Karikatur Tidak Lucu Charlie Hebdo Mengenai Aylan

Charlie Hebdo Aylan first-drawingSebuah foto bayi tiga tahun bernama Aylan Kurdi yang tertelungkup di pesisir Semenanjung Bodrum di pantai Turki pada tanggal 3 September 2015 telah membuat dunia tercengang dan murka serta menimbulkan simpati. Bayi dibawah tiga tahun asal Suriah yang masih mengenakan kaos warna merah dan celana biru, dengan sepasang sepatu melekat di kaki mungilnya itu terbaring tewas tak bernyawa, setelah kapal yang dia dan keluarganya tumpangi untuk mengungsi, terbalik terhantam ombak di Pulau Kos, Yunani.

Selain Aylan, ikut tewas pula Galip (kakaknya yang berusia 5 tahun) dan ibunya. Sedangkan ayahnya, Abdullah berhasil selamat. Mereka adalah bagian dari rombongan para pengungsi Suriah yang berusaha menghindar dari perang saudara yang sedang berkecamuk di sana.
Para tokoh dan media massa global pun ramai-ramai bersuara untuk menggugah kepedulian masyarakat dunia, terutama para pemimpinnya agar bisa mengambil tindakan, agar bisa menghentikan perang yang sedang terjadi.

Namun di tengah pemberitaan dan simpati media global kepada Aylan Kurdi yang menjadi simbol krisis pengungsi, majalah satir Perancis, Charlie Hebdo justru kembali memantik kontroversi. Seolah tidak kapok menghadapi serangan bersenjata seperti yang dialami 8 bulan lalu, Charlie Hebdo menampilkan dua buah kartun yang justru mengejek kematian Aylan. Berlindung di balik alasan kebebasan berpendapat, Charlie Hebdo mentertawai kematian Aylan Kurdi melalui karikatur-karikaturnya.

Karikatur pertama yang berjudul “Begitu Dekat ke Tujuan”, kartunis Charlie Hebdo menggambar Aylan sedang tertelungkup di dekat papan reklame yang menampilkan iklan dari McDonald Happy Meal dalam Bahasa Perancis yang jika diterjemahkan berbunyi “Dua Menu Anak Dengan Harga Satu”. Sementara karikatur kedua yang berjudul “Bukti Bahwa Eropa adalah Kristen”, menunjukkan anak kecil tenggelam dengan seorang pria berjanggut yang diperkirakan Yesus, berdiri di atas air dan berkata “Kristen berjalan di atas air … anak-anak Muslim tenggelam”.

Charlie hebdo aylan second-cartoonTentu saja penerbitan dua karikatur tersebut langsung menuai kritik di sosial media dimana sebagian besar mengatakan bahwa karikatur-karikatur tersebut sebagai tindakan kasar dan memperlihatkan pandangan mereka yang tidak peduli menghadapi krisis pengungsi di Eropa.

Anak-anak seusia Aylan yang semestinya sedang menikmati masa kecilnya, bermain bersama teman-teman sebayanya, dan tidur pulas di kasurnya tatkala gelap, terpaksa mengungsi dan meninggal dunia dengan cara yang menyayat hati. Aylan beserta kakak dan ibunya, tenggelam di laut, lalu jasadnya terdampar dan ditemukan tertelungkup di pantai. Meninggal dunia dengan beralas pasir, ditemani debur ombak, dijemur sinar matahari dan beratap langit.

Aylan, kakaknya dan teman-teman sebayanya menjadi korban konflik bersenjata yang merenggut nyawa warga tak berdosa. Di tengah para penguasa dunia yang tampak menutup mulut, mata dan telinga mereka untuk bisa menghentikan peperangan berdarah itu. Semestinya media seperti Charlie Hebdo mendukung kampanye agar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara yang mengklaim diri menjunjung hak asasi manusia (HAM) tidak berdiam diri dan memberikan santunan manusiawi terhadap pengungsi dari suatu wilayah konflik. Bukan justru memancing kontroversi dan membuat lelucon yang tidak perlu.

 

 

 

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *