Lailatul Qadar di China Hanya Setengahnya Indonesia

IMG02330-20130802-1327Khotbah Jumat di masjid Dongsi, Beijing, tengah disampaikan ketika saya memasuki ruangan masjid. Seorang ustad muda bermata sipit, bersorban dan berpakaian putih tengah menyampaikan khotbah Jumat dalam bahasa Mandarin di depan sekitar 100 jamaah yang terlihat menyimak dengan tekun. Di bagian belakang sang khotib, duduk bersila dua orang yang bersorban dan mengenakan pakaian sama dengannya. Tampaknya kedua orang tersebut adalah juga ustad dan tokoh yang disegani di masjid Dongsi.

Dengan tutur kata yang sopan dan halus, jauh dari kesan meledak-ledak seperti yang kerap dijumpai dalam khotbah di Indonesia, sang khotib menyampaikan khotbah mengenai malam Lailatul Qadar. Dalam khotbahnya, sang khotib antara lain mengemukakan mengenai kemuliaan malam Lailatul Qadar sebagai malam yang agung, malam penuh kemuliaan banyak dinantikan dan diharapkan oleh seorang Muslim. Ibadah di dalamnya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Siapa yang mendapatkan kemuliaannya sungguh ia manusia beruntung dan dirahmati. Sebaliknya, siapa yang luput dari kebaikan di dalamnya, sungguh ia termasuk manusia buntung dan merugi.

Ditambahkan oleh sang khotib bahwa merupakan hal yang sepatutunya jika seorang muslim berlomba-lomba menghidupkan malam Ramadan dengan bersungguh-sungguh melakukan ibadah kepada Allah dan berharap mendapatkan Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadan.  Mengutip hadis Rasullulah Muhammad SAW seperti yang diriwayatkan oleh HR. Al-Bukhari: “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari Ramadan (malam 21, 23, 25, 27, dan 29 atau hanya 5 hari saja dari 10 hari terakhir Ramadan).

IMG02339-20130802-2153Tidak ada janjian antara khotib di masjid Dongsi dengan Ustad Usep Hidayat untuk menyampaikan topik yang sama tentang Lailatul Qadar. Kesamaan tersebut tampaknya tidak terlepas dari momen 10 hari terakhir Ramadan yang sangat erat dengan malam Lailatul Qadar sehingga dipandang perlu untuk mengingatkan jamaah untuk berupaya mendapatkan malam seribu bulan yang penuh berkah.

Seperti halnya khotib sholat Jumat di masjid Dongsi, Ustad Usep pun mengajak para jamaah sholat tarawih di KBRI Beijing untuk tidak sekedar melaksanakan ibadah puasa, tetapi juga menegakkan Ramadan, salah satunya adalah dengan melaksanakan shalat tarawih dan sholat malam. Insya Allah jika melaksanakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, maka yang bersangkutan akan mendapatkan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Karena Lailatul Qadar tidak selalu datang pada satu malam tertentu pada setiap tahunnya, berpindah-pindah dari dari satu malam ke malam ganjil lainnya pada setiap tahunnya, maka umat Muslim tidak tahu kapan persisnya Lailatul Qadar tiba, meski sudah diindikasikan pada 10 hari terakhir Ramadan, maka umat Muslim dianjurkan untuk rajin dan tekun beribadah setiap malamnya.

Terkait dengan probailitas mendapatkan malam Lailatul Qadar, dengan nada bercanda, ustad Usep kemudian membandingkan mengenai probabilitas mendapatkan Lailatul Qadar di China dan Indonesia. Menurutnya, di China probabilitas mendapatkan Lailatul Qadar hanya 5 malam ganjil dari sepuluh hari terakhir Ramadan atau hanya 50 persen, maka di Indonesia probalitasnya dua kali lebih besar atau bisa 100 persen karena sepuluh malam terakhir Ramadan adalah malam ganjil semua.

‘Lho kok bisa keseluruhan sepuluh malam terakhir Ramadan dipandang sebagai malam ganjil semua?”

Sebelum pertanyaan meluas, pak ustad pun menjelaskan bahwa hal tesebut bisa terjadi karena tidak terlepas dari adanya perbedan waktu mulai puasa di Indonesia. Umat Muslim yang mengikuti pendapat Muhammadiyah memulai puasa pada tanggal 8 Juli 2013, sedangkan yang mengikuti penetapan pemerintah memulai puasa pada tanggal 9 Juli 2013. Akibatnya, saat umat Muslim yang mengikuti Muhammadiyah memasuki malam ganjil, maka umat Muslim yang mengikuti pemerintah memasuki malam genap. Sebaliknya, saat Muhammadiyah memasuki malam genap, pemerintah memasuki malam ganjil. Dengan kondisi ini maka tidak heran bila setiap malam pada bulan Ramadan adalah malam ganjil atau sebaliknya, semuanya malam genap.

Mendengarkan penjelasan pak ustad, jamaah terlihat hanya tersenyum-senyum saja penuh makna. Sesekali pak ustad boleh juga bergurau.

Salam Ramadan dan Selamat Mudik

Follow Twitter @arisheruutomo

Beijing, 4 Agustus 2013

 

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *