Libya Bukan Irak Kedua

Editorial Koran Tempo hari Selasa (22/03) “Irak Bukan Irak Kedua” senada dengan tulisan saya hari Senin (21/03) yang berjudul “Irak, Libya Jilid Dua”.

Berikut saya copy paste editorial Koran Tempo tersebut untuk saling melengkapi opini mengenai konflik Libya. Tulisan-tulisan ini juga menegaskan apa yang dikatakan Bernard Russel bahwa “Perang tidak akan menentukan siapa yang benar, hanya siapa yang tinggal“.

Libya Bukan Irak Kedua

Barat semestinya belajar banyak dari penyerbuan ke Irak. Dulu, setelah pasukan sekutu berhasil menumbangkan Saddam Hussein, yang mereka dapatkan bukanlah kemenangan. Kejatuhan Saddam hanya mengantar rakyat Irak ke kekacauan baru. Demokrasi tak dengan sendirinya tumbuh di sana.

Barat juga mesti belajar dari penyerbuan ke Afganistan. Kehancuran rezim Taliban hanya menyeret negeri itu ke jurang perang nan tak kunjung usai. Perlawanan terhadap pasukan sekutu bukannya reda, tapi malah berubah wujud menjadi perang gerilya yang brutal.

Tentu saja dunia tak bisa menerima kepemimpinan ala Muammar Qadhafi. Ia berkuasa dengan tangan besi di Libya selama 42 tahun. Semua penentangnya dia basmi. Bahkan dia tega membantai rakyatnya dengan tank, jet pengebom, dan tentara bayaran. Ribuan orang tewas dalam bentrokan tak seimbang itu. Dunia pun ikut terimbas. Harga minyak melambung hingga US$ 103 per barel.

Di saat seperti inilah Amerika Serikat merasa perlu turun tangan. Dengan alasan menyelamatkan kelompok oposisi yang dibombardir tiada henti, Washington, setelah mendapat restu Perserikatan Bangsa-Bangsa, memimpin penyerbuan Libya. Seperti juga saat menyerang Irak dan Afganistan, militer Amerika berjanji tak akan mencederai warga sipil. Jika Qadhafi jatuh, Libya akan hidup dalam udara demokrasi.

Soal apakah bom-bom itu tak membunuh warga sipil, wallahualam. Tapi pengeboman seperti ini penuh catatan buruk. Di Irak, warga sipil ikut menjadi korban. Di Afganistan, bukan cerita baru jika hulu ledak rudal Amerika menghantam puluhan orang yang sedang merayakan pernikahan. Secanggih-canggihnya rudal mereka, tak ada jaminan tidak akan meleset.

Tidak pula ada jaminan bahwa Qadhafi bakal segera terjungkal seperti janji pasukan Amerika. Qadhafi bukan Husni Mubarak. Mantan Presiden Mesir itu secara politis dan ekonomi amat bergantung pada Amerika. Washington tak perlu mengirim rudal untuk memaksanya turun. Qadhafi justru sebaliknya. Ia adalah pahlawan bagi rakyat Libya saat menentang Barat pada 1980-an dan 1990-an. Ketika mulai bersekutu dengan Amerika pada 2000-an, pesonanya justru hilang. Maka serangan sekutu kali ini akan dijadikan momentum oleh Qadhafi untuk kembali meraup dukungan.

Jika posisi Qadhafi menguat, peperangan akan berlanjut lama. Dunia pasti ingat, Qadhafi pernah bertahan begitu lama, meski puluhan tahun negerinya diembargo. Dan jika itu terjadi, ini justru akan menyulitkan Amerika dan sebagian besar penduduk bumi. Harga minyak semakin tinggi.

Kalaupun Qadhafi bisa jatuh dalam waktu singkat seperti janji Amerika, bukan berarti Libya tak berada dalam masalah. Kejatuhan Saddam Hussein terbukti tak serta-merta membuat rakyat Irak hidup aman tenteram. Mereka hingga kini terlibat dalam perang saudara tiada henti. Bom bunuh diri dan gerilyawan yang tak tampak tak bisa dibersihkan oleh kekuatan militer Amerika. Bahkan militer Amerika yang harus pulang karena desakan dari dalam negeri: terlalu banyak korban jatuh untuk pertempuran di negeri orang. Amerika pergi dari Irak ketika luka di negeri itu menganga begitu lebar. Hal yang sama sangat mungkin terjadi di Libya.

Dengan mengatakan hal itu, bukan berarti kekejaman Qadhafi terhadap rakyatnya harus dibiarkan. Diktator harus diturunkan dan diadili. Tapi perang tetap bukan pilihan untuk menegakkan demokrasi, karena perang hanya akan membuat rakyat Libya semakin merana.

Sumber: DISINI

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *