Mengenalkan Indonesia di Kazakhstan Lewat Famtrip

maksi kazakh“Jika Mr. Aris mengenalkan kepada kami pepatah Indonesia Tak Kenal Maka Tak Sayang, maka di negeri kami pun ada pepatah yang berbunyi Daripada 100 Kali Mendengar, Lebih Baik Sekali Melihat”, begitu disampaikan Bakhyt Rustemov, seorang penulis dan akademisi asal Kazakhstan saat berbincang-bincang dengan saya usai makan siang bersama di restoran VIP D’Cost Jalan Abdul Muis Jakarta, 22 September 2015.

Rustemov menyatakan kegembiraannya karena setelah sebelumnya sering mendengar Indonesia lewat media dan literatur yang dibacanya, pada akhirnya bisa mewujudkan keinginannya berkunjung ke Indonesia dan melihat langsung kehidupan masyarakat Indonesia. Ditambahkan oleh Rustemov, bahwa kunjungan pertamanya ke Indonesia kali diharapkan menjadi awal untuk mewujudkan keinginannya menulis tentang Indonesia dalam bahasa Kazakh.

“Sebagai seorang atheis waktu masih di bawah pemerintahan Uni Soviet dan sekarang menjadi Muslim, saya juga ingin tahu tentang kehidupan Muslim di Indonesia”, demikian ditambahkan oleh Rustemov.

Hal senada juga dikemukakan oleh anggota rombongan lainnya yaitu Nikolay Postnikov. Sebagai seorang photographer dirinya sangat senang dapat berkunjung ke Indonesia karena bisa mengabadikan banyak hal mengenai keindahan Indonesia melalui bidikan lensanya. (Beberapa foto Postnikov bisa dilihat pada bagian bawah postingan ini)

“Ini perjalanan yang menyenangkan, benar-benar very good. banyak mengenal Indonesia, tapi akan lebih baik jika para photographer juga diajak ke tempat yang lebih atraktif selain obyek wisata, misalnya ke pasar-pasar tradisional, sehingga foto yang didapat bisa lebih variatif dan ada unsur human interestnya” tambah Postnikov
Sementara itu Metelyova Larissa, seorang manager biro perjalanan asal Almaty, kota terbesar di Kazakhstan, selain menyatakan kegembiraannya bisa berkunjung kembali ke Indonesia setelah kunjungan pertamanya ke Bali lebih dari 10 tahun yang lalu, ia juga menyatakan kegelisahannya karena tidak banyak warga Kazakhstan yang mengenal daerah-daerah di Indonesia selain Bali. Karenanya sulit baginya untuk menjual paket perjalanan wisata ke Indonesia selain Bali.

Ditambahkan oleh Larissa, bahwa ada dua faktor lain yang juga menyulitkan dirinya mempromosikan Indonesia di Kazakhstan yaitu tidak adanya bebas visa dan ketiadaan penerbangan langsung dari Kazakhstan ke Indonesia. Masyarakat Kazakhstan yang tinggal di Almaty akan mengalami kesulitan untuk mengurus visa ke Kedutaan Besar RI di Astana mengingat jauhnya jarak geografis Almaty – Astana (hampir 1.500 km). Sementara tidak adanya penerbangan langsung atau connecting flight terdekat menyebabkan harga tiket menjadi mahal.
Menanggapi pernyataan Rustemov, saya kemudian memintakan kepada Biro Perjalanan yang mengatur jadwal mereka selama berada di Indonesia untuk kiranya dapat mengatur kunjungan ke tempat ibadah atau menyaksikan kegiatan keagamaan, apalagi kebetulan tanggal 24 September 2015 bertepatan dengan Idul Adha. Akan sangat menarik jika mereka bisa melihat pelaksanaan sholat Idul Adha di pagi hari dan menyaksikan pemotongan hewan kurban.

Sementara menanggapi komentar Postnikov, saya menyarankan kepada Biro Perjalanan untuk kiranya mengatur kunjungan ke tempat-tempat tradisional seperti pasar atau tempat pembuatan perahu Phinisi selama di Makassar misalnya.

Adapun menanggapi komentar Larissa, saya berjanji akan meneruskannya ke pihak terkait dan menuliskannya di blog. Melalui blog diharapkan apa yang menjadi perhatian Larissa dan warga Kazakhstan yang ingin berkunjung ke Indonesia dapat difasilitasi.

Rustemov, Postnikov dan Larissa sendiri hanyalah tiga dari 8 orang warga Kazakhstan yang beruntung dipilih oleh Kedutaan Besar RI di Astana, Kazakhstan, untuk menjadi peserta Familirization Trip (Famtrip) ke Indonesia selama 7 hari (20-28 September 2015). Para peserta Famtrip diajak mengunjungi Jakarta, Makassar dan Lombok. Mereka diajak mengunjungi berbagai obyek wisata seperti Taman Impian Jaya Ancol, Monumen Nasional, Pantai Losari, Benteng Somba Ompu, Fort Rotterdam, Taman Nasional Bulusaraung Bantimurung, Gili Trawangan Lombok.
Selain mengunjungi daerah wisata, rombongan juga diajak melihat berbagai kerjaninan khas Indonesia di tempat-tempat yang dikunjungi dan berbincang-bincang dengan blogger (saya sendiri), penulis (Valent Mustamin dari IDWriters) dan seorang wartawan RRI Jakarta.

Melalui kunjungan ini diharapkan para peserta dapat lebih mengenal Indonesia dengan lebih baik dan menyebarkannya kepada masyarakat Kazakhstan serta terjalinnya kerja sama lebih erat dengan pihak biro perjalanan yang telah menjual paket pariwisata Indonesia. Dipilihnya Jakarta, Makassar dan Lombok sebagai tujuan wisatajuga agar pihak Biro Perjalaan bisa mempromosikan bagian lain Indonesia dan menjual paket wisata lain selain Bali.

nikolay 6nikolay 4nikolay 2nikolay 5

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *