Mengunjungi Kampung Muslim Xi’an

Xi’an merupakan ibu kota Provinsi Shaanxi di bagian barat laut China. Kota yang didirikan pada sekitar 300 tahun sebelum Masehi ini memiliki berbagai cerita dan peninggalan sejarah cikal bakal berdirinya bangsa China yang sangat menarik. Dan meskipun kini Xi’an telah menjadi 1 dari 13 kota megapolitan di China, namun berbagai peninggalan sejarah kota yang pernah menjadi ibu kota kerajaan China kuno tersebut dapat dengan mudah dijumpai karena tetap dilestarikan dan dirawat dengan baik.

Di Xi’an, antara lain kita masih bisa melihat benteng kokoh mengelilingi kota yang berdiri sejak jaman Dinasti Ming pada tahun 1370 Masehi seluas 14 km2, lengkap dengan gerbang (gate) yang terdapat di beberapa titik. Masih di dalam kota, kita pun dapat menjumpai perkampungan Muslim yang sudah ada sejak sekitar 1.400 tahun lalu yang disebut ‘Muslim Quarter’ atau ‘Hui People’s Street, suatu kawasan yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat suku Hui yang beragama Islam. Kedua tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi, namun karena keterbatasan waktu, kali ini saya hanya menyambangi perkampungan Muslim.

Berada di sebelah utara Drum Tower Bell, salah satu menara yang berada di sisi tembok selatan kota Xi’an, kampung Muslim terdiri dari beberapa lorong, yang pada kedua sisinya dipadati toko-toko yang menjual aneka ragam jajanan seperti dumpling, kue manis, dan permen. Beberapa jajanan yang dijual terlihat unik dan khas, seperti kue bulan, bakpia dan kue putu.

Penasaran dengan jajanan yang ditawarkan, saya mencoba kue bulan. Meski disebut kue bulan, namun bentuknya berbeda dari kue bulan yang umumnya kita jumpai, bukan bundar tapi kotak. Terbuat dari campuran tepung kacang hijau dan kurma China, kue ini terasa lembut dan manis luar biasa, dengan beberapa variasi rasa mulai dari rasa kurma, nanas, dan almond. Sementara kue putunya, meski secara fisik mirip kue putu di Indonesia, kue putu Xi’an agak berbeda. Kue putu Xi’an terbuat dari beras ketan yang dikukus dan setelah matang, dalam kondisi hangat dicelupkan ke pemanis warna warni dari gula merah, strawberry, burberry ataupun nanas.

Berkunjung ke kampung Muslim Xi’an tanpa mengunjungi masjidnya tentu tidak terasa lengkap karena disanalah jantung kampung Muslim yang sesungguhnya. Masjid tersebut berada di tengah kawasan, yang mana untuk menuju kesana kita mesti blusukan melewati lorong-lorong di antara toko-toko penjual cindera mata dan pakaian.

Setelah beberapa waktu menyusuri lorong-lorong dan melihat-lihat cindera mata yang dijual di sepanjang di toko-toko di kiri kanan lorong, tibalah saya di kawasan masjid rayaXi’an. Di sisi kiri pintu gerbang, terdapat sebuah loket untuk membayar tiket masuk sebesar 25 yuan per orang. Saya sendiri tidak perlu membayar tiket masuk setelah menjelaskan bahwa saya Muslim dari Indonesia, yang selain ingin melihat-lihat masjid juga akan melakukan sholat.

Memasuki kawasan masjid seluas 6.000 m2 terlihat berbagai bangunan tua dan antik dengan arsitektur khas China, yang sepertinya sudah lama sekali tidak direnovasi. Menurut sejarahnya, bangunan masjid pertama di kawasan ini didirikan pada tahun 700-an Masehi, sedangkan komplek kawasan masjid rayanya sendiri, yang pada masa itu berada di luar tembok kota, didirikan pada abad ke-14 oleh Laksamana Cheng Ho pada masa Dinasti Ming.

Lay out kompleks masjid sendiri dibuat menyerupai komplek percandian China tradisional yang dibagi ke dalam beberapa bagian halaman sebelum mencapai bagian tertinggi dari komplek tersebut yaitu bangunan tempat beribadah (masjid). Di bagian pertama, terdapat dua bangunan yang digunakan untuk menerima tamu. Di bagian kedua terdapat ruang pembersihan diri (mandi, wudhu dan sebagainya). Di bagian ketiga terdapat menara setinggi 10 meter tempat meditasi yang disebut Qing Xiu Dian. Selain itu terdapat dua menara lainnya yang digunakan sebagai tempat instrospeksi yang disebut Xing Xin Ting dan tempat mengunjungi hati atau Sheng Xin Lou. Di dua menara terakhir ini, meski namanya tempat introspeksi dan mengunjungi hati, pada hakekatnya kedua menara ini merupakan tempat pengamatan bulan dan azan.

Di bagian keempat, terdapat sebuah pavilion di tengah halaman yang disebut Feng Hua dan dua bangunan di kiri kanan yang dibangun pada masa Dinasti Qing. Pavilion dan 2 bangunan lain di bagian ini merupakan tempat belajar para santri.

Bagian terakhir adalah ruang berdoa atau masjidnya itu sendiri seluas 1.270 meter persegi dengan interior perpaduan kaligrafi China dan Islam serta dinding yang didekorasi ukiran bertuliskan ayat-ayat suci Al Quran. Saya sempat mengambil beberapa gambar interior masjid, namun karena diambil menggunakan foto ponsel dan kurangnya pencahayaan, maka mohon maaf jika gambarnya tidak terlalu jelas.

Berada di kawasan masjid ini saya merasakan ketenangan dan seolah menemukan oase di tengah hiruk pikuk transaksi dagang di lorong-lorong bagian luar, apalagi bisa berkenalan dan berbincang-bincang dengan anggota masyarakat Muslim yang ada disini, salah satunya adalah Ramizan.

Saya berkenalan dengan Ramizan atau yang nama Chinanya adalah Ma Shi Kua dan istrinya saat berada di bagian pertama komplek masjid. Saya saat itu sedang melihat-lihat ruang penerimaan tamu ketika Ramizan dan istri lewat.

Setelah menyampaikan salam, saya pun berkenalan dan berbincang singkat. Seperti halnya saya, ia pun sangat senang bisa berkenalan dengan sesama Muslim, apalagi dari Indonesia yang dikenal memiliki jumlah penduduk Muslim yang sangat besar.

Menurut Ramizan ia merupakan seorang Muslim China asal Xinjiang, Uyghur Autonomus Region, yang datang ke Xi’an hanya untuk menengok anak dan keluarganya yang sudah lama tinggal di kawasan ini.

Ditanya mengenai jumlah penduduk Muslim di Xi’an, ia memperkirakan terdapat sekitar 600 ribu anggota masyarakat Muslim Xi’an yang tersebar di berbagai tempat, bukan hanya di kawasan kampung Muslim ini. Mereka ini sebagian besar adalah masyarakat suku minoritas Hui yang sudah sejak lama dikenal sebagai penganut agama Islam dan sudah sejak ratusan tahun lalu sudah ikut dalam arus perdagangan internasional melewati jalur perdagangan yang dikenal sebagai ‘jalur sutra’. Secara fisik mereka mudah dikenali karena kulitnya yang agak kebule-bulean, namun bermata sipit dan berambut hitam.

Selain Ramizan, saya juga berkenalan dengan Mohammad Rajab, yang dengan senang hati menunjukkan dan mengantarkan saya ke tempat wudhu. Sambil berjalan ke tempat Wudhu, Mohammad Rajab bercerita bahwa ia memiliki teman Indonesia dan sesekali masih kontak-kontakan. Ia pun kemudian menunjukkan kartu nama temannya tersebut yang adalah pedagang sepatu asal Jawa Timur.

Usai blusukan dan melihat-lihat hampir sebagian besar kawasan komplek masjid dan sholat ashar, saya pun segera meninggalkan komplek masjid, berharap bisa berkunjung kembali ke tempat ini bersama keluarga.

 

2 Responses to Mengunjungi Kampung Muslim Xi’an

  1. Subhannallahhhh… bertebaran kaum muslimin di Xi’an dan hidup harmonis di negri KOMUNIS… SUPER SEKALI, terketuk tuk melihat dunia lebih dekat, makasi Pak Aris Heru Utomo

  2. nyta ningrum says:

    subhannallah.. luar biasa.. saya mengira tidak ada muslim dng jumlah besar di sana..

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *