Diplomasi Blog: Dari Pesta Hingga Angkringan

Seolah merujuk iklan seorang tokoh politik “hidup adalah perbuatan”, Dubes AS di Indonesia, Cameron R Hume, menerjemahkan seni berdiplomasi dengan berbuat dan membangun jejaring kemitraan yang seluas-luasnya, bukan hanya dengan pejabat pemerintah tetapi juga kalangan lsm, akademisi, media massa serta berbagai elemen masyarakat lainnya, termasuk para blogger.

Bagi Dubes Hume, diplomasi tidak berhenti di ruang basa-basi dan berakhir manakala sebuah misi diplomatik telah dicapai. Diplomasi adalah kegiatan yang berkesinambungan dengan sasaran untuk menumbuhkan pengenalan dan pemahaman mengenai posisi masing-masing.

Sebagai top diplomat, Dubes Hume tentunya paham betul potensi dan kekuatan negaranya, ia juga paham betul ancaman-ancaman yang dihadapi. Adalah tugasnya untuk selalu memperkenalkan dan memelihara pemahaman tentang negerinya di masyarakat dimana dia bertugas.

Salah satu upaya mencapai tujuan tersebut adalah dengan memaksimalkan kegiatan diplomasi publik. Kegiatan ini pada dasarnya melibatkan peran serta masyarakat secara luas seperti pertukaran budaya dan pelajar, seminar, dialog, penyampaian informasi melalui radio, televisi dan internet. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, masyarakat secara langsung ataupun tidak langsung, diberikan berbagai macam informasi guna tercapainya pemahaman tentang berbagai prinsip dan kebijakan yang ditempuh.

Dalam konteks ini dapat dipahami kenapa Kedubes AS berkenan untuk menjadi sponsor Pesta Blogger 2008 (PB08). Semangat PB08 yang mengusung thema blogging for society tentu saja sejalan dengan citra dan semangat demokrasi dan kebebasan yang selalu diusung negara Paman Sam. Simak saja ucapan Dubes Hume: “Blogging is form of free speech that is both individualistic and egalitarian. It gives regular people a place to voice their opinions, enable them to become citizen-journalist, community activists and teachers. Through blogs, citizens are empowered by technology to make important contributions to their society and country”.

Perhatian Dubes Hume terhadap kegiatan blogger ternyata bukan sekedar pada penyenggaraan pesta semata tetapi juga mengunjungi salah satu tempat nongkrong para blogger di sekitar kawasan Blok M. Kunjungan tersebut bukan sekedar nongkrong tapi diikuti dengan kegiatan menyumbang 300 buku kepada komunitas blogger di Jakarta yang menggagas “Gerakan Seribu Buku”, suatu gerakan untuk mengumpulkan buku-buku bekas yang akan disalurkan untuk perpustakaan masyarakat di daerah pinggiran.

Dengan jumlah blogger Indonesia yang saat ini diperkirakan sebanyak 500 ribu, dan akan terus tumbuh sejalan meningkatnya infrastruktur jaringan internet, blogger Indonesia memiliki peran siginifikan dalam mendistribusikan berbagai informasi dan perkembangan dewasa ini ke segenap elemen masyarakat. Dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki, seorang blogger dapat berperan untuk mencetuskan dan menggerakkan isu-isu kemasyarakatan yang dapat ditanggapi dan dibahas bersama.

Bahwa AS memanfaatkan blog dan komunitas blogger dalam kegiatan diplomasinya, sesungguhnya bukanlah hal asing. Teknologi internet dan blog sendiri pun memang diawali oleh mereka. Penggunaan blog terus berkembang seiring keinginan masyarakat luas untuk mendapatkan informasi alternatif selain dari media mainstream.

Merespon perkembangan, selain melakukan diplomasi publik secara terpadu, sejak beberapa waktu yang lalu Deplu AS berinisiatif memanfaatkan medium blog dengan membangun blog khusus untuk para diplomatnya. Melalui blog yang dinamakan Diplomatic Note, Deplu AS memberikan kesempatan bagi para diplomatnya untuk berbagi cerita dan diskusi tentang berbagai aktifitas diplomasi yang dilakukan. Tujuannya untuk memberikan informasi dan opini langsung dari pelaku diplomasi, semacam story behind the scene. Harapannya agar pembaca dapat memperoleh persfektif lain disamping informasi, berita ataupun opini yang dimuat di website resmi Deplu AS.

Kembali ke soal dukungan Kedubes AS bagi penyelenggaraan PB08, memang bisa menumbuhkan sejumlah pertanyaan mendasar, kenapa AS dan apakah para blogger Indonesia akan ditunggangi kepentingan Amerika ? Sebelum jauh kesana, Chairman PB08 Wicaksono sudah wanti-wanti untuk tak perlu ada syakwasangka dan kecurigaan. Beliau memahami ada sentimen dan prasangka tertentu dari sebagian kalangan terhadap Amerika dan kebijakan politik mereka. Tapi, rasanya terlalu mengada-ada bila mengaitkan soal ini dengan PB08. Alangkah lebih baik bila kita berpikir positif saja.

Suatu pikiran yang bijak dan pragmatis dari Panitia PB08, daripada berpikir adanya conspiracy theory dibalik dukungan Kedubes AS, lebih baik berpikir positif dan mengambil manfaat bersama alias win-win solution, misalnya bagaimana melalui kegiatan blogging para blogger Indonesia bisa menyebarluaskan informasi yang mencerahkan masyarakat Indonesia secara lebih luas. Tidak berhenti hanya pada pesta dan menunggu pesta berikutnya di tahun depan, melainkan dapat menterjemahkan hasil-hasil kumpul-kumpul dan pertemanan ke dalam suatu rencana aksi dan tentu saja ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Enggak perlu muluk, tapi nyata. Dan yang penting tetap ngeblog dengan menyenangkan.

Sekedar contoh, dengan potensi besar yang dimiliki, para blogger Indonesia bisa saja menyemarakkan pesta demokrasi besar-besaran tahun 2009 mendatang. Para blogger bisa dengan intens menginformasikan data dan sepak terjang para caleg yang katanya akan mengatasnamakan masyarakat. Harapannya, para pemilih akan mendapat informasi lain yang lebih lengkap tentang nama-nama caleg.

Lebih jauh lagi, mungkin saja para blogger Indonesia tidak hanya sekedar berhenti pada pembahasan isu-isu lokal, tapi bisa jauh ke depan menyodok isu-isu internasional. Kalau para blogger asing tidak sungkan-sungkan mengutik-utik masalah kedaulatan NKRI, dengan isu-isu Papua misalnya, alangkah eloknya jika blogger Indonesia secara intens juga menyinggung masalah penindasan HAM masyarakat Aborigin di Australia, diskriminasi ras dan warna kulit di Amrik ataupun isu-isu pekerja migran di Eropa dan negara tetangga. Akan lebih elok lagi kalau pembahasan isu-isu internasional tersebut kemudian ditarik ke dalam lingkup domestik (intermestik), sehingga dapat ditarik manfaatnya bagi masyarakat luas.

Dengan pemikiran dan langkah-langkah kecil di atas, ternyata bukan hanya Kedubes AS saja yang bisa melakukan diplomasi publik. Para blogger pun dapat melakukan hal serupa. Tulisan ini didedikasikan untuk Pesta Blogger 2008 yang puncaknya akan berlangsung tanggal 22 November 2008 mendatang.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *