Sensasi Teh Tarik dan Murtabak Di Kaki Menara Petronas

teh-tarik-aris-heru“Ris, gue tau elo pasti udah gak sabar untuk mencicipi salah satu kuliner kaki lima khas Malaysia kan?”, tanya Yusron, rekan saya yang mulai tiga minggu lalu bertugas di KBRI Kuala Lumpur.

“Iya nich soalnya dari kemarin makan sea food terus. Pengen nyobain kuliner khas Malaysia seperti teh tarik di tempat asalnya”, ujar saya

“Ok, ada teh tarik di kaki Menara Kembar Petronas yang rasanya khas dan nikmat. Elo pasti suka. Selain dapat menikmati teh tarik, elo juga bisa menikmati pemandangan menara Kembar Petronas sepuasnya”, jawab Yusron

“Siip kalau begitu, tapi agak malaman dikit ya. Soalnya kita kan mesti menghadiri undangan makan malam dari Duta Besar terlebih dahulu”, ujar saya kemudian

“Siap, tapi nanti makan malam dengan Duta Besar jangan kenyang-kenyang, biar masih ada tempat untuk menikmati teh tarik dan kuliner lainnya”, saran Yusron

Jadilah malam itu seusai menghadiri makan malam dengan Duta Besar RI di Kuala Lumpur, saya dan Yusron serta 2 (dua) orang anggota tim saya meluncur ke sebuah tempat di Jalan Ampang Kuala Lumpur.

Masjid Merah Panjunan dan Wujud Akulturasi Antar Budaya

masjid merah panjunan“Jauh-jauh ke Cirebon kok kita malah diajak ke masjid kecil seperti ini sich”, gerutu seorang teman saya ketika siang itu kami tiba di sebuah masjid berpagar merah bata di kawasan Panjunan Cirebon untuk menunaikan sholat dhuhur.

“Tempat wudhunya pun tidak dipisahkan antara pria dan wanita, kita kan jadi susah untuk berwudu”, gerutunya lagi, seolah gerutuannya ingin didengar oleh teman-teman yang lain. Sementara teman-teman yang lain hanya senyum-senyum saja.

Saya yang mengajak teman-teman mampir ke masjid ini pun kemudian memberikan sedikit penjelasan, meski kecil dan sederhana, tapi masjid merah ini merupakan masjid bersejarah yang didirikan pada tahun 1480 dan menjadi salah satu saksi perkembangan Islam di Cirebon. Masjid ini menjadi saksi dari kegiatan para Wali Songo (Sembilan Wali), penyebar Islam di Jawa, dalam mengkoordinasikan dalam menyiarkan agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya.

Kediaman Achmad Soebardjo Kantor Pertama Kemlu

rumah achmad soebardjo“Perjalanan seribu mil diawali dengan sebuah langkah”, demikian sebuah pepatah bijak dari Tiongkok. Demikian pula dengan perjalanan diplomasi Indonesia, dimulai dari langkah pertama dan langkah itu dimulai dari Kediaman Achmad Soebardjo di Jalan Cikini Raya No. 80, Jakarta Pusat.

Mereka yang biasa makan di warung “Ampera 2 Tak” di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, tidak jauh dari stasiun kereta Cikini, pasti sering melihat sebuah rumah besar berarsitektur Belanda yang letaknya persis di seberang warung tersebut. Tapi meski sering melihat rumah tersebut, kemungkinan besar mereka tidak tahu siapa pemilik rumah yang terletak di Jalan Cikini Raya No. 80 tersebut. Tidak ada keterangan apapun, misalnya papan nama, yang menunjukkan identitas penghuni atau pemilik rumah tersebut. Rumah itu terlihat kusam dan sepi. Hanya sesekali terlihat ada orang keluar masuk dari rumah tersebut.

Namun pada 19 Agustus 2016 lalu, sejak pagi suasana yang berbeda tampak di rumah tersebut. Pagar rumah dipasangi selendang merah putih. Sementara di halaman rumah berkibar sebuah bendera merah putih berukuran besar dan sebuah tenda putih menempel pada dinding rumah bagian depan. Tamu-tamu terlihat berdatangan memasuki rumah dan dua buah bus bertuliskan “Kementerian Luar Negeri” terlihat diparkir di pinggir jalan Cikini Raya.

Pada hari itu pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) tengah melakukan napak tilas memperingati ulang tahunnya yang ke-71 yang jatuh pada tanggal 19 Agustus 2016. Kegiatan dilakukan dengan mengunjungi rumah milik Menteri Luar Negeri (Menlu) pertama Republik Indonesia Achmad Soebardjo di Jalan Cikini Raya No. 80, Jakarta Pusat.

Mendorong Perdamaian Lewat Diplomasi Seni Lukis

MEnlu Retno“Kewajiban untuk menjaga perdamaian dunia secara jelas disebutkan dalam Konstitusi RI. Untuk itu, guna melaksanakan amanah Konstitusi, kami ke Riyadh dan Teheran untuk menemui pemimpin kedua negara guna meredakan konflik yang terjadi antara kedua negara tersebut. Di awal tahun 20116 ini, kami juga menggelar KTT Luar Biasa OKI khusus membahas status Palestina. Bukan hanya itu, kami pun terus mendorong keikutsertaan pasukan penjaga perdamaiaan asal Indonesia, yang saat ini sudah menjadi 10 besar negara penyumbang pasukan perdamaian di dunia, untuk menengahi konflik internaional”, demikian sambutan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi ketika membuka pameran lukisan tunggal karya maestro lukis Jeihan Sukmantoro yang bertajuk “Perdamaian di Bumi (Peace on Earth)” di Jakarta, 6 Agustus 2016.

“Kita sangat prihatin dengan kondisi dunia saat ini yang masih terus penuh dengan konflik. Untuk itu, saya sangat senang dapat memenuhi undangan Pak Jeihan dan membuka pameran karya-karyanya yang penuh makna dan pesan-pesan perdamaian. Saya mengapresiasi upaya Pak Jeihan untuk menyerukan pedamaian dunia lewat seni lukis. Dan melalui pameran selama dua hari ini (6-7 Agustus 2016), yang rencananya akan diikuti dengan pameran serupa di Washington DC, Amerika Serikat dan Moskow, Rusia, seruan perdamaian Indonesia kembali ditegaskan”, demikian ditambahkan oleh Menlu Retno Marsudi.

Kehadiran Menteri Luar Negeri RI dalam pembukaan pameran tunggal Jeihan, yang juga dihadiri oleh kalangan corps diplomatic di Jakarta dan pecinta seni lukis, memperlihatkan konsistensi dukungan Pemerintah Indonesia dalam ikut menjaga perdamaian dunia, bukan saja melalui jalur diplomasi dan pengiriman pasukan penjaga perdamaian tetapi juga melalui jalur seni dan budaya.

Menikmati Kekayaan Sang Proklamator Kemerdekaan RI

IMG_20160805_145856Sebagai seorang proklamator kemerdekaan dan Presiden pertama Indonesia yang berkuasa penuh selama 20 tahun, Ir. Soekarno atau Bung Karno memiliki kesempatan besar untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan untuk diri sendiri dan keluarganya. Tidak heran jika setelah beliau tumbang dari kekuasaannya dan wafat pada tahun 1970 dalam status tahanan rumah, banyak pihak yang kemudian memburu harta warisan kekayaan Bung Karno dan ingin menikmatinya, bahkan hingga ke luar negeri. Hal ini dilakukan karena konon Bung Karno memiliki simpanan jutaan dollar Amerika di sebuah bank di Swiss dan menyimpan beberapa ton emas batangan di suatu tempat.

Kini, guna merayakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71, untuk pertama kalinya masyarakat memiliki kesempatan untuk menikmati warisan kekayaan Bung Karno. Hal ini bisa terjadi karena sepanjang Agustus 2016 ini sejumlah kekayaan Bung Karno dibuka dan dipamerkan ke publik oleh Sekretariat Negara RI. Benarkah? Iya, benar sekali, tapi bukan warisan kekayaan berupa uang atau emas yang dipamerkan ke publik, karena hal itu mungkin hanya isapan jempol semata, melainkan kekayaan seni dan budaya dalam bentuk koleksi lukisan yang tak ternilai harganya.

Sebanyak 28 koleksi lukisan Istana Kepresidenan, dari sekitar 3.000 lukisan, yang tersimpan di beberapa Istana Kepresidenan Indonesia, antara lain Istana Kepresidenan di Jakarta, Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring-Bali dan sebagian besar adalah koleksi Bung Karno yang dikenal memiliki selera seni sangat tinggi. Sebagian koleksi itu adalah hasil upaya Presiden Soekarno sendiri, yang tak segan langsung berbelanja ke berbagai galeri atau sanggar seni. Sebagian lukisan itu juga hadiah dari pemimpin negara-negara lain saat berkunjung ke Indonesia.

Membaca Propaganda Tiongkok mengenai Laut Selatan

South_China_Sea_claims_mapKonflik di kawasan Laut Tiongkok Selatan (LTS) semakin hari semakin memperlihatkan eskalasi politik yang memanas akibat aksi agitasi dan propaganda Tiongkok yang memperjuangkan hak sejarahnya di LTS. Persoalan hak sejarah Tiongkok di LTS mengemuka karena memunculkan berbagai persoalan di kawasan Asia Tenggara terkait klaim tumpang tindih wilayah kedaulatan dan kepentingan maritim yang tidak didasarkan pada Konvensi Hukum Laut Internasional (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS) yang diakui masyarakat internasional sejak tahun 1982.

Karenanya tidak mengherankan jika kemudian hak sejarah Tiongkok tersebut digugat oleh Filipina pada tahun 2013. Filipina mengajukan gugatan ke Permanent Court of Arbitration (PCA) yang berkedudukan di Den Haag, Belanda, guna mempertanyakan legalitas hak sejarah Tiongkok atas LTS seperti yang dicantumkan dalam peta wilayah Tiongkok tahun 1947 yang memuat “sembilan garis putus-putus (9 dash line/9DL)”.

Setelah dilakukan pembahasan selama sekitar 3 tahun, diperkirakan dalam waktu dekat PCA akan mengeluarkan putusan yang menjawab gugatan Filipina tersebut. Menariknya, menjelang keluarnya putusan PCA, Beijing yang sedari awal menolak berpartisipasi dalam proses persidangan dan mengabaikan apa pun pandangan PCA yang berkekuatan hukum tetap, justru semakin meningkatkan agitasi dan propaganda internasional dan domestik untuk mendapatkan dukungan internasional dan dalam negeri.

Diplomasi Film Tiongkok di Indonesia

Jakarta – Tidak dapat disangsikan bahwa di era global dewasa ini, film telah menjadi media hiburan popular dan universal serta berperan sebagai medium kesenian yang sangat efektif dalam menjalankan fungsi diplomasi kebudayaan. Peran yang melekat sejak hasil rekaman kamera Auguste Lumiere dan Louis Lumiere diputar pada 1895 di Paris dan diakui sebagai film pertama di dunia.

Fakta ini pada gilirannya memunculkan kesadaran bahwa melalui film, suatu negara dapat lebih memperkenalkan dan mempromosikan citra dirinya di dunia internasional dan memanfaatkan hasilnya sebagai dasar untuk membina persahabatan dan memperkuat hubungan antar negara.

Sadar mengenai hal tersebut di atas, banyak negara yang kemudian secara aktif melakukan diplomasi publik dengan antara lain memanfaatkan film sebagai instrumen diplomasi kebudayaan, salah satunya adalah Tiongkok. Negeri tirai bambu yang telah menjelma sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar ini, dalam satu dekade terakhir ini aktif melakukan diplomasi kebudayaan menyusul Jepang dan Korea Selatan yang sudah terlebih dahulu mengekspor kesenian modern (film, musik dan sastra) mereka ke luar negeri.

Tujuannya untuk memperkenalkan kebudayaan mereka dan membangun dominasi ekonomi dan politik di luar negaranya. Sudah sejak lama Jepang dan Korea membangun dan membina kesenian modernnya dengan serius, sama seriusnya dengan upaya mereka membina primadona ekspor mereka, yaitu teknologi (mobil, alat telekomunikasi, peralatan rumah tangga dan sebagainya).

Untuk melaksanakan diplomasi kebudayaannya, khususnya dalam mempromosikan “budaya sosialis modern”-nya, Tiongkok menggelontorkan dana setidaknya US$ 10 miliar per tahun. Dana sedemikian besar tersebut tentu saja tidak digunakan untuk kegiatan perfilman semata, dana tersebut dimanfaatkan antara lain untuk membangun Institut Konfusius di berbagai perguruan tinggi dan sekolah di luar negeri, memperluas jaringan televisi internasional, menjadi tuan rumah berbagai kegiatan olah raga dan budaya serta tentu saja membuat kerja sama perfilman, antara lain bekerjasama dengan studio film Hollywood dan melakukan pemutaran film Tiongkok di berbagai negara, salah satunya ke Indonesia.

Kisah Kasih Tak Sampai Dari Mongolia Dalam

Seorang nenek yang memiliki seorang cucu wanita bernama Somiya mulai gelisah saat menyadari bahwa akan tiba masanya Somiya meninggalkannya sendirian. Jika telah menikah, Somiya akan pergi mengikuti suaminya yang tinggal di tempat lain.

Menyadari hal tersebut, sang nenek kemudian memiliki ide agar saat dewasa nanti Somiya dapat menikah dengan anak angkat laki-laki si nenek yang bernama Bayinbulag. Bayinbluga adalah anak angkat si nenek yang dipelihara sejak kanak-kanak, bersama-sama dengan Somiya, setelah ibunya meninggal dan ayahnya pindah ke kota besar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Harapan sang nenek untuk menikahkan Somiya dengan Bayinbulag sepertinya akan mudah terlaksana dan tinggal menunggu waktu karena Bayinbulag dan Somiya ternyata juga saling menyukai. Namun kenyataan justu menyatakan lain. Berawal dari permintaan ayah kandungnya , yang telah berhasil hidup di kota besar, Bayinbulag kemudian pergi ke kota untuk belajar peternakan. Bayinbulag berjanji akan kembali delapan bulan kemudian.

Ende Aru Gau dan Tenun Ikat

Aris Flores BokasapePerjalanan rombongan wisata alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 85 (Garis 85 Goes To Flores) tanggal 5 Mei 2016 dari Maumere ke Ende, yang didukung dan diorganisasikan oleh Wuamesu Indonesia, kembali berlanjut. Setelah sebelumnya singgah di pantai Paga, maka persinggahan berikutnya dari rombongan kami adalah Madrasah Tsanawiah Negeri ( MTs.N) Wolowaru, Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Persinggahan di Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape ini, sejujurnya merupakan kejutan pertama yang menyenangkan, karena tidak tercantum di program acara. Awalnya, saya mengira bahwa setelah singgah di pantai Paga, acara selanjutnya adalah makan siang bersama di rumah makan, maklum karena memang sudah waktunya makan siang.

Alih-alih menuju rumah makan, 3 (tiga) bus rombongan yang mengangkut kami justru berbelok menuju Kampung Detuhi, Kelurahan Bokasape, tepatnya menuju MTs.N Wolowaru. Seolah menyambut kedatangan rombongan, gerimis turun membasahi bumi dan semakin deras. Sekelompok ibu-ibu berumur berpakaian hijau dan  bawahan sarung kain tenun ikat khas Ende tampak sudah bersiap di depan pintu gerbang MTs.N menunggu kedatangan kami.

Segera setelah kami memasuki pintu gerbang, tanpa memperdulikan hujan yang semakin deras, ibu-ibu tersebut dengan lincah menarikan tarian selamat datang diiringi musik tradisional Nggo Wani. Sambil menari ibu-ibu tersebut mengarahkan rombongan ke ruang kelas MTs.N yang telah dipersiapkan untuk seluruh anggota rombongan. Lurah Bokasape dan para tokoh masyarakat Wolowaru serta ibu-ibu anggota masyarakat berjajar di depan ruang kelas dan menyalami anggota rombongan satu persatu serta mempersilahkannya masuk ke ruang kelas.

Indahnya Lukisan Alam Pantai Paga

Pantai PagaSetelah menempuh perjalanan udara Jakarta-Kupang-Maumere, rombonganGaris 85 Goes to Flores” Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia angkatan 85 (FHUI 85 atau Garis 85) dan Wuamesu Indonesia, organisasi masyarakat Ende di Jakarta, tiba di Bandara Frans Seda Maumere pada sekitar pukul 8 WITA  (5 Mei 2016). Dari Maumere rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Ende lewat jalan darat menggunakan 3 (tiga) buah bus berukuran sedang.

Mengawali perjalanan menuju Ende, Kristo, pemandu lokal dan seorang anggota panitia dari Wuamesu yang mengkoordinasikan tour bersama Garis 85, menginformasikan bahwa di tengah perjalanan nanti, rombongan akan singgah sejenak di Pantai Paga, sekitar 48 km dari Maumere.

Dimana lokasi Pantai Paga? Begitu mungkin pertanyaan yang mengemuka saat mendengar pertama kali nama pantai Paga. Ya, mungkin dibandingkan nama-nama pantai lainnya di Indonesia, sebutkannlah semisal pantai Kuta dan Senggigi di Pulau Bali, nama pantai Paga masih kalah populer.

Dari informasi yang  diperoleh, pantai Paga terletak di Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Pantai Paga merupakan salah satu pantai di Pulau Flores yang menyajikan pemandangan alam yang indah dengan hamparan laut biru dan pasir pantai putih yang masih alami.

Menatap Pesona Keindahan Dana Kelimutu

danau kelimutu tour arisIndonesia merupakan negeri yang banyak memiliki kawasan wisata alam yang sangat indah dan tersebar di seluruh provinsi, salah satunya adalah danau tiga warna di puncak Gunung Kelimutu. Danau yang juga dikenal sebagai Danau Kelimutu ini terletak di Pulau Flores, tepatnya di Desa Perno, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Secara teknis, tempat yang disebut sebagai danau tiga warna ini merupakan tiga buah kawah yang menyerupai danau dimana pada masing-masing kawah terkandung cairan lava gunung yang berbeda-beda warnanya, seperti merah, hijau dan putih. Kombinasi tiga warna lava gunung menjadi perpaduan sempurna yang memunculkan fenomena dan keindahan luar biasa yang hanya bisa dijumpai di Indonesia, khususnya Pulau Flores. Karenanya berkunjung ke Pulau Flores, khususnya Kabupaten Ende, tanpa pernah mendaki Gunung Kelimutu dan menatap langsung keindahan danau tiga warna, sama saja belum berkunjung ke Flores. begitu dikemukakan salah seorang peserta tour.

Kelimutu sendiri merupakan gabungan kata dari “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada Danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.

Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna- warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau “Tiwu Ata Polo” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Merawat Silahturahmi Lewat Aksi Ulang Foto Lawas

FB_IMG_1455752207135Jika sebuah gambar lebih bermakna dari seribu kata, maka sebuah foto bukan hanya lebih bermakna dari seribu kata tetapi juga memiliki makna lebih dari itu, merekam peristiwa dan menyimpannya dalam kurun waktu yang sangat lama, bahkan seumur hidup. Sebuah foto bisa menjadi bukti sejarah bahwa pada suatu masa kita pernah berada di suatu tempat, baik sendiri maupun bersama-sama keluarga, kerabat, sahabat dan lainnya.

Menatap sebuah foto, apalagi jika terdapat diri kita di dalamnya, maka ingatan kita akan terbawa pada suatu kenangan akan suatu tempat dan masa tertentu yang tidak mungkin kembali. Melihat-lihat foto-foto masa lalu bisa menjadi hal yang menyenangkan. Kita bisa mengumpulkan kenangan-kenangan yang terserak yang mungkin membuat kita bisa lebih bijaksana.

Tentu saja bukan hal mudah untuk mengembalikan kenangan yang terserak di masa lalu ke masa kini. Ibarat bermain puzzle, kita mesti mengumpulkan keping-keping kenangan satu demi satu untuk mendapatkan sebuah gambaran yang utuh, yang bahkan kita tidak tahu apakah kepingan-kepingan itu masih lengkap atau tidak.

Nach ibarat bermain puzzle, saya dan teman-teman SMA mencoba melakukan rekonstruksi kenangan di masa sekolah berdasarkan foto-foto saat itu, salah satunya adalah saat bermain di kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol sekitar tahun 1983. Saat itu, tujuh orang sekawan (Saya, Hermen, Karnadi, Mulad Wibowo, Mulyadi, Purwanto dan Priyo Rahardjo) dengan masih berseragam sekolah memanfaatkan waktu kosong di sekolah untuk bermain-main di pantai Ancol. Saat itu kawasan pantai Ancol belum seramai dan sepadat seperti sekarang. Belum ada tempat hiburan seperti Dunia Fantasi ataupun kereta gantung (Gondola).