Godfather Patah Hati

Wah sepertinya kita enggak bisa tampilkan Didi Kempot, bayarannya mahal di luar budget. Maklum lagi naik daun,” begitu komentar crew sebuah stasiun televisi yang ditugasi menghubungi Didi Kempot untuk acara konser yang digelar kerjasama kantor saya dengan staisun televisi tersebut.

Memangnya dia minta dibayar berapa,” tanya saya

Dia minta dibayar segini (sambil menyebutkan sejumlah nominal), sementara budget kami maksimal sebesar segini (sambil lagi-lagi menyebutkan nominalnya), masih jauh dari yang diminta,” ujar crew tersebut dengan muka masam

Ehmm begitu ya … ya udah saya akan coba hubungi Didi Kempot lewat teman dekatnya,” ujar saya mencoba mencari solusi

Setelah kontak dengan teman dekatnya, Didi Kempot setuju untuk tampil di acara konser dengan bayaran sesuai besaran budget dari stasiun televisi tersebut.

Mas Didi gak keberatan kok dibayar segitu. Dia sebenarnya enggak terlalu hitungan-hitungan soal bayaran, apalagi yang punya hajat kan kantor sampeyan, Apalagi, kebetulan juga konser diselenggarakan di kota tempat tinggalnya,” ujar teman saya tersebut

Akhirnya konser pun berlangsung dengan kehadiran Didi Kempot. Ia tidak saja tampil saat hari H, tetapi juga hadir penuh waktu saat gladi resik sesuai jadwal. Ia tampil prima di konser yang berlangsung di bekas pabrik gula Tjolomadu, di hadapan para penonton yang terdiri dari petinggi kantor kami, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Surakarta dan Karanganyar dan tamu undangan lainnya serta disiarkan langsung oleh stasisun televisi ke seluruh Indonesia.

Didi Kempot benar-benar jadi bintang utama dalam konser malam itu. Tamu-tamu undangan yang hadir terlihat gembira, terkadang ikut menyanyi bersama saat tembang Sewu Ketho dan Banyu Langit dibawakan. Sementara warga setempat yang mengetahui adanya konser dan tidak bisa masuk gedung, menyaksikan dengan suka cita dari layar televisi.

Fenomena kemeriahan dan sambutan terhadap Didi Kempot kembali saya rasakan ketika hadir dalam pertunjukannya di Pekan Kebudayaan Nasional 10 Oktober 2019 di Panggung Siger, Parkir Selatan, Istora Selatan. Ribuan penonton, kebanyakan anak muda memenuhi arena parkir selatan Istora Senayan sejak setelah magrib menunggu kemunculan Lord Didi, begitulah sebutan Didi Kempot dari para milenial.

Begitu Lord Didi hadir di atas panggung, penonton yang sebagian besar anak muda milenial langsung histeris menyambut sang idola.

Berkiprah sejak 1989 dan dikenal para penggemar musik campursari di Jawa Tengah, yang umumnya bapak-bapak, nama Didit Kempot kembali mencuat di tengah kegalauan di antara anak muda milenial pada 2019. Selain sebutan Lord, anak-anak muda milenial penggemarnya juga menjulukinya sebagai the Godfather of Broken Heart, karena lagu-lagunya yang bernuansa patah hati.

Penggunaan julukan “Godfather” sendiri mengingatkan kita akan sebuah film tahun 1972 berjudul the Godfather yang dibintangi Marlon Brandon. Film ini bercerita tentang organisasi rahasia di Sisilia dan Amerika Serikat pada abad pertengahan yang kerap disebut sebagai mafia. Organisasi memiliki tujuan untuk memberikan perlindungan illegal, pengorganisasian kejahatan berupa kesepakatan dan transaksi secara ilegal, abritase perselisihan antar kriminal, dan penegakan hukum sendiri (main hakim).

Dalam prkembangannya, istilah “mafia” telah melebar hingga merujuk kepada kelompok besar apapun yang melakukan kejahatan terorganisir (seperti Mafia Rusia, Yakuza di Jepang), dan Triad di China). Sementara secara harfiah, godfather berarti ayah perwalian. Jadi sebenarnya Godfather of the Brokenheart sendiri dapat diartikan sebagai ayah perwalian dari mereka yang patah hati.

Julukan tersebut cocok sekali di tengah kegalauan anak-anak muda yang sedang kasmaran dan kerap patah hati, Anak-anak muda tersebut menggemari lagu-lagu nestapa dan patah hati yang khas Didi. Sedih namun bisa membuat pendengarnya bergoyang alias bergembira dalam kesedihan. Saking gandurungnya, anak-anak muda ini berhimpun dalam perkumpulan Sad Bois, Sad Girls, Sobat Ambyar, dan lain sebagainya.

Kebangkitan kembali seniman tradisional Didi Kempot lewat media sosial tentu saja menjadi suatu fenomena yang menarik karena media sosial Twitter dan YouTube malah justru mendorong kemunculan kearifan lokal. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pandangan kelompok anti-globalisasi. Buat mereka, hal seperti ini tidak mungkin terjadi karena media sosial dipandang sebagai agen globalisasi yang menghancurkan budaya asli bangsa.

Media sosial dipandang sebagai pintu masuk budaya asing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan, sebagai agen Barat yang memusnahkan kebudayaan asli suatu bangsa. Jadi, kalau mau melindungi kebudayaan asli bangsa, jangan mau menerima globalisasi di bidang budaya. Itulah premis yang berlaku bagi kelompok anti-globalisasi.

Dalam pandangan kelompok anti-globaliasi, globalisasi itu berasal dari Barat dan menjadi alat penyebaran semua hal berbau Barat, termasuk budaya. Jadi menerima globalisasi sama saja menyerahkan budaya asli bangsa kepada budaya barat. Globalisasi adalah zero-sum game yang harus dihindari.

Fenomena Lord Didi memperlihatkan bahwa konsep zero sum game tidak berlaku. Lagu-lagu campursari yang digaungkan Lord Didi merupakan bagian budaya masyarakat yang unik dan menonjol. Sama halnya seperti musik gambang kromong yang dibawakan Benyamin Suaeb. Ia menjadi sebuah sub-kultur yang membumi di masyarakat. Ketika pembumian itu terjadi, ia menjadi sebuah identitas budaya yang dibawa oleh setiap anggota masyarakat. Di manapun dan kapanpun. Termasuk di media sosial.

Anak muda milenial mengidentifikasikan pengalaman hidupnya dengan lagu-lagu campursari melalui berbagai postingan soal Didi Kempot di media sosial. Mulai dari ekspresi para Sad Bois, Sad Girls dan Sobat Ambyar  ketika menonton Godfather mereka bernyanyi. Hingga berbagai meme plesetan lirik lagunya yang terkenal. Semuanya secara serentak menjadi agen budaya asli bangsa untuk manggung di kancah nasional, bahkan internasional.

Campursari adalah medium pelipur lara, bukan lagi musik kampungan. MElalui campursari para penikmatnya bisa melampiaskan semua nelangsa dalam hati, sambil berjoget menikmati irama musik Jawa. “Dari pada bersedih hati, lebih baik dijogeti,” begitu kata anak-anak muda milenial.

 

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *