Halal Bihalal Galas 84 Tahun 2023

Membaca istilah halal bihalal, tidak sedikit yang mengira bahwa istilah tersebut merujuk ke pada kebiasaan yang dilakukan masyarakat Arab, khususnya di Mekkah dan Madinah.

Namun nyatanya, istilah halal bihalal merujuk pada tradisi khas di Indonesia pasca hari raya Idul Fitri di mana umat muslim bertemu satu sama lain untuk saling menghalalkan segala sesuatu yang salah dalam hubungan antar manusia atau saling memaafkan. Dengan saling memaafkan, semua kekusutan, kekeruhan, dan kesalahan tersebut akan lebur dan kembali seperti keadaan semula

Di Indonesia, tradisi halal bihalal sendiri dimulai sejak tahun 1948. Pada saat itu, Negara Republik Indonesia (NRI) yang masih berusia balita dihadapkan pada ancaman perpecahan akibat perseteruan dan perbedaan pendapat antara para pemimpin pergerakan dan tokoh masyarakat, pada saat yang bersamaan NRI dihadapkan pada agresi militer Belanda pada tahun 1947.

Mie Koba, Sajian Mie Kuah Ikan Khas Bangka

Berkunjung ke Provinsi Bangka Belitung (Babel), terurtama pulau Bangka rasanya kurang lengkap tanpa mencoba kuliner khas Bangka, seperti mie koba. 

Mie koba adalah safian kuli ner bertahan dasar mie asal kota Koba di kabupaten Bangka Tengah, sekitar satu jam perjalanan dari Ibu kota Bangka Belitung, Pangkalpinang. 

Selain di tempat asalnya, mie koba dapat dijumpai di ibu kota Provinsi Babel, Pangkalpinang, salah satunya adalah kedai mie koba Iskandar di Jalan Balai. Setiap hari kedai ini banyak dikunjungi penyuka kuliner, bukan hanya warga Pangkalpinang, tetapi juga pendatang.

Di kedai mie koba Iskandar ini hanya ada menu tunggal yang ditawarkan yaitu mie koba dan telur rebus. Minuman yang dijual pun hanya air mineral dan teh botol. Tidak ada makanan atau minuman lain yang didagangkan seperti kerupuk, gorengan, teh manis, jeruk hangat atau minuman lainnya.

Kedai Kopi Tung Tau Yang Melegenda di Pulau Bangka

Ngoni di kedai kopi Tung Tau

Pulau Bangka lebih dikenal sebagai penghasil timah, bukan penghasil kopi. Tapi warga di pulau ini sangat akrab dan menyukai kopi. Tidak mengherankan apabila di ibukota Provinsi Bangka Belitung (Babel) Pangkalpinang saja, dapat dengan mudah dijumpai warung kopi yang buka 24 jam di setiap sudut kota.

Salah satu kedai kopi yang sudah melegenda di Pangkalpinang adalah kedai kopi Tung Tau yang sudah ada sejak 1938. Nama kedai kopi Tung Tau diambil dari nama pendirinya, yaitu Fung Tung Tau

Kedai kopi ini menawarkan suasana tempo dulu yang khas dan mempertahankan ‘resep’ pembuatan kopi secara tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kelebihan ini yang membuat kopi Tung Tau melegenda kenikmatannya.

Menurut warga Pangkalpinang, saat berjayanya tambang timah di Pulau Bangka, kedai kopi Tung Tau menjadi tempat nongkrong favorit para karyawan PT. Timah serta orang-orang Belanda yang menetap di sana kala itu.

Tempe Setengah Jadi

Tempe

Di sebuah desa hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yg dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. 

Ia jalani hidup dgn riang. “Jika tempe ini yg nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya…?”, Demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi dia berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe …,  dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yg dia letakkan di atas meja panjang. Tapiii…,  Deg! dadanya gemuruh. Tempe yg akan di jual, ternyata belum jadi….?

Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. 

Tempe itu masih harus menunggu 1 hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas…? Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai lagi.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tau.., jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, ditengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa …, 

Pele dan Keadilan Sang Hakim

Bagi penggemar sepak bola, nama pesepak bola Brasil Pele yang memiliki nama asli Edson Arantes do Nascimento bukanlah nama yang asing. Pele yang lahir di Tres Coracoes, negara bagian Minas Derais pada 23 Oktober 1940 dan meninggal dunia pada 30 Desember 2022 di Sao Paulo merupakan salah satu atlet sepak bola terbaik sepanjang masa dan disukai banyak orang, termasuk warga masyarakat Aceh, Indonesia. 

Salah seorang warga Aceh yang menyukai Pele adalah Mudasir, seorang petani miskin di sebuah kampung pesisir barat Aceh. Ia didakwa telah mencuri seekor sapi milik seorang pengusaha peternakan bernama Haji Sulaeman.

Ketika diminta Ketua Majelis Hakim untuk menerangkan peristiwa yang sebenarnya terjadi dan alasan memberikan nama Pele kepada sapi yang dianggap miliknya, Mudasir menjawab: “Iya benar Yang Mulia, saya membawa sapi tersebut dari peternakan milik Haji Sulaeman, tapi saya tidak mencuri karena itu si Pele, sapi milik saya”.

“Kenapa diberi nama Pele?,” tanya Ketua Majelis Hakim

“Karena saya mengidolakan Pele, pemain sepak bola dari Brazil,” jawab Mudasir

Keceriaan Anak-Anak Korban Gempa Cianjur Bareng BPIP dan Rumah Garuda

Gempa berskala 5,8 Richter terjadi di Cianjur pada November 2022 dan menimbulkan korban sekitar 600 orang dan ribuan rumah rusak.

Korban yang slamat kemudian ditampung di sejumlah tempat pengungsian yang tersebar di berbagai tempat di Cianjur yang aman dari gemma susulan.

Untuk membantu korban gempa, bányák masyarakat Indonesia yang tergerak untuk ikut membantu meringankan dengan bántuan tunai dan non-tunai, termasuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang berkunjung ke Cianjur pada 27 Desember 2022.

Selain memberikan bantuan tunai dan sejumlah harang, BPIP bersama dengan Rumah Garuda memberikan kepada anak-anak letat kegiatan mendongeng bersama tentang Pancasila.

Keceriaan dan kebahagiaan terpancar dari raut wajah anak-anak korban gempa bumi di desa Suka Mekar, Kecamatan Cigeunang, Kabupaten Cianjur saat diajak belajar sambil bermain oleh BPIP dan Rumah Garuda di temopat pengungsian pada kahir ntahun 2022 lalu. 

Bubur Cianjur Nan Menggoda

Kan kuingat di dalam hatiku

Betapa indah semalam di Cianjur

Janji kasih yang t’lah kau ucapkan

Penuh kenangan yang takkan terlupakan

Begitu penggalan lirik lagu “Semalam di Cianjur” yang dinyanyikan Alfian Harahap dan terkenal di tahun 1960-an. 

Konon lagu tersebut terinspirasi dari kunjungan sang penyanyi ke Cianjur untuk manggung di Wisma Karya di Jalan Mohammad Ali pada tahun 1960-an. Pada saat itu, Alfian sempat berkenalan dan”digosipkan” jatuh cinta dengan seorang mojang Cianjur keturunan Tioghoa-Sunda,”Namanya Leni. 

Nah terinspirasi dari judul lagu “Semalam di Cianjur”, penulis menuangkan pengalaman semalam di Cianjur pada 26 Desember 2022, khususnya terkait dengan kuliner khas kota tersebut yaitu bubur ayam.

Bagi anda penggemar bubur ayam, baik yang berfaham bubur diaduk atau makan dari pinggir, pasti tahu bahwa di Jabodetabek banyak pedagang bubur ayam yang berasal dari Cianjur. 

Mereka biasanya berjualan bubur ayam dengan menggunakan gerobak dan mangkal di suatu tempat tertentu.

Meneladani Semangat Membaca Sukarno

Proklamator Kemerdekaan RI dan Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno atau Bung Karno dikenal cerdas, tegas, dan berani dalam melawan bangsa luar yang menindas Indonesia. 

Sikap Bung Karno tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh sejak masa muda. Ia antara lain memiliki kebiasaan membaca yang kuat di usia muda. Bung Karno merupakan pembaca “bebas” yang bisa berpindah topik bacaan begitu minatnya berubah atau ketertarikannya berpindah. 

Bung Karno pun memiliki kemampuan berkomunikasi yang sangat baik. Ia terampil memakai idiom atau kata-kata kunci yang tepat sasaran untuk pendengarnya, khususnya rakyat jelata.

Dalam sebuah video yang menampilkan Presiden Soekarno diwawancarai oleh 2 wartawan asing (Amerika Serikat dan Jerman) pada bulan September 1965, mulai menit 17.50 Bung Karno menceritakan bagaimana beliau bertemu dengan dengan tokoh-tokoh dunia lewat membaca sejak muda. Ia membaca pemikiran tokoh-tokoh dunia lewat buku-buku, bukan hanya sekali tetapi bahkan sebuah buku dibaca 2-3 kali. 

Melalui buku-buku, Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Danton, Mazzini, Garibaldi, Marx, Engels, Gladstone, Webb. Ia juga bertemu dengan Hitler. “Ya saya membaca Mein Kamf three times. I also read other books about Hitler,” aku Sukarno.

Presiden Joko Widodo Ingatkan Pentingnya Bangun Kemitraan Setara ASEAN-UE

Kita tidak hanya harus maju bersama, namun juga harus maju setara! – Presiden Jokowi, KTT ASEAN-Uni Eropa

Brussel, ibukota Belgia pada Rabu (14/12/2022) ramai dihadiri Kepala Negara dan pemerintahan negara-negara anggota ASEAN, salah satunya adalah Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), yang menghadapi KTT Peringatan 45 Tahun ASEAN – Uni Eropa.

Dalam pertemuan di Gedung Uni Europa, Rabu siang, Presiden disambut resmi oleh Presiden Dewan Eropa Charles Michel dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Pada kesempatan berpidato, menggunakan Bahasa Indonesia, Presiden Jokowi menyatakan bahwa kemitraan ASEAN-UE harus didasarkan pada prinsip kesetaraan. 

Penaklukan Eropa oleh Maroko

Dalam sejarah Umat Muslim, nama Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau bukanlah sebuah nama yang asing.

Thariq bin Ziyad adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara, yang memimpin pasukan Muslim melakukan penaklukan wilayah Iberia, Spanyol. Pada Senin, 3 Mei 711 M, Thariq membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. 

Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki.

Setahun kemudian, Rabu, 16 Ramadhan 93 H, datang 10.000 pasukan dibawah pimpinan Musa bin Nusair  menyusul Thariq. Dalam perjalanan ia berhasil menaklukkan Merida, Sionia, dan Sevilla. Sementara pasukan Thariq memabagi pasukannya untuk menaklukkan Cordova, Granada, dan Malaga. Ia sendiri membawa sebagian pasukannya menaklukkan Toledo, ibukota Spantol saat itu. Semua ditaklukkan tanpa perlawanan.

Semangat Pantang Menyerah Hingga Pluit Akhir

Piala Dunia Sepakbola selalu menghadirkan kisah perjuangan para pemainnya hingga pluit terakhir berbunyi pada babak normal dan perpanjangan waktu serta saat adu penalti, seperti tersaji pada babak perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar, Jumat (09/12/2022). 

Brasil yang berjumpa Kroasia, sepertinya sudah bersiap-siap melaju ke babak semi final ketika Neymar mencetak gol pada menit ke-113.

Namun Kroasia yang tertinggal tidak berhenti berjuang dan berusaha mengejar ketertinggalannya. Hasilnya,  gol balasan dicetak lewat kaki Bruno Petkovic dua menit menjelang pluit akhir berbunyi. Gol balasan yang memaksa dilakukannya adu penalti

Langkah Brasil di Piala Dunia 2022 akhirnya terhenti di perempat final. ketika para pemain Selecao gagal dalam drama adu penalti dengan skor 1-3. Para pemain Selecao yang tampil atraktif di Qatar, gagal membobol gawang kiper Kroasia Dominik Livakovi?, dan akhirnya harus tertunduk lesu di lapangan. Neymar pun tidak kuasa menahan tangisnya

Mengkaji Karya Bung Karno di Ende

1 Juni 2022 merupakan hari yang istimewa bagi masyarakat Ende karena untuk pertama kalinya peringatan Hari Lahir Pancasila tidak dilakukan di ibu kota negara, melainkan dipusatkan di kota Ende, sebuah ibukota Kabupaten Ende, provinsi Nusa Tenggara Timur. Kota ini merupakan Kota Kabupaten terbesar di Pulau Flores berdasarkan jumlah penduduk dalam kota.

Tidak sedikit orang yang kemudian menanyakan alasan mengapa peringatan Hari Lahir Pancasila pada tahun 2022 ini dipusatkan di Ende. Jawabannya tidak terlepas dari fakta sejarah bahwa selama 4 tahun 9 bulan dan 4 hari (14 Januari 1934 – 18 Oktober 1938) Sukarno atau Bung Karno pernah tinggal di Ende karena diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Saat diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Kota Ende inilah Sukarno mematangkan ide tentang dasar falsafah yang dapat berfungsi untuk menyatukan bangsa Indonesia yang bersifat majemuk dan menjadi dasar perjuangan kemerdekaan Indonesia yang sekarang dikenal sebagai Pancasila. 

“Di Pulau Flores yang sepi, dimana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan Tuhan, kemudian dikenal sebagai Pancasila. Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami tradisi-tradisi kami sendiri dan aku menemukan lima butir mutiara indah,” begitu diceritakan Sukarno dalam autobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.