Menikmati Kekayaan Sang Proklamator Kemerdekaan RI

IMG_20160805_145856Sebagai seorang proklamator kemerdekaan dan Presiden pertama Indonesia yang berkuasa penuh selama 20 tahun, Ir. Soekarno atau Bung Karno memiliki kesempatan besar untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan untuk diri sendiri dan keluarganya. Tidak heran jika setelah beliau tumbang dari kekuasaannya dan wafat pada tahun 1970 dalam status tahanan rumah, banyak pihak yang kemudian memburu harta warisan kekayaan Bung Karno dan ingin menikmatinya, bahkan hingga ke luar negeri. Hal ini dilakukan karena konon Bung Karno memiliki simpanan jutaan dollar Amerika di sebuah bank di Swiss dan menyimpan beberapa ton emas batangan di suatu tempat.

Kini, guna merayakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, untuk pertama kalinya masyarakat memiliki kesempatan untuk menikmati warisan kekayaan Bung Karno. Hal ini bisa terjadi karena sepanjang Agustus 2016 ini sejumlah kekayaan Bung Karno dibuka dan dipamerkan ke publik oleh Sekretariat Negara RI. Benarkah? Iya, benar sekali, tapi bukan warisan kekayaan berupa uang atau emas yang dipamerkan ke publik, karena hal itu mungkin hanya isapan jempol semata, melainkan kekayaan seni dan budaya dalam bentuk koleksi lukisan yang tak ternilai harganya.

Sebanyak 28 koleksi lukisan Istana Kepresidenan, dari sekitar 3.000 lukisan, yang tersimpan di beberapa Istana Kepresidenan Indonesia, antara lain Istana Kepresidenan di Jakarta, Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring-Bali dan sebagian besar adalah koleksi Bung Karno yang dikenal memiliki selera seni sangat tinggi. Sebagian koleksi itu adalah hasil upaya Presiden Soekarno sendiri, yang tak segan langsung berbelanja ke berbagai galeri atau sanggar seni. Sebagian lukisan itu juga hadiah dari pemimpin negara-negara lain saat berkunjung ke Indonesia.

Ke-28 karya lukis tersebut dipamerkan ke masyarakat lewat pameran yang bertajuk “17/71: Goresan Juang Kemerdekaan” koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia yang digelar selama sebulan penuh dari 2-30 Agustus 2016 di Galeri Nasional Indonesia di Jakarta.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, sudah sejak lama saya ingin melihat lukisan-lukisan Istana Kepresidenan, khususnya koleksi Bung Karno, yang legendaris dan menjadi bagian dari tonggak sejarah, tak hanya kesenian, tetapi juga Republik Indonesia. Ada beberapa karya asli maestro lukis Indonesia yang ingin saya lihat di antaranya adalah lukisan legendaris “Penangkapan Pangeran Diponegoro” oleh Raden Saleh dan lukisan “Kawan-kawan Revolusi” karya S. Sudjojono yang dijadikan sebagai cover buku Bung Karno “Di Bawah Bendera Revolusi”. Selain itu, saya juga penasaran ingin melihat langsung lukisan Bung Karno yang juga dikenal memiliki hobi melukis.

Alhamdullilah kedua lukisan yang saya sebutkan di atas dan juga lukisan Bung Karno menjadi bagian dari 28 karya yang dipamerkan selain karya maestro lukis Indonesia lainnya seperti Affandi, Basoeki Abdullah, Sudjono Abdullah, Dullah, Hendra Gunawan, Gambiranom Suhardi, Harijadi Sumadidjaja. Selain itu ada pula karya pelukis asing seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet dan Diego Riviera.

Lewat karya maestro lukis tersebut, saya menapak tilas sejarah perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan dan menyelami kondisi sosial masyarakat masa revolusi, potret tokoh perjuangan, dan jejak mereka hingga 1950-an.

Perjalanan diawali dengan menikmati lukisan potret Pangeran Diponegoro karya pelukis Sudjono Abdullah, kakak dari maestro pelukis Indonesia Basoeki Abdullah, yang terpampang apik di pintu masuk ruang pamer utama Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Karya yang berukuran 102 x 82,5 cm dan dilukis di atas kanvas menggunakan cat minyak dan dibuat pada tahun 1947 ini seolah menyambut kehadiran pengunjung pameran dan menginformasikan sosok Pangeran Diponegoro sebagai salah satu potret tokoh penting perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pangeran Diponegoro, sebagai seorang panglima perang kharismatik yang memimpin perlawanan terhadap Belanda di Jawa pada tahun 1825-1830, dilukis sebagai pria dengan sorot mata tajam yang tengah mengenakan pakaian ulama yang terdiri dari sorban putih, baju koko tanpa kerah dan jubah hijau, dengan sehelai selempang tersampir di bahu kanan dan keris pusaka Kanjeng Kyai Ageng Bondoyudo terselip di pinggang.

Dipilihnya lukisan potret diri Pangeran IMG_20160805_085231Diponegoro sebagai lukisan yang dipajang paling depan sepertinya bukan tanpa alasan, karena setelah lukisan ini terdapat dua lukisan lain yang menggambarkan Pangeran Diponegoro yaitu lukisan “Pangeran Diponegoro Memimpin Perang” karya Basoeki Abdullah (1949) dan tentu saja lukisan legendaris “Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh (1857).

Bersama dengan tiga lukisan Pangeran Diponegoro ini, kita juga dapat menikmati lukisan lain yang menggambarkan potret tokoh penting perjuangan kemerdekaan Indonesia lainnya, seperti “H.O.S Tjokroaminoto” karya Affandi, “Potret Jendral Sudirman” karya Gambiranon Suhardi, dan “Potret R.A Kartini” karya Trubus Sudarsono (1946).

Bintang atau iconic dari kelompok lukisan yang bertema potret tokoh penting perjuangan kemerdekaan tentu saja lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh. Dibuat di Belanda pada 1857 dan diserahkan kepada Ratu Belanda sebagai bentuk protes atas kolonialisme negeri kincir angin tersebut, lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” menjadi lukisan tertua yang dipajang di pameran Goresan Juang Kemerdekaan. Lukisan ini terinspirasi dari lukisan pelukis Belanda, Nicholaas Pienemaan berjudul “Penyerahan Diri Dipo Negoro” kepada Letnan Jendral H.M de Kock. Hanya saja Raden Saleh tidak menyebutkan Pangeran Diponegoro “menyerahkan diri” tetapi “ditangkap Belanda”.

Saya langsung berdecak kagum melihat keindahan karya Raden Saleh dan detail teknis yang luar biasa. Bagaimana setiap elemen yang ada di lukisan digarap telaten, bahkan hingga lampu kaca yang tergantung di bangunan menjadi terlkiat berkilau. Saya juga kagum dengan sikap politik Raden Saleh, yang meski membuat lukisan tersebut di Belanda, namun ia tetap memperlihatkan perlawanannya terhadap Pemerintah Belanda dengan antara lain menggambar sosok Jenderal de Kock secara tidak proporsional dan sikap tubuh Pangeran Diponegoro yang seolah menantang.

Sementara itu di sub tema berikutnya yaitu sub tema kondisi sosial masyarakat masa revolusi dapat dijumpai lukisan yang sarat akan kritik sosial dan menggambarkan kepedihan masa revolusi Indonesia. Beberapa lukisan seperti “Awan Berarak Jalan Bersimpang” dan “Biografi II di Malioboro” karya Harijadi Sumadidjaja, “Di Depan Kelambu Terbuka” dan “Kawan-kawan Revolusi” karya S Sudjojono, serta tentu saja lukisan berjudul “Rini” karya Soekarno.

DSC_1132Lukisan iconic dari kelompok ini adalah lukisan “Kawan-kawan Revolusi” karya S. Sudjojono dan “Rini” karya Soekarno. Lukisan “Kawan-kawan Revolusi” yang dibuat pada 1947 menjadi iconic karena berhasil menggambarkan wajah-wajah para pejuang dan simpatisan pejuang terlihat penuh semangat. Lukisan ini menjadi favorit Soekarno dan terpilih sebagai cover buku “Di Bawah Bendera Revolusi”.

Sementara lukisan “Rini” karya Presiden Soekarno berhasil membentot perhatian karena lukisan tersebut memperlihatkan bukti keahlian seorang Bung Karno dalam melukis. Meski sketsa awal dibuat oleh pelukis Dullah, namun penyelesaian keseluruhan dilakukan oleh Bung Karno di Istana Tampaksiring Bali. Yang tidak kalah menarik adalah tokoh Rini dalam lukisan tersebut. Banyak yang bertanya siapakah Rini. Sampoai sekarang idak ada kejelasan mengenai siapakah Rini dalam lukisan Soekarno. Ada yang bilang Rini wanita Jawa karena berkebaya dan mengenakan jarik batik, ada juga yang menyebut wajah Rini adalah gabungan wajah wanita Sasak dan Jawa.

Lukisan terakhir yang menurut saya iconic adalah karya Diego Rivera “Gadis Melayu dengan Bunga”. Diego Rivera adalah pelukis asal Meksiko yang karya-karya dipandang sangat luar biasa dan bernilai tinggi sehingga harus dilindungi oleh undang-undang negara dan dilarang dibawa keluar dari negaranya. Yang membuat paling menarik dari “Gadis Melayu dengan Bunga” ini adalah kisah diberikannya lukisan tersebut ke Indonesia. Konon Presiden Meksiko pada saat itu, Presiden Lopez, mesti mengamademen undang-undang di negerinya agar lukisan tersebut dapat diboyong ke Indonesia.

Secara keseluruhan, ke-28 lukisan yang dipamerkan kali ini sangat menarik dan mengagumkan. Hal ini memperlihatkan bahwa Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia ini selain piawai dalam berpolitik, juga sangat mencintai dan paham akan seni. Pilihan-pilihan lukisan yang menjadi koleksi Bung Karno sangat luar biasa. Dan kita patut bersyukur bahwa akhirnya bisa menikmati warisan kekayaan seni koleksi Sang Proklamator Kemerdekaan RI. Kekayaan luar biasa yang tidak ternilai dengan materi.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *