Masjid Wuxi Nan Sunyi

Masjid Sentral Wuxi‘Adakah umat Islam dan masjid di Wuxi?’, begitu pertanyaan di benak saya ketika akan berangkat ke Wuxi, salah satu kotai di Provinsi Jiangsu, sekitar 125 km dari Shanghai, pada Senin 22 Juli 2013. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya pun berkonsultasi dengan Paman Google dan mendapatkan informasi bahwa di Wuxi awalnya terdapat dua buah masjid, namun yang masih berfungsi sebagai masjid hanya satu dan satunya lagi telah beralih fungsi menjadi sebuah gereja.

Setiba di Wuxi sekitar jam 1 siang, setelah check in di hotel dan beristirahat sejenak, saya pun meluncur ke masjid sentral Wuxi yang terletak di downton atau tepatnya di 96 Jiankang Road. Waktu menunjukkan sekitar pukul 19.00, ketika saya tiba di masjid sentral Wuxi, sebuah bangunan yang berdiri megah dan berlantai 4.

Dibandingkan dengan bangunan masjid di China yang pernah saya lihat sebelumnya, yang umumnya memiliki arsitektur khas Tiongkok, bangunan masjid sentral Wuxi lebih sederhana dengan gaya minimalis menyerupai bangunan perkantoran atau apartemen. Kalau saja di puncak bangunan tidak terdapat kubah dan menara di beberapa sudutnya serta ornamen di jendela, orang mungkin tidak akan mengira kalau bangunan tersebut merupakan masjid.

Di lantai pertama tampak ruangan berkaca yang sepertinya difungsikan untuk toko dengan beberapa sisa rak terlihat berserakan dan berdebu. Dinding luar terlihat mengelupas di beberapa bagian. Dan di halaman masjid yang tidak terlalu luas, tidak tampak kendaraan terparkir. Melihat kondisi bangunan dan suasana sekitar yang lengan, tampak bahwa masjid tersebut sudah lama terbengkalai.

Melihat kondisi tersebut, kesan yang mengemuka adalah bahwa gedung tersebut tidak terurus dan terbengkalai. Kesan ini semakin menguat jika melihat suasana menjelang berbuka puasa. Tidak tampak tanda-tanda apapun dari masjid tersebut yang memperlihatkan akan adanya aktivitas berbuka puasa bersama.

Agak ragu saya berjalan menuju pintu masuk masjid yang terletak persis di bagian tengah gedung. Sebuah pintu kayu yang kokoh terlihat sedikit terbuka. Terlihat tiga orang tengah berbincang-bincang di balik pintu. Ketiganya mengenaikan kopiah putih yang menandakan mereka adalah Muslim. Dari tampangnya terlihat mereka adalah Muslim dari suku Hui, salah satu suku minoritas di China. Saya pun masuk dan memberikan salam.

Usai mengucap salam dan memperkenalkan diri, saya pun membuka percakapan dengan menanyakan waktu berbuka puasa di Wuxi. Maklum, karena perbedaan jarak Beijing-Wuxi, tentu saja akan terdapat perbedaan waktu berbuka puasa di antara keduanya. Jika waktu berbuka puasa di Beijing sekitar pukul 19.40, di Wuxi mungkin lebih cepat mengingat letak geografisnya yang lebih ke Timur.

‘Hari ini waktu berbuka di Wuxi jam 19.04’ ujar salah seorang di antara mereka.

‘Tapi maaf, disini tidak ada acara berbuka puasa bersama. Tidak ada kegiatan Ramadan. Hanya kami bertiga yang ada di masjid ini sambil menunggu barang dagangan ini’ ujarnya lagi, yang belakangan saya ketahui bernama Ma.

Saya pun kemudian memandang sebuah rak kaca yang berisikan kopiah putih, tasbih, Al Quran, beberapa buku tentang Islam dan beberapa pernak pernik lainnya. Perkiraan saya, barang-barang tersebut merupakan sisa barang yang tadinya dijual di toko pada gedung tersebut.

‘Sudah agak lama gedung masjid ini sepi, apalagi sejak toko tutup. Kegiatan masjid hanya ada pada hari Jumat untuk sholat berjamaah. Ruang sholatnya sendiri di lantai 4, sedangkan  lantai 2 dan 3 untuk kantor dan kegiatan lain’ jelas Ma lebih lanjut tanpa menyebutkan kapan persisnya. Dan ketika ditanya kapan masjid Wuxi didirikan, ia pun tidak bisa menyebutkan. Tapi kalau melihat bentuk bangunannya, saya perkirakan masjid tersebut dibangun pada akhir tahun 1990-an atau menjelang tahun 2000-an.

Sebenarnya saya ingin melihat interior masjid di lantai 4, namun tidak diperkenankan dengan alasan pintu ke ruang masjid terkunci dan mereka tidak memegang kuncinya.

‘Lho dimana mereka sholat Magrib nanti?’, ketika pertanyaan tersebut saya ajukan, mereka cuma tersenyum dan menjawab dalam bahasa Mandarin yang saya tidak mengerti. Mengingat tidak banyak lagi informasi yang bisa saya peroleh dan juga waktu berbuka puasa sudah tiba, saya pun bergegas meninggalkan masjid. Namun sebelumnya saya mengambil beberapa foto masjid dari luar.

13747149871743129776

Usai mengunjungi sebuah masjid di downton Wuxi, esok lusanya (Rabu 24 Juli 2013), sebelum kembali ke Beijing saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah bangunan di Wuxi lainnya yang tadinya adalah sebuah masjid dan kemudian telah beralih fungsi menjadi gereja. Bangunan ini terletak di seberang danau Taihu, salah satu obyek wisata utama di Wuxi. Lokasinya jauh sekali dari tempat pemukiman dan agak sedikit terisolir.

Dari kejauhan bangunan ‘masjid’ sudah terlihat dengan  keempat menara yang menjulang tinggi di keempat sudutnya dan kubah besar di bagian tengah. Dari bentuk bangunannya, sepertinya bangunan tersebut mengadopsi arsitektur bangunan masjid di Timur Tengah atau Turki.

Sayangnya mendekati bangunan, akses masuk ke gedung ‘masjid’ tertutup total oleh proyek pembangunan di sekitar bangunan. Tidak jelas apakah sedang ada proyek pembangunan baru atau sedang merenovasi bangunan ‘masjid’ untuk difungsikan sebagai tempat keperluan lainnya. Panas terik yang sangat menyengat di bulan Ramadan menambah kesulitan saya untuk bisa lebih mendekati bangunan tersebut. Terpaksa saya hanya bisa mengambil gambar dari kejauhan.

Dari kunjungan singkat ke masjid sentral Wuxi dan bekas bangunan ‘masjid’ di Wuxi, saya menyimpulkan bahwa sepinya kegiatan masjid tidak terlepas dari sedikitnya umat Muslim yang ada di Wuxi dan lokasi masjid yang jauh terpisah, bahkan jauh dari pemukiman. Kesimpulan tersebut diperkuat oleh informasi dari seorang pejabat urusan luar negeri Kantor Walikota Wuxi yang menyebutkan bahwa jumlah umat Islam di kota tersebut hanya berkisar ratusan orang dan tersebar di seluruh kota. Karena tersebar dan lokasi masjid yang jauh, bisa jadi mereka enggan ke masjid dan memilih beribadah secara sendiri-sendiri.

Faktor lain, Wuxi sendiri bukanlah kota metropolitan dan hanya berpenduduk sekitar 2,3 juta orang, relatif kecil dibandingkan kota-kota lainnya di China.  Dari faktor sejarah pun, meski Wuxi merupakan salah satu kota tua di China dan berdiri sejak 3.000 tahun lalu, namun kota ini bukanlah kota yang dilewati oleh jalur sutra yang memungkinkan terjadinya akulturasi antara masyarakat setempat dengan pendatang, yang umumnya pedagang Muslim dari Timur Tengah.

Melihat kondisi masjid sentral Wuxi yang memprihatinkan, maka jika tidak segera dibenahi, bisa jadi nasibnya akan serupa dengan masjid di dekat danau Taihu. Masjid tersebut bukan hanya kesepian karena tidak ada jamaah yang datang, namun bisa ditutup dan dialihkan fungsinya untuk keperluan lain.

Salam Ramadan

Follow twitter @arisheruutomo

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *