Diplomasi Film Animasi

Siang 5 April 2016 kemarin, ruang Nusantara di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) terlihat berbeda. Ruangan serbaguna yang biasanya lebih banyak digunakan untuk rapat, seminar, briefing, atau kegiatan internal Kemenlu lainnya, siang itu ditata menjadi ruangan theater dengan layar lebar terpasang di salah satu sisinya.

Sejumlah diplomat Indonesia yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri A. M Fachir tampak menghadiri kegiatan nonton bareng film animasi karya anak bangsa Indonesia yang berjudul “Battle of Surabaya: There is No Glory in War” yang digelar atas kerja sama Kelompok Kerja Diplomasi Ekonomi Kemenlu, Direktorat Diplomasi Publik dan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STIMIK) AMIKOM Yogyakarta.

Seperti yang tertera di surat undangan kepada seluruh pegawai Kemenlu, tujuan penayangan film Battle of Surabaya adalah dalam rangka mendiseminasikan film tersebut kepada kalangan diplomat Indonesia sebagai salah satu aset diplomasi publik. Diharapkan para diplomat Indonesia yang sedang berdinas di dalam dan luar negeri dapat mengetahui perkembangan produksi film animasi di Indonesia dan kemudian ikut membantu promosi di mancanegara.

Film Battle of Surabaya merupakan film animasi layar lebar pertama karya anak bangsa Indonesia yang tayang pertama kali ke publik pada Agustus 2015 lalu. Kehadirannya sekaligus memupus keraguan akan kemampuan anak bangsa Indonesia untuk bisa memproduksi film animasi. Selama ini jika bicara tentang film animasi, yang terlintas di benak pastilah film buatan Jepang atau Amerika.

Diproduksi oleh MSV Pictures, anak usaha STIMIK AMIKOM Yogyakarta, dan disutradarai oleh Aryanto Yuniawan, film Battle of Surabaya bercerita tentang perjalanan hidup seorang tokoh fiktif bernama Musa yang berjuang mengalahkan egonya sehingga bisa menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Sebagai latar belakang film adalah suasana Surabaya menjelang dan sesudah Pertempuran 10 November 1945. Pada saat itu Musa adalah seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang berprofesi sebagai penyemir sepatu merangkap kurir surat rahasia bagi para pejuang Indonesia.

Sebelum dan sesudah ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada 20 Agustus 2015 lalu, film ini telah menyabet sejumlah penghargaan internasional dalam berbagai festival film seperti “Most People’s Choice Award IMTF (International Movie Trailer Festival) 2013”, “Nominee Best Foreign Animation Award 15th Annual Golden Trailer Award 2014”, “Winner Best Animation 3rd Noga International Film Festival 2016”, “REMI Winner 2016”, “Official Selection Holland Animation Film Festival 2016”.

Digarap secara universal dan dibumbui plot cerita ala Hollywood, film dibuka dengan gambar-gambar animasi cantik bergaya komik manga yang memperlihatkan pesawat-pesawat tempur tentara Amerika Serikat tengah menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang mengakibatkan takluknya Jepang dari Sekutu. Peristiwa takluknya Jepang dari Sekutu ini juga kemudian diperlihatkan dalam adegan di atas kapal perang USS Missouri.

Gambar-gambar kemudian bergeser pada suasana Kota Surabaya pada 1945 yang tengah mengalami kelesuan ekonomi akibat harga-harga barang yang semakin mahal. Di tengah kondisi tersebut terdengar berita bahwa tentara Sekutu di bawah kepemimpinan Inggris akan mendarat kembali di Indonesia. Cerita semakin berkembang dengan masuknya tentara Inggris pimpinan Jenderal Mallaby dan munculnya tokoh Kapten John Wright yang menjadi musuh utama Musa. Tidak heran jika sepanjang sisa film, gambar-gambar didominasi dengan cerita penangkapan Musa oleh Kapten John Wright, termasuk adegan Musa terbang di udara mengendarai sepeda yang mengingatkan saya pada salah satu adegan film E.T.

Dan seperti lazimnya film-film Hollywood, walau film ini berlatar belakang sejarah, namun seperti dikatakan sang sutradara Aryanto, sebenarnya film ini bergenre drama fiksi. Karenanya tidak mengherankan  jika di film banyak dijumpai adegan drama seperti hubungan Musa dengan sahabat wanitanya yang bernama Yumna atau keterkaitan Musa dengan Kapten Yoshimura yang menjadi bapak asuh Musa dan tewas menjelang Perang Surabaya.

Sejak awal film ini juga memperlihatkan keinginan untuk menyampaikan pesan-pesan moral seperti yang diperlihatkan melalui film animasi pendek tambahan di awal film yang berjudul “duren”. Film animasi tambahan ini menggambarkan tiga orang anak yang selalu gagal membuka duren dengan berbagai cara, namun duren tersebut justru langsung terbuka ketika terjatuh di hadapan seorang yang justru tidak ikut memperebutkan duren tersebut. Segera setelah duren jatuh dan terbuka di hadapan anak tersebut, muncul teks berbunyi “mengambil sesuatu dari orang lain, tidak akan membuat kamu memilikinya”.

Kesan adanya muatan pesan moral tidak dibantah oleh sang produser yang juga dosen ekonomi di STIMIK AMIKOM Prof. Dr. Suyanto. Dalam kata pengantarnya sebelum pemutaran film, Suyanto secara gamblang menyampaikan bahwa film ini memang ingin menggambarkan mengenai sosok pahlawan yang tidak harus seorang superhero. Pahlawan adalah orang yang bisa mengalahkan diri sendiri dan bisa menjadi rahmat bagi seluruh semesta alam. Karenanya dalam film, sosok Musa digambarkan sebagai seorang begitu amanah mengikuti berbagai nasihat ibunya, salah satunya adalah pesan yang berbunyi “Tidak ada pemenang dalam perang. Untuk itu janganlah menjadi pendendam”. Pesan yang disampaikan ibu Musa memiliki arti yang sangat dalam karena dikemukakan di tengah pembumihangusan rumah-rumah di desa yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban, salah satunya adalah ibu Musa.

Kembali ke tujuan awal penayangan film ini sebagai upaya untuk mendiseminasikan film tersebut kepada kalangan diplomat Indonesia sebagai salah satu aset diplomasi publik secara garis besar tujuan tersebut telah tercapai. Dengan sejumlah penghargaan internasional yang telah diraih dan sambutan yang baik dari masyarakat Indonesia, film ini memang layak untuk dijadikan sebagai salah satu pionir aset diplomasi lunak (soft diplomacy) Indonesia di mancanegara. Di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sedemikian pesat, penggunaan film animasi sebagai alat diplomasi merupakan langkah yang sangat tepat. Penggunaan film animasi sebagai soft diplomacy bukan hanya bertujuan sebagai diplomasi budaya, tetapi juga dapat ditujukan sebagai suatu langkah diplomasi ekonomi.

Dengan harga pembuatan sebuah film animasi layar lebar yang bisa mencapai belasan miliar rupiah (untuk film Battle of Surabaya mengahabiskan dana 15 miliar rupiah) dan nilai jual di pasar internasional yang bisa mencapai jutaan dollar AS, maka sebuah film animasi yang baik juga akan menghasilkan jutaan atau puluhan juta dollar AS. Suatu harga yang fantastis dan bisa melebihi harga penjualan sebuah pesawat terbang. Karenanya jika industri film animasi terus dikembangkan di Indonesia, tidak tertutup kemungkinan bahwa film animasi akan jadi tambang emas baru dari industri kreatif.

Memahami hal tersebut, seperti dikatakan Wamenlu Fachir, Kemenlu dan Perwakilan RI di luar negeri akan mendukung penuh upaya promosi film animasi seperti Battle of Surabaya melalui tiga langkah yaitu: Pertama, ikut membantu penguatan sumber daya manusia di bidang pembuatan film animasi. Kedua, memperluas kerja sama dengan negara-negara yang telah maju teknologi pembuatan film animasinya. Ketiga, membantu pemasaran film di beberapa negara yang menjadi target tujuan.

Komitmen yang disampaikan Wamenlu Fachir seperti tersebut di atas sejalan dengan keinginan Prof Suyanto, yaitu berusaha membesarkan nama Indonesia dengan membawa film ini ke dunia. Salah satu caranya dengan membuat film dengan pola dan bahasa yang dimengerti dunia. Dan upaya menerobos pasar film animasi dunia akan lebih mudah jika para diplomat Indonesia juga turut serta aktif memasarkannya di negara di mana mereka ditugaskan.

Dan seperti dikatakan lebih lanjut oleh Prof Suyanto, “Dunia usaha atau suatu institusi di suatu negara akan lebih mudah dihubungi jika yang menghubunginya adalah wakil pemerintah atau pejabat kedutaan. Beda jika kami sendiri yang melakukan kontak langsung. Biasanya agak dipersulit.”

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *