Menyusuri Jejak Masjid Kuno Kaujon di Kota Serang

Banten dikenal sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di provinsi yang paling barat di Pulau Jawa. Provinsi ini pernah menjadi bagian dari provinsi Jawa Barat, tetapi provinsi ini menjadi wilayah pemekaran sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Ibukota dan pusat pemerintahannya berada di Kota Serang. 

Di Banten ini terdapat sejumlah tempat yang menggambarkan sejarah masa silam Banten, salah satu di antaranya, yaitu Masjid Kuno Kaujon. Meski berukuran kecil yang terletak di Kampung Kaujon Pasar Sore, RT003 RW01 Kelurahan Serang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten, ini menyimpan keunikan dan saksi sejarah masa lampau. 

Dari luar bentuk masjid Kaujon Kota Serang ini terlihat memiliki kemiripan dengan bentuk masjid Demak di daerah Jawa. Kemiripan itu dicirikan dengan adanya atap tajuk dan atap cengkuk tiga. 

Baca Juga: Ini Dia Masjid dan Langgar Legendaris di Kawasan Kauman Kota Solo

Menurut Mushab Abdu Asy Syahid, salah seorang nara sumber dalam diskusi tanggal 10 Agustus 2020, yang diselenggarakan  Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten,  berdasarkan peta pada tahun 1897-an, masjid Kaujon merupakan salah satu masjid yang terdapat di Kota Serang, masjid lainnya adalah Masjid Pegantungan (At Tsauroh).

Menurut Mushab yang menarik adalah bahwa tokoh pribumi yang melatari pembangunan (renovasi?) Masjid Agung At Tsauroh (yang dikenal dengan Masjid Pegantungan) dan Masjid Kaujon adalah R.T. Basudin Tjondronregoro (1849—1870) yang ditunjuk oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memerintah sebagai regen (bupati) di Serang. Regen Basudin adalah seorang Jawa yang besar di Yogyakarta.

Latar belakang Regen Basudin yang dekat dengan kebudayaan Jawa kemudian dianggap mempengaruhi gaya arsitektur dua masjid di pinggiran pusat kota Serang, yaitu Masjid Pegantungan dan Masjid Kaujon.

Baca Juga: Mengenal Asal Usul Nama Tanjung Priok

Inilah yang menjelaskan mengapa Masjid Kaujon mirip dengan bentuk masjid Demak di daerah Jawa. Kemiripan itu dicirikan dengan adanya atap tajuk dan atap cengkuk tiga, juga adanya bentuk kemiripam masjid demak, hal itu tidak terlepas dari pengaruh tokoh politik yang ada di balik pembangunan kedua masjid tersebut.

Menurut Mushab, Masjid Pegantungan tercatat dibangun oleh Regen Basudin di tahun 1870. Pada peta tahun 1878, masjid tersebut sudah terekam, termasuk juga Masjid Kaujon.

Meski belum ada bukti tertulis yang menunjukkan waktu didirikannya masjid, selain peta yang ditunjukkan Mushab, namun jika dilihat dari sisi sejarah masa pemerintah kolonial Belanda yang pindah dari Banten Lama ke Serang pada 1830, masjid tersebut dapat diperkirakan berdiri sejak abad ke-17 atau abad ke-18.

Baca Juga: Rasa Syukur dan Bangga Orang Tua Penerima Adhi Makayasa Tahun 2022

Ini dibuktikan adanya jembatan persis di depan masjid yang dibangun pada masa pemerintah kolonial Belanda pada 1875. Masjid ini hanya berjarak sekitar 50 meter dari aliran sungai Kali Ci Banten di sebelah timur.

Pada saat itu Daerah Kaujon sendiri, oleh pemerintah kolonial Belanda dikategorikan sebagai wilayah radikal karena sering menjadi basis perlawanan orang-orang Serang, terutama dari orang-orang Kaujon, Kaloran, dan Pegantungan.

Pada tahun 1888, Pemberontakan Ki Haji Wasyid di Cilegon telah menjadi inspirasi bagi pergerakan jawara, kelompok agama, juga pejabat pribumi yang secara aktif sering berkumpul di dua masjid tersebut.

Baca Juga: Bertemu Presiden ADB, Sri Mulyani Bahas Upaya Pemenuhan Ketersediaan Vaksin

“Namun, karena pemberontakan di Cilegon gagal, gerakan pemberontakan di Serang tidak berlanjut,” papar Mushab.

Masjid ini berdiri di atas pondasi masif setinggi 60 cm dengan tiga undakan. Ruang utama masjid berbentuk segi empat dengan ukuran 10 x 10 m, dilapisi tegel berwarna putih.

Di bagian dalam masjid terdapat tempat untuk imam masjid memimpin sholat dan mimbar bagi khotib. Yang menarik, di salah satu dinding masjid dimana terdapat tempat untuk imam masjid memimpin sholat terdapat ukiran empat buah nanas: dua buah nanas yang sudah terkupas dan ada juga nanas yang belum terkupas kulitnya.

Baca Juga: Dewan Kesenian Jakarta GelarPameran Arsip dan Koleksi Seni ‘Cipta! Kapita Selekta Cikini Raya 73′

Konon ukiran empat empat buah nanas tersebut sudah ada sejak masjid didirikan. Nanas yang belum terkupas kulitnya, menggambarkan manusia yang kotor dan penuh dosa, sementara nanas yang sudah terkupas kulitnya, menggambarkan manusia yang bersih karena telah bertaubat.

Adapun filosofi dari nanas ini, jika melihat sifat nanas apabila dimakan, tidak akan kembali menjadi pohon nanas. Sementara buah lain misal mangga, jika dimakan dan bijinya lalu dibuang, akan kembali tumbuh menjadi pohon mangga.

Pesan yang ingin disampaikan pendiri masjid dan para ulama terdahulu adalah apabila sudah bertaubat, jangan sekali-kali kembali ke jalan yang salah.

Baca Juga: Pertama Kali Dalam Sejarah Indonesia, Nama Presiden RI Diabadikan Sebagai Nama Kapal Perang

Selanjutnya pada dinding luar masjid tertulis angka 1936. Menurut warga sekitar, angka tersebut menunjukkan waktu renovasi masjid tersebut. Diperkirakan masjid tersebut telah sempat direnovasi pada masa pemerintahan kolonial Belanda dengan tetap menjaga keaslian arsitektur masjidnya dan sampai saat ini masih digunakan warga untuk beribadah.

Terkait penamaan masjid, konon nama tersebut diambil dari tokoh masyarakat di daerah tersebut, yakni Ki Uju. Ini sebutan masyarakat dan pemerintah kolonial Belanda. (AHU) ***

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published.