Jejak Akulturasi di Keraton Kasepuhan Cirebon

IMG_20150828_145238Keberadaan keraton di sebuah daerah adalah refleksi kebesaran dan tingginya kebudayaan setempat di masa lampau. Salah satu daerah yang memiliki keraton adalah Cirebon.  Di daerah terdapat beberapa Keraton yang salah satunya adalah Keraton Kasepuhan Cirebon yang didirikan pada sekitar tahun 1480 M.

Adalah Pangeran Sri Mangana Cakrabuana, putra mahkota Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran Bogor dan tumenggung di. Cirebon, yang tercatat sebagai pendiri Kasultanan Kasepuhan Cirebon dan Keraton Pakungwati. Keputusan Pangeran Cakrabuana memisahkan diri dari Kerajaan Padjajaran  agar lebih leluasa mengembangkan agama Islam dan sekaligus terbebas dari pengaruh agama Hindu, agama resmi Kerajaan Padjajaran.

Nama Pakungwati diambil dari nama Ratu Ayu Pakungwati, puteri Pangeran Cakrabuana sendiri. Kelak, Ratu Ayu Pakungwati menikah dengan Syarif Hidayatullah, atau yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Djati. Setelah Pangeran Cakrabuana mangkat, Sunan Gunung Djati naik tahta pada tahun 1483 M. Selain sebagai seorang pemimpin yang disegani, Sunan Gunung Djati juga dikenal sebagai seorang ulama terkemuka di Cirebon.

Komplek Keraton Kasepuhan yang masih berdiri hingga sekarang ini dibangun pertama kali pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. Ia bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasep

Keraton Kasepuhan menempati lahan seluas 25 hektar yang terdiri dari berbagai macam bangunan. Di Keraton Kasepuhan, yang sekarang ini masih ditinggali sebagai kediaman resmi keluarga Kasultanan, masih dapat dijumpai bangunan dan benda-benda bersejarah seperti kereta kencana, pedang dan keris, gamelan, hingga ukiran yang dibuat para raja. Benda-benda tersebut menjadi saksi bisu interaksi kerajaan di masa lalu dengan dunia luar, baik agama dan budaya seperti tampak dari interaksi Islam,  Hindu dan Buddha atau Indonesia, Tiongkok dan Eropa.

Jejak-jejak akulturasi agama dan budaya tersebut bahkan jelas terlihat sejak gerbang pertama kawasan Siti Hinggil yang merupakan tempat terbuka bagi keluarga kerajaan dan tamu-tamunya melakukan aktivitas seperti menyaksikan latihan keprajuritan yang diadakan di alun-alun setiap hari Sabtu yang disebut dengan Saptonan, menyaksikan berbagai pertunjukan ataupun sebagai tempat transit para tamu sebelum memasuki kawasan utama keraton.

IMG_20150828_142903Dua buah gapura yang bersama Gapura Adi dan Gapura Banteng dan terbuat dari susunan bata merah dengan piring-piring porselen Tiongkok menempel pada dinding temboknya menjadi pintu pertama bagi pengunjung untuk memasuki kawasan Siti Hinggil. Dengan bentuk kedua gapura yang meruncing ke atas seperti bentuk gunung dilengkapi dengan beberapa anak tangga, gapura-gapura tersebut mengingatkan kita akan ciri-ciri bangunan Hindu-Buddha.

Selepas Siti Hanggil, kita akan melihat Bangunan Pangada di depan pintu gerbang pertama kawasan utama Keraton. Bangunan ini dulunya digunakan sebagai tempat penjagaan dan pemeriksaan tamu-tamu yang akan memasuki Keraton. Setelah melewati pemeriksaan, para tamu akan tiba di halaman yang menjadi semacam tempat parkir kendaraan dimana dulunya terdapat sumur yang digunakan sebagai sumber air untuk minum kuda.

IMG_20150828_143128

Menariknya, berbeda dengan gerbang ke Siti Hinggil yang berbentuk gapura Hindu-Buddha, maka dua gerbang ke kawasan inti Keraton yang keseluruhannya di cat putih memperlihatkan bentuk arsitektur bangunan yang mirip bangunan masyarakat Jawa dengan atap joglo di atasnya.

Melewati gerbang kedua tampak sebuah komplek bangunan Keraton yang asri dengan sebuah taman terletak persis di bagian tengah. Terdapat beberapa buah bangunan dengan bangunan intinya adalah bangunan Keraton Kasepuhan itu sendiri yang terletak di bagian tengah dan juga berwarna putih. Di sebelah kiri bangunan inti terdapat Museum Kereta Singa Barong dan Dalem Agung Pakungwati, sementara di sebelah kanan terdapat Museum Benda Kuno warisan Keraton atau sumbangan masyarakat.

Seperti lazimnya keraton-keraton di Jawa (Yogyakarta atau Solo), Keraton Kasepuhan menghadap ke arah utara. Di depan keraton terdapat alun-alun dengan pasar di sebelah timur dan masjid di sebelah barat. Empat unsur yakni kantor pemerintahan, alun-alun, masjid, dan pasar tersebut hingga saat ini banyak dijumpai pusat pemerintahan pada kota-kota di Jawa.

Beberapa benda yang disimpan di Museum Kereta Singa Barong adalah kereta kencana (Kereta Singa Barong), tandu, lukisan Prabu Siliwangi dan beberapa keris. Unsur tiga agama terlihat di kereta Singa Barong. Kereta Singa Barong berbentuk Burung Bouraq dengan kepala Naga namun berbelalai Gajah. Bentuk yang tidak lazim itu melambangkan akulturasi tiga kebudayaan. Badan dan sayap Burung Bouraq merupakan pengaruh agama Islam. Sementara belalai gajah adalah simbol dari agama Hindu. Sementara kepala Naga merupakan bentuk pengaruh dengan kebudayaan Tiongkok dan Budha. Pengaruh kebudayaan Tiongkok juga terlihat dari cat yang melapisi kereta yakni merah, kuning, emas dan hijau.

IMG_20150828_144014Yang tidak kalah menarik, selain kereta Singa Barong, di museum Ini juga tersimpan lukisan Prabu Siliwangi yang dibuat pada tahun 2.000an oleh seorang seniman Cirebon. Konon wajah Prabu Siliwangi yang terdapat pada lukisan ini didapat berdasarkan mimpi.  Lukisan ini memiliki keunikan karena dibuat seperti tiga dimensi, sehingga jika dilihat dari berbagai sisi terlihat bola mata dan jari. Prabu Siliwangi mengarah ke orang yang melihatnya.

Sementara itu Dalem Agung Pakungwati adalah bangunan tertua di Keraton Kasepuhan. Sebuah pedati kayu berukuran besar berjuluk Pedati Gede Pekalangan ditempatkan di halaman yang ditumbuhi pohon-pohon kapuk randu. Di keraton Pakungwati ini terdapat juga Sumur Kejayan, petilasan Pangeran Cakrabuana dan petilasan Sunan Gunungjati. Bagi yang suka mistis, air segar dari Sumur Kejayan kerap digunakan untuk mencuci muka dan diyakini dapat membuat Kejayan seseorang.

Jika di bagian kiri terdapat Museum Kereta Singa Barong dan Dalem Agung Pakungwati, maka di bagian tengah kita dapat melihat bangunan pendopo Sri Manganti di sisi timur bangsal keraton yang berupa rumah joglo khas Jawa. Bangunan itu berdinding terbuka dan menjadi tempat “transit” para tamu yang hendak bertemu keluarga Kraton.

Di sebelah pendopo Sri Manganti Ini barulah terdapat bangunan Keraton Kasepuhan yang berwarna putih. Selain sebagai pusat pemerintahan, di masa jayanya Keraton Kasepuhan juga menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Karenanya tidak mengherankan jika pengaruh Islam pun sangat kental pada bangunan-bangunan di dalam keraton. Misalnya pada jumlah tiang penyangga beberapa pendopo yang berjumlah 5 melambangkan rukun Islam dan 6 yang melambangkan rukun Iman.

Sayangnya di bangunan ini pengunjung hanya diperkenankan masuk sampai beranda Keraton saja dan mengintip bagian dalam dari luar. Di beranda Keraton ini kita akan melihat perpaduan unsur budaya Eropa dan Tiongkok, selain tentu saja perpaduan Islam, Hindu dan Budha. Keramik-keramik dengan gambar bercorak Eropa atau Tiongkok terdapat di dinding beranda keraton ini. Unsur budaya Tiongkok tampak antara lain pada pemilihan warna langit-langit beranda Keraton yang berwarna hijau dan emas serta ornamen khas Tiongkok. Sedangkan unsur Eropa selain terlihat dari porselen Delft yang menempel di dinding juga tampak dari dua meriam yang berada di halaman yang merupakan pemberian dari Thomas Stanford Raffles.

IMG_20150828_143211Persis di depan Keraton kita akan melihat sebuah taman yang menjadi landmark Keraton Kasepuhan yaitu Taman Bunderan Dewandaru. Sesuai namanya tempat ini berupa taman yang cukup luas dengan sisi terdalam berupa bunderan dengan sebuah pagar besi yang rendah mengelilingi. Beberapa pohon besar dengan kanopit teduh tumbuh di sisi barat dan timur bunderan.

Di Taman Bunderan Dewandaru terdapat sebuah 2 patung macan putih yang saling berhadapan. Macan putih adalah lambang dari Padjajaran yang bermakna bahwa Keraton Kasepuhan merupakan penerus Kerajaan Padjajaran. Selain itu juga terdapat 2 meriam peninggalan Eropa yang diberi nama Nyi Santomo dan Ki Santoni. Sedikit pengaruh Hindu-Buddha masih terlihat dari adanya patung lembu kecil atau Nandi yang letaknya agak tersembunyi di bawah kanopi semak di dalam taman.

IMG_20150828_145422Sementara itu seperti telah disebutkan sebelumnya, di bagian kanan terdapat bangunan Museum benda kuno. Benda-benda bersejarah yang disimpan di museum ini antara lain gamelan dari Cirebon sendiri ataupun hadiah dari Demak, senjata seperti keris dan meriam, pakaian putra-putri raja dan lainnya, serta furniture hadiah dari Pemerintah Belanda.

Demikian sekilas hasil kunjungan ke Keraton Kasepuhan Cirebon Satu hal penting yang kiranya dapat dicatat dari kunjungan ini adalah bahwa sejak lama Cirebon paham akan sejarah budayanya sendiri. Dan melalui akulturasi budaya selama bertahun-tahun, mereka mampu menghayati pluralisme. Suatu hal yang mungkin kiranya kita semua dapat bercermin darinya.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *