolah. Sepeda yang digunakan adalah sepeda yang sekarang dikenal sebagai sepeda ontel. Layanan ojek sepeda ini sampai sekarang masih tetap bertahan di kawasan tempat saya tinggal dulu, bersaing dengan ojek motor. Selain di kawasan tempat saya tinggal dulu, ojek sepeda juga masih banyak dijumpai di kawasan stasiun Jakarta Kota.

Dari sejarahnya, saya tidak tahu persis kapan kemunculan ojek di Jakarta untuk pertama kali. Namun menurut infografik yang dibuat Poligrabs, yang mengacu dari beberapa sumber di blog, ojek di Jakarta muncul di daerah Ancol pada tahun 1974 menyusul keberadaan ojek di Jawa Tengah tahun 1969. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai asal-usul tersebut.

Baber Bukan Bukber

bukber 2Alhamdullilah dalam Bulan Ramadhan 1436 H (2015) ini saya berkesempatan mengikuti berbagai kegiatan buka puasa bersama (biasa disingkat bukber) dengan teman-teman kantor, teman sekolah dan kuliah. Hampir setiap minggu saya mengikuti bukber di tempat-tempat yang berbeda seperti di restoran, rumah dan masjid.

Saking seringnya mengikuti kegiatan buka puasa bersama, maka istilah bukber pun menjadi akrab di telinga saya. Dan menyaksikan antusiasme masyarakat Indonesia dalam mengikuti atau mengadakan bukber, terutama masyarakat di kota-kota besar, saya pun yakin bahwa kosakata bukber juga akrab di telinga masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya di saat Bulan Ramadhan. Di bulan ini, berbagai komunitas, organisasi, teman kantor, teman sekolah, mantan teman sekolah atau bahkan lingkungan di sekitar kita kerap menyelenggarakan bukber di berbagai tempat seperti restoran, hotel, mall, atau cafe.

Secara harfiah, makna “buka puasa” sebenarnya memiliki makna yang agak aneh karena kegiatan yang dilakukan sebenarnya adalah untuk membatalkan atau menutup puasa karena makan saat puasa berarti mengakhiri puasa pada hari itu. Puasa justru “dibuka” dengan makan sahur menjelang fajar tulis Rohman Budijanto dalam  artikel “Mudik” di majalah Tempo terbitan 6-12 Juli 2015. Merujuk penjelasan ini, maka ke depan nya mungkin perlu dipopulerkan istilah baru yang lebih sesuai secara harfiah yaitu “baber”, kependekan dari batal puasa bersama. Cara membatalkannya dengan makan dan minum bersama.

 

“Masjid Indonesia” di Bangkok

masjid indonesiaSetelah melewati kemacetan jalan raya di kawasan Ruam Rudee Lumpini ,Thanon Witthayu, Bangkok, akhirnya kendaraan yang kami tumpangi berbelok ke sebuah jalan kecil yang hanya cukup untuk melintas satu kendaraan roda empat. Setelah melewati beberapa jalan yang lebih kecil atau gang, kendaraan berhenti di sebuah ujung gang bernama Soi Polo. Sebuah papan petunjuk bertuliskan “Indonesia Mosque” terpampang di atas tembok

Dari ujung gang terlihat sebuah bangunan masjid berlantai tiga yang terletak di antara kerumunan rumah warga. Kami pun segera turun dan berjalan kaki menyusuri gang tersebut menuju masjid yang jaraknya sekitar 100 meter dari ujung gang. Sepanjang gang terlihat beberapa warung kelontong dan pedagang kaki lima yang menjual pisang goreng dan panganan kecil lainnya. Beberapa warga terlihat sedang duduk-duduk santai di atas kursi kayu sambil berbincang satu sama lain.

Seorang ibu yang mengenakan baju terusan panjang kemudian keluar dari masjid dan menyambut ramah kehadiran kami dalam bahasa Inggris patah-patah bercampur sedikit bahasa Indonesia. Ia adalah salah seorang warga yang ikut mengurus masjid. Dengan penuh keramahan dan layaknya seorang pemandu wisata, ia pun mengarahkan kami ke ruang sholat di lantai dua dan tiga, setelah sebelumnya menunjukkan tempat berwudhu di lantai pertama.

Gabus Pucung Warung Besan

gabus pucungBondan Winarno di kolom “Jalansutra”pernah menulis  “Jaka sembung makan pete, ambil sapu di ujung gunung Jangan ngaku orang Jakarte, kalo kaga tahu “Gabus Pucung”. Saya cuma tersenyum membaca apa yang ditulis Bondan. Mungkin karena saya kurang pergaulan, meski lahir dan besar di Jakarta dan kemudian tinggal di Bekasi, saya justru baru mendengar sayur gabus pucung ketika mempersiapkan pembentukan Komunitas Blogger Bekasi (Be-Blog) pada awal Agustus 2009.
Tapi soal ikan gabus, saya sudah lama tahu dan sering merasakan kenikmatannya. Ketika masih kanak-kanak dan tinggal di  Tanjung Priok, saya dan teman-teman memang sering mancing ikan gabus, sepat atau betok di empang atau rawa-rawa (saat itu kawasan Tanjung Priok belum dipadati rumah seperti sekarang ini). Setiap kali mendapat ikan gabus, orang tua saya tidak pernah mengolahnya menjadi sayur gabus, paling banter ikan tersebut digoreng dan dipecak seperti ikan lele.

Sedapnya Kepala Ikan Pedas Khas Provinsi Hunan

kepala ikanMasyarakat Tiongkok dikenal sebagai suatu masyarakat yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang sangat kental, termasuk budaya dan tradisi kuliner. Setiap daerah dan etnis di Tiongkok memiliki budaya dan tradisi kuliner dengan resep-resep tradisional yang turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu makanan dengan resep turun-temurun dan menjadi makanan populer di Beijing adalah hidangan kepala ikan pedas yang berasal dari Provinsi Hunan, sebuah provinsi di bagian barat Tiongkok dan tempat kelahiran Mao Zedong. Hidangan kepala ikan pedas atau “duo jiao yu” (dalam bahasa Mandarin) ini dapat dijumpai di restoran-restoran yang menyajikan masakan tradisional Tiongkok, terutama restoran yang dikelola warga yang berasal dari bagian barat Tiongkok seperti dari Hunan (hú nán cài) dan Sichuan (sì chuan cài).

Kedua daerah tersebut dikenal dengan sajian makanan yang pedas, segar dan warna-warna cerah yang disesuaikan dengan kondisi setempat dan adanya pengaruh asing. Dengan iklim di kawasan barat Tiongkok yang lebih panas dan berlembab, masyarakat di kedua daerah tersebut terbiasa menggunakan cuka, bawang putih, bawang merah, jahe dan minyak wijen sebagai bahan campuran di makanan yang disajikan. Selain itu mereka juga mengenal teknik penyimpanan makanan seperti pengawetan, penggaraman, pengeringan dan pengasapan. Adapun pengaruh asing yang masuk ke daerah tersebut antara lain adalah penggunaan cabai yang dibawa ke Tiongkok oleh para pedagang Spanyol pada abad ke-16. Cabai yang digunakan untuk membuat pedasa makanan, baik cabai segar ataupun yang dikeringkan, memiliki kemiripan dengan penggunaan cabai pada makanan khas India seperti kari, yang konon dibawah ke Tiongkok oleh para pendeta Buddha.

Manusia Peking dan Nenek Moyang Bangsa Tiongkok

IMG_20150104_102459Memanfaatkan waktu libur di awal tahun baru 2015, kami sekeluarga mengunjungi obyek dan kawasan wisata yang memperkenalkan kehidupan manusia purba di Tiongkok pada sekitar 600 ribu tahun lalu. Adapun tempat yang kami kunjungi adalah Museum Manusia Peking dan Situs Zhoukoudian yang terletak di gunung Longgu, desa Zhoukoudian, distrik Fangshan, sekitar 50 km barat daya Beijing. Desa ini cukup terkenal di dunia, khusus oleh para paleo antropolog, sejak ditemukannya fosil manusia Peking dan hewan serta benda-benda primitif lainnya, sebagai tempat untuk meneliti asal usul manusia dan menguak rahasia kehidupan manusia purba.

Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 1,5 jam, cukup lambat karena ada kemacetan di beberapa ruas jalan, kami pun tiba di Zhoukoudian. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Manusia Peking yang berdiri megah di pinggir jalan raya yang membelah desa Fangshan. Museum Manusia Peking ini dibangun pertama kali pada tahun 1953 dengan nama Museum Manusia Kera. Setelah dilakukan renovasi pada tahun 1994, museum yang berjarak sekitar 2 km dari tempat ditemukannya fosil-fosil tulang manusia purba tersebut kemudian diberi nama baru “Museum Situs Zhoukoudian” guna merujuk tempat ditemukannya fosil-fosil tengkorak manusia purba yang diperkirakan hidup ratusan ribu tahun lalu di kawasan gunung Longgu Zhoukoudian.

Setelah membayar tiket masuk sebesar 30 yuan, kami memasuki bangunan seluas sekitar 1.000 meter persegi dan bergaya arsitektur modern. Pada museum ini ditampilkan sejumlah benda-benda temuan dari situs di Gunung Longgu seperti tempurung kepala manusia Peking yang diperkirakan hidup sekitar 600 ribu tahun lalu, manusia Xindong yang hidup sekitar 100 ribu tahun lalu dan manusia gua yang hidup sekitar 18 ribu tahun lalu.