Pemanfaatan SIngkong di Tiongkok

singkong cassavaDi tengah ramainya tanggapan masyarakat, terutama PNS, terhadap instruksi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi agar aparat instansi pemerintah menyediakan makanan lokal dari hasil tani, semisal singkong, dalam rapat-rapat yang dilakukan, mencuat kembali berita-berita lama yang menyebutkan bahwa Indonesia ternyata mengimpor singkong sepanjang tahun 2012. Pada tahun tersebut impor singkong Indonesia tercatat 13,3 ribu ton atau senilai US$ 3,4 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.057 ton singkong berasal China dengan nilai US$ 1,3 juta.

Pengongtrasan ini tentu saja memancing komentar-komentar baru. Singkong yang selama ini identik dengan produk lokal ternyata sebagian adalah produk impor. Dan karenanya ada yang kemudian memandang bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah untuk lebih membuka kran impor dibanding sebagai upaya menggairahkan petani untuk lebih banyak menanam buah-buahan lokal seperti ubi dan singkong. Terlebih kebijakan untuk mengkonsumsi singkong dan tanaman lokal lainnya tidak diikuti dengan pernyataan mengenai kebijakan dari kementerian terkait mengenai pengelolaan penanaman singkong dan umbi-umbi lainnya.

Terlepas dari pro kontra surat edaran menteri, saya tersenyum geli melihat ternyata salah satu negara pengekspor singkong ke Indonesia adalah Tiongkok?. Keheranan saya didasari kenyataan bahwa sebagai orang yang tinggal di Beijing dan sehari-hari terbiasa mengkonsumsi makanan lokal dan sering blusukan ke pasar-pasar tradisional, saya jarang melihat pedagang menjual singkong, beda dengan ubi dan jagung yang banyak dijual di pasar-pasar di Beijing. Sulitnya mendapatkan singkong di Beijing juga beralasan mengingat singkong bukanlah makanan pokok masyarakat di Tiongkok seperti halnya gandum dan beras.

Tapi kan di Tiongkok apapun bisa dibuat? Bukankah ada yang bilang kalau “God created the world and the rest was made in China”? Benar, Tiongkok memang dikenal dengan berbagai produknya yang membanjiri pasar dunia. Tapi soal singkong, tidak bisa begitu saja dibuat seperti kita memproduksi mainan. Kontur dan jenis tanah di sebagian besar daratan Tiongkok, terutama di wilayah utara dan barat, dan iklim 4 musim ternyata tidak selalu cocok dengan tanaman seperti singkong sebagai tanaman tropis dan sub tropis. Perlu pengolahan dan teknologi pertanian yang canggih serta lahan yang luas agar bisa menghasilkan produk pertanian seperti singkong untuk diekspor.

Pertanyaan selanjutnya adalah berapa besar produksi singkong di Tiongkok sehingga bisa diekspor dan apakah tidak ada kebutuhan di dalam negeri sendiri?

Data dari FAO memperlihatkan bahwa dari total produksi singkong dunia pada tahun 2012 yang sebesar 269 juta ton, Tiongkok hanya menghasilkan 4,5 juta ton singkong per tahun atau berada di urutan 15. Jumlah produksi singkong Tiongkok ini ternyata masih jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia yang menghasilkan singkong sebanyak 24 juta (urutan ketiga setelah Nigeria dengan 54 juta dan Thailand dengan 29 juta). Total produksi singkong Tiongkok yang berjumlah 4,5 juta ton per tahun ini sebagian besar dihasilkan dari Provinsi Guangxi di wilayah selatan Tiongkok.

Dengan jumlah produksi singkong yang mencapai 4,5 juta ton per tahun, Tiongkok mempergunakan sebagian besar singkongnya tersebut sebagai bahan baku industri, terutama untuk menghasilkan bio-ethanol. Langkah ini dilakukan Tiongkok sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketergantungannya terhadap minyak mentah yang diperkirakan lebih dari 127 juta ton. FAO sendiri memperkirakan bahwa pada tahun 2012 Tiongkok memproduksi sekitar 780 juta liter bio-ethanol dari 6 juta ton singkong kering.

Langkah Tiongkok untuk secara agresif menggunakan singkong sebagai bahan baku untuk memproduksi ethanol tersebut tentu saja memicu defisit ketersediaan singkong di dalam negeri. Karenanya untuk memenuhi kebutuhan akan singkong tersebut, Tiongkok pun mengimpor singkong dari berbagai negara seperti Thailand (4,5 juta ton), Nigeria (3,2 juta ton) dan dari Vietnam dan Kamboja yang jumlahnya ratusan ribu ton.

Dengan data-data seperti tersebut di atas, tentu saja sangat mengherankan jika di tahun 2012 ternyata ada sebagian produksi singkong Tiongkok yang diekspor ke Indonesia, meski jumlahnya “hanya” berkisar ribuan ton. Dalam penjelasannya, Wakil Menteri Perdagangan, yang saat itu dijabat Bayu Krisnamurthi, menyebutkan beberapa alasan Indonesia masih mengimpor singkong yaitu karena rendahnya pengolahan singkong menjadi tapioka, kemungkinan praktik dumping dari negara pengekspor dan adanya pengalihan harga mengingat nilai jual tepung jagung lebih mahal dari tapioka.

Dengan merujuk pada penjelasan mantan Wakil Menteri Perdagangan dan fakta produksi singkong di Tiongkok tampak disini berlaku hukum supply and demand. Dimana ada keuntungan, disitulah pedagang hadir. Dan mengingat tepung terigu, tepung singkong (tapioka) dan tepung jagung merupakan komoditas yang bisa bersubstitusi satu sama lain, maka ketika ada peluang untuk menutup kebutuhan, langkah untuk mengimpor singkong pun tidak menjadi masalah. Dan pengekspor singkong Tiongkok pun mungkin lebih senang jika singkongnya dibeli lebih mahal oleh Indonesia dibanding dijual di dalam negeri sendiri untuk ethanol.

Dalam sistem ekonomi global, praktik perdagangan seperti itu merupakan hal yang wajar.  Hanya saja kita memang selalu dituntut untuk selalu bersiap menghadapi berbagai kemungkinan yang bakal terjadi, termasuk masalah importasi. Karena masalah importasi yang dikaitkan dengan produk lokal memang selalu menarik.  Akan tetapi, selama kegiatan tersebut memberi kemaslahatan bagi kehidupan sekaligus memberi berkah bagi masyarakat, maka hal semacam itu masih dapat dimaklumi. Justru yang perlu diwaspadai adalah hal-hal yang bertabrakan dengan apa yang menjadi kepentingan nasional.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *