Mengunjungi Peternakan di Mongolia

MongoliaSetelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia, akhirnya saya dan anggota delegasi Konperensi ke-32 Food and Agricultural Organization (FAO) se Asia dan Pasifik tiba di kawasan peternakan Tsonjin Boldog. Secara jarak sebenarnya kawasan Tsonjin Boldog tidak terlalu jauh dari Ulaanbaatar, tidak sampai 100 km, namun karena jalanan di atas padang rumput yang dilewati tidak beraspal dan sebagian besar tertutup lapisan salju maka bus yang kami tumpangi pun tidak bisa melaju cepat.

Musim dingin yang panjang membuat kawasan padang rumput yang di musim panas terlihat hijau, maka di musim dingin justru menjadi putih karena tertutup salju.  Tidak mengherankan jika sepanjang mata memandang yang tampak adalah hamparan padang luas, pegunungan dan perbukitan yang diselimuti salju.

Menjelang memasuki lokasi peternakan, 2 orang penunggang kuda berbadan tegap dengan berpakaian prajurit tentara Kekaisaran Mongol dan pedang di pinggang serta bendera di tangan kanan menyambut kedatangan kami dan kemudian memacu kudanya disamping bus, kadang kuda dipacu cepat seperti hendak berperang.

Melihat kedua penunggang kuda memacu tunggangannya dengan seragam tentara, pikiran saya pun seolah berputar kembali ke abad ke-13 dan sesudahnya, masa dimana Kekaisaran Mongol yang didirikan dan dipimpin Chinggis Khan dan anak cucunya, salah satunya Kubilai Khan, memperluas hegemoninya ke hampir seluruh kawasan Asia hingga Eropa. Bahkan China yang saat ini merupakan salah satu raksasa dunia, pada masa itu berada di bawah kekuasaan tentara kekaisaran Mongol. Ya pada masa itu tentara Mongol, khususnya pasukan berkudanya, memang sangat ditakuti oleh suku-suku di kawasan.

Jika di masa lalu para penunggang kuda dengan pakaian perang dan mengacungkan pedang adalah para tentara sungguhan, maka kedua penunggang yang berpakaian ala tentara Mongol yang menyambut kami sejatinya adalah para petani atau peternak yang tinggal di kawasan tersebut. Para peternak tersebut tinggal di padang rumput yang luas, jauh dari segala fasilitas kehidupan masyarakat modern. Mereka hidup dalam suatu komunitas kecil yang terdiri dari beberapa keluarga dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain (nomaden).

Karena hidup berpindah-pindah maka mereka pun tidak berdiam di suatu tempat tinggal permanen seperti rumah yang kita kenal. Mereka berdiam dalam tenda-tenda besar yang disebut ger, tanpa jendela dan hanya memiliki satu pintu. Di musim dingin, dinding ger dibuat berlapis dua atau tiga yang dilengkapi plastik untuk melindunginya dari hujan dan salju. Ger dirancang sedemikian rupa sehingga mudah dibongkar dan diangkut saat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, setidaknya 4 kali dalam setahun, tergantung musim.

Setibanya kami di kawasan peternakan, terlibat 6 buah ger dipasang berdekatan satu sama lain dan sebuah kandang ternak. Setiap ger yang beratnya sekitar 250 kg dan diameter sekitar 6-8 meter, setidaknya dihuni oleh satu keluarga. Di latar belakang terdapat bukit-bukit batu dan yang dikelilingi area tanah yang tidak ditumbuhi rumput. Menurut  keterangan pemandu wisata yang menyertai kami, kawasan tersebut dipilih sebagai lokasi pemasangan ger karena selain tanahnya keras, sehingga tidak becek saat hujan atau salju, kawasan tersebut juga tidak ditumbuhi rumput yang merupakan makanan utama hewan ternak mereka.

Di pintu gerbang tampak beberapa orang wanita Mongolia berdiri berjajar menyambut kedatangan kami, termasuk dua tentara berkuda yang tadi menjemput kedatangan bus kami. Pipi para wanita dan ‘tentara’ Chinggis Khan tersebut terlihat kemerah-merahan, bukan karena malu, tapi akibat dinginnya suhu udara yang minus 15 derajat Celcius. Meski berdiri dibawah udara dingin, mereka terlihat penuh semangat menyambut kedatangan kami, memberi salam dan tidak segan-segan untuk berfoto bersama.

Usai berfoto-foto di luar, saya pun segera memasuki salah satu ger di bagian depan. Di dalamnya terlihat 2-3 tempat tidur dan meja yang ditempatkan mengelilingi dinding ger. Sedangkan di tengah tenda terdapat sebuah perapian untuk memasak sekaligus untuk menghangatkan ruangan.

Sebagai bentuk keramahtamahan, tuan rumah menghidangkan susu kuda yang sepintas mirip dengan teh susu atau teh tarik. Selain itu disediakan pula susu kuda yang sudah dikeringkan dan mirip keju. Menurut si pemandu wisata, seperti halnya daging kuda yang bagus untuk menjaga kehangatan badan, khususnya di musim dingin, susu kuda juga memiliki manfaat yang sama. Tidak heran jika orang Mongol suka dengan daging dan susu kuda karena cocok untuk membantu mereka menahan udara di musim dingin.

Di bagian belakang ger terdapat kandang ternak semi permanen berpagar kayu yang sebagian besar terbuka untuk mengandangkan hewan ternak seperti sapi, domba, kambing, unta dan kuda di waktu malam. Ukuran kandang ternak tidak terlalu besar dan bisa menampung sekitar 200-an ternak milik bersama. Ketika saya melongok ke kandang, didalamnya terlihat puluhan ekor domba sedang memamah rumput kering, sedangkan lainnya berkeliaran bebas di padang rumput. Sementara di bagian lain tampak ditambatkan beberapa ekor kuda dan unta. Hewan ternak yang dipelihara bersama oleh setiap keluarga atau kelompok tersebut merupakan sumber utama penghasilan mereka. Selain memanfaatkan daging dan kulitnya, para peternak juga memanfaatkan susu dan bulu hewan ternak untuk dijadikan kain wool, dan cashmere.

Di Mongolia, jumlah peternak atau kelompok peternak yang mengelola peternakan keluarga (family farming) jumlahnya ribuan dan tersebar di seluruh kawasan. Tidak mengherankan jika jumlah hewan ternak di Mongolia jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan penduduk Mongolia itu sendiri. Jika menurut data statistik penduduk Mongolia hanya sekitar 2,8 juta jiwa, maka jumlah hewan ternaknya diperkirakan berjumlah 41 juta ekor.

Dengan jumlah hewan ternak yang sedemikian besar maka Mongolia tercatat sebagai salah satu negara pengekspor ternak termasuk produk olahannya seperti kulit dan kain wool serta cashmere. Namun demikian, seperti dikatakan Menteri Perindustrian dan Pertanian Mongolia, K. Batullga, Pemerintah Mongolia ingin agar kelebihan pangan di sektor peternakan dapat dilengkapi dengan pemenuhan kebutuhan di sektor pertanian dan mengingkan Mongolia menjadi negara produsen tanaman organik, yang hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,

Ditambahkan pula oleh Menteri yang mantan pegulat ini bahwa Pemerintah Mongolia bekerjasama dengan FAO membuat program yang memusatkan perhatian pada upaya-upaya menghapus tingkat kemiskinan, menyiapkan keamanan pangan dan nutrisi, memperbaiki mata pencarian petani/peternak, mengelola sumber daya alam, melindungi lingkungan dan berupaya mencapai pembangunan yang berkelanjutan di kawasan pertanian tertentu.

Namun demikian, menyadari ancaman yang akan muncul jika dilakukan eksploitasi berlebihan terhadap area tanah yang dipergunakan sebagai padang rumput, yang bisa mengakibatkan kerusakan flora dan fauna, Mongolia melakukan kerja sama secara terpadu dengan berbagai negara dan institusi pengelola pertanian, termasuk mendukung program FAO yang menjadikan tahun 2014 sebagai tahun pertanian keluarga (The International Year of Family Farming 2014).

Melihat potensi peternakan Mongolia yang sedemikian besar, banyak negara yang kemudian berminat untuk bekerja sama, salah satunya adalah Indonesia. Ketika Presiden SBY melakukan kunjungan kenegaraan ke Mongolia pada tahun 2012, keinginan untuk melakukan kerja sama di bidang pertanian dan peternakan sudah disampaikan, bahkan telah dilakukan penandatanganan MOU antara kedua negara.

Keinginan tersebut diulangi kembali saat Menteri Pertanian RI Suswono berkunjung ke Ulaanbaatar untuk menghadiri Konperensi ke-32 FAO se Asia Pasifik. Menteri Suswono menawarkan kesediaan Indonesia untuk mengimpor sapi dari Mongolia sejauh sudah tidak ada masalah dengan penyakit kuku dan mulut. Sebaliknya Indonesia juga menawarkan ekspor kelapa sawit dan buah tropis ke Mongolia.

Peluang untuk meningkatkan kerja sama perdagangan bilateral sangat besar karena sifatnya saling melengkapi. Namun demikian dalam pelaksanaannya perlu upaya yang sungguh-sungguh mengingat salah satu kesulitan yang dihadapi adalah tidak adanya transportasi langsung Indonesia-Mongolia. Para pengusaha kedua negara yang didukung pemerintah mesti dapat mencari terobosan kreatif jika ingin meningkatkan volume perdagangan bilateral Indonesia-Mongolia. Dan salah satu upayanya adalah membentuk working group dan menghidupkan MOU antara KADIN kedua negara. Anggota KADIN kedua negara mesti lebih aktif di dunia usaha, bukan justru aktif di dunia politik (Kebetulan iklim politik Indonesia dan Mongolia memiliki kemiripan dimana pengusaha terjun ke politik dan sebaliknya politikus menjadi ‘pengusaha’).

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *