Semangat Pantang Menyerah Hingga Pluit Akhir

Piala Dunia Sepakbola selalu menghadirkan kisah perjuangan para pemainnya hingga pluit terakhir berbunyi pada babak normal dan perpanjangan waktu serta saat adu penalti, seperti tersaji pada babak perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar, Jumat (09/12/2022). 

Brasil yang berjumpa Kroasia, sepertinya sudah bersiap-siap melaju ke babak semi final ketika Neymar mencetak gol pada menit ke-113.

Namun Kroasia yang tertinggal tidak berhenti berjuang dan berusaha mengejar ketertinggalannya. Hasilnya,  gol balasan dicetak lewat kaki Bruno Petkovic dua menit menjelang pluit akhir berbunyi. Gol balasan yang memaksa dilakukannya adu penalti

Langkah Brasil di Piala Dunia 2022 akhirnya terhenti di perempat final. ketika para pemain Selecao gagal dalam drama adu penalti dengan skor 1-3. Para pemain Selecao yang tampil atraktif di Qatar, gagal membobol gawang kiper Kroasia Dominik Livakovi?, dan akhirnya harus tertunduk lesu di lapangan. Neymar pun tidak kuasa menahan tangisnya

Drama adu penalti dan kisah perjuangan hingga akhir para pemain sepakbola juga terjadi pada pertandingan Belanda melawan Argentina yang berlangsung di Stadion Iconic Lusail. Penonton pada awalnya mengira bahwa Belanda sudah akan kalah dalam babak normal setelah tertinggal 0-2 hingga menit ke-73.

Lionel Messi tampil gemilang dalam pertandingan ini. Dia memberi assist kepada Nahuel Molina pada gol pembuka di menit ke-35, sebelum mencatatkan namanya sendiri lewat penalti di menit ke-73.

Gol yang memberikan keunggulan 2-0 sebelum disamakan Tim Oranje di menit-menit akhir pertandingan. Belanda tampil menyerang dan mendapat dua gol penyama kedudukan di menit ke-83 dan 90+10 melalui pemain pengganti Wout Weghorst. 

Semangat yang ditunjukkan para pemain Kroasia dan Belanda dalam mengejar ketertinggalan hingga pluit akhir berbunyi menunjukkan bahwa dalam olahraga, dalam kiatan ini sepakbola, para pemain tidak mengenal kata menyerah meski dalam keadaan tertinggal.

Seperti dikemukakan oleh tokoh komik manga Area no Kishi yang bernama Kakeru Aizawa, adik dari Suguru Aizawa, seorang kapten sepak bola SMA Kamakura yang sangat berbakat, dia bahkan berhasil masuk dalam tim U-15 Jepang, sebuah tim kalah dalam dua kondisi, yaitu ketika peluit panjang berbunyi dan ketika sebuah tim menyerah untuk mengejar ketertinggalan. Makna dari pernyataan Kakeru Aizawa tersebut jelas:  jangan menyerah sebelum peluit akhir pertandingan berbunyi.

Ujaran serupa juga terdapat di Belanda, yang berbunyi “Onthoud waarom u bent begonnen voordat u stopt”,  yang artinya “Sebelum berhenti, ingatlah kenapa kamu memulai”. Selain  di Belanda, ujaran serupa ini juga mungkin saja terdapat di berbagai negara lainnya. Setiap negara memiliki ujaran-ujaran yang lahir sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di masyarakatnya atau kearifan lokal masing-masing.

Makna untuk jangan pantang menyerah sangat bagus untuk memotivasi seseorang untuk terus berusaha dan bangkit dari ketertinggalan. Namun demikian, ujaran tersebut bisa jadi dianggap sebagai ujaran yang sulit dilaksanakan oleh sebuah tim untuk berjuang dengan gigih untuk membalikkan keadaan atau mengejar ketertinggalan yang mereka alami. Apalagi jika skor sudah menunjukkan angka yang muskil untuk dikejar, maka sebuah tim memilih untuk bermain apa adanya, sekadar menghabiskan waktu saja agar penderitaan yang mereka alami segera berakhir.

Para pemain Kroasia dan Belanda menunjukkan bahwa tidak ada yang muskil untuk dikejar, apapun hasil akhirnya. Pemain Kroasia bisa menyamakan kedudukan dua menit jelang pertandingan berakhir sehingga bisa memaksakan adu penalti. Di babak adu penalti, dua pemain Kroasia mencetak gol dengan sempurna di awal drama adu penalti. Sementara dua pemain Brasil, sepertinya kalah motivasi sehingga gagal di dua tembakan pertama. Kroasia pun menang dengan skor 3-1.

Semangat pantang menyerah hinga akhir juga ditunjukkan para pemain Belanda di babak adu penalti Tertinggal dua gol karena dua penendang pertama gagal menceploskan bola ke gawang Argentina yang dijaga Lisandro Martinez, tiga pemain Belanda berikutnya dapat mencetak gol tersisa. 

Gol yang memberikan tekanan kepada pemain terakhir Argentina untuk mencetak gol (setelah pemain ke empat Argentina gagal mencetak gol). Kalau penendang terakhir Argentina gagal mencetak gol, maka kedudukan akan seri 3-3 dan dilanjutkan ke penendang berikut (dengan keuntungan mental berbalik ke Belanda). 

Sayangnya Lamentus Martizes, penendang terakhir Argentina sukses melesakkan bola ke gawang Belanda. Argentina melaju ke babak semi final, sementara para pemain Belanda harus pulang ke tanah airnya lebih cepat, namun dengan kepala tegak, tidak menyerah hingga pluit akhir berbunyi. Mereka kalah karena di drama adu penalti, mereka lebih sedikit melesakkan gol ke gawang lawannya, bukan karena bola itu bundar.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published.