Persepsi Masyarakat Indonesia Mengenai China

September 2012 baru saja berakhir dan bulan tersebut menandai persis setahun saya tinggal di Bejing, China. Selama setahun tersebut banyak peristiwa yang saya saksikan dan rasakan langsung, terutama terkait dengan perkembangan China yang sedemikian pesat. Tidak sedikit dari apa yang saya lihat dan rasakan tersebut yang kemudian dituliskan dan dibagi lewat blog, walau tidak sedikit pula yang tersimpan sebagai arsip pribadi atau tidak tertuliskan.

Selama setahun pula saya banyak menerima kunjungan tamu mulai dari saudara, kerabat, kolega, teman dekat hingga teman jauh. Profesi mereka bermacam-macam, mulai dari ibu rumah tangga, dosen, jurnalis, pengusaha hingga tentara, pejabat dan pegawai pemerintah. Tujuan kunjungan mereka ke China pun beragam, ada yang sekedar jalan-jalan, menghadiri pertemuan, berobat hingga studi banding. Menariknya, tidak sedikit dari tamu-tamu saya tersebut yang ternyata baru pertama kali berkunjung ke daratan China.

Seperti halnya orang yang baru pertama kali berkunjung ke suatu tempat, maka hal yang biasa dilakukan adalah mengamati situasi tempat tersebut, kemudian perlahan tapi pasti mulai menyocokkan apa yang disaksikan dengan pengetahuan atau informasi mengenai tempat tersebut sebelumnya. Sementara bagi mereka yang pernah melakukan kunjungan ke China, mereka akan mencoba menyocokkan apa yang mereka lihat sebelumnya dengan apa yang mereka lihat sekarang, apakah ada perubahan/perkembangan atau tidak.

Menariknya pula, dari perbincangan dengan para tamu yang baru pertama kali berkunjung ke China,  pada awalnya kebanyakan dari mereka mengira China sebagai negara sosialis yang kusam, kotor dan tidak teratur, berbeda dengan negara-maju seperti AS dan Eropa atau setidaknya sama dengan Jakarta. Suatu pandangan yang wajar mengingat secara geografis, meski sama-sama di Asia, China bukanlah negara yang sangat dekat, apalagi berbatasan langsung dengan Indonesia. Secara budaya dan sejarah pun terdapat perbedaan, meski sebagian budaya China sudah terserap dalam budaya Indonesia.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah baru sekitar dua dekade terakhir ini komunikasi dua arah Indonesia-China terjalin kembali. Akibat pembekuan hubungan diplomatik paska peristiwa G30S/PKI, sebagian besar informasi mengenai China diperoleh dari pihak ketiga seperti dari negara-negara Barat ataupun dari Taiwan, begitu pun sebaliknya.

Tidak banyak yang memahami bahwa kemampuan Pemerintah RRC memelihara stabilitas politik dan ekonomi dalam tiga dekade terakhir paska reformasi ekonomi tahun 1978 dan keberhasilan suksesi kepemimpinan China hingga generasi keempat telah mengubah China dari negara berkembang menjadi negara menengah ke atas. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam dua dekade terakhir, rata-rata di atas 10 persen, telah menjadikan China sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua setelah AS.  Pada tahun 2012 ini pun pertumbuhan ekonomi China masih akan terus berlanjut meski hanya ditargetkan pertumbuhan sebesar 7,5 persen.

Pemerintah China berhasil menata dan membangun infrastruktur jalan raya, jalur kereta, pelabuhan laut dan udara, serta sarana telekomunikasi. Jika di masa lalu China dikenal dengan pembangunan tembok besar yang panjang hingga ribuan kilo meter, maka kini China dikenal sebagai negara yang berhasil membangun jalan raya dan jalur kereta hingga ribuan kilo meter dan menjadi jalur terpanjang di dunia. Selain itu, dibangun pula gedung-gedung pencakar langit tertinggi di dunia, pelabuhan raksasa (megaport), hingga meluncurkan sendiri satelit komunikasi ke ruang angkasa. Pembangunan yang dilakukan pun merata dan seragam di hampir sebagian besar provinsi dan kota di China.

Perubahan cepat yang terjadi di China seperti tersebut di atas bukan sekedar angka-angka seperti tercermin dari angka pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan infrastruktur , tetapi juga perubahan pada gaya hidup masyarakat China. Apartemen jangkung bermunculan menggantikan bangunan tua dan menggusur gang-gang sempit. Pusat-pusat perbelanjaan bermunculan di semua kota menawarkan beragam produk dan merk internasional. Masyarakat lebih diberikan kemudahan dalam berinteraksi dengan dunia luar. Anak-anak muda China diajarkan berbicara dalam bahasa Inggris, melanjutkan pendidikan di luar negeri, mengikuti perkembangan mode terkini, dan meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan global. Semua ini memperlihatnya perkembangan masyarakat baru di China yang dinamis dan selaras serta dapat hidup berdampingan satu sama lain.

Melihat dinamika perkembangan dan pembangunan di China tersebut ‘terus gw mesti bilang wow gitu?’. He..he..he sepertinya tamu-tamu saya tidak sampai sinis menyikapi perubahan yang terjadi di China dan kemudian menyitir kata-kata lebai yang sedang populer di Indonesia. Tamu-tamu saya justru terlihat kagum dan berharap semangat dan model pembangunan di China dapat juga tertular ke Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia pun merasakan dampak kemajuan pembangunan ekonomi China, bukan sekedar sebagai pasar produk-produk mereka.

Akhirnya seperti Kata Pak Ustad, sebelum menyebut ‘ wow, sebut dulu alif, ba, ta, sa dan seterusnya‘.  Dan seperti kata Pak Ustad juga, perkataaan Rasullulah Muhammad SAW untuk menuntut ilmu walau sampai ke negeri China ternyata masih sangat relevan hingga saat ini. Masih sangat banyak hal yang baik dan bisa dipelajari di China, sehingga tidak perlulah bersikap sinis terhadap China.

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *