Meneladani Semangat Membaca Sukarno

Proklamator Kemerdekaan RI dan Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno atau Bung Karno dikenal cerdas, tegas, dan berani dalam melawan bangsa luar yang menindas Indonesia. 

Sikap Bung Karno tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh sejak masa muda. Ia antara lain memiliki kebiasaan membaca yang kuat di usia muda. Bung Karno merupakan pembaca “bebas” yang bisa berpindah topik bacaan begitu minatnya berubah atau ketertarikannya berpindah. 

Bung Karno pun memiliki kemampuan berkomunikasi yang sangat baik. Ia terampil memakai idiom atau kata-kata kunci yang tepat sasaran untuk pendengarnya, khususnya rakyat jelata.

Dalam sebuah video yang menampilkan Presiden Soekarno diwawancarai oleh 2 wartawan asing (Amerika Serikat dan Jerman) pada bulan September 1965, mulai menit 17.50 Bung Karno menceritakan bagaimana beliau bertemu dengan dengan tokoh-tokoh dunia lewat membaca sejak muda. Ia membaca pemikiran tokoh-tokoh dunia lewat buku-buku, bukan hanya sekali tetapi bahkan sebuah buku dibaca 2-3 kali. 

Melalui buku-buku, Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Danton, Mazzini, Garibaldi, Marx, Engels, Gladstone, Webb. Ia juga bertemu dengan Hitler. “Ya saya membaca Mein Kamf three times. I also read other books about Hitler,” aku Sukarno.

Nama-nama yang disebut Sukarno tersebut adalah tokoh-tokoh besar pada jamannya. Gladstone misalnya, ia adalah Perdana Menteri Britannia sebagaimana Beatrice Webb. Adapun Danton adalah pejuang besar dari Revolusi Perancis.

Sedangkan Garibaldi yang dimaksud adalah Giuseppe Garibaldi, seorang tokoh revolusi yang memimpin gerakan untuk menyatukan Italia pada pertengahan abad ke-19. Sejak muda, ia telah terlibat dalam serangkaian aksi pemberontakan terhadap pemerintah di Italia dan Amerika Selatan. 

Dalam buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams, Bung Karno menceritakan kebiasaannya membaca sejak muda. 

“Seluruh waktuku habis untuk membaca. Sementara yang lain bermain-main, aku belajar. Aku mengejar ilmu pengetahuan di luar yang diberikan di sekolah. Kami memiliki perpustakaan besar di kota ini (Surabaya) yang diurus oleh Perkumpulan Teosofi,” ujar Bung Karno kepada Cindy Adams. Bung Karno mengakui bahwa ia bisa mendapatkan akses luas ke perpustakaan karena bapaknya adalah seorang penganut teosofis.

Melalui buku-buku yang dibacanya, Bung Karno berdialog dengan Thomas Jefferson tentang Declaration of Independece yang ditulisnya di tahun 1776. Ia pun berdialog dengan George Washington dan Abraham Lincoln, serta nama-nama yang disebutkannya dalam wawancara tersebut di atas.

Sepetti diketahui, masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa sekolah dasar hingga tamat, Soekarno indekos di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto) yang merupakan tokoh politik pendiri Syarikat Islam di Surabaya.

Di Surabaya, Sukarno melanjutkan sekolah di HBS (Hogere Burger School) dan lulus pada tahun 1920. Setelah itu, Soekarno pindah ke ibukota Jawa Barat dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool) atau sekolah Teknik Tinggi yang sekarang disebut sebagai Institut Teknologi Bandung.

Selain rajin membaca, Sukarno juga aktif Menulis di Media Massa. Semasa hidup di tempat Tjokroaminoto, Soekarno muda tak hanya mulai mengenal politik, melainkan juga terbiasa menulis. Pada 21 Januari 1921, artikel pertamanya terbit di halaman koran Oetoesan Hindia milik Sarekat Islam, setelahnya ia pun rutin menulis menggantikan Tjokroaminoto.

Sukarno juga Aktif Berorganisasi. Nama Soekarno mulai dikenal ketika menjadi anggota Jong Java cabang Surabaya pada tahun 1915. Pada tahun 1926, ia mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung. Organisasi ini merupakan cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) yang kemudian didirikan pada tahun 1927.

Ketika diasing ke Ende dan Bengkulu, Sukarno juga aktif menulis dalam bentuk surat-surat dan naskah-naskah sandiwara.

Setelah kembali dari pengasingan pada awal masa penjajahan Jepang, Soekarno langsung aktif dalam usaha perjuangan dan persiapan kemerdekaan Indonesia.

Sukarno aktif dalam organisasi-organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat, BPUPKI dan PPKI. Selain itu ia juga merumuskan Pancasila, UUD 1945 serta naskah proklamasi Kemerdekaan.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published.