Natal Dengan Karateristik Tiongkok

IMG_20141220_211600Ada satu masa dimana perayaan Natal menjadi suatu kegiatan terlarang di Tiongkok. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini perayaan Natal di negari yang menganut paham sosialis komunis dengan sebagian besar warganya atheis justru memperlihatkan tren peningkatan yang semakin semarak.

Kesemarakan Natal di Tiongkok tampak dari keramaian di pusat-pusat perbelanjaan, restoran dan tempat-tempat hiburan yang penuh dengan pernak-pernik Natal mulai dari Santa Klaus dengan rusa dan kereta luncurnya plus saxophone hingga pohon Natal raksasa untuk menarik pengunjung berbelanja dan membuka dompetnya lebar-lebar. Kaca-kaca toko dihiasi dengan gambar pohon natal, bunga, dan pita warna warni sementara lagu “jingle bell” berkumandang di udara.

Sosok Santa Klaus mendadak menjelma menjadi tenaga pemasaran kelas wahid yang hadir di pusat-pusat perbelanjaan guna membujuk para pengunjung untuk berbelanja. Sosok Santa Klaus tersebut antara lain menjelma dalam diri pramuniaga toko yang siap menyambut para pengunjung pusat perbelanjaan dengan penuh keceriaan dan kehangatan.

Berbagai cara memang dilakukan pengelola pusat perbelanjaaan dan toko-toko untuk menarik perhatian para pengunjung. Toko kristal Swarovski misalnya memasang pohon Natal raksasa dari kaca di kawasan pusat perbelanjaan Sanlitun di Beijing sejak awal Desember 2014.

Swarovski bukanlah satu-satunya perusahaan yang memasang pernak pernik hiasan Natal dan memanfaatkan momentum hari raya umat Kristiani tersebut untuk berjualan dan mempromosikan produk-produknya. Banyak pusat perbelanjaan dan toko-toko lainnya yang memasang pernak pernik Natal dengan berbagai ukuran dan bentuk, misalnya saja Uniqlo, Apple dan Adidas Store.

Meriahnya suasana perayaan Natal di Tiongkok, terutama di kota-kota metropolitan seperti Beijing, Shanghai dan Guangzhou, tentu menarik perhatian dan memantik pertanyaan apakah masyarakat di negeri sosialis komunis tersebut telah menjadi lebih religius?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut di atas, ada baiknya kita melihat tren meningkatnya popularitas Natal di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir ini.

Menurut sebuah survei yang dilakukan China Social Survey Institute (CSSI) terhadap responden berusia 15-45 tahun, diketahui bahwa tren meningkatnya popularitas perayaan Natal akibat semakin banyaknya anak-anak muda Tiongkok yang belajar ke luar negeri, terutama ke Inggris, Amerika Serikat dan Kanada. Diperkirakan sebanyak 275 ribu pelajar Tiongkok mendaftar di perguruan-perguruan tinggi di Amerika Serikat setiap tahunnya atau sekitar 30 persen dari keseluruhan pelajar Tiongkok yang belajar ke luar negeri. Ketika liburan atau setelah menamatkan pendidikan para pelajar tersebut membawa kebiasaan Natal versi mereka masing-masing ke tempat tinggalnya di Tiongkok.

Berbeda dengan perayaan Natal di Barat yang “khidmat, serius, dan penuh semangat keagamaan” dan dijadikan waktu yang tepat bagi keluarga untuk berkumpul dan makan bersama, menikmati masakan rumahan, melakukan tukar menukar kado dan sesudahnya pergi ke gereja untuk melakukan misa, maka Natal versi Tiongkok memiliki karakteristik tersendiri.

Anak-anak muda di perkotaan yang membawa pengaruh budaya Barat memandang perayaan Natal sebagai “alasan untuk berpesta dan beristirahat sejenak di akhir tahun serta merasakan atmosfir tahun baru internasional”. Umumnya tidak ada tanda-tanda kegiatan kegiatan keagamaan yang muncul selain pesta semata. Tidak mengherankan jika sosok Santa Klaus di Tiongkok sering digambarkan tengah memainkan saxophone, suatu alat musik yang identik dengan Barat dan pada suatu masa identik dengan mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton yang gemar memainkan saxophone.

Para anak muda tersebut pun tidak merayakan Natal bersama dengan keluarga, tetapi merayakannya bersama teman-teman atau berdua bersama pasangan dengan makan bersama di restoran bukan di rumah. Usai makan bersama, mereka tidak pergi ke gereja untuk melakukan misa, melainkan lanjut ke bioskop, karaoke, clubbing atau menyelenggarakan pesta bersama.

Natal juga menjadi suatu alasan tepat untuk berbelanja mengingat banyak penawaran diskon besar-besaran dilakukan selama musim dingin dan sebelum masuknya tahun baru Imlek pada bulan Februari, momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota masyarakat di Tiongkok untuk menandai pergantian tahun dalam kalender Tiongkok dan kesempatan untuk berkumpul bersama orang tua dan keluarga besar. Musi,m penjualan menyambut tahun baru Imlek sendiri dimulai sejak pertengahan November. Dan karena Natal berada di bulan Desember, maka waktu tersebut dipandang sebagai momen yang tepat untuk melanjutkan penjualan hingga Februari.

Dan yang lebih seru, ketika CSSI menanyakan kepada para responden mengenai makna “malam kudus dan malam pertama”, banyak dari para responden yang menjawab bahwa hal tersebut terkait dengan kegiatan “memakan buah terlarang”. bersama pasangannya.

Menyikapi hal ini, professor Benoit Vermander dari Universitas Fudan di Shanghai seperti dikatakan kepada AFP, mengatakan bahwa pada hakekatnya peringatan Natal di Tiongkok tidaklah berbeda dengan peringatan hari Valentine yaitu momen, untuk berkumpul bersama teman dan sahabat, daripada momen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih.

Dan seperti halnya demokrasi di Tiongkok yang memiliki karakteristik tersendiri, maka Natal di Tiongkok juga memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan perayaan Natal di Barat. Natal di Tiongkok saat ini adalah kebersamaan dengan teman, rehat sejenak dari kesibukan akhir tahun dan belanja. Dan jangan lupa, Natal adalah bisnis besar dimana kebutuhan pernak pernik perayaan Natal sebagian besar diproduksi di Tiongkok dan diekspor ke seluruh dunia.

 

 

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *