Ziarah ke Makam Coco di Panteon de Dolores

Sudah pernah nonton film COCO? Kalau sudah pasti tau dong siapa yang bernama Coco? Nah konon makam si tokoh Coco yang ternyata bernama Renata Gigma berada di pemakaman umum Panteon de Dolores, Mexico City. Makam tersebut merupakan satu dari 700.000 makam yang berada di area pemakaman tersebut.

Pemakaman umum seluas sekitar 500 hektar dan merupakan pemakaman sipil terluas di Amerika Latin ini diresmikan pada tahun 1875. Pemakaman ini didirikan oleh Juan Manuel Benfield, pemilik peternakan kuda di Coscoacoaco. Sebagai seorang tuan tanah, Benfield mulai membangun kawasan pemakaman pada tahun 1870 untuk menghormati adiknya yang meninggal di Veracruz saat baru tiba dari London.

Pada saat itu satu-satunya pemakaman yang ada disana adalah pemakaman untuk keluarga Katholik Roma, sedangkan ia berasal dari keluarga Anglican. Benfield sendiri ketika wafat dimakamkan disini dan ditempatkan paling depan sehingga setiap orang yang memasuki area pemakaman Panteon de Delorosa akan melewati makamnya.

Kembali ke cerita makam Coco, kalau saja tidak ada poster yang ditempelkan di tembok, mungkin tidak ada yang tahu makam siapakah itu karena memang tidak ada nama dan batu nisannya. Apalagi letak makamnya yang berada di pinggiran, berbatasan dengan tembok kawasan pemakaman. Hal tersebut bisa dimaklumi karena Coco memang hanya seorang anggota masyarakat biasa, bukan tokoh terkenal.

Beda dengan makam-makam yang berada di area Rotonda de las Personas Ilustres, yang didirikan tidak jauh dari pintu masuk. Di area pemakaman yang dirancang dengan bentuk melingkar ini, dimakamkan tokoh-tokoh terkenal di Meksiko yang dianggap telah mengagungkan nilai-nilai sipil, nasionalme dan kemanusiaan Meksiko. Bentuk makam yang terdapat di area inipun sangat unik dan dibangun sesuai dengan profesi si tokoh. Makam-makam tersebut tidak terkesan sebagai sebuah makam tapi lebih sebagai sebuah monumen penghormatan bagi masing-masing tokoh.

Menurut data Badan Arsip Nasional Meksiko di area ini terdapat 104 orang tokoh terkenal seperti mantan presiden, pahlawan revolusi, diplomat, penulis, artis dan ilmuwan. Saya melihat ada makam Diego Rivera, seorang pelukis terkemuka dan suami dari Frida Kalo yang juga seniman (dalam film Coco tokoh Frida Kalo sempat muncul). Makamnya berbentuk peti mati dengan penampakan jasadnya di atas peti mati dan kepala Diego Rivera muncul di batu nisan berukuran besar.

Menariknya, meski Panteon de Delorosa merupakan kawasan pemakaman, namun di area Rotonda de las Personas Illustres terdapat arena untuk pertunjukkan seni dengan disain tempat duduk bagi penonton berbentuk melingkar. Arena tersebut disiapkan sebagai ruang terbuka dan tempat beragam pertunjukan. Siang itu ketika saya berkunjung kesana, sedang berlangsung pertunjukan musik akustik oleh tiga orang musisi. Lagu-lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu pop, bukan lagu kematian yang sedih.

Kesan saya, meski nuansa pemakaman masih sangat kental, ya namanya juga makam alias kuburan, namun saya melihat bahwa orang Meksiko tidak menganggap kuburan sebagai hal yang menyeramkan. Octavio Paz, penulis Meksiko terkenal, menulis “Orang Meksiko … akrab dengan kematian, bercanda tentang hal itu, mengelusnya, tidur dengannya, merayakannya. Dia menganggapnya sebagai mainan favoritnya dan cintanya yang paling abadi. ” Ditambahkan pula oleh Paz “Setidaknya kematian tidak disembunyikan: ia memandangnya secara langsung, dengan ketidaksabaran, jijik atau ironi.”

Karena tidak heran jika keluarga yang berziarah terlihat seperti sedang piknik, membawa makanan dan minuman dan ngobrol santai di sekitar makam sambil mendengarkan musik dari radio. Kehadiran beberapa pengamen yang berkeliling untuk mengais rejeki dengan menyanyi di depan makam menjadikan suasana makam lebuh meriah. Aalagi ditambah kehadiran pedagang makanan dan minuman yang tidak kalah seru berteriak menjajakan dagangannya. Suasananya mirip pasar seperti di adegan di film Coco.

Bahwa orang Meksiko tidak memandang kuburan sebagai hal yang menyeramkan juga diperkuay oleh cara pandang orang Meksiko dalam melihat arwah orang mati. Orang Meksiko meyakini bahwa arwah orang mati tetap bagian dari keluarga dan kerap datang mengunjunginya. Mereka yakin bahwa setiap tanggal 1-2 November pintu surga dibuka sehingga para arwah akan turun ke bumi mengunjungi sanak keluarganya.

Untuk menyambut kehadiran arwah anggota keluarga, selain membersihkan makam, anggota keluarga yang masih hidup menyiapkan altar, di rumah ataupun makam. Altar ini antara lain berisi foto orang yang meninggal, makanan dan minuman dan bunga kuning untuk menyambut kedatangan arwah. Mereka berharap arwah yang datang akan senang karena disambut dengan baik. Arwah juga akan senang karena tetap dianggap sebagai anggota keluarga sehingga melempangkan jalannya di surga. Ingat adegan di fIlm Coco ketika tokoh Hektor sempat tidak bisa melewati pemeriksaan imigrasi surga karena belum diakui oleh keluarganya?

Hektor ditolak berulang kali oleh petugas imigrasi saat akan melewati jembatan ke surga karena hingga saat pemeriksaan ia tidak dianggap sebagai bagian dari anggota keluarganya sendiri. Keluarganya, terutama istrinya yang bernama Imelda, menolak mengakuinya sebagai anggota keluarga karena beranggapan Hektor tidak bertanggungjawab sebagai kepala keluarga dan meninggalkan keluarga untuk mengejar impiannya menjadi musisi. Ia menghilang begitu saja tanpa ada kabar berita.

Karena kesal, Imelda membuang semua alat musik yang ada di rumah dan mengharamkan keturunannya untuk menjadi musisi. Bukan hanya itu, ia pun merobek foto keluarga (yang bergambar Hektor, Imelda dan Coco kecil) tepat di bagian kepala Hektor dan melipat bagian foto bagian tangan yang menunjukkan Hektor sedang memegang gitar. Akibatnya tidak ada lagi keturunannya yang tahu siapa pria di foto tersebut.

Tidak ada satupun yang tahu mengenai alasan Hektor menghilang tanpa kabar berita. Sampai akhirnya setelah puluhan tahun kemudian rahasia menghilangnya Hektor terbongkar ketika cicit (cucunya cucu) Hektor yang bernama Miguel tanpa sengaja memasuki alam akhirat dan berinteraksi dengan arwah kakek nenek, buyut, paman dan anggota keluarga lainnya.

Miguel yang bercita-cita menjadi musisi, namun dilarang keras oleh neneknya, awalnya tanpa sengaja menjatuhkan bingkai foto nenek dan kakek buyut yang bergambar Imelda, Coco kecil dan pria tanpa kepala. Setelah bagian foto yang terlipat dibuka, diketahui bahwa foto pria tanpa kepala tersebut sedang memegang gitar. Karena itu Miguel yakin bahwa pria tanpa kepala yang merupakan kakek buyutnya adalah seorang musisi dan semakin menguatkan niatnya menjadi musisi seperti kakek buyutnya.

Melihat kemiripan foto gitar yang dipegang kakek buyutnya dengan gitar lama yang ia temukan digidang dan gitar di monumen penyanyi terkenal dan legendaris Ernesto de la Cruz, awalnya Miguel mengira bahwa kakek buyutnya adalah Ernesto. Tapi setelah melalui interaksi panjang di alam akhirat, diketahui bahwa ternyata Ernesto bukan kakek buyutnya tetapi justru pembunuh kakek buyutnya yang ternyata Hektor. Ernesto muda meracuni Hektor hingga tewas dan menyembunyikan jasadnya. Ernesto melakukan itu karena ketahuan mencuri karya-karya musik Hektor dan mengakui sebagai karyanya.

Akhir film berakhir bahagia karena nasib Hektor akhirnya diketahui. Ia tidak menghilang karena tidak bertanggung jawab kepada keluarga tapi karena dibunuh. Potongan foto kepala Hektor pun ternyata masih ada dan disimpan Coco yang sudah sangat tua. Setelah potongan foto bagian kepala disatukan kembali maka Hektor pun kemudian bisa melewati imigrasi surga dan menyeberangi jembatan bersama Imelda dan Coco yang kemudian menyusulnya.

#dayofthedeath
#panteodedolores
#coco

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *