Soto Neon Perjuangan

Semarang dikenal sebagai salah satu surganya wisata kuliner murah. Beragam jenis makanan khas bisa djumpai di ibukota Jawa Tengah ini. Salah satu yang paling legendaris adalah soto ayam, yang selalu menjadi idola di lidah para penikmat kuliner karena kesegaran kuahnya.

“Kita jajal Soto Neon yuk, ” begitu ajakan rekan saya, Dr. Ani Purwanti yang orang Semarang. Ajakan disampaikan ketika saya dan rombongan melakukan kunjungan singkat ke Semarang.

“Di Semarang banyak soto yang enak seperti Soto Bangkong, Soto Selan, soto ayam Pak Man dan tentu saja Soto Neon, ” ujar rekan saya tersebut.

Kami pun menyambut baik ajakan untuk menjajal soto neon. Tidak ingin terjebak melulu pada pembahasan cita rasa kuliner, makanya pertanyaan pertama yang mencuat adalah “mengapa dinamakan soto neon, apa hubungn soto dan neon? ” Biasanya penamaan suatu kuliner dikaitkan dengan nama penjual atau nama tempat/kota, misalnya “soto ayam Pak Min”. “soto Kudus”, “soto Betawi” dan lain-lain.

Untuk yang belum mengerti, neon adalah penamaan untuk tabung bola lampu listrik panjang berwarna putih.

“Dikenal sebagai Soto Neon karena saat awal-awal berjualan soto, kami menggunakan gerobak dorong dan menggunakan neon untuk penerangan di malam hari. Begitu pun ketika mulai menetap. Sehingga orang-orang menyebutnya Soto Neon,” jelas mbak yang jadi kasir saat ditanya soal asal usul nama soto neon.

Sesederhana itu kah penjelasannya?

Iya lah, sampeyan kok senangnya yang rumit-rumit. Kalau bisa mendapat jawaban sederhana yang mudah dimengerti, mengapa menunggu jawaban rumit yang perlu dipikir panjang lebar.

Dari penjelasan singkat dan sederhana itu pun, sebenarnya kita bisa menarik pemahaman bahwa ternyata di balik popularitas Soto Neon di Semarang, terselip kisah kegigihan dan perjuangan seorang penjual soto. Berawal dari gerobak soto keliling kota Semarang hingga akhirnya bisa berdagang secara menetap di jalan Pringgading.

Ada semangat dan kegigihan usaha kecil dalam merintis usaha berbasis kearifan lokal dan mengikuti selera masyarakat tanpa mengubah kekhasannya. Perkembangan Soto Neon dari gerobakan ke lokasi tetap yang diburu pecinta kuliner merupakan cerminan dari kegigihan para pelaku usaha kuliner yang ulet dalam mempertahankan tradisi kuliner Indonesia yang sangat beragam.

Tradisi Soto Neon menggunakan kuah  tanpa penyedap rasa terus dipertahankan. Kaldu ayam dan kuah telur kecap dijadikan andalan untuk membuat kuah soto yang sedap dan terasa maknyus.

Kekhasan lain adalah daun bawang segar sebagai pendamping soto. Daun bawang segar dipotong-potong saat hendak disajikan. Soto semakin lezat dinikmati selagi masih hangat dengan kuah mengepul mengitari mangkuk. Semua kekhasan soto itulah yang membuat nagih.

Dalam perkembangannya, di Soto Neon bukan hanya soto yang dijual, tetapi juga berbagai pilihan kuliner lain yang tidak kalah enaknya yaitu tahu gimbal, ampela ati, kerang, sate ayam, tahu bacem, perkedel dan tempe. Khusus tahu gimbal, saus kacangnya diuleg langsung menjelang disajikan sehingga terasa kesegarannya.

Semarang, 2 Agustus 2019

Leave a Reply

Silahkan komentar menggunakan akun facebook

Your email address will not be published. Required fields are marked *