Filosofi Sepiring Ifumie

ifumieSiapa yang tidak mengenal hidangan berbahan dasar gandum yang disebut mie? Hampir setiap orang pasti pernah mengkonsumsinya. Nah dari sekian makanan berbahan dasar mie, salah satu yang menjadi favorit saya adalah ifumie yaitu mie kering dan renyah berbentuk sarang burung yang disiram dengan kuah kental berisi sayuran, ayam, udang dan daging.

Saya sangat menikmati Ifumie ini karena mienya yang kering ketika disiram kuah kental terasa sekali kekenyalannya dan cita rasa kuah yang meresap ke dalam mie meninggalkan kenikmatan luar biasa di lidah, belum lagi jika kuah kental dan gurih tersebut berisi topping sayuran bercampur daging ayam, udang atau daging sapi. Karenanya tidak mengherankan jika ada kesempatan saya akan senantiasa memilih ifumie sebagai salah satu menu makan siang.

Dan berawal dari perbincangan mengenai ifumie ini saya pun penasaran untuk mengetahui asal usul dan makna mie bagi masyarakat Tiongkok, termasuk ifumie. Dari penelusuran dan perbincangan dengan beberapa teman diketahui ternyata menurut sejarahnya, mie atau bakmie di Tiongkok pertama kali dikonsumsi sekitar 206 SM pada jamannya pemerintahan Dinasti Han. Pada waktu itu bentuk mie yang terbuat dari tepung gandum masih berbentuk persegi dan lembaran panjang sedikit lebih tebal dari kulit pangsit, atau berbentuk lonjoran panjang. Cara pemasakannya cukup dicelupakan ke dalam air mendidih, lalu diangkat dan dimakan bersama dengan kuah yang telah dibumbui dengan bumbu-bumbu rempah yang khas.

Dalam perkembangannya, cara penyajian mie pun berkembang dan bervariasi. Selain itu, masyarakat Tiongkok yang suka akan simbolisasi kemudian mengaitkan mie dengan simbol dari kehidupan yang panjang atau panjang umur serta rejeki yang melimpah dan karenanya secara tradisional mie disajikan sebagai pengganti kue ulang tahun dengan harapan bisa panjang umur panjang dan memperoleh rejeki yang melimpah. Dengan anggapan seperti itu, tidak mengherankan jika banyak anggota masyarakat Tiongkok yang menghadirkan mie sebagai hidangan wajib yang ada di suatu perayaan penting seperti tahun baru atau ulang tahun. Lebih jauh, orang Tionghoa juga percaya bahwa jika makan mie hendaknya tidak boleh terputus, jika terputus itu menandakan tidak akan panjang umur, hilangnya hal-hal positif dan baik, dan membawa kesialan bagi si pemakan mie tersebut.

Lalu bagaimana dengan makna ifumie yang menggunakan mie kering dan berbentuk sarang burung? Jika kita melihat mie yang berbentuk seperti sarang burung maka sarang burung menjadi salah satu simbol yang sudah sejak lama digunakan oleh masyarakat di Tiongkok sebagai simbol dari ketekunan, kerja keras, dan sebagai tempat tinggal mereka. Hal ini mirip dengan perilaku burung yang membuat sarangnya dengan penuh ketekunan dengan menyusunnya batang demi batang ranting ranting demi untuk mempersiapkan tempat yang nyaman bagi anaknya kelak dan aman bagi anaknya selama anaknya belum bisa terbang.

Orang di Tiongkok pun menganalogikan sarang burung seperti itu, sarang burung adalah negara mereka tempat mereka akan membesarkan anak anak mereka hingga anak anak mereka dapat mandiri dan dapat berkelana ke seluruh dunia , konsep berkelana ke seluruh dunia pada orang Tionghoa ini dikenal dengan konsep Tiongkok raya Selain itu untuk bahan tambahan yang ditaburkan di atas mie melambangkan kemakmuran negara tersebut.

Dan cara penyajian ifumie pun memiliki makna tersendiri yang melambangkan proses untuk menjadi suatu negara yang makmur. Mie kering yang digunakan melambangkan bahwa Tiongkok pada awalnya adalah negara yang kemakmurannya sangat kurang dan kering. Kemudian di atas mie kering tersebut diberikan sedikit tambahan sayuran, udang, dan daging dan disiram kuah agar mie bisa menjadi agak lembek yang melambangkan kerja keras masyarakat Tiongkok agar negaranya tumbuh subur dan menjadi makmur seperti yang diharapkan oleh masyarakat Tiongkok.

One Response to Filosofi Sepiring Ifumie

  1. C&H says:

    Ini masakan I Fu Mie versi mana, apakah sudah pernah pelajari masakan I Fu Mie dan Ta Mie di Surabaya? Apa arti kata I Fu Mie, apakah ada referensi yang sahih untuk pembahasan filosofi masakan I Fu Mie?

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *