Masjid (Tanpa Jejak Sejarah) Cheng Ho Pandaan

IMG-20150523-WA0008Siapakah Cheng Ho? Sosok ini bagi sebagian besar masyarakat Muslim Indonesia sepertinya bukanlah sosok yang asing. Kiprahnya sebagai seorang laksamana dan pemimpin sebuah armada laut besar yang berhasil mengarungi samudera luas dan menyinggahi banyak negara telah menjadi sebuah legenda dan membuat namanya dikenal.

Dalam sejarah Tiongkok sendiri, sosok satu ini banyak diceritakan dalam catatan-catatan sejarah kuno bangsa tersebut. Sejarah resmi Dinasti Ming, terutama bagian mengenai biografi Cheng Ho (Zheng He Zhuan) menyebutkan tokoh ini dilahirkan pada tahun 1371 di Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, wilayah Tiongkok yang telah lama dihuni oleh bangsa China pemeluk agama Islam. Cheng Ho dilahirkan sebagai putra kedua dari Ma Hazhi (Haji Ma) yang beragama Islam. Ia bersaudara lima orang, dengan seorang saudara laki-laki dan empat perempuan. Demikian tulis A. Dahana, Guru Besar Studi Cina Universitas Indonesia dalam kata pengantarnya di buku karya Tan Ta Sen “Cheng Ho, Penyebar Islam dari China ke Nusantara” (Penerbit Kompas, 2010).

Nama Cheng Ho menjadi fenomvenal karena melalui tujuh ekspedisi besar ke Samudera Barat yang dipimpinnya sejak tahun1405 sampai 1433, Cheng Ho telah mengubah secara radikal lanskap politik dan agama di Kepulauan Asia Tenggara (Tan Ta Sen, “Cheng Ho, Penyebar Islam dari China ke Nusantara”, halaman 223). Sosok Cheng Ho tidak hanya dikenal sebagai diplomat ulung yang mampu membangun hubungan baik dengan beberapa kerajaan yang disinggahi dan menjadi penyebar agama Islam yang meninggalkan hubungan sejarah yang kuat, khususnya dalam menyebarkan budaya dan Islam dari Tiongkok ke Indonesia.

Jejak Cheng Ho di Indonesia dapat dijumpai di beberapa kota seperti Semarang, Palembang dan Surabaya. Untuk mengenang kehadiran Cheng Ho di kota-kota tersebut didirikan monumen ataupun bangunan seperti Klenteng Sam Pok Kong di Semarang ataupun masjid Cheng Ho di Palembang dan Surabaya. Tapi bagaimana dengan di Pandaan? Bagaimana bisa ada masjid Cheng Ho di kota ini? Begitu pertanyaan yang mengemuka ketika kita saya singgah di Masjid Muhammad Cheng Ho yang terletak di jalan raya Malang-Surabaya, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, sebuah kabupaten di Jawa Timur yang dihuni sekitar 1,4 juta jiwa di wilayah seluas hampir 1.500 kilometer persegi.

Dari namanya, masjid yang telah menjadi salah satu ikon Kabupaten Pasuruan ini memang sepertinya mengisyaratkan jejak sejarah kehadiran Cheng Ho di Pandaan, Pasuruan. Benarkah demikian?

Mulai didirikan pada tahun 2003 oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Masjid Cheng Ho Pandaan yang dibangun di atas tanah kosong milik Perhutani dan menelan biaya hingga Rp. 3,2 Milyar lebih dari anggaran pemerintah daerah diresmikan pada tanggal 27 Juni 2008 oleh Bupati Pasuruan H.Jusbakir Aldjufri. Tujuan pembangunannya adalah untuk mengenang jasa Laksamana Cheng Ho dalam menyebarkan ajaran Islam di Jawa Timur dan juga sebagai salah satu tempat berkumpulnya Komunitas Tionghoa Muslim Indonesia di Jawa Timur.

Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 6.000 meter persegi, dengan luas bangunan masjid 550 meter persegi. Masjid ini memiliki dua lantai, lantai bawah untuk ruang pertemuan dan lantai atas khusus untuk sholat.

Arsitektur bangunan masjid yang mirip rumah peribadatan Khing Hu Chu terlihat unik dan artistik dengan memadukan unsur-unsur budaya Islam, Jawa dan Tiongkok. Masjid dicat dengan sentuhan warna-warna cerah seperti warna terang hijau, kuning, dan merah.

interrior masjid cheng hoInterior Mesjid juga memiliki motif dan ornamen yang merupakan perpaduan dari tiga unsur Islam, Jawa dan Tiongkok. Perpaduan tersebut diaplikasikan pada Langit-langit yang menjulang tinggi mengikuti bentuk struktur atap yang ditunjang tiang-tiang yang dicat kuning keemasan. Dari luar, bagian atap tersebut jelas menampakkan gaya arsitektur khas bangunan menara di Tiongkok yang berlapis-lapis. Cat hijau muda di genting dan warna merah pada setiap tepian atap serta warna emas di puncaknya menjadikan bangunan terlihat mencolok dan atraktif. Hal ini agak sedikit berbeda dengan warna pada bagian interior yang tidak seramai dan seberani pada bagian luar Mesjid, sehingga mengesankan kesederhanaan.

Kehadiran Mesjid Cheng Hoo di Pandaan menambah maraknya suasana. Karena letaknya yang sangat starategis juga tidak jauh dari terminal Pandaan. Para pengunjung adalah kebanyakan orang-orang yang sedang melakukan perjalanan dari Surabaya maupun Malang maupun kota-kota lain yang melalui Pandaan. Mesjid Cheng Hoo Pandaan ini dilengkapi dengan fasilitas Perpustakaan dan aula sebagai tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan seperti akad nikah, belajar mengaji, dan sebagainya.

Untuk tempat beristirahat sejenak bagi pengunjung, di samping masjid terdapat rest area yang dapat dimanfaatkan. Selain itu, d samping Masjid ini terdapat pasar tradisional yang menjual khusus buah-buahan dan hasil bumi, serta pernak-pernik, dan juga terdapat warung-warung tempat makan. Tempat ini banyak disinggahi orang-orang dari daerah lain hanya sekedar mencari oleh-oleh untuk kerabat dan sanak saudara saat pulang dari berwisata baik yang dari Malang, Surabaya, ataupun orang-orang yang pulang dari Tretes, tak sedikit juga wisatawan asing yang singgah di tempat ini hanya sekedar ingin melihat aktifitas dari warga pribumi serta tentunya berfoto di depan Masjid Cheng Ho.

Sebagai tempat persinggahan, Masjid Cheng Ho Pandaan ini menjadi pilihan yang tepat. Karena selain bisa memanfaatkan fungsi utamanya sebagai tempat sholat yang bersih, pengunjung juga bisa menikmati keramaian di sekitarnya dan pemandangan alam pegunungan sebagai latar belakangnya. Namun jika pengunjung ingin melihat jejak Cheng Ho dalam arti sesungguhnya seperti melihat barang-barang bersejarah yang menjadi peninggalannya, maka bersiaplah kecewa karena memang tidak ada. Secara fisik Cheng Ho memang tidak mampir di Pasuruan, namun ajaran-ajaran Islam yang dibawanya tersebar hingga kawasan ini.

 

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *