Huaqiao Beijing Rindu Indonesia Raya

Ada pemandangan istimewa di kegiatan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-67 di halaman KBRI Beijing yaitu kehadiran sekelompok warga masyarakat Cina berusia lanjut. Mereka adalah para Huaqiao, sebutan bagi warga negara Cina yang tinggal di perantauan, yang bersama orang tua dan anggota keluarga lainnya pernah tinggal di Indonesia pada sekitar tahun 1960-an. Terdapat sekitar 100 orang Huaqiao Indonesia yang hadir pada upacara tersebut.

Usia senja tidak menghalangi semangat para Huaqiao Indonesia untuk datang ke KBRI Beijing dan mengikuti setiap rangkaian acara dengan tertib dan penuh semangat. Meski upacara baru dimulai tepat pukul 10 pagi, para Huaqiao Indonesia tersebut sudah mulai berdatangan sejak pukul 8 pagi. Mereka tidak ingin terlambat dan tertinggal setiap momen dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Dengan tertib para Huaqiao Indonesia yang datang mengisi daftar hadir dan kemudian duduk di tempat yang disediakan. Ketika acara akan dimulai, mereka pun segera menuju ke tempat barisan undangan dan berdiri dengan tertib. Banyak di antaranya yang masih terlihat berdiri gagah meski umurnya sudah berkisar antara 75-95 tahun. Sementara beberapa lainnya, meski disanggah tongkat juga tetap berdiri mengikuti upacara yang berlangsung dibawah terik matahari dengan suhu udara berkisar 38 derajat celcius.

Tidak diketahui persis jumlah Huaqiao Indonesia yang ada di seluruh daratan Cina saat ini, namun kehadiran sekitar 100 orang Huaqiao Indonesia tersebut memperlihatkan rasa cinta dan kerinduan mereka terhadap Indonesia. Ketika mereka kembali ke daratan Cina pada sekitar tahun 1963, menyusul sikap anti asing di Indonesia dan pemulangan sebagian warga keturunan Cina ke Cina daratan, kebanyakan dari mereka masih berusia belasan tahun. Karenanya masih banyak kenangan yang mereka ingat, apalagi para orang tua mereka pada saat itu masih tetap memerpertahankan bahasa dan budaya Indonesia sebagai identitas diri.

Sekarang pun tidak sedikit dari para Huaqiao Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah Cina daratan yang masih lancar berbahasa Indonesia. Mereka tetap berupaya berkomunikasi dalam bahasa Indonesia agar tidak hilang. Untuk menunjukkan kecintaannya akan Indonesia, para Huaqiao Indonesia ini pun tidak segan-segan mengamalkan kemampuannya dalam berbahasa Indonesia dengan menjadi nara sumber atau lawan bicara bagi mahasiswa Cina yang mengambil jurusan Bahasa Indonesia di berbagai perguruan tinggi.

 

Upaya untuk mempertahankan penggunaan Bahasa Indonesia ataupun mengajarkannya kepada mahsiswa Cina sepertinya sederhana, tapi justru penting di saat hubungan diplomatik Indonesia dan Cina mengalami kebekuan selama 25 tahun menyusul meletusnya pemberontakan G30S/PKI tahun 1965 dimana Cina diduga oleh pemerintah Indonesia terlibat dalam kejadian tersebut. Pada saat itu sumber informasi mengenai Indonesia sangat terbatas dan salah satu cara termudah untuk mengetahui Indonesia pada saat itu tentunya adalah lewat Huaqiao Indonesia.

Kini ketika hubungan diplomatik Indonesia dan Cina telah normal kembali, bahkan semakin erat dan mesra, peran Huaqiao Indonesia dan keluarganya untuk merekatkan hubungan kedua negara serta memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Cina masih tetap relevan. Cerita dari mulut ke mulut dari para Huaqiao Indonesia dan keluarganya tentang Indonesia akan membantu upaya memperat hubungan antar masyarakat melalui people-to-people contact. Karena berdasarkan pengamatan, tidak banyak masyarakat Cina yang mengenal Indonesia. Umumnya mereka lebih mengenal negara tetangga Indonesia seperti Singapura dan Malaysia. Kalaupun mengenal Indonesia, maka mereka hanya mengenal Bali sebagai tempat tujuan wisata favorit. Padahal Indonesia kan bukan cuma Bali.

Terakhir dan juga tidak kalah penting adalah peran Huaqiao Indonesia dalam membantu para keluarga Indonesia yang baru menetap Beijing atau kota-kota lainnya. Tidak sedikit dari para Huaqiao Indonesia ini yang bersedia membantu mengenalkan dan mengajarkan penggunaan bahasa Mandarin. Mereka pun bersedia jika dimintakan bantuannya untuk mengantarkan ke rumah sakit atau sekolah dan bertindak sebagai penerjemah. Usia senja tidak menghambat para Huaqiao Indonesia untuk tetap beraktivitas dan menyumbangkan pengetahuan yang mereka miliki.

Salam Merdeka !!! 

One Response to Huaqiao Beijing Rindu Indonesia Raya

  1. m ikhsan dwijaatmaja says:

    Bagus tulisannya menarik, apakah taci Lee dan taci Hoping Lee masih aktif ke kbri (?) tkq

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *