Mengintip Tradisi Ziarah di Festival Qingming

Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 11 pagi ketika pada Selasa kemarin (03/04) saya dan istri meninggalkan kediaman. Saya tidak ke kantor karena hari itu merupakan salah satu hari libur nasional Tiongkok yang jatuh tiga hari berturut-turut dari tanggal 2 – 4 April 2012. Saya pun aktu memanfaatkan waktu libur tersebut untuk mengunjungi sebuah pemakaman umum Babaoshan di distrik Shijingshan, sebelah barat Beijing.

“Lho kok ke pemakaman umum, memangnya mau ziarah ke makam siapa?” Begitu pertanyaan istri ketika pertama kali saya melontarkan ajakan berkunjung ke pemakaman.

“Bukan untuk ziarah kok” jawab saya, “Kita kesana untuk melihat suasana di pemakaman terbesar di Beijing, sekaligus melihat suasana tradisi tahunan masyarakat Tiongkok yang disebut Festival Qingming, yang pada tahun ini puncaknya jatuh pada tanggal 4 April 2012”, jelas saya kemudian.

Festival Qingming atau di Indonesia dikenal sebagai Ceng Beng, merupakan tradisi tahunan masyarakat Tiongkok untuk menghormati leluhur dan para pahlawan dengan menziarahi dan membersihkan makam mereka sesuai ajaran Khonghucu.

Untuk menunjukkan penghormatannya, masyarakat Tiongkok membersihkan makam dan meletakkan bunga. Mereka percaya, dengan membersihkan makam, berarti telah menyingkirkan segala hal yang mengganggu roh para leluhur. Selain itu, mereka pun meletakkan makanan dan minuman kesukaan para leluhur serta membakar kertas menyerupai uang. Dengan memberikan makanan dan minuman kepada para leluhur, diharapkan dapat memberikan kesehatan dan kehidupan yang baik bagi keturunannya. Usai persembahyangan, makanan dan minuman yang diberikan tersebut tidak dibuang,melainkan dibawa kembali dan dimakan bersama-sama oleh anggota keluarga.

Menurut riwayatnya, Festival Qingming berasal dari peringatan hari Hanshi (artinya hari dengan makanan dingin), suatu hari yang dimaksudkan untuk memperingati jasa Jie Zitui, salah seorang abdi raja Wen Jin, yang wafat pada 635 SM di saat musim semi. Jie Zitui yang berjasa kepada Wen Jin justru wafat karena kesalahan Wen Jin yang memerintahkan tentaranya membakar hutan di mana Jie Zitui tinggal. Karena merasa bersalah, Wen Jin kemudian memerintahkan masyarakatnya untuk libur dan memadamkan api selama tiga hari berturut-turut guna memperingati hari wafatnya Jie Zitui. Karena tidak boleh menyalahkan api, maka selama hari tersebut warga masyarakat hanya bisa memakan makanan dan minuman dingin yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, upacara penghormatan terhadap leluhur seringkali diadakan, bahkan hampir setiap dua minggu sekali. Karena memakan biaya tidak sedikit dan untuk mencegah pemborosan biaya, pada tahun 732 M Kaisar Xuanzhing dari Dinasti Tang menetapkan bahwa penghormatan kepada para leluhur hanya diperbolehkan pada saat Festival Qingming dan terus berlaku hingga hari ini.

Berdasarkan perhitungan kalender China, Festival Qingming sendiri jatuh pada hari ke 104 setelah titik balik matahari pada musim dingin atau hari ke 15 dari hari persamaan panjang siang dan malam pada musim semi yang umumnya jatuh pada tanggal 5 April (khusus di setiap tahun kabisat seperti tahun 2012 ini, jatuh pada tanggal 4 April).

Nama Qingmíng sendiri diartikan sebagai waktu untuk orang bepergian dan menikmati hijaunya musim semi serta mengunjungi makam leluhur. Jadi ibarat dua sisi dalam sekeping mata uang, di satu sisi Festival Qingming diselenggarakan untuk mengingat masa lalu dan menghormati para leluhur, di sisi lain melalui peringatan tersebut, masyarakat didorong untuk menatap masa depan dan memulai hidup baru dengan lebih bersih.

Karena itu, untuk memberikan kesempatan bagi warganya merayakan Festival Qingming, setiap tahun pemerintah RRT pun memberlakukan libur nasional selama tiga hari berturut-turut seperti sudah disinggung di atas dan pada tahun ini jatuh pada tanggal 2-4 April 2012 .

Kembali ke pokok cerita soal kunjungan saya ke pemakaman umum Babaoshan (dalam bahasa China artinya Pegunungan 8 harta karun) atau nama resminya Pemakaman Revolusioner Babaoshan, setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam akhirnya tiba di area pemakaman seluas 100 ribu m2 yang terlihat rindang karena dipenuhi pohon-pohon cemara raksasa yang tidak rontok saat musim dingin tiba. Sesuai namanya, pemakaman ini memang diperuntukkan khusus bagi para pahlawan revolusi tingkat tinggi, pejabat tinggi pemerintah dan seseorang yang dipandang memiliki kontribusi penting bagi masyarakat.

Salah satu tokoh terkemuka yang abu jasadnya pernah disimpan di pemakaman Babaoshan adalah Kaisar Puyi, kaisar terakhir Tiongkok, sebelum kemudian abunya dipindahkan dan dikubur di Mausoleum Qing pada tahun 1996.

Pemakaman Babaoshan sendiri pada awalnya merupakan merupakan kuil milik Jenderal Gang Bing pada masa Dinasti Ming (1368-1644 M). Kaisar yang berkuasa pada saat itu merancang area di sekitar kuil sebagai tempat peristirahatan terakhir para selir dan kasim kerajaan. Dan selama lima abad masa kekaisaran di Tiongkok, tempat tersebut tetap digunakan untuk memakamkan para kasim kerajaan, sebelum pada akhirnya dijadikan tempat pemakaman para elit Partai Politik Tiongkok sekitar 5 dekade yang lalu.

Dari jalan raya tampak pintu gerbang pemakaman yang berdiri kokoh dan diapit dua patung singa di depannya. Tampak mobil berbagai merk antri untuk dapat masuk ke area pemakaman. Sementara itu, masih di pintu gerbang, terlihat petugas keamanan memeriksa tas bawaan peziarah menggunakan metal detector.

Memasuki area pemakaman, tampak berjajar rapih makam-makam berukuran raksasa. Saya bilang raksasa karena ukurannya jauh lebih besar dibanding makam di Indonesia. Makam ditempatkan dalam tiga area sesuai peruntukkannya dan dibagi dalam beberapa kluster. Selain makam, di kawasan ini juga terdapat beberapa rumah penyimpanan abu jenazah dimana pada dinding-dindingnya terpampang foto mereka yang telah berpulang.

Di area pertama di depan kuil, area pemakaman diperuntukkan bagi pejabat partai/militer tingkat kota atau resimen. Tanah di area ini datar dan bentuk makam pada umumnya standar dengan ukuran 4X2m atau 4×4m, dengan material terbuat dari batu.

Para peziarah tersebut bukan hanya dari Beijing, tidak sedikit yang datang dari luar kota atau luar negeri. Seorang peziarah yang sempat saya tanya mengaku datang dari Australia. Peziarah tersebut khusus datang ke Beijing untuk menziarahi makam orang tuanya, seorang mantan pejabat tinggi di pemerintahan RRT. Selain datang untuk membersihkan makam, mereka pun ingin mendoakan keselamatan bagi para leluhur dan keluarga yang ditinggalkan.

Tidak terasa sekitar dua jam saya berada di area pemakaman Babaoshan, perut sudah terasa lapar karena memang sudah waktunya makan siang. Saya pun segera meninggalkan area pemakaman dan kembali ke Beijing. Namun sebelumnya saya sempatkan untuk mengambil beberapa gambar di area pemakaman untuk dibagikan kepada pembaca semua.

 

One Response to Mengintip Tradisi Ziarah di Festival Qingming

  1. ace maxs says:

    nice info….salam kenal..

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *